NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:707
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Dua bulan penuh teror.

Saka Tanubrata, sang CEO muda yang biasanya selalu tampil necis dengan tatapan mata setajam elang, kini tengah berbaring telentang di atas sofa kulit hitam panjang di sudut ruangannya. Penampilannya jauh dari kata sempurna. Kemeja kerjanya sedikit kusut, dasinya sudah dilonggarkan tak beraturan, dan yang paling memprihatinkan adalah sepasang kantung mata tebal yang menghitam, menggelayut di bawah kelopak matanya yang layu akibat kurang tidur yang kronis.

Selama hampir dua bulan terakhir, kewarasan Saka benar-benar diuji hingga ke titik nadir. Mansion miliknya yang semula merupakan tempat paling tenang dan aman, mendadak berubah menjadi wilayah kekuasaan penuh ranjau yang dikuasai oleh Prisha.

Meskipun kaki kiri gadis itu dibungkus gips tebal dan harus bergerak menggunakan kursi roda atau kruk, hal itu sama sekali tidak membatasi kemampuan Prisha untuk meneror ketenangan hidup Saka. Dari sengaja menghadang jalan Saka di koridor, mengirimkan pesan-pesan teks berisi godaan di tengah malam, hingga berpura-pura hampir jatuh lagi dan lagi agar Saka refleks menangkapnya—Prisha telah melakukan segalanya.

Teror psikologis itu begitu membekas hingga masuk ke dalam mimpi buruk Saka; setiap malam, Saka selalu terbangun dalam keadaan berkeringat dingin karena bermimpi dikejar-kejar oleh Prisha yang tertawa cekikikan sambil mengacungkan kruknya.

Oleh karena itu, begitu tiba di kantor pagi ini, hal pertama yang dilakukan Saka adalah mengunci rapat pintu ruang kerjanya dari dalam. Ia bahkan memeriksa kunci tersebut hingga tiga kali demi memastikan tidak ada satu pun celah bagi sang 'Putri Jahat' untuk menyusup masuk. Saka baru saja hendak memejamkan matanya yang terasa sangat berat ketika sebuah ketukan tiba-tiba terdengar dari arah luar pintu.

Tok! Tok! Tok!

Saka langsung tersentak kaget. Tubuhnya menegak seketika di atas sofa dengan napas yang memburu. Wajahnya memucat seketika, dan sepasang matanya menatap pintu kayu ek tebal itu dengan tatapan penuh horor, seolah-olah mengira pintu tersebut akan mendadak roboh akibat hantaman kruk Prisha.

Ketegangan yang mencekik itu baru perlahan mengendur ketika sebuah suara yang sangat ia kenal terdengar dari balik pintu, meminta izin untuk masuk. Itu adalah Adrian, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Saka yang telah bertahun-tahun menemaninya.

Saka mengembuskan napas lega yang luar biasa panjang, lalu bangkit berdiri untuk membukakan kunci pintu. Begitu Adrian melangkah masuk dengan membawa tumpukan dokumen, Saka langsung menyambutnya dengan sisa-sisa kepanikan di wajahnya.

"Bersuaralah lebih cepat, Adrian! Aku pikir yang datang tadi Prisha," omel Saka, suaranya terdengar serak dan sarat akan keputusasaan.

Adrian yang melihat bosnya sekacau itu hanya bisa menatapnya dengan pandangan penuh simpati yang mendalam. Ia meletakkan dokumen di atas meja kerja, lalu mencoba menenangkan sang atasan. "Anda tenang saja, Tuan. Saya baru saja mendengar kabar dari pelayan di rumah Anda, hari ini Nona Prisha sedang berada di rumah sakit bersama Bora untuk membuka gips kakinya."

Mendengar informasi itu, alih-alih merasa lega, Saka justru merasa seluruh dunianya runtuh seketika. Tubuhnya lemas hingga ia terpaksa bersandar pada pinggiran meja kerjanya. Selama hampir dua bulan ini, dengan kondisi kaki yang pincang dan dibungkus gips saja, Prisha sudah mampu mengubah hidup Saka menjadi seperti neraka jahanam.

Bagaimana jika sekarang gips itu dilepas dan Prisha sudah bisa berjalan dengan sempurna lagi? Membayangkan gadis gila itu bisa mengejarnya dengan langkah seribu tanpa hambatan membuat bulu kuduk Saka meremai seketika. Rasanya, saat ini juga Saka ingin memesan tiket pesawat paling cepat untuk melarikan diri ke ujung dunia.

Rasa frustrasi yang telah menumpuk di ubun-ubun membuat Saka tidak bisa berpikir jernih lagi. Dengan jemari yang sedikit bergetar, ia segera meraih ponselnya di atas meja dan mencari kontak ibunya. Tanpa menunggu lama setelah nada sambung pertama, Saka langsung berseru begitu panggilan itu terhubung.

"Kapan Mama akan pulang?!" tuntut Saka tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav.

Di seberang telepon, terdengar suara tawa renyah Ratih yang tengah menikmati liburannya. "Heh ... tidak biasanya kau merindukan Mama seperti ini, Saka. Ada angin apa?"

"Bukan begitu! Aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi gadis gila itu, Ma!" seru Saka, mengabaikan seluruh wibawanya sebagai seorang CEO demi menumpahkan segala keluh kesahnya. "Tolong lakukan sesuatu padanya. Usir dia dari rumahku, pindahkan dia ke tempat lain, apa saja! Kumohon, Ma. Aku benar-benar tersiksa di sini."

Nyonya Ratih kembali tertawa, sama sekali tidak menganggap serius kepanikan putra tunggalnya. "Ah, Mama juga sudah mendengar laporan rutin dari Pak Malik. Dia bilang Prisha adalah gadis yang sangat aktif dan bersemangat, ya. Syukurlah kalau begitu. Dengan adanya Prisha di sana, kau tidak akan merasa bosan lagi dan rumah itu jadi lebih hidup, kan, Saka?"

"Tidak! Mama tidak mengerti! Aku hampir gila, Ma! Kewarasanku terancam setiap hari!" tegas Saka, suaranya terdengar hampir seperti erangan frustrasi yang menyedihkan.

"Baiklah, selamat bersenang-senang dengan tunanganmu, Anakku," ucap Ratih dengan nada santai, mengabaikan seluruh jeritan batin anaknya. Sebelum Saka sempat membalas, bunyi klik terdengar nyaring. Ratih telah memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Saka terbelalak menatap layar ponselnya yang menggelap. "A-apa?! Ma! Mama! Sialan!"

Saka berteriak frustrasi, mengguncang ponselnya seolah-olah dengan begitu ibunya bisa mendengar suaranya kembali. Adrian yang berdiri di dekat meja hanya bisa mengusap tengkuknya dengan canggung. Sebagai asisten, ia ikut prihatin terhadap keputusasaan psikologis yang dialami bosnya, namun ia tahu betul bahwa jika menyangkut perintah dan keputusan Nyonya Besar Ratih, tidak ada satu pun orang di keluarga Tanubrata yang bisa membantahnya, termasuk dirinya sendiri.

Keheningan yang menegangkan itu kembali pecah saat ponsel di tangan Saka mendadak bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk memamerkan nama 'Putri Gila' berkedip-kedip di layar, lengkap dengan foto profil gadis itu yang tersenyum penuh kemenangan. Bagi Saka, getaran ponsel itu terasa seperti alarm bom waktu yang siap meledak.

Brak!

Dalam puncak kemarahannya yang sudah tidak terbendung, Saka menghempaskan ponsel pintarnya yang mahal itu ke atas lantai ubin hingga layarnya retak seribu. Napasnya memburu naik turun, matanya memerah menatap benda mati yang kini telah diam tersebut.

"Aku tidak akan kembali ke rumah itu lagi selama gadis gila itu masih ada di sana!" desis Saka penuh penekanan, menetapkan keputusan mutlak demi menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya yang berharga.

Adrian tersentak, wajahnya berubah cemas mendengarkan deklarasi mogok pulang dari bosnya. "Tapi Tuan, jika Anda tidak pulang ke mansion, Nyonya Besar pasti akan sangat marah besar saat mengetahuinya."

Saka memutar tubuhnya, berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota, lalu bersedekap dada dengan angkuh. "Siapa yang peduli? Bahkan Mamaku sendiri saja tidak peduli dengan kewarasanku, kenapa aku harus mempedulikan kemarahannya? Mulai malam ini, siapkan hotel terdekat dari kantor untukku, Adrian."

Sementara itu, di dalam mobil sedan mewah yang tengah melaju membelah jalanan kota, atmosfer yang bertolak belakang sedang terjadi. Prisha tengah duduk bersandar di kursi penumpang dengan wajah yang ditekuk cemberut. Tangannya berkali-kali menekan tombol panggil pada ponselnya, namun suara operator sialan yang mengatakan bahwa nomor yang dituju tidak dapat dihubungi terus-menerus terdengar di telinganya.

"Sialan si Manusia Es itu. Sengaja mematikan ponsel atau nomor ku diblokir lagi olehnya?" gumam Prisha kesal, melempar ponselnya ke atas jok mobil dengan kasar. Padahal, ia sengaja menelepon Saka hanya untuk memamerkan fakta bahwa hari ini kakinya sudah bebas dari gips terkutuk itu.

Prisha menunduk, menatap kaki kiri bawahnya yang kini hanya mengenakan sepatu olahraga biasa, tanpa ada lagi beban gips putih yang tebal dan berat. Setelah dua bulan harus menahan gatal dan kesulitan bergerak, rasanya luar biasa melegakan saat bisa menggerakkan pergelangan kakinya kembali dengan bebas tanpa hambatan apa pun.

Bora yang duduk diam di sebelah Prisha, mengamati raut wajah sang nona muda yang berganti-ganti dari kesal menjadi senang, akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara. "Sekarang Nona sudah bisa berjalan dengan sempurna lagi. Apa besok Nona sudah berniat untuk mulai masuk kampus kembali?"

Mendengar pertanyaan Bora, kilat keangkuhan yang tajam seketika kembali berkumpul di sepasang mata indah Prisha. Selama dua bulan ini, ia telah mengumpulkan energi dan menyusun kesabaran yang luar biasa di dalam mansion Tanubrata.

"Ya, tentu saja aku akan masuk besok, Bora," jawab Prisha dengan nada suara yang tenang. "Kasihan juga si Ayu yang selama dua bulan ini harus bolak-balik datang ke mansion hanya untuk mengantarkan fotokopi materi kuliah dan rangkuman soal-soal dosen untukku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan 'kebaikan' sahabatku itu, bukan?"

Prisha menjulurkan tangannya, menyentuh tumpukan kertas catatan terakhir dari Ayu yang sengaja ia bawa dari rumah. Jemarinya mengusap pinggiran kertas itu dengan perlahan. Prisha tahu betul, di balik tumpukan materi kuliah ini, gosip tentang dirinya di kampus pasti sudah melebar ke mana-mana akibat ulah Yunha yang mengiranya telah hancur dan bersembunyi ketakutan.

Prisha menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi mobil, menatap lurus ke depan dengan pandangan penuh tekad yang membara. "Yunha pasti mengira aku sudah mati kutu karena keluargaku bangkrut dan kakiku patah. Dia pasti mengira panggung kampus sekarang sudah sepenuhnya menjadi miliknya."

Prisha terkekeh kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat anggun. "Mari kita lihat bagaimana ekspresi wajah cantiknya besok saat melihatku melangkah masuk ke koridor kampus dengan kaki yang utuh. Aku sudah berjanji akan menampar wajahnya sampai membengkak, dan seorang Kaelen tidak pernah menarik kembali ucapannya."

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!