NovelToon NovelToon
DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

DEWA ABSOLUT BANGKIT DI PONTIANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

Raka Pratama hanyalah pemuda yatim piatu dari Pontianak yang terbiasa diremehkan oleh dunia.
Namun pada malam ketika darahnya menetes di tepi Sungai Kapuas, langit Pontianak retak, para dewa terbangun, dan sebuah suara agung menyatu dengan jiwanya.
[Sistem Dewa Absolut aktif.]
[Selamat datang kembali, Tuan.]
Sejak malam itu, Raka bukan lagi manusia biasa.
Makhluk asing dari Dunia Immortal mulai turun ke Pontianak. Para kultivator menyusup ke kota. Keluarga-keluarga besar diam-diam bekerja sama dengan mereka demi kekuasaan.
Mereka semua mengira Raka menyimpan pusaka dewa.
Padahal yang bangkit dalam tubuhnya bukan pusaka.
Melainkan pemilik takhta yang dulu membuat para dewa berlutut.
Pontianak pun berubah menjadi medan perang antar dunia.
Dan Raka Pratama… adalah pusat dari kebangkitan itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Tangannya berhenti.

Untuk beberapa detik, ruangan itu benar-benar sunyi.

Raka mengambil map tersebut.

Ia membukanya.

Di halaman pertama, ada fotokopi catatan lama.

Tidak rapi.

Sebagian tinta sudah pudar.

Namun beberapa kata masih bisa dibaca.

Bayi laki-laki ditemukan di sekitar wilayah dekat Sungai Kapuas.

Malam hujan.

Tanpa identitas.

Dibawa oleh warga ke tempat penampungan sementara.

Nama awal tidak diketahui.

Nama kemudian dicatat sebagai Raka Pratama.

Raka membaca tulisan itu tanpa berkedip.

Dadanya terasa dingin, tetapi wajahnya tetap tenang.

“Sistem.”

[Aku melihat.]

“Ini benar?”

[Catatan manusia tidak lengkap.]

[Namun sebagian sesuai dengan jejak lama.]

Raka menatap kalimat “ditemukan di sekitar wilayah dekat Sungai Kapuas.”

Jadi ia bukan sekadar yatim piatu biasa.

Setidaknya, tidak seperti cerita yang selama ini ia dengar.

Ia membalik halaman.

Ada nama orang yang dulu membawa bayi itu.

Sabrang.

Raka menyipitkan mata.

“Ki Sabrang.”

[Benar.]

Raka menutup map itu perlahan.

Tidak ada kalimat panjang di kepalanya.

Tidak ada pertanyaan yang ia ucapkan berulang.

Ia sudah punya target berikutnya.

Ki Sabrang.

Namun sebelum itu, ada urusan yang lebih dekat.

Raka menatap seluruh rak di ruangan itu.

“Kumpulkan semua dokumen yang dipakai untuk menekan warga.”

[Cakupan luas.]

“Semua.”

Cahaya emas menyebar dari tubuh Raka.

Map-map di rak bergetar. Lemari terkunci terbuka satu per satu. Kertas-kertas keluar dari tempatnya, melayang ke udara, lalu berkumpul di tengah ruangan.

Berkas palsu.

Foto pengawasan.

Daftar target.

Catatan sogokan.

Surat rekayasa.

Data warga kecil yang dipakai sebagai alat tekan.

Semua melayang di depan Raka.

Di lantai bawah, orang-orang yang tersungkur melihat cahaya emas turun dari celah tangga. Mereka gemetar dan tidak berani bergerak.

Raka mengangkat tangan.

Kertas-kertas itu berputar, lalu terbagi menjadi dua kelompok.

Yang asli dan berguna untuk warga.

Yang palsu dan busuk.

Raka menunjuk kelompok kedua.

“Bakar.”

Api emas menyala.

Dokumen palsu terbakar tanpa asap.

Tidak merambat ke rak.

Tidak menyentuh dokumen asli.

Hanya kertas-kertas kotor itu yang berubah menjadi abu.

Sistem berbicara.

[Dokumen palsu dihancurkan.]

[Dokumen asli masih tersisa.]

Raka mengambil beberapa map asli yang berisi data tanah warga, bukti pembayaran, dan surat lama yang bisa melindungi pedagang dari tekanan.

Ia memasukkannya ke dalam satu kotak.

Lalu ia mengambil map hitam tentang asal-usulnya.

Map itu ia simpan di dalam jaket.

Langkah kaki terdengar dari tangga.

Pria berkemeja biru merangkak naik dengan wajah pucat.

“Jangan… jangan hancurkan semuanya. Itu milik Pak Hendra.”

Raka menatapnya dari pintu ruang arsip.

“Bukan.”

Pria itu gemetar.

“Itu dokumen kantor.”

Raka berjalan mendekat.

“Itu alat untuk memeras.”

Pria itu menunduk.

“Saya cuma bekerja.”

Raka berhenti di depannya.

“Kau memilih pekerjaan yang membuat orang kecil kehilangan tempat hidup.”

Pria itu tidak menjawab.

Mata Dewa membaca cukup banyak kebohongan di tubuhnya.

Ia bukan pegawai kecil.

Ia koordinator.

Ia tahu dokumen mana yang dipalsukan, siapa yang ditekan, dan berapa uang yang masuk.

Raka mengangkat satu jari.

Cahaya emas masuk ke dada pria itu.

Pria itu tersungkur sambil mencengkeram dadanya.

Raka berkata datar, “Mulai hari ini, setiap kali kau membuat satu dokumen palsu untuk menekan orang biasa, tanganmu akan kaku selama tujuh hari.”

Pria itu menangis.

“Bang, saya mohon…”

“Kalau kau ulangi tiga kali…”

Raka menatapnya dingin.

“…tanganmu tidak akan bergerak lagi seumur hidup.”

Pria itu mengangguk cepat.

“Iya, Bang. Saya berhenti. Saya berhenti.”

Raka melewatinya sambil membawa kotak dokumen.

Di lantai bawah, empat orang masih tersungkur. Raka meletakkan kotak itu di meja depan, lalu menatap mereka.

“Bawa kotak ini ke pasar.”

Tidak ada yang bergerak.

Raka menatap pria besar yang tadi membawa tongkat.

“Kau.”

Pria itu langsung merangkak bangun.

“Ke pasar mana, Bang?”

“Pasar tempat Bu Lestari berdagang.”

“Iya, Bang.”

“Berikan kepada Bu Lestari dan Pak Harun. Katakan ini dokumen yang bisa melindungi beberapa pedagang dari laporan palsu.”

Pria itu mengangguk cepat.

“Iya.”

Raka menatap semua orang di ruangan.

“Kalau satu lembar hilang…”

Udara menekan turun.

Mereka semua menunduk.

“…aku kembali.”

Tidak perlu ancaman lain.

Kalimat itu cukup.

Raka keluar dari bangunan.

Di luar, dua penjaga yang masih berlutut langsung menyingkir dengan tubuh gemetar.

Langit sore mulai gelap.

Raka berjalan keluar dari gang kecil sambil membawa map hitam di dalam jaketnya.

Di rumah keluarga Mahendra, Hendra Wiranata menerima panggilan dari anak buahnya.

Wajahnya berubah dalam hitungan detik.

“Apa maksudmu arsip dibakar?”

Suara di seberang telepon gemetar.

“Bukan semua, Pak. Yang palsu saja. Dia… dia seperti tahu mana yang palsu.”

Hendra berdiri cepat.

“Tahan dia!”

“Tidak bisa, Pak. Dia sudah pergi.”

Hendra membanting gelas di meja.

Prang!

Surya Mahendra yang sedang duduk di ruangan itu menatapnya dengan wajah gelap.

“Apa lagi?”

Hendra menoleh dengan napas berat.

“Raka menemukan gudang arsipku.”

Reza berdiri.

“Bagaimana bisa?”

Hendra mengertakkan gigi.

“Dia menghancurkan dokumen tekanan. Dia ambil beberapa dokumen asli.”

Surya menyipitkan mata.

“Dokumen apa lagi?”

Hendra ragu sesaat.

Hei Yan yang berdiri di dekat jendela langsung menoleh.

Wajahnya berubah lebih serius.

“Dia menemukan catatan asal-usulnya?”

Hendra diam.

Diam itu cukup.

Hei Yan tersenyum perlahan.

“Bagus.”

Surya menatapnya tajam.

“Bagus?”

“Ya.”

Hei Yan mengangkat telapak tangannya yang masih menyimpan luka emas.

“Sekarang dia akan mencari Ki Sabrang.”

Reza mengerutkan kening.

“Siapa lagi itu?”

Surya menjawab pelan, “Orang tua yang dulu pernah disebut dalam cerita lama keluarga Suryadarma.”

Hei Yan menatap ke arah kota.

“Kalau Raka bertemu Ki Sabrang, ingatannya akan bergerak lebih cepat.”

Hendra menatapnya tidak percaya.

“Bukankah itu buruk?”

Hei Yan tersenyum dingin.

“Untuk kalian, mungkin.”

Ruangan menjadi sunyi.

Surya berdiri perlahan.

“Apa maksudmu?”

Hei Yan menoleh.

“Aku tidak bekerja sama dengan kalian karena ingin Raka tetap lemah.”

Bram yang baru masuk dari luar langsung berhenti di depan pintu.

Hei Yan melanjutkan tanpa peduli.

“Aku butuh dia membuka lebih banyak takhta di dalam dirinya.”

Surya menatapnya dengan sangat dingin.

“Jadi kau memakai kami sebagai alat?”

Hei Yan tersenyum.

“Bukankah kalian juga memakai aku untuk mendapatkan Pontianak?”

Tidak ada yang menjawab.

Karena itu benar.

Reza menggeram.

“Kau—”

Hei Yan menatapnya.

Reza langsung terdiam.

Hei Yan melangkah ke tengah ruangan.

“Kalian ingin wilayah. Aku ingin takhta. Hendra ingin jaringan. Semua orang di ruangan ini memakai semua orang.”

Ia tersenyum lebih gelap.

“Jadi jangan berpura-pura terkejut.”

Surya tidak bicara beberapa detik.

Lalu ia berkata pelan, “Kalau Raka semakin kuat, dia akan semakin sulit dikendalikan.”

Hei Yan menjawab, “Karena itu kita harus menemukan cara mencabutnya sebelum dia mengingat semuanya.”

Hendra memegang tangan kanannya yang masih sakit.

“Dan caranya ada pada Ki Sabrang?”

“Mungkin.”

Hei Yan menatap luka emasnya.

“Atau setidaknya, orang tua itu tahu pintu pertama.”

Bram menunduk.

Ia tidak suka mendengar percakapan itu.

Bukan karena ia peduli pada Raka.

Tapi karena semakin lama ia berada di ruangan ini, semakin jelas bahwa keluarga Mahendra sedang bermain dengan sesuatu yang jauh di luar kemampuan mereka.

Di sisi lain kota, Raka berjalan menuju warung Pak Harun.

Di tangannya tidak ada kotak.

Kotak itu sedang dibawa oleh orang-orang Hendra ke pasar sesuai perintahnya.

Namun di dalam jaketnya, map hitam terasa berat.

Raka berhenti di tepi jalan.

Ia membuka map itu sekali lagi.

Nama Ki Sabrang tertulis di sana.

Alamat terakhir tidak lengkap.

Hanya ada catatan:

Sering terlihat di sekitar tepian Sungai Kapuas dan kawasan makam tua.

Raka menutup map itu.

“Sistem.”

[Aku mendengar.]

“Cari Ki Sabrang.”

[Jejak lemah terdeteksi.]

“Di mana?”

[Sekitar makam tua dekat tepian Kapuas.]

Raka memasukkan map itu kembali ke dalam jaket.

“Kalau begitu kita ke sana.”

[Tujuan: mencari jawaban asal-usul Tuan?]

Raka mulai berjalan.

“Bukan hanya jawaban.”

Matanya dingin.

“Aku ingin tahu siapa yang dulu menaruhku di Pontianak.”

1
Alia Chans
keren banget plisss😖
Rayzent
menarik nih, lagi gabut 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!