NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamparan di Pipi Dewa

Suara lullaby yang bersenandung dari kalung Sekar masih menggema, membuat kuda-kuda monster itu mengantuk. Namun, mantra damai itu hancur seketika saat sebuah ledakan energi murni meletus dari kereta Poseidon.

DUAARRR!

Gelombang kejut itu melemparkan keempat Hippocampus ke samping. Mereka menjerit kesakitan, kulit bersisik mereka hangus terbakar oleh amarah majikannya sendiri.

Poseidon melompat turun dari keretanya. Ia mendarat di atas air, tapi air di bawah kakinya tidak memercik. Air itu mendesis dan mengeras, takut pada panas tubuh sang dewa yang sedang murka.

"Kau pikir aku binatang ternak yang bisa kau elus-elus?" geram Poseidon. Matanya menyala biru elektrik. Otot-otot di tubuhnya menegang, setiap uratnya dialiri kekuatan yang cukup untuk meratakan gunung.

Ia berjalan mendekati kereta kerang Sekar. Langkahnya berat. DUM... DUM... DUM... Setiap langkahnya membuat ombak di sekelilingnya mundur ketakutan.

"Turun," perintahnya dingin. "Turun dari mainan kecilmu itu dan hadapi aku seperti prajurit."

Sekar tidak bergerak. Ia tetap berdiri tegak di atas keretanya, wajahnya masih tanpa ekspresi, meski di dalam dadanya jantungnya berdegup kencang. Ia ingat pesan Nyai Ruminah: Jangan bersuara.

"Tuli ya?"

Poseidon mengibaskan tangannya. Trisula emasnya menyala. Bukan petir yang keluar, tapi sebuah cambuk air yang dipadatkan.

CETAR!

Cambuk air itu menyambar kereta kerang Sekar.

Kereta itu terbelah dua. Hancur berkeping-keping.

Simbah kusir terlempar jauh ke belakang, berteriak kaget sebelum ditelan ombak. Keempat naga laut pendamping melesat kabur ke dalam air, ketakutan melihat kekuatan dewa yang sesungguhnya.

Sekar melayang di udara sesaat, lalu jatuh.

Namun, ia tidak jatuh tercebur ke dalam air. Kakinya mendarat di permukaan laut, dan air itu menahannya. Air itu padat di bawah telapak kakinya yang telanjang, lembut namun kokoh, seperti matras yoga raksasa.

Sekar berdiri berhadapan langsung dengan Poseidon. Jarak mereka hanya lima meter.

Tinggi badan Poseidon dua kali lipat tinggi Sekar. Ia harus mendongak untuk menatap wajah dewa itu. Di hadapan fisik yang begitu dominan, Sekar terlihat seperti boneka porselen yang rapuh.

"Nah," seringai Poseidon. "Sekarang tidak ada lagi kereta. Tidak ada lagi kuda. Cuma ada aku, kau, dan laut yang harus memilih tuannya."

Poseidon membuang Trisula-nya ke samping. Senjata dewa itu menancap di air, berdiri tegak seolah ditancapkan di tanah.

"Aku tidak butuh senjata untuk mematahkan leher penari kecil," ucapnya sombong. Ia mengepalkan tangannya. "Aku akan meremukkanmu dengan tangan kosong, lalu melemparkan jasadmu ke Ratu pengecutmu itu."

Poseidon menerjang.

Gerakannya cepat. Sangat cepat untuk ukuran tubuh sebesarnya. Tinju kanannya melesat lurus ke arah wajah Sekar. Pukulan itu membawa tekanan angin yang bisa menghancurkan beton.

Sekar tidak menangkis. Ia tidak lari.

Di detik terakhir, saat tinju itu hampir menyentuh hidungnya, Sekar menggeser kakinya sedikit ke samping. Tubuhnya meliuk.

Wuuusshhh...

Tinju Poseidon memukul angin kosong.

Tenaga pukulan itu begitu besar hingga menciptakan lorong udara di belakang Sekar. Air laut di belakangnya terbelah hingga kedalaman sepuluh meter akibat tekanan angin pukulan itu.

Tapi Sekar tidak tergores sedikitpun.

Ia berputar di tempat, selendang Dodot Bangun Tulak-nya mengibas lembut mengenai lengan Poseidon yang masih terulur.

Poseidon melotot. "Licin seperti belut!"

Ia menyerang lagi. Kali ini dengan rentetan pukulan bertubi-tubi. Kiri, kanan, uppercut, hook. Setiap pukulannya mematikan. Setiap pukulannya bertujuan membunuh.

Tapi Sekar terus menari.

Ia menggunakan gerakan tari Srimpi yang lambat namun presisi. Saat Poseidon memukul keras, Sekar menjadi lembut. Ia "mengalir" di sela-sela serangan itu.

Ingat pelajaran guru air: Masuk ke celah terkecil.

Saat Poseidon melancarkan pukulan hook kanan yang lebar, Sekar merendahkan tubuhnya (mendak), lalu menyelinap masuk ke dalam pertahanan terbuka Poseidon.

Ia tidak memukul. Ia menempelkan telapak tangannya yang halus ke dada bidang sang Dewa. Tepat di ulu hati.

Sentuhan itu pelan. Seringan sentuhan kupu-kupu.

Tapi di balik sentuhan itu, Sekar melepaskan niat.

Segoro Muncar.(Samudra Meluap).

Energi ombak yang ia kumpulkan selama tarian tadi ia salurkan semuanya ke satu titik itu. Bukan sebagai ledakan, tapi sebagai getaran.

DEG.

Mata Poseidon membelalak. Ia merasakan getaran aneh merambat masuk ke dalam dadanya, menembus otot-otot bajanya yang tak tertembus, langsung menuju organ dalamnya.

Jantung dewanya... tersentak.

"Ugh!" Poseidon terbatuk. Ia mundur selangkah, memegangi dadanya. Rasanya seperti menelan ombak pasang. Sesak. Mual.

"Apa... apa yang kau lakukan?" desisnya. Ia menatap Sekar dengan pandangan tak percaya. Gadis kecil ini baru saja membuatnya... mual?

Sekar mundur kembali ke posisi siap menari. Wajahnya tetap tenang, tapi keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Menahan serangan fisik dewa membutuhkan konsentrasi yang luar biasa.

Poseidon menyeka bibirnya. Ada cairan emas yang keluar. Darah dewa. Ichor.

Dewa itu menatap darah di tangannya. Lalu ia tertawa. Tawa yang mengerikan.

"Sakit," gumamnya. "Sudah ribuan tahun aku tidak merasakan sakit fisik. Kau... makhluk fana... berani membuatku berdarah?"

Warna kulit Poseidon berubah. Dari yang tadinya kecokelatan seperti pelaut, kini berubah menjadi biru tua bersisik. Ukuran tubuhnya membesar. Ia berhenti bermain-main dengan wujud manusianya. Ia mulai menampakkan wujud Titan-nya.

"Kau ingin menari?" teriaknya, suaranya kini berlapis-lapis, bergema dari langit dan dasar laut sekaligus. "BAIKLAH! KITA MENARI!"

Poseidon menghentakkan kakinya.

Air laut di bawah mereka berdua meledak naik. Mereka terlempar ke udara, dibawa oleh pilar air raksasa yang tingginya mencapai awan.

Di puncak pilar air itu, Poseidon mencekik leher Sekar.

Tangan raksasanya mencengkeram leher kecil itu dengan mudah. Kaki Sekar menendang-nendang udara. Oksigen terputus.

"Di mana kelembutanmu sekarang?" ejek Poseidon, mengangkat tubuh Sekar tinggi-tinggi di hadapan bulan purnama. "Mana tarianmu?"

Sekar merasa lehernya akan patah. Pandangannya mulai gelap. Suara lullaby di kalungnya mati.

Ia tidak bisa bernapas. Ia tidak bisa bergerak. Ia kalah kekuatan mutlak.

Tapi di saat kritis itu, matanya menangkap pantulan bulan purnama di mata Poseidon.

Cermin.

Nyai Ruminah bilang: Tugasmu adalah membuatnya malu.

Sekar tidak mencoba melepaskan cengkeraman itu. Ia justru meletakkan kedua tangannya di pipi raksasa Poseidon.

Tangan yang dingin. Tangan yang penuh bedak mutiara.

Sekar menatap mata dewa itu. Dan untuk pertama kalinya, ia melanggar pantangan.

Ia membuka mulutnya.

Bukan untuk menjerit. Bukan untuk memohon ampun.

Ia bernyanyi.

Sebuah tembang Macapat (puisi Jawa) yang sangat kuno. Dhandhanggula.

Suaranya parau, kecil, tercekik.

"Lamun sira... anggeguru kaki..."(Jika engkau berguru, anakku...) "Amiliha... manungsa kang nyata..." (Pilihlah manusia yang nyata/sejati...)

Suara itu... suara itu begitu menyedihkan. Begitu rapuh.

Tapi efeknya pada Poseidon sungguh di luar dugaan.

Dewa itu membeku.

Nyanyian itu bukan serangan magis. Itu adalah nyanyian yang mengingatkannya pada sesuatu yang sudah lama ia lupakan. Suara ibunya, Rhea, saat menyembunyikannya dari Cronus. Suara kemurnian yang hilang ditelan perang dan kekuasaan.

Cengkeraman Poseidon mengendur sedikit.

Dan di saat itulah, Jantung Samudra di leher Sekar bersinar terang. Kalung itu merekam suara nyanyian Sekar, memperkuatnya ribuan kali lipat, dan memancarkannya ke seluruh samudra.

Seluruh makhluk laut mendengar nyanyian itu. Ikan-ikan berhenti berenang. Pasukan Merman menurunkan tombak mereka. Harpy di udara berhenti menjerit.

Bahkan ombak pun diam mendengarkan.

Poseidon melihat ke sekeliling. Ia melihat pasukannya sendiri menangis mendengar nyanyian itu. Ia melihat air laut yang seharusnya ia kuasai, kini bergetar haru.

Ia merasa... kecil.

Di hadapan kerapuhan seorang gadis yang sekarat di tangannya, kekuatannya yang besar terasa kasar, jelek, dan memalukan.

"Hentikan..." bisik Poseidon, suaranya gemetar. "Hentikan suara itu!"

Ia melepaskan Sekar.

Gadis itu jatuh dari ketinggian ratusan meter.

Tapi air laut di bawah sana sudah siap. Air itu naik, membentuk tangan raksasa yang lembut, menangkap tubuh Sekar sebelum ia menghantam permukaan.

Sekar terbatuk-batuk, menghirup udara rakus. Lehernya memar biru.

Di atas sana, di puncak pilar air, Poseidon berdiri sendirian. Ia menatap tangannya yang tadi mencekik gadis itu. Tangannya gemetar.

Ia baru saja hampir membunuh seorang penari yang tidak bersenjata. Di depan seluruh rakyat lautnya.

Rasa malu itu datang seperti tsunami. Menghantam egonya lebih keras daripada senjata apapun.

Poseidon meraung. Bukan raungan marah, tapi raungan frustrasi.

Ia terjun ke dalam laut, menghilang di balik ombak, meninggalkan pasukannya yang kebingungan.

Badai berhenti mendadak.

Sekar terbaring di atas "tangan" air itu, menatap bulan purnama yang bersinar tenang.

Ia masih hidup. Dan sang Dewa baru saja lari karena tidak sanggup menatap wajahnya sendiri di cermin nurani.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!