NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Sinar matahari sore yang mulai meredup tidak mampu mendinginkan suasana di Gang Rejeki. Di depan papan tripleks yang hanya berisi pengumuman kerja bakti selokan itu, Revan masih berdiri mematung. Tangannya mencengkeram erat kap mobil sedan hitamnya, sementara napasnya terdengar memburu pendek-pendek. Dada kirinya terasa seperti dihantam oleh sebongkah batu besar nyeri, sesak dan membuat pasokan oksigen di sekitarnya seolah-olah menguap habis.

​Di hadapannya, Pak RT baru saja menyalakan kembali mesin motor buntutnya. Suara knalpot yang preketek-preketek itu terdengar seperti suara tawa ejekan yang paling nyaring di telinga Revan.

​"Sudah ya, Revan, Bu Pras, Rika... kami mau pulang dulu. Kasihan warga di dalam gang sudah tidak sabar menunggu giliran pembagian bakso gratis dari Mbak Arumi. Silakan kalian lanjutkan sesi melamunnya di sini, tapi awas, jangan sampai mobil cicilannya menghalangi jalan masuk truk material besok pagi!" seru Bu Ida dari atas motor dengan nada yang luar biasa ceria.

​Bremmm... preketek...

Kebetulan memang Arumi di bonceng ibu penjual bakso yang akan ikut membagikan bakso di kampung maknanya motor Arumi dipakai Bu Ida.

​Motor buntut itu pun melesat pergi membelah gang, meninggalkan kepulan asap tipis dan aroma kuah bakso urat yang gurih ke arah wajah ketiga manusia parasit tersebut.

​Begitu rombongan Pak RT menghilang di balik tikungan, barulah Mama Revan tersadar dari syoknya. Wanita paruh baya itu langsung merosot, bersandar pada bodi mobil dengan lutut yang lemas seperti jeli. Rentengan gelang emas palsu di pergelangan tangannya beradu, menciptakan bunyi gemerincing yang kini terdengar sangat menyedihkan.

​"R-Revan... itu tadi nyata, kan? Mama tidak salah lihat angka nol di kertas tadi, kan?" cicit Mama Revan, suaranya bergetar hebat penuh ketakutan. "Ada angka sembilan di depan, lalu diikuti angka nol yang banyak sekali... Itu... itu artinya Arumi punya uang hampir sepuluh miliar rupiah di tabungannya?!"

​Revan tidak menjawab. Pria itu hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan mata yang sepenuhnya kosong. Ego kelaki-lakiannya yang selama sepuluh tahun ini ia agung-agungkan di hadapan Arumi, kini terasa remuk redam, hancur lebur tak berbentuk. Pikiran Revan melayang kembali ke masa-masa di mana ia dengan teganya melemparkan uang belanja seratus ribu rupiah untuk satu bulan ke wajah Arumi. Ia ingat bagaimana ia selalu membentak Arumi, menuduh wanita itu sebagai beban finansial, dan mengancam akan menceraikannya jika Arumi berani mengeluh tentang daster-daster batiknya yang mulai robek di bagian ketiak.

​Dan sekarang? Wanita yang ia perlakukan lebih rendah daripada pembayar pajak di rumahnya itu ternyata adalah seorang miliarder. Seorang wanita yang dengan sekali jentikan jari bisa membeli harga diri keluarga Revan beserta seluruh isinya secara tunai.

​"Mas... Mas Revan, bagaimana ini?!" jerit Rika frustrasi, mengguncang-guncang lengan kemeja batik sutra milik kakaknya. "Kalau Arumi sekaya itu, berarti anak-anaknya... Bintang dan Langit, mereka bakal jadi anak miliarder!

Sedangkan kita? Rumah kita masih nyicil lima belas tahun lagi, Mas! Mobil ini saja uang mukanya pakai uang tabungan ruko Mama yang digadaikan! Kenapa... kenapa malah jadi begini?!"

​"Diam kamu, Rika!" bentak Revan tiba-tiba, suaranya meninggi karena frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun. Pria itu menyugar rambutnya dengan kasar, membuat tatanan rambut klimisnya berantakan. "Kamu dan Mama dari tadi cuma bisa menjerit-jerit! Kakek tua bangka itu... Pak Praga... bagaimana bisa dia punya uang sebanyak itu tanpa sepengetahuan kita?! Selama sepuluh tahun saya jadi menantunya, dia cuma pakai kaos kutang bolong-bolong dan sarung lusuh di teras gubuk reyot itu!"

​"Mana Mama tahu, Revan!" sahut Mama Revan, suaranya mulai meninggi karena panik bercampur sesal yang mendalam. "Kalau saja... kalau saja dari dulu kita tahu si Praga itu menyimpan harta karun sebanyak itu, Mama tidak akan pernah menyuruhmu menceraikan si Arumi! Jangankan menyuruhnya dasteran, Mama sendiri yang akan mendandani Arumi pakai baju butik setiap hari! Kita sudah salah langkah, Revan! Kita sudah membuang angsa bertelur emas!"

​Penyesalan. Sebuah kata yang sangat terlambat yang kini membakar batin keluarga Prasetyo.

​Revan memandangi tanah merah di seberang jalan yang kini sudah bersih rata dengan tanah. Di sana, di atas puing-puing penderitaan Arumi, sebuah fondasi istana berlantai tiga akan segera naik cetak. Revan merasa seperti seorang raja yang baru saja turun takhta secara sukarela, hanya untuk menyadari bahwa takhta yang ia tinggalkan sebenarnya terbuat dari emas murni, sementara mahkota baru yang ia banggakan saat ini hanyalah terbuat dari tembaga berkarat.

​"Tidak... ini belum berakhir," gumam Revan tiba-tiba, matanya yang semula kosong kini mulai memancarkan kilatan kelicikan yang dipaksakan. Ia menegakkan punggungnya, menatap ibunya dengan tatapan serius. "Ma... sidang tadi memang sudah mengetuk palu cerai. Tapi surat cerai resmi dari Pengadilan Agama biasanya baru keluar setelah dua atau tiga minggu ke depan. Artinya, secara hukum administrasi negara, Arumi belum sepenuhnya lepas dari saya!"

​Mama Revan langsung menegakkan duduknya, matanya berkedip penuh harap. "Maksudmu bagaimana, Revan?"

​"Arumi itu perempuan yang lembut, Ma. Sepuluh tahun dia hidup di bawah kaki saya, dia pasti masih punya sedikit sisa perasaan atau rasa segan kepada saya," ujar Revan, mencoba menghibur egonya yang terluka dengan teori-teori konyolnya sendiri. "Dia melakukan ini semua pasti karena emosi sesaat karena diprovokasi oleh warga kampung sialan itu. Kalau saya datang baik-baik, merendahkan hati sedikit, dan membawa Bintang serta Langit sebagai alasan... Arumi pasti akan luluh. Kita harus membujuknya untuk rujuk kembali sebelum surat cerai itu ditandatangani oleh panitera!"

​Rika langsung mengangguk setuju dengan mata yang berbinar serakah. "Benar, Mas! Kalau Mas Revan bisa rujuk sama Arumi, berarti rumah lantai tiga itu bakal jadi milik Mas Revan juga! Kita bisa pindah dari perumahan kita yang sempit itu dan tinggal di istana Arumi! Uang miliaran itu... kita bisa pakai buat beli ruko baru dan bayar lunas semua cicilan mobil ini!"

​"Betul, Revan! Kamu harus ambil kembali hatinya!" timpal Mama Revan, seluruh rasa malunya tadi mendadak lenyap, digantikan oleh rasa serakah yang kembali merajai urat nadinya. "Perempuan itu kalau sudah diiming-imingi soal masa depan anak-anaknya, pasti akan mengalah. Besok pagi, kamu harus datang ke rumah Bu Ida. Bawa buah-buahan yang mahal, pasang wajah paling sedih, dan minta maaf dengan tulus demi harta... maksud Mama, demi anak-anakmu!"

​Revan mengangguk pasti. Harapan palsu itu seketika memulihkan kekuatan lututnya. Dengan tergesa-gesa, ketiganya kembali masuk ke dalam mobil sedan hitam, memutar balik kendaraan dengan kasar, lalu melesat keluar dari gang untuk mempersiapkan rencana busuk mereka besok pagi.

​Sementara itu, suasana di kediaman Bu Ida benar-benar meriah. Rumah berukuran besar peninggalan almarhum suami Bu Ida itu kini dipenuhi oleh aroma kuah bakso yang sangat pekat dan menggugah selera. Di area halaman dan teras, belasan ibu-ibu kampung sedang sibuk menata mangkok, sementara bapak-bapak dan para pemuda kampung duduk lesehan di atas tikar pandan, menikmati bakso urat borongan dari Arumi.

​Bintang dan Langit tampak sangat gembira, berlarian di halaman rumah Bu Ida bersama anak-anak tetangga dengan mulut yang masih menyisakan bekas kuah bakso. Arumi memperhatikan kedua buah hatinya dari ambang pintu teras dengan senyuman yang teramat tulus. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Arumi tidak perlu merasa cemas memikirkan apakah esok hari ia bisa membeli susu untuk Langit atau membayar uang buku untuk Bintang. Beban finansial yang selama ini mencekik lehernya telah sirna, digantikan oleh kebebasan mutlak yang tak ternilai harganya.

​"Mbak Rum, ini teh hangatnya," ujar Bu Ida sembari meletakkan dua gelas teh manis di atas meja teras. Wanita paruh baya itu ikut duduk di samping Arumi, mengembuskan napas lega. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah resmi jadi janda kaya raya, rumah baru mau dibangun, anak-anak juga terlihat senang sekali."

​Arumi menerima gelas teh tersebut, menyesapnya pelan sebelum menjawab. "Rasanya seperti baru bangun dari mimpi buruk yang sangat panjang, Bu Ida. Selama ini saya selalu berpikir kalau hidup saya akan berakhir di gubuk reyot itu, mengemis belas kasihan dari Revan setiap akhir bulan. Ternyata... Gusti Allah punya cara tersendiri untuk mengangkat derajat saya melalui peninggalan almarhum Bapak."

​"Alhamdulillah, Mbak Rum. Almarhum Pak Praga itu orangnya luar biasa sabar. Dulu waktu dia masih hidup dan sering batuk-batuk di teras, dia selalu bilang ke saya kalau dia sengaja merahasiakan seluruh investasinya di kota demi melindungi Mbak Rum dari orang-orang yang berhati serakah. Ternyata insting orang tua itu tajam sekali ya. Pak Praga sudah tahu sejak awal kalau keluarga si Revan itu tipe manusia parasit," tutur Bu Ida dengan nada haru.

​Arumi mengangguk setuju. Ia mengusap permukaan gelas hangatnya, teringat akan pesan terakhir bapaknya di dalam surat wasiat yang tersimpan di dalam brankas bank.

​"Arumi anakku, jika suatu hari nanti suamimu memperlakukanmu seperti ratu, maka simpanlah harta ini untuk masa depan anak-anakmu. Namun, jika dia memperlakukanmu seperti budak, maka gunakanlah harta ini sebagai pedang untuk memutus rantai penderitaanmu dan hancurkanlah kesombongannya."

​Kata-kata bapaknya kini terbukti nyata. Harta itu kini telah menjadi pedang paling tajam yang berhasil menebas seluruh keangkuhan keluarga Prasetyo hingga tak bersisa.

​"Oh iya, Mbak Rum," potong Bu RT yang tiba-tiba datang menghampiri dengan membawa semangkok bakso sisa. "Tadi waktu kami jalan pulang dari tiang listrik setelah mengerjai si Revan, saya lihat muka suamimu... maksud saya mantan suamimu itu, kelihatan tidak terima sekali. Matanya itu loh, masih kelihatan licik. Saya tebak, dia pasti sedang memikirkan rencana baru untuk mendekatimu lagi setelah tahu kamu punya uang miliaran."

​Arumi tidak terkejut mendengar ucapan Bu RT. Ia sudah sangat menghafal tabiat Revan luar dalam selama sepuluh tahun hidup bersama. Pria itu adalah budak materi; ia menyembah kekayaan dan sangat memuja status sosial.

Mengetahui mantan istrinya memiliki uang kas segar miliaran rupiah pasti membuat otak kikir Revan berputar mencari cara untuk menguasainya.

​"Biarkan saja, Bu RT," jawab Arumi dengan nada suara yang sangat santai, bahkan terkesan meremehkan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau dia berani datang ke sini lagi untuk mencari masalah atau mencoba merayu saya... saya pastikan dia tidak akan hanya pulang dengan rasa malu, tapi saya akan buat dia merangkak keluar dari gang ini tanpa membawa harga diri sedikit pun."

​"Hahaha! Mantap, Mbak Rum! Itu baru namanya singa betina Gang Rejeki!" seru Bu RT penuh semangat, disambut tawa renyah dari Bu Ida dan beberapa ibu-ibu tetangga yang ikut mendengarkan.

​Keesokan harinya, Senin pagi pukul delapan, suasana di Gang Rejeki mendadak gempar kembali. Namun kali ini, kegemparan itu bukan karena kedatangan mobil mewah Revan, melainkan karena deru mesin tiga unit truk engkel besar bermuatan material bangunan yang mulai memasuki mulut gang.

​Truk-truk tersebut mengangkut ratusan batang besi ulir ukuran enam belas milimeter, puluhan kubik batu belah untuk pondasi, dan ratusan sak semen instan berkualitas premium. Di belakang truk, tampak dua puluh orang pekerja bangunan berseragam rapi lengkap dengan helm proyek berwarna kuning, dipimpin langsung oleh Kang Jaya dan seorang pria muda berkacamata yang membawa gulungan kertas cetak biru arsitektur.

​"Ayo, ayo! Amankan jalannya! Bapak-bapak, tolong motornya dipindahkan dulu ke pinggir, truk material mau lewat!" seru Pak RT yang sudah siaga sejak subuh dengan peluit bertengger di mulutnya.

​Warga kampung keluar dari rumah masing-masing dengan wajah penuh semangat. Para pemuda kampung dengan sukarela ikut membantu mengarahkan pantat truk agar bisa mundur dengan presisi di depan tanah milik Arumi yang sudah rata dengan tanah.

​Arumi berdiri di teras rumah Bu Ida, mengenakan pakaian kasual yang rapi sembari menggendong Langit, sementara Bintang berdiri di sampingnya memandangi truk-truk besar itu dengan mata berbinar-binar. Di samping Arumi, sang arsitek muda sedang membentangkan gambar desain maket istana berlantai tiga yang sesungguhnya bukan gambar gaib seperti yang diceritakan Pak RT kemarin, melainkan gambar teknis resmi yang sangat detail dengan struktur beton cakar ayam sedalam dua setengah meter.

​Tepat pada saat kesibukan proyek itu sedang mencapai puncaknya, sebuah mobil sedan hitam mewah yang sangat familiar kembali merayap pelan dari arah ujung gang. Mobil itu adalah mobil milik Revan.

​Namun, kali ini jalannya mobil tersebut tidak seangkuh kemarin. Mobil itu terpaksa harus berhenti total sekitar lima puluh meter dari lokasi tanah Arumi karena jalanan gang sepenuhnya tertutup oleh bodi truk engkel yang sedang menurunkan muatan batu belah.

​Pintu kemudi terbuka. Revan keluar dari dalam mobil. Penampilannya hari ini sengaja dibuat sangat rapi, bahkan cenderung berlebihan untuk ukuran berkunjung ke gang sempit. Ia mengenakan kemeja kasual bermerek, menyemprotkan parfum mahal dengan dosis tinggi hingga aromanya tercium dari jarak lima meter, dan membawa sebuah keranjang buah berukuran besar yang dihiasi pita merah di tangan kanannya. Di belakangnya, Mama Revan ikut keluar dengan senyuman yang dipaksakan semanis mungkin, wajah tuanya dilapisi bedak tipis tanpa ada lagi rentengan gelang emas palsu yang mencolok mereka sengaja memasang mode "rendah hati" demi melancarkan aksi merayu Arumi.

​Revan berjalan kaki melintasi tumpukan material dengan langkah yang hati-hati, berusaha menjaga sepatu pantofel mengkilapnya agar tidak terkena tanah merah. Matanya menatap nanar ke arah puluhan pekerja yang sedang sibuk luar biasa di atas tanah mantan istrinya. Melihat tumpukan besi-besi raksasa dan semen premium itu, hati Revan kembali berdenyut perih. Itu semua adalah bukti nyata bahwa Arumi memang memiliki kekayaan yang tak terbatas.

​Revan mempercepat langkahnya menuju teras rumah Bu Ida. Begitu matanya menangkap sosok Arumi yang sedang berdiri anggun memegang segelas teh, Revan langsung memasang senyuman paling manis yang pernah ia miliki selama sepuluh tahun ini.

​"Arumi..." panggil Revan dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut, mendayu-dayu, dan penuh dengan kepalsuan yang kentara. Pria itu melangkah naik ke teras rumah Bu Ida, lalu meletakkan keranjang buah mahal itu di atas meja dengan gestur yang sangat sopan. "Selamat pagi, Arumi. Bagaimana kabarmu hari ini? Ini... saya membawa sedikit buah-buahan segar kesukaanmu dan anak-anak. Tadi sengaja beli di supermarket premium di dekat kantor."

​Melihat kedatangan Revan dan ibunya yang mendadak berubah tabiat menjadi sangat manis dan sopan seperti sales asuransi, Bu Ida yang sedang menyapu lantai teras langsung menghentikan aktivitasnya. Wanita paruh baya itu mendengus kencang, menatap kedua manusia bermuka dua itu dengan tatapan penuh rasa muak.

​Arumi sendiri sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari truk material. Ia tetap memandangi Kang Jaya yang sedang bekerja, menyesap teh hangatnya perlahan, seolah-olah suara panggilan Revan hanyalah embusan angin lalu yang tidak penting.

​Merasa diabaikan, Revan berdehem kecil, mencoba menahan rasa malunya karena ditonton oleh beberapa kuli bangunan di seberang jalan. Ia melangkah satu bab lebih dekat, memasang wajah melas yang paling menyedihkan.

​"Arumi... tolong lihat saya sejenak," mohon Revan, suaranya dibuat agak bergetar seolah ia sedang menanggung penyesalan yang mendalam.

"Mengenai sidang putusan kemarin... saya tahu saya salah. Saya tahu selama ini saya sudah terlalu keras dan kikir kepadamu. Tapi tolong percayalah, Rum... semua yang saya lakukan itu murni karena saya stres memikirkan cicilan rumah dan masa depan kita. Saya tidak bermaksud merendahkanmu."

​Mama Revan ikut merangsek maju, meremas kedua tangannya di depan dada sembari menatap Arumi dengan mata yang dibuat-buat berkaca-kaca. "Benar, Arumi sayang... Mama juga mau minta maaf atas kata-kata Mama yang kemarin di pengadilan dan di gang ini. Mama itu cuma terbawa emosi karena panik melihat rumah orang tuamu dirubuhkan. Mama tidak tahu kalau kamu sebenarnya punya rencana mulia untuk membangun rumah baru yang besar ini. Tolong maafkan Mama ya, Rum? Bagaimanapun juga, kita ini tetap keluarga."

​Arumi akhirnya menurunkan gelas tehnya. Perlahan, ia membalikkan badannya, menatap Revan dan ibunya secara bergantian. Pandangan mata Arumi begitu datar, jernih, namun memancarkan aura dingin yang seketika membekukan senyuman palsu di wajah Revan.

​"Keluarga?" Arumi mengulangi kata itu dengan nada suara yang sangat tenang, namun sarat akan arti ejekan yang mendalam. Arumi tertawa kecil—sebuah tawa meremehkan yang sangat elegan. "Ibu Prasetyo yang terhormat... seingat saya, baru dua puluh empat jam yang lalu di dalam ruang sidang Pengadilan Agama, Anda berteriak-teriak menunjuk wajah saya dan menyebut saya sebagai janda gembel pembawa sial yang akan memberi makan anak-anak saya dengan batu. Sekarang, angin apa yang membuat Anda tiba-tiba datang ke sini dan memanggil saya dengan sebutan Arumi sayang?"

​Wajah Mama Revan seketika berkedut parah, memerah karena malu, namun wanita tua itu buru-buru menahan diri demi harta miliaran yang sedang mereka incar. "Oalah, Rum... itu kan cuma khilaf sesaat. Namanya juga orang tua kalau sedang panik suka bicara sembarangan. Tolong jangan dimasukkan ke dalam hati ya?"

​Revan langsung menyela, mengambil alih pembicaraan sembari mencoba meraih jemari tangan Arumi, namun Arumi dengan cepat menarik tangannya mundur, membuat tangan Revan menggantung kosong di udara.

​"Arumi, dengar saya..." ucap Revan dengan nada mendesak, matanya menatap lurus ke dalam bola mata Arumi. "Surat cerai dari pengadilan belum resmi keluar dari administrasi negara. Kita masih punya waktu untuk mencabut gugatan itu, Rum! Demi Bintang dan Langit... demi masa depan anak-anak kita, mari kita lupakan masa lalu. Mari kita rujuk kembali, Rum. Saya berjanji, setelah kita rujuk, saya akan mengizinkanmu menggunakan uang warisanmu ini sesukamu. Saya tidak akan membatasi uang belanjamu lagi. Kita bisa tinggal bersama-sama di rumah berlantai tiga ini, merawat anak-anak bersama seperti keluarga yang utuh kembali. Tolong, Rum... demi anak-anak kita."

​Mendengar kalimat "demi anak-anak kita" yang keluar dari mulut Revan sebagai senjata pamungkas untuk merayunya agar mau menyerahkan harta warisan tersebut, Arumi sama sekali tidak luluh. Sebaliknya, sepasang mata bulat Arumi berkilat tajam, memancarkan amarah yang dingin dan terkendali sempurna.

​Arumi berjalan mendekati meja teras, mengambil keranjang buah mahal yang dibawa Revan, lalu menyodorkannya kembali tepat ke arah dada Revan dengan gerakan yang sangat kasar hingga pria itu terpaksa harus menerimanya kembali agar tidak jatuh.

​"Prasetyo Revan..." ucap Arumi, setiap bait katanya kini terdengar seperti ketukan palu hakim yang menghantam tepat di atas wajah kesombongan Revan. "Tolong jangan pernah membawa nama Bintang dan Langit dari mulutmu yang penuh dengan kepalsuan itu. Selama sepuluh tahun ini, ke mana perginya rasa pedulimu terhadap masa depan anak-anakmu saat kamu membiarkan mereka kelaparan karena uang belanja yang kamu kasih tidak cukup untuk beli beras?!"

​"Arumi, saya kan sudah bilang saya khilaf..."

​"Diam!" bentak Arumi dengan nada suara yang tidak terlalu keras, namun memiliki penekanan yang begitu kuat hingga membuat Revan seketika bungkam seribu bahasa.

​Arumi melangkah maju, memangkas jarak hingga wajahnya hanya tersisa beberapa senti dari wajah Revan. "Kamu pikir saya bodoh, Revan?! Kamu pikir saya tidak tahu isi otak kikirmu itu?! Kamu datang ke sini hari ini, memohon-mohon minta rujuk dan membawa keranjang buah mahal ini... bukan karena kamu menyesal telah membuang saya! Bukan juga karena kamu peduli pada Bintang dan Langit! Tapi kamu datang ke sini karena KAMU SUDAH GILA MELIHAT UANG MILIARAN DI REKENING SAYA DAN KAMU MAU MENGUASAI ISTANA BERLANTAI TIGA SAYA INI, KAN?!"

​Deg!

​Tuduhan Arumi yang sangat akurat dan langsung menusuk tepat ke jantung rencana busuk mereka seketika membuat Revan mati kutu. Pria itu berdiri mematung dengan mulut yang bergetar parah, wajahnya kembali memutih sempurna karena kedok serakahnya telah dikuliti habis di depan umum.

​Mama Revan di sampingnya langsung gelagapan, mencoba membela diri dengan suara yang mulai gemetar ketakutan. "A-Arumi! Jaga bicaramu! Anak saya Revan datang ke sini dengan niat baik! Jangan menuduh kami yang bukan-bukan!"

​"Niat baik?!" Arumi beralih menatap Mama Revan dengan tatapan mata yang penuh rasa muak yang mendalam. "Niat baik jenis apa yang membuat Anda berdua tega membiarkan saya hidup seperti budak selama sepuluh tahun, lalu datang merangkak meminta bagian saat saya sudah menjadi kaya?! Dengarkan saya baik-baik, Prasetyo Revan, dan Ibu mantan mertua yang serakah..."

​Arumi menunjuk ke arah jalan gang dengan jari telunjuknya yang lurus dan tegas. "Hari ini, di depan seluruh warga Gang Rejeki yang sedang bekerja, saya nyatakan... SAYA TIDAK AKAN PERNAH SUDI UNTUK RUJUK KEMBALI DENGAN PRIA KIKIR SEPERTIMU! Jangankan untuk tinggal bersama di istana lantai tiga ini, bahkan untuk melihat bayangan bodimu lewat di depan gang ini saja, saya sudah merasa sangat jijik!"

​Arumi menarik napas dalam-dalam, lalu mengulas sebuah senyuman kemenangan yang paling dingin di sudut bibirnya. "Silakan bawa pulang kembali keranjang buah mahalmu ini, simpan uang cicilan mobilmu baik-baik untuk membayar utang rukomu yang digadaikan, dan nikmatilah masa tuamu bersama ibumu yang serakah di rumah perumahan elitemu yang sempit itu. Karena sampai kapan pun... sepeser pun dari uang miliaran rupiah milik Arumi Pragati tidak akan pernah sudi untuk menyentuh kulit orang-orang parasit seperti kalian!"

​"Kang Jaya! Pak RT! Tolong bersihkan teras rumah Bu Ida dari dua orang manusia pengganggu ini! Mereka menghalangi jalan truk material!" seru Arumi dengan lantang ke arah seberang jalan.

​"Siap, Mbak Rum! Woy! Minggir-minggir! Jangan halangi truk! Pergi sana orang-orang kaya palsu!" seru Kang Jaya bersama belasan kuli bangunan yang langsung berjalan merangsek maju dengan membawa sekop dan cangkul di tangan mereka.

​Melihat belasan pekerja bangunan berbadan kekar mulai berjalan mendekat dengan wajah garang, nyali Revan dan mamanya langsung ciut seketika. Rasa malu yang teramat sangat, penyesalan yang membakar batin, dan kehancuran mental yang mutlak kini menyelimuti seluruh tubuh mereka.

​Dengan langkah kaki yang gemetar parah dan wajah yang tertunduk dalam menahan malu yang luar biasa ditonton oleh seluruh warga kampung, Revan mencengkeram keranjang buahnya dengan erat. Ia bersama ibunya setengah berlari melintasi tumpukan batu belah, kembali masuk ke dalam mobil sedan hitam mereka dengan tergesa-gesa.

​Bremmm!

​Mobil sedan hitam itu langsung tancap gas secara ugal-ugalan, mundur dengan terburu-buru keluar dari Gang Rejeki, meninggalkan kepulan debu tanah merah tebal yang langsung disambut oleh sorak-sorai kemenangan yang riuh rendah dari seluruh warga Gang Rejeki.

​Arumi berdiri di teras dengan tegap, daster batiknya melambai tertiup angin pagi. Ia memandangi kepergian mobil Revan dengan perasaan lega yang luar biasa. Hari ini, rantai penderitaannya telah resmi putus total, dan di atas tanah warisan bapaknya, sebuah awal kehidupan baru yang megah dan tak tertandingi telah resmi dimulai.

1
Suanti
manta mentua, dan mantan suami. arumi klu dengar arumi mau menbangun usaha catering bsr2an langsung jantungan / stroke 🤭🤣🤣
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!