Elena, pembunuh bayaran terbaik dari Klan Bayangan, terpaksa menikahi Pangeran Arlon yang dikenal lemah demi sebuah misi rahasia. Rencananya sederhana, yaitu menyamar, selesaikan misi, lalu menghilang.
Namun, semua berubah saat serangan terjadi di malam pertama mereka. Elena tertegun melihat sang Pangeran Tak Berguna justru menghabisi musuh dengan tangan kosong secepat kilat.
Kini, keduanya terjebak dalam sandiwara besar. Di siang hari mereka adalah pasangan yang malang, namun di malam hari, mereka adalah duet maut paling mematikan.
"Kau dikirim untuk menjaga nyawaku, tapi kau justru mencuri hatiku. Jadi, jangan harap bisa pergi setelah ini. Aku akan melakukan apa pun, bahkan membakar istana ini, asal kau tetap menjadi milikku." _Arlon Belmont.
Di dunia di mana cinta lebih berbahaya daripada racun, sang Pangeran Kegelapan tidak akan membiarkan istrinya pergi begitu saja, bahkan jika dia harus membakar seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vier08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LONCENG KUIL
"Kamu yang harusnya istirahat, karena sudah berani mencuri ciuman pertama ku," sindir Elena, walau dia akhirnya menyerah dan menyandarkan punggungnya ke lengan Arlon.
"Itu karena aku punya perawat yang sangat hebat, dan sangat cantik kalau sedang marah," jawab Arlon tertawa kecil, dia kemudian mengecup kening Elena dengan lama.
Elena memutar bola matanya, namun sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.
Di tengah ketidakpastian soal siapa dirinya sebenarnya dan segel naga yang mulai retak, untuk saat ini, berada di pelukan Arlon terasa seperti satu-satunya tempat yang paling aman di dunia.
"Kalau memang leluhurku yang menghancurkan desamu El, aku rela kamu bunuh demi menebus dosa leluhur ku," bisik Arlon tulus.
Elena terdiam, ada rasa perih yang aneh di hatinya.
"Jangan bicara omong kosong, cepat tidur. Besok kita harus menyelinap ke Hutan Terlarang sebelum Selena mengirim lebih banyak pengintai ke sini," jawab Elena, mengalihkan pembicaraan.
Arlon tersenyum miring, dia membantu Elena berdiri dan menuntunnya menuju tempat tidur, di luar, angin malam berhembus kencang, seolah-olah alam semesta sedang bersiap untuk badai yang lebih besar.
Mereka berdua belum tahu, bahwa di saat segel Arlon retak, sebuah lonceng kuno di kuil rahasia istana berdenting sekali, menandakan bahwa sang pewaris takhta yang sebenarnya telah terbangun.
"Selamat malam, istri ku," gumam Arlon pelan, membawa Elena kedalam pelukannya.
Elena tidak membalas pelukan itu dengan kata-kata, namun dia membiarkan tubuhnya bersandar pada dada Arlon yang kini terasa jauh lebih kokoh.
Kelelahan yang luar biasa akibat terkurasnya energi tadi membuat kesadarannya perlahan menipis, hanya dalam hitungan menit, napasnya mulai teratur, tanda bahwa sang pembunuh bayaran yang selalu waspada itu akhirnya menyerah pada kantuk di dalam dekapan suaminya sendiri.
Sementara Arlon tetap terjaga, dia menatap wajah Elena yang tampak jauh lebih tenang saat tidur, tanpa kerutan di dahi atau tatapan tajam yang biasanya gadis itu tunjukkan.
"Kamu adalah teka-teki yang paling berbahaya, El," bisik Arlon sangat pelan, hampir menyerupai desis angin.
Aron perlahan melepaskan pelukannya agar Elena bisa tidur dengan lebih nyaman di ranjang mereka yang sederhana. Arlon bangkit, berjalan menuju jendela paviliun yang sedikit terbuka, mengulurkan tangannya ke luar, membiarkan rintik hujan membasahi garis-garis merah serupa sisik di telapak tangannya.
Rasa panas di jantungnya belum hilang sepenuhnya. Efek obat biru dari pria misterius itu seolah sedang berperang dengan energi murni dari Elena, menciptakan sirkulasi kekuatan yang membuat Arlon merasa seolah dia bisa merobek malam dengan tangan kosong.
Tring
Suara lonceng di kuil rahasia itu kembali terngiang di benaknya, Arlon tahu lonceng itu tidak berbunyi untuk sembarang orang, hanya jika darah pewaris murni bereaksi dengan pasangannya, lonceng itu akan bersuara.
"Selena pasti mendengarnya juga," batin Arlon, matanya berkilat tajam menatap ke arah Istana Mawar di kejauhan yang lampunya masih menyala benderang.
Di saat yang sama, di dalam ruang rahasia di bawah paviliun Ratu Selena, suasana terasa mencekam.
Ratu Selena berdiri di depan sebuah kuali perak kecil yang berisi cairan hitam kental, di sampingnya, seorang pria bertopeng sedang menuangkan serbuk tulang manusia ke dalam cairan tersebut.
"Lonceng itu berbunyi, Yang Mulia," ucap pria bertopeng itu dengan suara yang berat.
"Segel naga itu tidak hanya retak, tapi mulai hancur. Pangeran sampah itu sedang mendapatkan bantuan dari kekuatan yang seharusnya sudah punah," lapor pria itu, pelan.
Selena mencengkeram pinggiran meja batu hingga kuku-kukunya yang panjang berderit. Wajahnya yang cantik berubah menjadi menyeramkan karena amarah yang meluap.
"Gadis itu... Elena," desis Selena.
"Aku semakin yakin, dia bukan gadis biasa, rupanya aku salah telah membawa gadis itu ke sini," ucap Ratu Selena, dingin.
Selena mengambil sebuah boneka jerami kecil dan menusuk bagian jantungnya dengan jarum emas.
"Jika Arlon bangun sepenuhnya, Arkan tidak akan pernah punya kesempatan menduduki tahta. Aku tidak akan membiarkan sejarah berulang," ucap Ratu Selena menoleh pada pria bertopeng itu.
Sementara itu, di paviliun Bintang, Arlon masih mematung di dekat jendela, membiarkan angin malam yang lembap menyapu wajahnya.
Perlahan, dia mengepalkan telapak tangannya, rasa panas dari energi Elena tadi bukan sekadar memberi tenaga, tapi seolah-olah sedang membangunkan insting predator yang selama bertahun-tahun di tekan oleh racun.
Aron menoleh ke arah ranjang, menatap bayangan Elena yang tertidur lelap, entah kenapa tiba-tiba ada rasa bersalah yang mencubit hatinya.
"Maafkan aku, El, aku membawamu ke tengah pusaran api yang bahkan aku sendiri belum tentu bisa memadamkannya," bisik Arlon hampir tak terdengar.
Arlon melangkah mendekati meja kayu, tempat botol biru pemberian pria misterius itu berada, dia tidak tahu pria itu siapa, entah musuh ataupun sekutu, Arlon tidak tahu.
Aron mengambil botol kosong itu, lalu menatap sisa cairan yang menempel di dinding kaca, cairan itu bukan hanya penawar, tapi juga racun yang memaksa tubuhnya bekerja melampaui batas.
Uhuk
Uhuk
Tiba-tiba, Arlon terbatuk kecil, dengan cepat dia segera menutup mulutnya dengan sapu tangan agar suaranya tidak membangunkan Elena. Saat dia menjauhkan sapu tangan itu, noda darah merah pekat menghiasi kain putih tersebut.
"Masih belum cukup," gumamnya dengan seringai pahit.
Meskipun energinya meluap, tubuh fisiknya yang sudah digerogoti racun selama belasan tahun tidak bisa pulih hanya dalam semalam, Arlon tahu, saat ini dia seperti sebuah pedang hebat yang berada di dalam sarung yang sudah rapuh, jika dia memaksakan kekuatannya keluar sekaligus, tubuhnya akan hancur berkeping-keping.
Arlon duduk di lantai, tepat di samping ranjang tempat Elena tidur, dia tidak ingin tidur di atas kasur, menyandar kan kepalanya di pinggiran ranjang, sangat dekat dengan tangan Elena yang terkulai lemas di atas selimut.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Arlon menyentuhkan ujung kelingkingnya ke ujung jari Elena, hanya sekadar bersentuhan tipis. Namun, kontak minimal itu sudah cukup untuk mengirimkan aliran hangat yang menenangkan ke jantungnya yang sedang bergejolak.
"Selena mengira aku tidak tahu apa yang dia lakukan," batin Arlon, matanya menatap kosong ke arah pintu yang terkunci.
"Dia pikir dia bisa terus memberiku racun dan menganggap ku tidak berdaya, dia lupa, naga yang paling berbahaya adalah naga yang sedang terluka," batin Arlon, dengan gemuruh di dada nya.
Arlon memejamkan mata, namun indranya tetap waspada, dia mulai memetakan setiap sudut istana dalam pikirannya, membayangkan wajah-wajah orang yang merendahkannya di Aula Utama tadi, dia bukan lagi Arlon yang pasrah.
Di balik wajah pucat dan tubuh kurus itu, ada kebencian yang sudah mendarah daging dan keinginan untuk melindungi satu-satunya orang yang memandangnya sebagai manusia bukan sebagai aib.
"Tidurlah yang nyenyak, Pembunuh Kecil," gumam Arlon sambil menatap tangan Elena.