NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Keputusan Thalia

Pagi datang tanpa memberi Thalia waktu untuk memahami apa yang berubah sejak tadi malam setelah acara pesta. Ia langsung tidur begitu mereka tiba di rumah setelah melepaskan gaun merah yang menyiksanya sepanjang acara, seluruh tenaganya sudah terkuras dengan cara yang tidak ia pahami untuk menanggapi Renda yang kembali mengungkit jas Arkana yang sempat berada di bahunya.

Thalia duduk di kursi meja makan, menatap teh hangat yang belum ia sentuh. Di sisi berbeda, Rendra sudah rapi dengan kemeja putih, jasnya tersampir di sandaran kursi, duduk dengan kepala menunduk menatap layar ponsel.

Bu Ratmi meletakkan sepiring roti panggang dan secangkir kopi di depan Rendra, lalu mundur dengan hati-hati.

Rendra mengambil cangkir kopinya. “Kita perlu bicara sebentar.”

Thalia mengangkat wajah. “Kukira kamu sudah berangkat.”

“Aku sengaja menunda,” jawab Rendra

“Apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Thalia.

Rendra menatap istrinya setelah meletakkan cangkir di meja. “Sikapmu tadi malam.”

Thalia menggenggam cangkir tehnya.

“Bersikaplah seperti seorang istri, aku tidak mau kamu membuat Pak Arkana merasa punya celah untuk mencampuri hidup kita,” ucap Rendra.

Thalia menatap suaminya lama. Berusaha menyembunyikan getir di hatinya. Ia seharusnya tidak berharap suaminya akan mengatakan menyesal sudah membuat dirinya tidak nyaman di sepanjang acara, karena itu mustahil terjadi.

Lagi-lagi, semua hanya tentang citra dan kendali yang Rendra miliki.

“Dia tidak mencampuri hidup kita,” jawab Thalia pelan.

“Dia menegurku di depan orang lain, dan tadi malam bukan pertama kalinya. Itu terjadi karena kau tidak bisa menjaga sikap,” tuduh Rendra.

“Karena kamu memang memperlakukanku seperti bagian dari proposalmu,” jawab Thalia setelah beberapa saat terdiam.

Rahang Rendra mengeras.“Jangan ulangi kalimat itu.”

“Kenapa? Karena fakta terdengar buruk?” sahut Thalia.

“Karena kamu mulai terdengar seperti dia,” jawab Rendra.

Thalia menarik napas. “Tidak, Ren. Aku terdengar seperti diriku sendiri. Mungkin kamu hanya belum terbiasa mendengarnya.”

Rendra tersenyum tipis. “Dirimu sendiri yang mana? Yang dulu menurut dan tenang, atau yang sekarang mulai berani melawanku karena merasa ada pria lain di belakangmu?”

Thalia menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyambar. “Aku tidak punya siapa pun di belakangku.”

“Jangan naif, Lia. Pak Arkana jelas tertarik padamu.”

Kalimat itu membuat udara di sekitar Thalia menghilang. Thalia menatap suaminya, menunggu pria itu menarik ucapannya kembali. Tapi Rendra tidak melakukannya. Justru pria itu mencondongkan tubuh sedikit.

“Dan kamu tahu itu.”

Thalia merasakan tenggorokannya kering. “Aku tidak tahu apa pun.”

“Kamu tahu.” Rendra berkata pelan. “Kamu tahu dari cara dia menatapmu. Dari cara dia memberimu jas. Dari cara dia memanggil namamu seolah dia punya hak.”

“Cukup.”

“Belum.” Mata Rendra menajam. “Yang ingin aku tahu, kamu akan membiarkan ini sejauh apa?”

Thalia terdiam. Ada sesuatu yang sangat melelahkan dalam posisi itu. Ia duduk di hadapan suaminya sendiri, ditanya seolah ia sudah melakukan dosa yang belum pernah ia sentuh.

“Aku tidak melakukan apa pun dengan Pak Arkana.”

“Tapi kamu mulai memikirkannya,” sahut Rendra tersenyum sinis.

“Rendra!”

“Jawab jujur.”

Thalia menatap suaminya dengan dada naik turun.

“Aku memikirkan banyak hal akhir-akhir ini,” kata Thalia akhirnya. “Tentang hidupku. Tentang pernikahan kita. Tentang bagaimana aku tidak lagi mengenali dirimu.”

“Jangan mengalihkan,” tukas Rendra.

“Aku tidak mengalihkan.” suara Thalia mulai bergetar. “Kamu ingin tahu apa yang kupikirkan? Aku memikirkan kenapa orang lain bisa melihat aku tidak nyaman, sementara suamiku justru memaksaku bertahan di sana. Aku memikirkan kenapa aku harus merasa bersalah hanya karena ada orang yang memperlakukanku dengan sopan. Aku memikirkan kenapa setiap kali aku terluka, kamu lebih sibuk mencari siapa yang harus disalahkan daripada bertanya apa yang kamu lakukan padaku.”

Rendra diam.

Untuk sesaat, Thalia mengira kalimat itu akan masuk. Sedikit saja di hati suaminya. Setidaknya cukup untuk membuat pria itu melihatnya bukan sebagai lawan bicara yang harus dikalahkan, melainkan istri yang sedang terluka.

Namun harapan itu mati ketika Rendra tersenyum dingin.

“Hebat.”

Thalia menatap suaminya kosong. “Apa?”

“Kamu benar-benar sudah pandai menyusun kalimat sekarang.” Rendra berdiri, merapikan manset kemejanya. “Mungkin karena sekarang ada yang mendengarkan.”

Thalia merasa sesuatu dalam dirinya runtuh sekali lagi.

Rendra mengambil jas dari sandaran kursi. “Nanti siang aku ada meeting di hotel. Kamu ikut.”

“Tidak," tolak Thalia cepat.

Rendra menoleh. “Aku tidak bertanya.”

“Aku tidak mau ikut,” tegas Thalia.

“Meeting itu masih berkaitan dengan acara semalam. Pak Arkana juga hadir.”

“Justru karena itu aku tidak mau,” jawab Thalia.

“Dan justru karena itu kamu harus ikut,” balas Rendra.

Thalia bangkit dari kursi. “Untuk apa? Agar kamu bisa membuktikan aku masih bisa kamu bawa ke mana pun setelah dia menegurmu?”

Rendra berjalan mendekat.

“Thalia, dengarkan aku baik-baik. Setelah kejadian semalam, kalau kamu tiba-tiba menghilang dari acara yang melibatkan Pak Arkana, orang akan bertanya-tanya. Mereka akan berpikir ada sesuatu.”

“Memang ada sesuatu bukan?” sambut Thalia.

“Apa?”

Thalia menatap suaminya. “Aku lelah.”

Rendra terdiam sebentar. “Kelelahanmu tidak lebih penting dari nama baik kita."

Kedua tangan Thalia terkepal di sisi tubuhnya. Ia mulai membenci dirinya sendiri yang tidak bisa melawan.

“Jam satu aku jemput,” kata Rendra. “Pakai yang rapi. Tidak perlu terlalu menarik perhatian.”

"Tidak," ulang Thalia lebih tegas. "Aku mau ke rumah Mama hari ini."

"Jangan mulai," suara Rendra naik satu oktaf, tetapi itu tidak membuat Thalia mundur.

"Satu lagi." Thalia berdiri. "Aku ingin kembali bekerja."

Thalia membalikkan badan dan berlalu pergi meninggalkan ruang makan, mengabaikan suara tinggi Rendra yang terus memanggil namanya.

.

.

.

Di tempat lain, Arkana berdiri menghadap jendela ruang kerjanya.

Jas hitam yang semalam dipakai Thalia tersampir di kursi kerjanya, sengaja ia kenakan kembali pagi ini saat aroma parfum Thalia masih tertinggal di sana.

Netra Arkana menatap lurus ke kota yang terbentang di depannya, namun pandangannya menerawang jauh. Pikiran serta benaknya tertinggal di balkon saat ia bersama Thalia, pada fantasi yang ia harapkan menjadi nyata.

"Kau yang membawa Thalia ke hadapanku, jadi jangan salahkan aku," gumam Arkana pelan.

Pintu ruang kerja diketuk.

Saka masuk membawa dukumen di tangan. “Pak, proposal dari pihak Rendra Pratama sudah masuk tahap final.”

Arkana menoleh. “Batalkan finalisasi.”

Saka tertegun. “Pak?”

“Audit ulang semuanya,” ucap Arkana.

“Semua dokumen?” tanya Saka sedikit melebarkan matanya.

“Semua.”

Saka mengangguk pelan, meski jelas terkejut. “Apakah ada indikasi masalah?”

Arkana mengambil dokumen itu dan membukanya sekilas. “Ada indikasi karakter.”

Saka diam.

Arkana menutup map. “Aku tidak percaya pada pria yang menggunakan istrinya sebagai alat untuk memasuki ruangan bisnis.”

“Baik, Pak.”

“Aku juga ingin tahu apa lagi yang dia gunakan dengan cara yang sama,” kata Arkana lagi.

Saka mengangguk mengerti. “Saya akan minta tim legal memeriksa ulang aset pendukung dan dokumen jaminan.”

“Lakukan diam-diam,” Arkana mengingatkan

“Baik.”

Setelah Saka keluar, Arkana kembali menatap jas hitam di kursinya.

Semalam, ia belum menyentuh Thalia lebih jauh, namun hasrat itu sudah ada, sangat jelas dan ia tidak bisa berpura-pura tidak merasakannya.

Dan pagi ini, Arkana membuat keputusan pertama bukan untuk merebut Thalia, melainkan untuk melihat seberapa dalam Rendra menyembunyikan kebusukannya.

Karena jika benar pria itu memakai Thalia sebagai bagian dari ambisinya, maka Arkana akan menemukan buktinya.

. . . .

. . . .

To be continued...

1
Dewi Payang
Langsung tersindir😄
Dewi Payang
Mulai gombal🤭🤭
Dewi Payang
Sama Arkana bisa ngomong gitu, tapi sama Rendra kalah terus🤭
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!