NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Gaun Sutra

Dosa Di Balik Gaun Sutra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:69.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.

Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.

Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.

Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.

Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....

"Apa salahku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuang jejak Salsa

Gemericik air dari shower kembali menderu di dalam kamar mandi yang senyap. Sejak jam tiga pagi tadi, setelah mengunci pintu gerbang besi dan meninggalkan Salsa meratapi nasibnya di atas aspal dingin, Arkan tidak pernah benar-benar beristirahat.

Ia langsung kembali ke kamar mandinya, memutar keran air dingin hingga batas maksimal, dan berdiri mematung di bawah guyurannya selama berjam-jam.

Arkan terus mengguyur tubuhnya tanpa henti, menggosok kulit lengan, dada, dan lehernya dengan kasar menggunakan sabun berkali-kali. Kulitnya bahkan kini sudah memerah dan terasa perih akibat gosokan yang terlalu kuat. Namun, ia tidak peduli.

Baginya, air dingin itu adalah satu-satunya alat untuk membasuh sisa-sisa sentuhan Salsa hingga habis tak tersisa. Ia merasa tubuhnya telah dinodai oleh kelicikan selembar obat dan obsesi gila seorang wanita yang teramat sangat ia benci.

Arkan meraup wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangan, menghela napas panjang yang terasa begitu berat dan sesak di dada. Rasa sesal yang teramat dalam kini menghujam ulu hatinya, menggerogoti sisa-sisa ketenangannya.

"Sialan!" Umpat Arkan berdesis, memukul dinding keramik kamar mandi hingga menimbulkan bunyi dentuman yang diredam suara air.

Ia mengutuk dirinya sendiri. Andai saja tadi malam ia bisa menahan diri lebih kuat, andai saja ia memiliki benteng pertahanan yang lebih kokoh untuk melawan pengaruh obat perangsang itu, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Ia tidak akan sampai menyentuh Salsa. Ia tidak akan mengkhianati kesetiaan dan janji suci yang selama satu tahun penuh ini ia mendengungkan di hadapan Nabila.

Kini, pikirannya dipenuhi oleh bayangan wajah lembut Nabila. Arkan benar-benar tidak tahu harus bagaimana nanti saat berhadapan dengan kekasihnya itu.

"Bagaimana aku harus menjelaskan malam terkutuk ini? Bagaimana ia bisa menatap mata Nabila sementara ragaku baru saja berbagi ranjang dengan wanita lain?"

Arkan tidak sanggup, benar-benar tidak sanggup membayangkan kehancuran dan rasa sedih yang akan merayap di wajah Nabila jika wanita itu mengetahui pengkhianatan fisik yang terpaksa ia lakukan malam ini. Rasa bersalah itu kini menjalar bagai racun yang menyiksa batinnya.

Arkan meraba dinding, mematikan keran shower yang sejak tadi mengguyurnya. Ia melangkah keluar dari bilik kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggangnya, sementara rambutnya masih basah meneteskan sisa air ke lantai.

Namun, tepat saat ia melangkah masuk ke area kamar tidur, langkah kaki Arkan seketika terhenti. Matanya yang masih menyalang merah karena lelah dan amarah langsung tertuju pada hamparan ranjang King Size di tengah ruangan.

Di atas sprei putih yang tampak kusut masai akibat pergulatan paksa semalam, terdapat sebuah noda merah segar yang sangat kontras di tengahnya.

Noda darah keperawanan Salsa.

Melihat bercak merah itu, dada Arkan seketika bergemuruh hebat. Rasa muak, benci, dan penyesalan yang mendalam bercampur menjadi satu, menciptakan gelombang murka yang tak lagi bisa ia bendung.

Noda itu seolah-olah menjadi tamparan keras yang memperolok dirinya, sebuah bukti nyata bahwa ia telah kalah dari jebakan licik Salsa. Kehormatan yang dijaga wanita itu selama setahun penuh justru menjadi belenggu baru yang kini mengotori tempat tidurnya.

"Sialan! Wanita iblis!" Raung Arkan berang.

Dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa jijik yang luar biasa, Arkan merangsek maju ke tepi ranjang. Ia mencengkeram ujung sprei putih itu dengan kedua tangannya yang berurat tebal, lalu menyentaknya dengan kekuatan penuh.

Sreeettt.... Brak!

Arkan menarik sprei tersebut dengan brutal hingga terlepas sepenuhnya dari kasur. Tidak hanya sprei, selimut tebal dan dua bantal yang ada di atasnya ikut tersapu kasar, terlempar dan terberai berantakan di atas lantai marmer yang dingin.

Arkan menendang gumpalan kain bernoda itu menjauh dari kakinya, seolah benda itu adalah bangkai yang menebarkan racun. Napasnya memburu tersengal-sengal saat ia menatap kasur yang kini bertelanjang dada, mencoba melenyapkan sisa eksistensi Salsa dari kamarnya.

Arkan menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kembali emosinya yang sempat lepas kendali. Ia beralih menatap jam dinding yang kini sudah mendekati pukul delapan pagi. Matahari mulai meninggi, menembus celah-celah gorden kamar dengan sinarnya yang cerah.

Atmosfer di sekitar rumah terasa begitu hening, berbeda jauh dengan beberapa jam yang lalu. Arkan menajamkan pendengarannya. Ia sudah tidak lagi mendengar suara teriakan histeris Salsa yang memanggil namanya dari luar pagar. Tidak ada lagi suara ketukan atau pukulan tangan Salsa yang menggedor-gedor pintu gerbang besi rumahnya.

Sebuah seringai sinis dan dingin perlahan terukir di sudut bibir Arkan. Pria itu menganggap jika Salsa akhirnya sudah menyerah. Dalam benak Arkan, wanita manja dan sombong seperti Salsa pasti tidak akan tahan berlama-lama berada di jalanan, dan sekarang kemungkinan besar wanita itu sudah berlari pulang ke istana megah papanya untuk mengadu sembari menangis histeris.

"Mengadulah sesukamu, Salsa. Kali ini, aduanmu tidak akan bisa menyelamatkanmu lagi" Gumam Arkan dengan tatapan mata yang berkilat kejam.

Sebelum spekulasi itu menjadi kenyataan dan sebelum keluarga Brahmantyo sempat mengambil tindakan untuk menyerangnya balik, Arkan bergerak cepat.

Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, ia meraih ponsel di atas meja dan langsung menghubungi asisten pribadinya, Deril. Ponsel itu hanya berdering dua kali sebelum suara patuh Deril terdengar di ujung talian.

"Ya Pak Arkan. Ada yang bisa saya bantu?"

"Deril, eksekusi rencana kita sekarang juga!" Perintah Arkan tanpa basa-basi, nadanya terdengar dingin, mutlak, dan penuh penekanan.

"Keluarkan semua bukti tentang kecurangan, manipulasi pajak, dan penggelapan dana yang dilakukan oleh Brahmantyo ke publik dan pihak berwenang. Jangan lewatkan satu dokumen pun"

"Baik, Pak. Semua berkas digital dan fisik sudah siap dikirimkan ke kejaksaan dan media massa pagi ini. Apakah Anda yakin ingin merilisnya hari ini?" Tanya Deril memastikan.

"Ya. Hari ini juga. Aku tidak ingin memberikan celah sedikit pun bagi Salsa untuk berbuat semaunya lagi dengan mengandalkan pengaruh dan kekuasaan papanya. Hari ini, aku akan menghancurkan Brahmantyo sampai ke akar-akarnya" Desis Arkan sebelum mematikan sambungan telepon dengan sepihak.

Perasaan puas seketika merayap di dada Arkan. Setahun penuh ia hidup di bawah tekanan dan bayang-bayang utang budi korporasi, dan hari ini adalah hari kemenangannya.

Arkan melangkah menuju lemari pakaian, memilih setelan kemeja formal dan jas kerjanya dengan rapi. Setelah memastikan penampilannya sempurna tanpa cela, ia melangkah turun menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah, siap untuk berangkat ke kantor sembari menunggu kabar bahagia mengenai kehancuran mertuanya yang sebentar lagi dipastikan akan meledak di seluruh stasiun televisi nasional.

Arkan melangkah masuk ke ruang makan yang luas dan sepi. Ia menarik kursi kayu jati, lalu mendudukkan tubuh tegapnya di meja makan. Baru kali ini, setelah satu tahun penuh pernikahan palsu mereka berjalan, Arkan bisa duduk lagi di meja makan rumah itu dengan perasaan yang tenang dan napas yang lega.

Selama ini, ia selalu memilih untuk melewatkan sarapan rumah atau membelinya di luar hanya karena enggan bertatap muka dengan Salsa. Namun pagi ini, suasana terasa begitu damai tanpa kehadiran wanita sombong itu.

"Bi Inah! Bi Sumi!" Panggil Arkan dengan suara baritonnya yang tegas, menggema di koridor lantai bawah.

Kedua asisten rumah tangga paruh baya yang sedang berada di dapur langsung bergegas keluar dengan terburu-buru. Wajah mereka tampak tegang, kepala mereka tertunduk dalam-dalam seolah takut menatap langsung ke arah sang tuan rumah.

"I-iya, Tuan? Ada yang bisa kami siapkan untuk sarapan?" Tanya Bi Inah dengan suara yang sedikit bergetar.

Arkan tidak langsung menjawab. Ia menuangkan air putih ke dalam gelasnya sendiri, meminumnya perlahan, lalu menatap kedua wanita di hadapannya dengan pandangan dingin.

"Mulai hari ini, singkirkan semua barang-barang milik wanita iblis itu dari rumah ini. Kemasi semuanya ke dalam kardus, jangan sampai ada satu jengkel pun pakaian, kosmetik, atau barang apa pun miliknya yang tersisa di bawah atap ini" Perintah Arkan dengan nada suara yang kejam dan tanpa kompromi.

Bi Inah dan Bi Sumi seketika terperanjat, mereka saling melempar pandangan penuh keterkejutan sebelum akhirnya Bi Inah memberanikan diri untuk bersuara dengan terbata-bata.

"M-maksud... maksud Tuan, barang-barang milik Nyonya... Nyonya Salsa?"

Mendengar gelar nyonya disematkan untuk Salsa, rahang Arkan kembali mengetat.

"Siapa lagi wanita kejam di rumah ini kalau bukan dia? Jangan sebut dia nyonya di rumah ini lagi"

"Tapi Tuan... Nyonya Salsa tadi malam..." Bi Sumi mencoba menyela dengan ragu, teringat bagaimana kondisi tragis sang nyonya saat diseret keluar rumah.

"Lakukan saja apa yang kuperintahkan!" Potong Arkan dengan bentakan rendah yang membuat kedua wanita paruh baya itu tersentak takut.

"Buang semua barang miliknya ke tempat pembuangan sampah, atau ambil dan bagi-bagikan saja di antara kalian kalau kalian memang mau! Aku tidak peduli. Yang aku inginkan adalah rumah ini bersih dari jejak wanita itu sebelum matahari terbenam hari ini"

Arkan menjeda kalimatnya sejenak, lalu pandangannya beralih menunjuk ke arah sudut ruang makan, tempat sebuah lemari pendingin mini berdiri tegak. Ingatan tentang air minum yang ia teguk tadi malam seketika memicu kemarahannya kembali.

"Satu lagi. Buang juga seluruh botol minuman dan makanan yang ada di dalam lemari pendingin itu. Kosongkan semuanya dan bersihkan sampai steril!" Perintah Arkan dengan penuh penekanan, mengacu pada sisa-sisa air putih yang telah dicampuri obat perangsang oleh Salsa.

"Baik, Tuan. Segera kami laksanakan" Jawab Bi Inah patuh, tidak berani membantah lebih jauh demi keselamatan pekerjaan mereka.

Kedua wanita paruh baya yang selama satu tahun penuh ini melayani dan merawat keperluan Salsa itu kembali saling menatap dengan penuh tanda tanya yang tersimpan di dalam hati.

Mereka berdua memang tidak tahu secara detail apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar lantai dua tadi malam hingga memicu keributan besar.

Namun, ingatan jam tiga pagi tadi masih tercetak jelas di benak mereka, mereka melihat dan mendengar sendiri bagaimana kasarnya Arkan menyeret Salsa yang hanya berpakaian tidur tipis, lalu melemparnya keluar dari pintu gerbang rumah tanpa mengizinkan wanita itu membawa satu barang pun untuk melindungi tubuhnya.

Bagi mereka, tindakan Arkan pagi ini adalah penegasan mutlak bahwa Salsa telah diusir selamanya, dan perang dingin di dalam rumah ini telah berakhir dengan kemenangan mutlak sang tuan rumah, meninggalkan teka-teki besar mengenai ke mana perginya sang nyonya dalam kegelapan malam yang basah oleh rintik hujan

1
Rina Wati.S
bawangnya kpn habisnya kak San.
🌿🌺WINA🌸🌿
Arkan itu karma buat kamu dulu tega sekali mengusir salsa tanpa belas kasian, katanya kuat arkan menerima kebencian dari salsa dan ayu menebus semua kesalahanmu...
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...

Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...

Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....

salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...

kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
Felycia Fernandez
😭😭😭😭😭😭😭😭
Cahaya
lanjut
Cahaya
aduhh ayu 😭😭😭😭 ngga kuat tisu sampay habis ini 😭😭😭😭😭
mb peppy
ketidak berdayaan salsa dan penolakan ayu adalah hal yg teramat menyakitan buatmu arkan
Ari Atik
next.....
Ari Atik
gk bisa ngomong apa2..
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
dyah EkaPratiwi
lekas Carikan dr Arkan biar salsa bisa pulih lagi
Yeye 🐱
baru 3 hari, Sallsa aja 1 thn kamu cuekin, kamu maki2,, dih 😏
Nar Sih
penolakan lgi dan lagi ,mungkin ini lah blsan untuk mu arkann,tpi tetap lah berusaha berdoa mohon ampunan yg di atas yg maha membolak balikkan hti seseorang ,semoga usaha mu mendekat lgi dgn salsa juga putri mu sgra di kabul kan yg di atas
Linda Gunawan
pagi menjelang siang ini udah menangisi Ayu. /Sob/
Melly
masa kalah sama Salsa yg 1 tahun dicuekin, dimaki, terakhir diusir sama dibikin bangkrut
Teti Hayati
Harus tahan....
harus kuat...
sudah jadi resiko..
pecinta novel lealistis
sambil nungguin update terbaru aku baca baca ulang part nyesek
Nureliya Yajid
lanjutkan
Silvia
berusaha lebih keras lagi Arkan
Hanima
Hikssss
Semoga Arkan menjadi Gila
dan semua harta nya buat Ayu
itu rasa nya baru setimpal 🔥😡
SasSya
🥺🥺🥺🥺😥😢😓
anak usia 5 thn sekritis iniiiii
Dunia memaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya
Felycia Fernandez: anak jalanan emank tumbuh lebih cepat kk... karena mereka udah terlatih untuk selalu mawas diri dari mulai mengenal dunia...
aku pernah liat anak kecil manggil ibunya karena ada razia ,bahasanya itu kayak orang dewasa bagi info ke ibunya😓
total 1 replies
Agnezz
di bab Neraka, Ayu mengatakan ayahnya adalah bintang dilangit yg tidak bisa mereka jangkau. tapi disini dibilang Ayahnya hanya mau dengan wanita baik 🤔🤔 mana yg bener, mungkin Salsa suka berubah2 juga cara menerangkan pada Ayu ttg keberadaan ayahnya. 🤔🤔
Agnezz: iya ingatan Salsa terjebak di 6 th yg lalu. raganya dimasa kini, tapi jiwanya ada dimasa lalu.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!