"Empat tahun menikah, kau tak kunjung memberikanku keturunan! Sekarang lihatlah, aku memiliki anak dari wanita lain!" sentak sang suami sembari menunjuk wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
Perpisahan keduanya, membuat Dinda benar-benar terpuruk. Terutama saat mengetahui suaminya selingkuh, hingga memiliki anak dari hubungan gelapnya.
"Titip putriku, Din. Tiga tahun lagi, aku bakal jemput dia," tutur mantan kekasihnya ditengah badai yang menandaskan rumah tangganya.
Kehidupan Dinda terfokus pada Glenka—bayi 18 bulan yang dititipkan padanya, dan melupakan pengkhianatan sang suami. Hingga pada akhirnya, ia telah menganggap bayi manis itu, selayaknya anak kandung.
Bagaimana kehidupan Dinda dan bayi mungil titipan mantannya? Akankah semua berakhir bahagia? Atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karita Ta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM | BAB 26
Tangisan Ervin belum berhenti bahkan setelah percakapan itu selesai. Pria itu masih berlutut di depan Dinda dengan kepala tertunduk lemah. Jemarinya menggenggam tangan wanita tersebut seolah takut kehilangan untuk terakhir kalinya.
Sedangkan Dinda—hatinya terasa hancur melihat kondisi suaminya sendiri. Karena bagaimanapun, ia pernah sangat mencintai laki-laki itu. Mungkin, sampai sekarang pun, ia masih mencintai suaminya.
Namun, luka yang ditinggalkan Ervin sudah terlalu dalam untuk dipaksa sembuh dalam waktu singkat.
“Aku nggak pernah bayangin kita bakal sampai di titik ini...” bisik Ervin dengan suara parau.
Air matanya jatuh lagi dan lagi. Ia benar-benar kacau, sampai kemeja putih yang dikenakannya tampak kusut berantakan.
“Aku kira...” pria itu tertawa kecil penuh sesak. “Aku kira selama kamu ada di rumah, semuanya bakal baik-baik aja.”
Dinda langsung memejamkan mata. Karena dulu—Ervin memang selalu seperti itu. Menganggap Dinda akan selalu ada. Selalu menunggu, dan selalu memaafkan.
Dan sekarang, saat semuanya hampir hilang, ia baru menyadari arti kehadiran wanita itu.
“Mas...” suara Dinda melemah. “Tolong jangan bikin semuanya makin susah.”
“Aku nggak tahu bagaimana cara ikhlas kehilanganmu.” Ervin menunduk dengan wajah putus asa.
Kalimat itu sukses membuat air mata wanita tersebut kembali jatuh. Karena kejujuran Ervin terasa begitu nyata malam ini.
Tidak ada ego. Tidak ada amarah. Hanya seorang laki-laki yang perlahan dihancurkan penyesalannya sendiri.
Setelah cukup lama terdiam, akhirnya Ervin berdiri perlahan. Tubuhnya terlihat limbung. Matanya merah. Sedangkan Dinda hanya bisa menunduk karena tak sanggup melihat pria itu terlalu lama.
“Aku pulang dulu,” ujar Ervin pelan.
Namun tepat sebelum berbalik—pria itu kembali menatap Dinda dengan mata penuh luka.
“Kalau suatu hari nanti...” suaranya serak. “Kamu beneran bahagia tanpa aku...”
Napas pria itu tertahan sesaat. “Aku harap, orang itu bisa jagain kamu lebih baik daripada aku.”
Deg.
Air mata Dinda langsung jatuh deras.
Sedangkan Ervin tersenyum kecil penuh kehancuran sebelum akhirnya berjalan keluar rumah.
Dan untuk pertama kalinya—Dinda tidak mengejar suaminya.
*****
Malam itu hujan turun cukup deras.
Sedangkan Ervin menyetir tanpa arah dengan mata kosong. Pikirannya penuh. Suara Dinda terus terngiang di kepalanya.
Aku juga masih cinta.
Tapi cinta aja ternyata nggak cukup.
Brak!
Tanpa sadar pria itu memukul setir mobil cukup keras. Dadanya terasa sakit. Sangat sesak. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—Ervin benar-benar takut sendirian.
Ponselnya bergetar pelan di dashboard mobil.
Jenita Calling.
Namun pria itu tidak langsung mengangkatnya. Sampai panggilan kedua masuk beberapa menit kemudian. Barulah ia menekan tombol hijau.
“Halo?”
“Kamu dimana?” suara Jenita terdengar pelan.
“Di jalan.”
“Kamu habis dari Dinda ya?”
Ervin memejamkan mata sesaat.
“Iya.”
Sunyi. Sampai akhirnya Jenita tertawa kecil hambar dari seberang sana.
“Aku nggak tahu harus kasihan ke siapa sekarang.”
Kalimat itu membuat Ervin menggenggam setir lebih erat. Karena semuanya memang berantakan. Dan semua orang sama-sama terluka.
“Aku minta maaf, Jen.”
“Buat apa?” Suara wanita itu mulai bergetar.
“Kita semua udah terlalu jauh.” Ervin menundukkan wajahnya lelah.
Sedangkan Jenita kembali bicara pelan—“Dia minta pisah ya?”
Deg.
Pria itu langsung terdiam. Dan keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
“Pantesan suara kamu kayak orang kehilangan nyawa.”
Air mata Ervin kembali jatuh diam-diam.
“Aku emang kehilangan rumah aku.”
*****
Di sisi lain, Dinda justru menangis lebih lama setelah Ervin pergi. Wanita itu terduduk sendirian di ruang tamu sambil memeluk kedua lututnya erat.
Dadanya terasa nyeri. Sangat nyeri.
Karena ternyata meminta berpisah dari orang yang masih dicintainya tidak membuat rasa sakit itu hilang. Justru terasa lebih menghancurkan.
“Din...” Suara ibunya terdengar pelan dari ambang pintu.
Begitu melihat wajah putrinya yang sembab, wanita paruh baya itu langsung mendekat lalu memeluk Dinda erat.
Dan saat itu juga—tangisan Dinda pecah semakin keras. “Aku capek, Buk...” isaknya lirih. “Aku bener-bener capek.”
Ibunya mengusap punggung putrinya perlahan. “Nggak apa-apa.”
“Aku masih sayang sama dia...” suara Dinda bergetar hebat. “Makanya sakit banget.”
Air mata sang ibu ikut jatuh pelan. Karena ia tahu—putrinya bertahan selama ini bukan karena bodoh. Melainkan karena terlalu tulus mencintai.
“Kadang...” bisik ibunya lembut. “Melepas itu juga bentuk sayang.”
Kalimat itu sukses membuat tangisan Dinda kembali pecah.
*****
Keesokan harinya, butik Bu Indri kembali ramai seperti biasa. Namun suasana hati Dinda benar-benar berantakan.
Matanya sembab, wajahnya pucat. Bahkan beberapa kali ia salah menggambar pola karena pikirannya tidak fokus.
“Din.” Suara Bu Indri membuat wanita itu langsung tersadar.
“Iya, Bu?”
“Kamu sakit?” Dinda langsung menggeleng kecil.
“Cuma kurang tidur aja.”
Tatapan Bu Indri melembut.
Wanita itu sebenarnya sudah tahu sebagian besar masalah rumah tangga asistennya. Dan sebagai seseorang yang pernah melihat langsung kehancuran putrinya sendiri—ia bisa memahami rasa sakit Dinda.
“Kalau capek, pulang aja dulu.”
“Nggak usah, Bu. Saya masih bisa kerja.”
Namun baru beberapa menit kemudian, suara kecil yang mulai familiar kembali terdengar dari arah depan butik.
“Daaa!”
Refleks kepala Dinda langsung menoleh cepat. Dan benar saja—Raka datang sambil menggendong Glenka yang langsung tersenyum lebar begitu melihat dirinya.
Seketika hati Dinda terasa sedikit hangat. Walaupun matanya kembali memanas. Karena entah kenapa—kehadiran bayi kecil itu selalu berhasil membuat sesaknya sedikit berkurang.
“Loh?” Raka langsung mengernyit begitu melihat wajah Dinda. “Lo nangis?”
“Enggak.”
“Bohong.” Pria itu langsung mendekat dengan raut khawatir.
Sedangkan Glenka justru mengulurkan tangan kecilnya ke arah Dinda sambil mengoceh pelan. “Maaa...”
Dan lagi-lagi—panggilan itu sukses membuat hati Dinda runtuh. Begitu menggendong bayi tersebut, air matanya justru jatuh lagi tanpa bisa ditahan.
“Eh...” Raka langsung panik. “Din?”
Namun Glenka malah sibuk mengusap pipi Dinda dengan tangan kecilnya seolah ikut bingung melihat wanita itu menangis.
Dan momen sederhana itu, justru membuat Dinda menangis semakin keras.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang memeluk dirinya tanpa menyakiti