“Mari bercerai, Mas!”
Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.
Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.
“Apa katamu?!”
Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”
Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.
Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.
Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.
Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
Kalimat yang keluar dari bibir Rania membuat Wulan langsung mendongak kaget.
“M–maksud Mbak apa ya?”
Rania balas menatap wanita itu tenang. Tatapannya lembut, tetapi entah kenapa justru terasa menekan.
“Kamu jelas tahu maksudku.”
Suasana mendadak hening. Gavin yang sejak tadi sibuk membuka mainan baru sama sekali tidak sadar dua wanita dewasa itu sedang saling memandang dengan pikiran masing-masing.
Wulan tampak salah tingkah. Jemarinya saling bertaut gelisah di depan tubuhnya.
“Mbak… aku nggak pernah mikir begitu. Sungguh.”
“Semoga saja ucapanmu benar.”
Nada suara Rania tetap tenang. Terlalu tenang malah. Dan itu membuat Wulan semakin tidak nyaman.
Rania berjalan pelan menuju sofa lalu duduk perlahan sambil menyandarkan tubuhnya. Kepalanya kembali terasa berat sejak tadi. Tubuhnya cepat lelah akhir-akhir ini, bahkan duduk terlalu lama saja membuat napasnya terasa sesak.
“Buatkan aku teh?” pintanya lirih. “Aku haus.”
“Oh… iya. Sebentar ya, Mbak.” Wulan buru-buru pergi ke dapur.
Sementara itu, Rania membiarkan pandangannya berkeliling rumah kecil tersebut. Rumah itu sederhana, tidak mewah, tapi terasa hidup.
Ada foto Gavin di berbagai sudut ruangan. Ada mainan anak berserakan. Ada aroma masakan hangat yang tertinggal samar di udara. Dan yang paling menyakitkan, aroma rumah ini terlalu familiar dengan Harsa.
Tatapan Rania jatuh pada jaket militer milik suaminya yang tergantung rapi di dekat meja makan.
Rania langsung diam. Itu jaket favorit Harsa. Yang biasanya dicari-cari kalau lelaki itu hendak berangkat kerja pagi.
Kenapa ada di sini? Seberapa sering sebenarnya Harsa datang ke rumah ini sampai barang pribadinya tertinggal begitu saja?
Rania menunduk pelan sambil menggenggam tangannya sendiri.
Dadanya sesak lagi. Dan anehnya, rumah kecil ini justru terasa lebih hangat dibanding rumah besarnya sendiri. Karena di sini, ada mas Harsa.
Di dapur, suara dering ponsel terdengar pelan. Rania tidak sengaja menoleh.
Wulan tampak buru-buru mengangkat telepon sambil mengecilkan suara.
“Iya, Mas Harsa?”
Tubuh Rania langsung membeku.
Mas Harsa menelpon Wulan?
Tanpa sadar, pendengarannya langsung fokus ke arah dapur.
“Mas nanya mbak Rania?” suara Wulan terdengar kecil. “Iya, beliau lagi di sini.”
Rania tersenyum pahit. Jadi Harsa langsung tahu dirinya datang ke sini? Hal kecil itu malah membuat hatinya sedikit hangat. Setidaknya suaminya masih memperhatikan keberadaannya.
Namun harapan kecil itu langsung runtuh beberapa detik kemudian.
“Nggak kok, Mas.” Wulan tertawa kecil pelan. “Mbak Rania baik banget tadi bawain Gavin mainan sama buah.”
Rania memejamkan mata perlahan. Bahkan saat sedang bicara dengan Harsa, suara Wulan terdengar begitu lembut.
Begitu manja, dan Harsa seperti menyukainya.
Rania tahu itu.
“Eh iya, Mas…” suara Wulan kembali terdengar. “Dua hari lagi jadwal kontrol Gavin.”
Ada jeda sebentar. Lalu wajah Wulan perlahan berubah lega.
“Serius, Mas?”
Rania tidak bisa mendengar suara Harsa dari sana. Tetapi, ia bisa menebak isi pembicaraan mereka hanya dari ekspresi Wulan.
“Ah, nggak usah repot-repot…” lanjut Wulan pelan. “Aku nggak enak terus ngerepotin Mas.”
Rania menatap kosong ke arah lantai. Kalimat itu terdengar sopan dan justru terasa seperti cara halus untuk membuat Harsa terus merasa dibutuhkan. Agar Harsa selalu jatuh pada rasa bersalah itu.
Tak lama kemudian Wulan kembali tertawa kecil.
“Iya, iya. Makasih ya, Mas Harsa.”
Rania menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Harsa saat ini.
Pasti tersenyum hangat, pasti bicara lembut. Karena setiap kali bersama Wulan dan Gavin, lelaki itu selalu menjadi versi terbaik dirinya.
“Gavin juga seneng banget kalau Mas yang antar,” ucap Wulan lagi pelan.
Rania menunduk cepat. Matanya mulai panas. Tentu saja Harsa akan mengantar mereka. Untuk Wulan dan Gavin, lelaki itu selalu punya waktu.
Sementara untuk dirinya? Bahkan sekedar sarapan bersama saja Harsa merasa terlalu sibuk.
Tanpa sadar, air mata Rania mulai menggenang.
Cepat-cepat ia menghapusnya sebelum Wulan keluar dari dapur. Ia tidak mau terlihat menyedihkan. Sayangnya, semakin ditahan, dadanya justru semakin sakit.
Rania benar-benar lelah. Lelah terus memahami, lelah terus mengalah dan lelah berpura-pura tidak cemburu saat suaminya memberikan perhatian yang bahkan tak lagi ia dapatkan.
Padahal, dia juga ingin diperlakukan seperti itu. Ia juga ingin ditanya sudah makan atau belum, ingin ditemani ke rumah sakit, ingin dipeluk saat sakit.
Tapi Harsa tidak pernah ada.
Dan sekarang, sambil duduk sendirian di rumah kecil milik perempuan lain, Rania akhirnya sadar sesuatu, mungkin yang perlahan kehilangan tempat di hati Harsa bukan Wulan, melainkan dirinya sendiri.
“Mbak, ini tehnya…”
Wulan berjalan keluar dari dapur sambil membawa secangkir teh hangat di atas nampan kecil. Senyumnya terlihat canggung setelah percakapan mereka tadi.
“Silakan diminum.”
Rania menerimanya pelan. Cangkir hangat itu terasa kontras dengan jemarinya yang dingin.
“Maaf ya, Mbak,” lanjut Wulan lirih sambil duduk di kursi seberang. “Aku belum masak apa-apa. Soalnya mas Harsa bilang—”
Kalimat itu menggantung. Wulan langsung menggigit bibirnya sendiri seolah sadar sudah salah bicara.
Rania tersenyum kecil. Senyum getir yang pelan-pelan mulai terasa terlalu sering muncul di wajahnya.
“Mas Harsa bilang apa?”
Wulan langsung salah tingkah. “Aku nggak maksud—”
“Dia nyuruh kamu fokus ke Gavin aja, kan?” potong Rania tenang. “Atau dia yang pesenin makanan buat kalian?”
Wulan menunduk pelan. Dan diamnya perempuan itu sudah menjadi jawaban.
Rania merasakan dadanya kembali nyeri. Jadi benar, Harsa bahkan mengatur kehidupan rumah ini sampai sedetail itu.
Sementara di rumah mereka sendiri, lelaki itu bahkan tidak tahu istrinya sering tidak makan.
“Maaf, Mbak…” suara Wulan terdengar pelan penuh rasa bersalah.
Rania hanya tersenyum tipis sambil memalingkan wajah. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Harsa begitu perhatian pada Wulan sampai takut perempuan itu kelelahan memasak.
Bahkan saat sakit pun, Rania tetap harus bangun pagi menyiapkan semuanya sendiri.
Tenggorokan Rania terasa pahit tiba-tiba. Ia meletakkan cangkir teh yang bahkan belum sempat disentuh. Lalu perlahan berdiri sambil menyambar tasnya.
“Aku pulang dulu.”
Wulan langsung ikut berdiri.
“Tehnya nggak diminum dulu?”
Rania menggeleng pelan.
“Selera minumku tiba-tiba hilang.”
Tatapannya beralih pada Gavin yang sedang bermain di lantai.
“Jaga Gavin baik-baik,” katanya lirih. “Jangan sampai dia sakit lagi.”
“Iya, Mbak. Hati-hati di jalan ya.”
Rania hanya mengangguk kecil lalu berjalan keluar rumah. Setiap langkah terasa berat. Karena semakin lama berada di rumah itu, semakin terasa jelas kalau Harsa benar-benar menjadi bagian dari kehidupan Wulan dan Gavin. Dan posisi dirinya perlahan mulai tergeser.
Di luar, Pak Darto ternyata sudah menunggu di samping mobil. Pria itu langsung membukakan pintu saat melihat Rania keluar.
Sebelum masuk, Rania sempat menoleh sekali lagi. Wulan berdiri di depan pintu sambil menggendong Gavin kecil.
Pemandangan itu terlihat seperti keluarga kecil yang hangat.
Yang kurang hanya Harsa di tengah mereka.
Dada Rania kembali sesak.
Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan lalu masuk ke mobil.
“Langsung pulang, Non?” tanya Pak Darto pelan.
Rania menggeleng. “Jemput ibu dulu di terminal.” Suaranya terdengar lemah.
Lalu ia kembali memandang keluar jendela sepanjang perjalanan. Diam-diam menahan air mata yang sejak tadi ingin jatuh lagi.
Harsa kalo Masih mau sama Rania sok aku dukung selama mau berubah yak! anggap aja perjuanganmu itu ganti 1 tahun kebelakang💪
selama no making love, dungu sedikit it's okay 👌😄
sebentar sebentar saja kamu menikmati fasilitas kemewahan itu
iya iya siap siap sebelum didepak
dari rumah mewah ituu