PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gino yang Malang
Teori di kepala Mina tentang cara menghapus trauma seseorang ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Buku psikologi atau tips internet yang mengatakan bahwa 'korban harus didekatkan dengan faktor pemicu traumanya secara perlahan' rasanya ingin Mina bakar sekarang juga. Mengubah cap 'ibu tiri dajjal' menjadi 'ibu tiri peri' tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Sudah seminggu Mina menempati tubuh Alicia, dan setiap kali dia mencoba mendekat, Gino selalu gemetar hebat. Bocah tiga tahun itu akan langsung meringkuk, memejamkan mata erat-erat, dan bergumam dengan suara super pelit yang sangat memilukan.
"N-Nyonya... Ino inta maaf... Ino idak nakal... Janan cubit Ino... hiks..."
Melihat itu, Mina tidak berani melangkah lebih dekat. Dia terpaksa mundur dan hanya menatap bocah menggemaskan itu dari ambang pintu. Dadanya selalu terasa sesak setiap kali melihat respons Gino. Siapa yang tidak trauma? Dari sisa memori Alicia yang berkelebat di kepalanya, wanita ini sering melontarkan kata-kata makian yang sangat kasar, bahkan tega mencubit lengan dan perut buncit bocah tak berdosa itu sampai kebiruan. Ingatan anak usia tiga tahun itu pastinya merekam Alicia sebagai monster paling mengerikan di hidupnya.
"Gila ya ini Alicia asli, beneran gak punya hati nurani," umpat Mina pelan sambil bersandar di koridor setelah gagal lagi mendekati Gino.
"Bocah selucu itu disiksa dengan teganya. Kalau di dunia asli gue punya anak kayak Gino, udah gue unyel-unyel tiap hari." ucapnya sambil menatap Gino dari jauh.
Jiwa dan moral di dalam diri Mina makin diperparah dengan fakta baru yang dia temukan di rumah megah ini. Ternyata, kelakuan biadab Alicia menular ke beberapa pelayan. Mina memergoki tiga orang pelayan di rumah ini yang ikut-ikutan menyiksa Gino secara pasif. Mereka sengaja mengabaikan Gino, tidak memberinya makan tepat waktu, atau yang paling parah, menyajikan makanan yang sudah hampir basi dan berbau asam! Padahal ini adalah rumah Gino, rumah ayahnya, tapi bocah itu diperlakukan lebih rendah daripada hewan peliharaan.
"Lagian, ini bapaknya ke mana sih?! Mati suri apa gimana?!" omel Mina frustrasi di dalam kamarnya.
Sudah lebih dari seminggu dia di sini, tapi batang hidung suaminya Tuan Arsenio belum juga kelihatan. Jangankan datang, menelepon ke rumah pun tidak pernah. Mina merasa seperti terjebak di dalam neraka rumah tangga orang lain tanpa tahu peta jalannya.
Untuk mengalihkan rasa frustrasinya, Mina berguling di atas ranjang king size-nya dan meraih ponsel berlogo apel digigit milik Alicia. Kemarin dia baru tahu kalau pemilik tubuh ini ternyata adalah seorang selebgram papan atas dengan jutaan pengikut. Mina membuka aplikasi Instagram dan seketika terperangah melihat angka di profilnya.
"Busret! Followers-nya lima juta?!" Mina menjerit heboh, sifat sembrononya keluar. Dia mengucek matanya tidak percaya.
"Buset, kontras banget sama hidup gue yang dulu. Di dunia asli, followers gue cuma seratus orang, itu pun setengahnya akun fake buatan gue sendiri buat nge-wibu sama nge-stalk mantan!" dumelnya cemberut.
Mina asyik men-scroll feeds Alicia. Isinya foto-foto aesthetic, barang-barang branded, dan OOTD yang memamerkan lekuk tubuhnya yang memang sangat terjaga dan menggoda. Pantesan badannya bagus banget, makannya aja salad mulu, batin Mina.
Namun, keasyikan Mina langsung buyar saat pintu kamarnya digedor dengan kasar dari luar.
Braakk!
Sarah masuk dengan raut wajah yang luar biasa panik, napasnya tersengal-sengal seperti habis dikejar setan.
"N-Nyonya! Gawat, Nyonya!"
Mina langsung duduk tegak, ponselnya hampir saja terlempar. "Ada apa, Sarah? Jangan bikin gue senam jantung dong!"
"Tuan Muda Gino, Nyonya! Tuan Muda tiba-tiba muntah-muntah dan hidungnya mengeluarkan banyak darah!" pekik Sarah.
"APA?!"
Mendengar hal itu, jantung Mina serasa berhenti berdetak. Tanpa alas kaki, dia langsung melompat dari ranjang dan berlari kencang keluar kamar, mengabaikan Sarah yang berteriak memanggilnya. Jiwa ceria dan santainya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa panik yang murni.
Begitu sampai di depan kamar Gino, pemandangan di dalamnya membuat darah Mina mendidih seketika. Gino, bocah kecil itu, tergeletak tidak berdaya di atas lantai marmer yang dingin. Wajahnya seputih kertas, bajunya kotor karena muntahan, dan aliran darah segar mengalir dari kedua lubang hidungnya.
Dan yang membuat Mina paling murka adalah keberadaan tiga pelayan yang berdiri tidak jauh dari sana. Bukannya menolong, mereka hanya diam menonton, bersedekap, bahkan salah satunya tampak berbisik sambil tersenyum sinis, seolah-olah kondisi kritis Gino adalah sebuah pertunjukan sirkus yang bagus.
"Kalian... APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH?!" teriak Mina membahana, suaranya menggelegar penuh amarah hingga ketiga pelayan itu terlonjak kaget.
"Ny-Nyonya..." salah satu pelayan gagap.
"Kalian punya mata dan otak gak?! Anak kecil kritis begini malah ditontonin! Kalian mau jadi pembunuh?!" amuk Mina dengan mata berkilat marah. Dia tidak sudi membuang waktu untuk mendengarkan alasan mereka. Mina langsung menerjang maju, berlutut di lantai dingin, dan dengan hati-hati namun cekatan mengangkat tubuh mungil Giino ke dalam dekapannya.
Tubuh Gino Bu terasa sangat ringan, terlalu ringan untuk anak seusianya, dan suhunya dingin sekali.
"Gino, sayang, denger Mama... tahan ya, nak," bisik Mina dengan suara bergetar, air matanya mulai menetes saat merasakan napas Gino yang pendek-pendek.
Mina bangkit berdiri sambil menggendong Gino erat-erat. "Sarah! Siapkan mobil sekarang! Bilang ke supir kita ke rumah sakit paling dekat!" teriak Mina sambil berlari keluar koridor.
Di area parkir bawah tanah, Pak Heru, sang supir pribadi, sudah membukakan pintu mobil dengan tangan gemetar setelah mendapat perintah mendadak dari Sarah. Namun, begitu melihat Mina berlari sambil menggendong Tuan Muda Gino yang tidak sadarkan diri dengan wajah penuh darah, Pak Heru langsung membeku. Wajahnya berubah pucat pasi.
Di dalam pikiran Pak Heru, skenario terburuk langsung terbentuk. "Ya Tuhan... Nyonya Alicia pasti habis menyiksa Tuan Muda lagi sampai pingsan begini!" batin Pak Heru ketakutan.
Padahal, selama seminggu terakhir ini suasana rumah terasa sepi, tidak ada suara teriakan murka dari sang nyonya atau tangisan histeris dari Tuan Muda Gino. Pak Joko mengira sang nyonya sudah mulai bertobat dan berubah baik, tapi ternyata ini adalah puncaknya! Sang nyonya mungkin sudah muak pura-pura baik dan langsung menghajar Tuan Muda sampai sekarat.
Kondisi saat ini benar-benar tidak bagus. Tuan Arsenio sama sekali tidak bisa dihubungi sejak beberapa hari lalu karena urusan bisnis di luar negeri yang sangat mendesak. Pak Heru takut jika Tuan Muda Gino tidak akan selamat hari ini. Memikirkan bocah malang itu akan tutup usia di tangan ibu tirinya membuat bulu kuduk Pak Heru meremang dan wajahnya makin memucat.
Mina langsung masuk ke kursi belakang, mendekap Gino erat-erat di dadanya yang bergemuruh. Melihat Pak Heru yang masih bengong di depan pintu kemudi, emosi Mina langsung meledak.
"PAK SUPIR! NGAPAIN MASIH BENGONG DI SITU?! JALANIN MOBILNYA SEKARANG! CEPETAN!" teriak Mina histeris, air matanya sudah bercucuran membasahi pipinya yang cantik.
Pak Heru tersentak, langsung masuk ke kursi kemudi dan menyalakan mesin mobil dengan terburu-buru. Mobil mewah itu melesat keluar dari gedung penthouse dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota yang cukup padat.
"Cepat lagi, Pak! Terobos aja lampu merahnya aman itu! Anakku dingin banget, Pak!" teriak Mina lagi dari kursi belakang, suaranya parau penuh ketakutan.
Sebenarnya, Mina sangat takut sekarang. Jiwanya yang asli hanyalah seorang gadis muda biasa yang paling mentok menghadapi situasi darurat saat pesanan kafe membludak. Dia belum pernah menghadapi situasi hidup dan mati seperti ini. Di dalam dekapannya, Gino terasa sangat pucat, dingin, dan tidak berdaya. Sentuhan darah Gino yang mengenai kulit lengan Mina membuat seluruh tubuhnya merinding.
Mina menunduk, menatap wajah sayu Gino yang memejamkan mata erat. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh bocah ini, entah karena racun dari makanan basi para pelayan bajingan itu, atau penyakit lain yang selama ini diabaikan oleh Alicia yang asli. Yang pasti, anak menggemaskan ini sedang tidak baik-baik saja, dan Mina bersumpah di dalam hatinya, jika Gino sampai kenapa-napa, dia tidak akan melepaskan siapa pun yang terlibat dalam penderitaan anak ini.
semngat update lagi ya kak