Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.
Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.
Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.
Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter sembilan
Selina pasti telah membuang separuh dari isi kulkas ke lantai dapur, jadi aku harus pergi berbelanja ke toko bahan makanan hari ini. Karena tampaknya aku juga akan memasak untuk mereka, aku memilih beberapa daging mentah dan bumbu dapur yang bisa kugunakan untuk membuat beberapa menu makanan. Selina sudah memasukkan kartu kreditnya ke dalam ponselku. Semua yang kubeli akan otomatis ditagihkan ke rekening mereka.
Di penjara, pilihan makanan sama sekali tidak menarik. Menunya berputar antara ayam, telur dadar, ikan goreng, perkedel, nugget, dan sepotong daging misterius yang selalu membuatku ingin muntah. Di sampingnya akan ada sayuran pendamping yang dimasak sampai hampir hancur. Aku dulu sering berfantasi tentang apa yang akan kumakan saat aku bebas nanti, tetapi dengan anggaran belanjaku yang terbatas, pilihannya tidak jauh lebih baik. Aku hanya bisa membeli barang yang sedang diskon, dan begitu aku terpaksa tinggal di dalam mobil, pilihannya menjadi jauh lebih terbatas lagi.
Keadaannya berbeda saat berbelanja untuk keluarga Arshawirya. Aku langsung menuju ke potongan daging steak terbaik—aku tinggal mencari tahu di YouTube cara memasaknya nanti. Aku terkadang biasa memasak beef steak untuk ayahku, tetapi itu sudah lama sekali. Jika aku membeli bahan-bahan yang mahal, hasilnya akan tetap terasa enak tidak peduli apa pun yang kulakukan.
Ketika aku kembali ke rumah keluarga Arshawirya, aku membawa empat kantong belanjaan yang penuh sesak di dalam bagasi mobilku. Mobil Selina dan Jeffran memenuhi dua slot tempat parkir di dalam garasi, dan dia menginstruksikanku untuk tidak parkir di area jalan masuk menuju rumah, jadi aku terpaksa meninggalkan mobilku di pinggir jalan raya. Saat aku sedang bersusah payah mengeluarkan kantong-kantong itu dari bagasi, Nicho sang penata taman muncul dari rumah sebelah dengan membawa semacam alat berkebun yang tampak mengerikan di tangan kanannya.
Nicho melihatku sedang kesulitan, dan setelah sempat ragu-ragu sejenak, dia berlari kecil menghampiri mobilku.
Dia mengernyitkan dahi menatapku.
"Let me do it." Katanya dalam bahasa Inggris dengan aksen yang sangat kental.
Aku mulai mengambil salah satu kantong, tetapi dia kemudian meraup keempat kantong itu sekaligus ke dalam lengan besarnya yang kekar, lalu membawanya menuju pintu depan. Dia mengangguk ke arah pintu, menunggu dengan sabar sampai aku membukanya. Aku melakukannya secepat mungkin, mengingat dia sedang membawa belanjaan seberat sekitar tiga puluh enam kilogram di lengannya. Dia mengentakkan sepatu botnya pada keset penyambut tamu, lalu membawa kantong-kantong belanjaan itu masuk lebih jauh ke dalam dan meletakkannya di atas konter dapur.
"Gracias." Kataku.
Bibirnya bergerak sedikit. "Bukan. Grazie."
"Grazie." Ulangku.
Dia tertahan di dapur selama beberapa saat, alisnya bertaut rapat. Aku menyadari sekali lagi bahwa Nicho itu tampan, dalam artian yang gelap dan agak mengintimidasi. Dia memiliki tato di lengan atasnya, sebagian tertutup oleh kausnya—aku bisa melihat nama 'Nicholas' tertulis di dalam gambar hati pada otot bisep kanannya. Lengan yang berotot itu bisa saja membunuhku tanpa membuatnya berkeringat sedikit pun jika dia berniat melakukannya. Namun aku tidak merasakan bahwa pria ini ingin menyakitiku sama sekali. Sebaliknya, dia justru tampak mengkhawatirkanku.
Aku teringat apa yang di gumamkan nya padaku sebelum Selina menginterupsi kami tempo hari.
Pericolo.
Bahaya.
Apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan kepadaku? Apakah dia berpikir aku sedang berada dalam bahaya di sini?
Mungkin aku harus mengunduh aplikasi penerjemah di ponselku. Dia bisa mengetik apa yang ingin dia katakan padaku dan—
Sebuah suara dari lantai atas memutus pikiranku. Nicho menarik napas dalam-dalam.
"Aku pergi dulu." Katanya, sambil berbalik arah dan melangkah cepat kembali menuju pintu.
"Tunggu..." Aku bergegas mengejarnya, tetapi dia jauh lebih cepat dariku. Dia sudah keluar dari pintu depan bahkan sebelum aku sempat melangkah keluar dari dapur.
Aku berdiri di ruang tamu selama beberapa saat, bimbang antara merapikan barang belanjaan atau mengejarnya. Namun kemudian keputusan itu diambilkan untukku saat Selina turun tangga menuju ruang tamu, mengenakan setelan celana panjang berwarna putih.
Selina melihatku berdiri di sana dan kedua alisnya langsung terangkat tinggi. "Laily?"
Aku memaksakan sebuah senyuman. "Iya?"
"Aku mendengar suara orang berbicara di bawah sini. Apakah kau menerima tamu?"
"Tidak. Tidak ada yang seperti itu."
"Kau tidak boleh mengundang orang asing masuk ke dalam rumah kami."
Dia mengernyitkan dahi menatapku. "Jika kau ingin membawa tamu berkunjung, aku menuntutmu untuk meminta izin dan memberi tahu kami setidaknya dua hari sebelumnya. Dan aku meminta agar kau menempatkan mereka di dalam kamarmu saja."
"Itu tadi hanya pria penata taman." Jelasku. "Dia membantuku membawakan barang belanjaan ke dalam rumah. Hanya itu saja."
Aku mengira penjelasan tersebut akan memuaskan Selina, tetapi alih-alih begitu, pandangan matanya justru menggelap. Sebuah otot berkedut di bawah mata kanannya.
"Penata taman? Nicho? Dia tadi ada di dalam sini?"
"Um." Aku menggosok bagian belakang leherku.
"Apakah itu namanya? Saya tidak tahu. Dia hanya membawakan barang belanjaan ke dalam."
Selina mengamati wajahku seolah-olah sedang mencoba mendeteksi adanya kebohongan.
"Aku tidak ingin dia masuk ke dalam rumah ini lagi. Dia sangat kotor karena bekerja di luar ruangan. Aku bekerja sangat keras untuk menjaga rumah ini agar tetap bersih."
Aku tidak tahu harus berkata apa untuk merespons hal itu. Nicho sudah menyeka sepatu botnya saat masuk ke dalam rumah dan dia tidak meninggalkan jejak kotoran sama sekali. Dan tidak ada yang bisa menandingi kekacauan yang kulihat saat pertama kali aku melangkah masuk ke rumah ini kemarin.
"Apakah kau memahamiku, Laily?" Desaknya padaku.
"Iya." Kataku dengan cepat. "Saya paham."
Matanya memandangiku dari atas ke bawah dengan cara yang membuatku merasa sangat tidak nyaman. Aku menggeser posisi tumpuan kakiku dengan canggung. "Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak pernah memakai kacamatamu?"
Jari-jariku langsung bergerak menyentuh wajahku. Kenapa pula aku harus memakai kacamata bodoh itu pada hari pertama? Harusnya aku tidak pernah memakainya, dan ketika dia menanyakannya padaku kemarin, harusnya aku tidak berbohong. "Um..."
Dia mengangkat sebelah alisnya. "Aku sedang berada di kamar mandi loteng atas tadi dan aku tidak melihat adanya cairan pembersih lensa kontak. Aku tidak bermaksud mengintip, tetapi jika kau nantinya akan menyetir dengan membawa anakku, aku menuntutmu untuk memiliki penglihatan yang baik."
"Benar..." Aku menyeka tanganku yang berkeringat ke celana jinsku.
Aku sebaiknya jujur saja. "Sebenarnya, saya tidak terlalu...ekhm..." Aku berdeham.
"Saya sebenarnya tidak butuh kacamata. Yang saya pakai saat wawancara kerja kemarin itu lebih ke... semacam, hiasan saja. Anda tahu kan?"
Dia membasahi bibirnya. "Begitu rupanya. Jadi kau membohongiku."
"Saya tidak bermaksud berbohong. Itu hanya untuk melengkapi gaya berbusana saya."
"Ya." Mata coklatnya menatap ku begitu dingin.
"Tetapi, bukankah setelah itu aku menanyakannya lagi padamu dan kau bilang kau sedang memakai lensa kontak?"
"Oh." Aku meremas kedua tanganku sendiri.
"Yah, kurasa... Iya, saya berbohong saat itu. Kurasa saya merasa malu tentang masalah kacamata tersebut... Saya benar-benar minta maaf."
Sudut-sudut bibirnya melengkung ke bawah. "Tolong jangan pernah membohongiku lagi."
"Tidak akan. Saya sungguh minta maaf."
Dia menatapku selama beberapa saat, pandangan matanya sulit dibaca. Kemudian dia melihat sekeliling ruang tamu, matanya menyapu setiap permukaan perabotan.
"Dan tolong bersihkan ruangan ini. Aku tidak membayarmu untuk menggoda penata taman."
Dengan kata-kata itu, Selina melangkah lebar keluar dari pintu depan, membantingnya hingga tertutup rapat di belakangnya.
Sekarang aku sadar bahwa wanita itu sangat sensitif dan peka pada apa yang terjadi disekitarnya.
Mungkin dia memiliki semacam kekhawatiran berlebihan tentang kesempurnaan tatakrama dan juga kebersihan.
.
.
.
.
.
.
To be continue....
Like gaes!!🥰
btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭