Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.
Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jessy
Lampu bar yang remang tak mampu menyembunyikan wajah sembap Jessy. Di hadapannya, gelas kelima sudah kosong. Kepala berdenyut, namun rasa sakit itu tak sebanding dengan kabar yang baru saja menghancurkan hatinya. Brian, pria yang pernah bersamanya kini resmi menikahi kakak iparnya sendiri.
"Bodoh... kau bodoh, Jessy," rancau wanita itu pelan di sela isak nya.
Penyesalan itu datang terlambat menghantamnya telak tepat di hulu hati. Kemarin, dia dengan angkuh melepaskan Brian. Padahal pria itu adalah segalanya, aktor papan atas dengan paras bak dewa, sekaligus pewaris tunggal kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Kini, setelah kehilangan Brian, Jessy sadar bahwa nama besarnya di dunia modeling hanyalah bayang-bayang dari statusnya sebagai kekasih Brian. Tanpa pria itu, dia bukan siapa-siapa.
Jessy meracau, suaranya parau dan penuh keputusasaan. Rambutnya yang tertata rapi kini berantakan, mencerminkan hatinya yang hancur lebur.
Namun, disudut bar yang gelap, sepasang mata elang tak sedetik pun lepas mengawasinya. Reno duduk di sana, menyesap minumannya dengan tenang. Pria
itu sudah berada di Prancis sejak empat hari yang lalu, menjalankan misi tunggal. Mengikuti setiap gerak-gerik Jessy. Ini adalah imbalan yang dijanjikan Brian kepadanya.
Jessy tak pernah tahu, sejak kakinya melangkah masuk ke klub malam ini, dia sudah berada dalam sangkar. Beberapa pria berbadan tegap, anak buah Reno berjaga di setiap sudut, memastikan tidak ada lelaki hidung belang yang berani menyentuh aset milik bos mereka.
Hingga akhirnya kesadaran Jessy mencapai titik nadir. Tubuhnya limbung, matanya tertutup. Sebelum wajah cantiknya menghantam meja, sebuah tangan kekar menangkapnya.
Reno memapah tubuh lunglai itu keluar dari hiruk pikuk klub, membawa menembus dinginnya malam menuju apartemen pribadinya.
Begitu tiba, Reno membaringkan Jessy di atas ranjang king size miliknya. Dengan gerakan dingin dan penuh perhitungan, dia mulai melucuti pakaian wanita itu hingga tak menyisakan sehelai benang pun. Tak ingin mangsanya memberontak saat terbangun nanti, Reno mengambil tali, mengikat kedua tangan Jessy ke kepala ranjang dengan kuat.
Reno menjilat bibirnya yang kering, sebuah senyum tipis yang sarat akan niat gelap tersungging di wajahnya. Sambil menatap lekat tubuh polos yang tak berdaya di depannya dia mulai melepas kemejanya sendiri. Dengan gerakan perlahan namun pasti, dia naik ke atas tempat tidur, mengunci pandangannya pada sosok Jessy yang kini sepenuhnya berada dalam genggamannya.
Jemari Reno mulai menyusuri setiap lekuk tubuh wanita yang tak berdaya itu. Ingatannya berputar ke masa lalu. Saat itu pertama kali dia ditolak oleh wanita bahkan dia tidak tahu siapa itu Reno Bastian pengusaha properti dan club malam elit di Jakarta. Uangnya pun tak berseri.
Kala itu, Jessy hanyalah gadis ambisius yang rela menukarkan segalanya demi satu tiket menjadi model dan aktris terkenal. Tapi hanya Brian yang beruntung mengambil mahkota wanita itu.
Selama dua tahun terakhir, hanya Brian yang memiliki akses atas tubuh itu. Namun, Brian adalah pria yang penuh perhitungan. Dia selalu menggunakan pengaman, seolah enggan meninggalkan jejak pada wanita yang kini dia buang. Brian juga menjamin kepada Reno bahwa tak ada satu pun pria yang menyentuh Jessy selama dia kembali ke Jakarta.
Mata-mata Brian selalu ada di sana, mengintai dari bayang-bayang, menjaga Jessy tetap berguna untuk saat seperti ini.
Tangan Reno berhenti tepat di inti tubuh Jessy. Jemarinya yang kasar mencoba mengeksplorasi liang sempit itu, memicu lenguhan samar dari bibir Jessy. Bukannya berhenti, Reno justru sengaja mempermainkan jarinya dengan tempo sedang, menikmati reaksi bawah sadar wanita di bawahnya.
Pria itu merendahkan tubuhnya, menyesap aroma dan rasa yang tertinggal di sana. Awalnya ia hanya ingin mencicipi sebentar, namun Reno seolah terperangkap dalam candu. Rasa manis dan memabukkan dari tubuh Jessy membuatnya kehilangan akal. Dengan gerakan pelan yang provokatif, ia memutar dan sesekali memberikan gigitan kecil yang membuat tubuh Jessy menggeliat tak tenang, meski matanya masih terpejam rapat dalam pengaruh alkohol.
Namun, suasana panas itu mendadak mendingin saat sebuah nama keluar dari bibir Jessy yang mengigau.
"Brian..."
Suara lirih itu seperti siraman air es bagi Reno. Amarah dan rasa cemburu yang terpendam seketika meledak. Dengan rahang mengeras dan tanpa peringatan atau pemanasan lebih lanjut, Reno menghujamkan ketegangannya, menembus pertahanan Jessy dalam satu sentakan kasar.
Jessy melenguh panjang, tubuhnya menegang saat kenyataan pahit dan gairah yang menyakitkan itu menyatu dalam gelapnya kamar apartemen.
...***...
Cahaya matahari musim dingin menembus jendela apartemen di sudut kota Prancis, menyambar paksa kelopak mata Jessy. Kepalanya terasa seperti dihantam batu, denyut menyakitkan akibat sisa alkohol semalam. Namun, rasa sakit itu mendadak hilang, digantikan oleh udara dingin yang menjalar ke seluruh tubuh saat dia mencoba menggerakkan tangannya.
Kring!
Suara rantai yang bergesekan dengan kayu terdengar jelas. Jessy tersentak bangun, namun tubuhnya tertahan. Matanya membelalak lebar melihat kedua pergelangan tangannya terikat kuat pada kepala ranjang. Kesadarannya pulih seketika saat menyadari dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut sutra yang dingin.
"Siapa... Siapa di sana?!" suara Jessy kencang, penuh ketakutan.
Seorang pria asing keluar dari balik bayangan di sudut ruangan. Dia hanya menggunakan jubah mandi memperlihatkan aura seksi yang sangat dominan dan mengancam. Jessy belum pernah melihat wajah itu sebelumnya. Pria itu tampan, namun tatapannya sangat tajam dan dingin.
"Kau sudah bangun, ternyata," sahut pria itu pelan sambil melangkah mendekat.
"Siapa kau?! Kenapa aku ada di sini? Lepaskan aku!" Jessy meronta, namun ikatan itu justru semakin menyakiti kulitnya.
Reno berhenti tepat di sisi ranjang. Dia tidak tampak terganggu dengan teriakan Jessy. "Aku Reno. Teman Brian. Pria yang selama ini memastikan tidak ada satu orang pun yang berani menyentuhmu di manapun kau berada."
Jessy tertegun. "Brian? Mana Brian? Aku harus bicara dengannya!"
Reno tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat kejam. Dia duduk di tepi ranjang, membuat kasur itu amblas di bawah beban tubuhnya. "Brian sedang merayakan pernikahannya di Jakarta, Jessy. Kau sudah dibuang. Dan kau tahu apa yang lebih menarik?"
Reno mengulurkan tangan, menyisir rambut berantakan Jessy dengan jari-jarinya. Jessy mencoba menghindar, namun Reno justru mencengkeram dagunya agar mereka saling bertatapan.
"Aku yang membantu Brian menyelesaikan masalahnya, dan sebagai imbalannya... aku meminta dirimu. Brian memberikanmu padaku tanpa ragu sedikit pun. Baginya, kau hanyalah barang bekas yang tak lagi dia butuhkan."
Wajah Jessy pucat. Air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Pria di depannya ini adalah orang asing, seseorang yang tidak dia kenal, namun entah bagaimana pria ini telah memilikinya sebagai imbalan.
"Tidak... Brian tidak mungkin sejahat itu," isak Jessy tak percaya.
"Percayalah," bisik Reno tepat di telinga Jessy. "Dia menyerahkan mu, karena bosan dan tidak menggairahkan juga sangat keras kepala. Dan setelah apa yang aku lakukan semalam... aku yakin kau mulai mengerti posisi barumu sekarang."