NovelToon NovelToon
Aku Ternyata Putra Kaisar Wanita Dinasti Zhou

Aku Ternyata Putra Kaisar Wanita Dinasti Zhou

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Mengubah sejarah
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: RRS

Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Guntur di Gerbang Lhasa

​25 September 700 Masehi — Pinggiran Kota Lhasa, Tibet

​Lembah di depan gerbang utama Lhasa biasanya hanya dipenuhi oleh suara angin yang menderu di antara celah bebatuan. Namun siang itu, suara tersebut tertutup oleh deru rendah mesin turbin yang terdengar seperti geraman naga yang sedang tertidur. Yudi mengangkat tangannya, memberikan sinyal melalui sistem komunikasi internal.

​Dua unit Main Battle Tank (MBT) berhenti dengan sentakan pelan, debu salju mengepul di bawah rantai besinya yang seberat puluhan ton. Di belakang mereka, unit MLRS menurunkan kaki-kaki penopang hidroliknya, mengunci posisi pada koordinat yang telah ditentukan.

​"Berhenti di sini. Jarak kita tepat 3.000 meter dari tembok kota," suara Yudi bergema di dalam radio.

​Dari kejauhan, di atas tembok tinggi Lhasa yang kokoh, para prajurit Tibet tampak seperti semut yang panik. Mereka belum pernah melihat benda setinggi rumah dengan moncong panjang yang mengarah tepat ke arah mereka. Bagi mereka, jarak tiga kilometer adalah jarak aman—jarak di mana bahkan ketapel terbesar sekalipun tidak akan mampu menjangkaunya.

​Yudi keluar dari hatch tanknya. Ia tidak ingin menghancurkan kota ini secara membabi buta jika ia bisa membuat mereka berlutut melalui ketakutan. Ia mengakses inventory-nya.

​[Akses Inventory: Mengeluarkan Motor Trail - Adventure Edition]

​Dalam sekejap, sebuah sepeda motor tangguh berwarna hitam muncul di samping tank. Yudi melompat turun, menyalakan mesinnya yang meraung nyaring, dan melesat sendirian menuju tembok kota, meninggalkan barisan baja miliknya di belakang.

​Di Bukit Pengintaian

​Maharani Wu Lin, Yue Qing, dan keempat pangeran Zhou menahan napas dari tempat persembunyian mereka di lereng bukit. Mereka melihat Yudi melesat sendirian menuju ribuan pasukan Tibet yang sudah bersiap di atas tembok.

​"Apa yang dia lakukan?!" Wu Lin mencengkeram jubahnya dengan cemas. "Dia maju sendirian! Yue Qing, siapkan pasukan Shadow Phoenix, kita harus melindunginya!"

​"Tunggu, Yang Mulia," Yue Qing menahan lengan Maharani. Matanya berkilat, terobsesi dengan keberanian gila yang ditunjukkan Yudi. "Lihat dia. Dia tidak tampak seperti orang yang butuh perlindungan. Dia sedang menantang sebuah kekaisaran dengan tangannya sendiri."

​Di Depan Tembok Lhasa

​Yudi berhenti sekitar 200 meter dari gerbang utama. Ia mematikan mesin motornya, lalu mengeluarkan sebuah megafon (pengeras suara) bertenaga baterai yang suaranya bisa memecah keheningan lembah.

​"Dengar, penguasa Tibet!" suara Yudi menggelegar, diterjemahkan secara otomatis oleh sistem ke dalam dialek Tibet kuno yang sempurna. "Aku adalah pemimpin Suku Rahmad. Kalian telah melukaiku dengan panah pengecut di pegunungan, dan sekarang aku datang untuk menagih hutang tersebut!"

​Para prajurit di atas tembok tertegun. Mereka melihat seorang pria muda dengan pakaian aneh berdiri sendirian di depan gerbang mereka.

​"Serahkan Kaisar kalian dan nyatakan menyerah secara total dalam waktu lima menit!" lanjut Yudi. "Atau aku akan meratakan tembok ini dan mengubah kota kalian menjadi abu yang tertiup angin Himalaya! Pilihan ada di tangan kalian!"

​Kaisar Tibet yang berdiri di menara tertinggi, merasa terhina oleh seorang "pengembara" yang berani berteriak di depan gerbangnya. Ia memberikan isyarat tangan kepada komandan pemanahnya.

​"Habisi dia! Tunjukkan padanya apa artinya menantang langit!" teriak sang Kaisar.

​Syuuuutt!

​Ratusan anak panah meluncur dari atas tembok. Yudi tetap berdiri tenang, ia bahkan tidak berkedip. Berkat perhitungan sistem di matanya, ia tahu bahwa dengan kecepatan angin dan sudut tembakan tersebut, anak-anak panah itu tidak akan mengenainya. Benar saja, hujan panah itu jatuh berserakan hanya beberapa meter di depan dan di sampingnya. Salah satu anak panah bahkan melesat tipis di samping telinganya, namun Yudi tidak bergeming sedikit pun.

​Yudi menarik napas panjang, lalu tersenyum dingin. "Kesempatan kalian habis."

​Ia menyalakan kembali motornya, melakukan u-turn tajam yang menimbulkan debu, dan melesat kembali menuju barisan tanknya tanpa menoleh ke belakang.

​Detik-Detik Kehancuran

​Yudi tiba kembali di samping tank komandannya. Ia tidak lagi memiliki belas kasihan. Ia naik ke atas tank, menyambungkan sistem komunikasinya ke seluruh unit.

​"Galuh, kunci target pada gerbang utama dan menara pengintai kanan. Tembak!"

​DUAAARRRR! DUAAARRRR!

​Dua tank MBT melepaskan tembakan meriam 120mm secara bersamaan. Tekanan udara dari tembakan tersebut membuat salju di sekitar tank terbang ke udara. Di tembok Lhasa, efeknya sangat mengerikan. Gerbang kayu raksasa yang dilapisi besi—yang selama ratusan tahun dianggap tak tertembus—hancur berkeping-keping dalam sekejap. Menara pengintai di sebelahnya meledak, batu-batu besar terlempar seperti kerikil ringan.

​Jeritan ngeri terdengar dari dalam kota. Para prajurit Tibet yang selamat dari ledakan itu jatuh terduduk, telinga mereka berdarah karena tekanan suara yang luar biasa. Mereka mengira dewa petir sedang murka.

​"Belum selesai," gumam Yudi. "Aktifkan MLRS. Targetkan barak militer di belakang tembok. Lepaskan sepuluh roket!"

​WUUUSSHHH! WUUUSSHHH! WUUUSSHHH!

​Sepuluh roket meluncur dari tabung MLRS, meninggalkan jejak api dan asap di langit biru Tibet. Dari kejauhan, roket-roket itu tampak seperti bintang jatuh yang membawa maut. Beberapa detik kemudian, serangkaian ledakan besar terjadi di dalam kota. Asap hitam membubung tinggi, menutupi sinar matahari. Barak militer Tibet yang menampung ribuan prajurit musnah dalam hitungan detik.

​Di Atas Bukit

​Maharani Wu Lin jatuh berlutut. Ia tidak pernah membayangkan ada kekuatan seperti ini di dunia. Seluruh pasukan Zhou yang mengintai bersujud ke arah Yudi, mengira mereka sedang menyaksikan akhir dunia.

​"Ini bukan perang..." bisik Zhou Long dengan suara gemetar. "Ini adalah pembantaian oleh dewa."

​Yue Qing mengepalkan tangannya, jantungnya berpacu liar. Ia tidak takut; ia justru merasa gairah yang luar biasa. Inilah pria yang akan menguasai dunia, dan ia harus menjadi wanita yang berdiri di sampingnya. "Luar biasa..." gumamnya dengan tatapan lapar.

​Pasca Serangan

​Yudi menatap layar monitornya yang menunjukkan kondisi kota melalui drone pengintai. Tembok yang megah itu kini berlubang besar, dan kepulan asap menutupi istana. Ia mengambil kembali pengeras suaranya.

​"Ini adalah peringatan terakhir!" suara Yudi kembali bergema di antara sisa-sisa reruntuhan. "Keluar dan berlutut, atau tembakan berikutnya akan menghapus nama Tibet dari sejarah!"

​Keheningan yang mencekam menyelimuti Lhasa. Tidak ada lagi anak panah yang meluncur. Yang ada hanyalah suara isak tangis dan ketakutan yang mendalam. Kaisar Tibet, yang sebelumnya angkuh, kini merangkak keluar dari reruntuhan istananya dengan wajah penuh debu dan darah, menyadari bahwa ia baru saja mencoba memanah seorang pria yang memegang kunci neraka.

​Yudi duduk di atas meriam tanknya, menunggu musuhnya datang bersujud. Fokusnya tetap tajam, tidak terganggu oleh keberadaan ibunya yang masih mengintai di bukit. Baginya, penaklukan ini baru saja dimulai.

1
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝☝aja, moga novelnya lancar.
Aisyah Suyuti
good
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua kedua itu thor
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor bikin mcnya membuat Kekaisaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!