NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rui Qingkai

Wu Zetian duduk berhadapan dengan pria itu di teras rumah sederhana yang dikelilingi aroma tanah dan dedaunan. Cahaya matahari sore menembus celah pepohonan, jatuh lembut di atas wajah mereka. Jemarinya yang ramping bergerak perlahan namun cekatan saat membersihkan luka sayatan di lengan kanan Tang Ming. Ia menuangkan ramuan obat dari botol kecil ke kain bersih, lalu mengusapnya dengan hati-hati, seolah takut menyakiti.

Darah telah berhenti mengalir, menyisakan garis merah yang masih basah oleh ramuan berwarna kecokelatan itu. Bau herbal yang khas langsung menyebar di udara.

"Ini akan sedikit perih, tahan sebentar lagi." ucap Wu Zetian lembut tanpa menatap wajah pria itu.

Tang Ming mengangguk pelan. Ia menahan napas, bukan hanya karena rasa perih di lengannya, tetapi juga karena jarak mereka yang begitu dekat. Dari sudut pandangnya, ia bisa melihat dengan jelas wajah gadis di depannya. Cantik.

Setelah selesai membalut luka itu dengan kain bersih, Wu Zetian mengikatnya rapi. Ia lalu mengangkat wajahnya.

"Kalau boleh tahu,  siapa namamu?”

Pertanyaan sederhana itu membuat jantung Tang Ming berdegup lebih cepat. Tanpa memberi waktu pada dirinya sendiri untuk berpikir panjang, ia menjawab cepat.

“Rui Qingkai.”

Begitu nama itu terucap, Kakek Zhou yang sejak tadi duduk di bangku kayu tak jauh dari mereka langsung memalingkan wajahnya ke samping. Pundaknya sedikit bergetar, jelas menahan tawa yang hampir saja lolos dari bibirnya.

Rui Qingkai? Siapa lagi nama yang kau ambil itu, Pangeran?. Gumam Kakek Zhou dalam hati.

Tang Ming menangkap reaksi itu dari ujung matanya. Wajahnya langsung terasa panas. Ia menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan ekspresinya, namun pipinya justru semakin memerah.

Wu Zetian menyadari perubahan itu. Ia mengerutkan kening sedikit, lalu menatap wajah pria itu lebih saksama.

“Pipimu merah,” katanya polos. “Apa kau sakit?”

Tang Ming langsung menyela, hampir terlalu cepat.

“Ti, tidak! Aku hanya kepanasan saja.”

Wu Zetian mengerjap heran.

Panas? Perasaan cuaca hari ini cukup sejuk. Gumam Wu Zetian dalam hati.

Namun melihat ekspresi pria itu yang tampak gugup, Wu Zetian memilih tidak melanjutkan pertanyaan tersebut. Ia hanya mengangguk kecil, seolah menerima jawaban itu apa adanya.

Kini giliran Tang Ming yang berbicara, mencoba mengalihkan topik sebelum kebohongannya semakin mencurigakan.

“Kalau begitu…” katanya ragu sejenak, “siapa namamu?”

“Wu Zetian,” jawabnya singkat tanpa ragu.

Tang Ming terdiam.

Nama itu berputar di kepalanya.

Wu Zetian. Putri Perdana Menteri Wu Zheng?. Bukannya ia adalah anak sah satu-satunya?

Pandangan Tang Ming tanpa sadar beralih ke rumah sederhana di hadapannya, lalu ke kebun kecil yang terawat rapi, ke pakaian polos yang dikenakan gadis itu.

Bagaimana mungkin seseorang dengan status seperti itu tinggal di tempat terpencil seperti ini?

Dan kenapa aku tidak pernah melihatnya di satu pun jamuan kekaisaran?

Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk di benaknya, namun wajahnya tetap tenang. Ia terlalu berpengalaman untuk menunjukkan keterkejutannya.

Nanti aku suruh Hao menyelidikinya, putusnya dalam hati.

Setelah lengannya selesai diobati, Tang Ming menunduk sedikit sebagai tanda hormat.

“Terima kasih karena sudah menolongku.”

Wu Zetian tersenyum kecil,

“Sama-sama.”

Namun sejak awal, Kakek Zhou sudah merasa ada yang tidak beres.

Lukanya sudah selesai diobati,

tapi kenapa bocah ini belum juga pergi?

Apa lagi yang dia tunggu?

Ia mengamati Tang Ming dengan mata seorang prajurit tua yang telah melalui puluhan tahun medan perang. Dan tepat ketika pikirannya mulai merangkai kemungkinan, terdengar suara yang memecah keheningan.

Grrrkkk

Suara perut berbunyi, cukup keras untuk terdengar jelas. Kakek Zhou memicingkan mata ke arah Tang Ming.

Ah, suara ini.. postur tubuhnya..

Potongan-potongan itu menyatu di benaknya.

Penguntit tadi malam,

Monolognya yakin disertai senyum miring.

Jadi benar kau rupanya, Pangeran Kedua.

Mengikuti Wu Zetian, lalu berpura-pura terluka.

Hm… berani sekali.

Wu Zetian yang peka langsung menoleh ke arah Tang Ming.

“Sepertinya kamu lapar, tunggu di sini, aku akan mengambilkanmu makanan di dapur.”

Tang Ming menahan senyum dengan susah payah.

Akhirnya, aku berhasil.

“Terima kasih,” ucapnya sopan.

Tak lama kemudian, Wu Zetian kembali ke teras membawa sebuah nampan kayu. Di atasnya tertata dua piring lauk. Ada udang asam manis, cumi bakar dengan potongan jeruk nipis dan satu piring nasi penuh, serta segelas air minum.

“Silakan makan,” katanya sambil meletakkan nampan itu di hadapan Tang Ming.

Tang Ming menatap hidangan itu sejenak. Aroma yang naik membuat perutnya kembali berbunyi pelan. Ia mengambil sumpit, lalu suapan pertama masuk ke mulutnya.

Begitu makanan menyentuh lidahnya, matanya sedikit membelalak.

“Ini enak sekali,"

Ia menatap Wu Zetian, nyaris lupa menyembunyikan ekspresinya.

Wu Zetian tersenyum senang, jelas terlihat dari sorot matanya.

“Benarkah?”

Tang Ming mengangguk sambil mengambil potongan cumi berikutnya. Kenyal, harum, segar. Lalu beralih ke udang asam manis. Perpaduan rasa asam dan manis yang seimbang dan tidak berlebihan.

“Rasanya sangat berbeda dengan yang sebelumnya aku makan, ini luar biasa,” ujarnya jujur.

Wu Zetian tertawa kecil dan memerhatikan ekspresi Tang Ming memakan masakannya.

Tang Ming terus makan tanpa sadar. Satu piring kosong, lalu yang lain. Hingga akhirnya, tak ada satu butir nasi pun tersisa.

Wu Zetian menatapnya geli.

“Rui Qingkai,” godanya, “kau makan seperti orang yang kelaparan berhari-hari.”

Tang Ming terbatuk kecil, jelas tersipu.

“A-aku memang lapar.”

Wu Zetian tertawa lepas, suara tawanya ringan dan jujur.

Tang Ming menatap wajahnya yang tertawa itu.

Bagaimana bisa ada seseorang yang tersenyum bisa secantik ini..

Matanya, wajahnya,

Sangat sempurna.

Kakek Zhou berdehem keras.

“Ehem.”

Tang Ming langsung tersadar.

Kakek Zhou lalu berkata lantang,

“Nak Zetian, bisakah kau membuatkanku minuman obat kemarin? Aku rasa, aku masih membutuhkan.”

“Oh iya, baik Kek. Aku akan segera membuatkannya.”

Wu Zetian bangkit dari duduknya dan bergegas ke dapur, meninggalkan mereka berdua di teras.

Kini hanya tinggal mereka berdua.

Kakek Zhou menatap Tang Ming tajam, aura bercandanya menghilang.

“Pangeran Kedua,” katanya pelan namun tegas, “apa tujuanmu kemari?”

Tang Ming menjawab cepat,

"K, kau masih mengenaliku?" Ucap Tang Ming tidak percaya.

"Tentu saja yang mulia pangeran Tang Ming" ucap kakek Zhou dengan menekankan beberapa kata.

“Aku tadi tidak sengaja bertemu Wu Zetian di hutan. Aku terluka karena binatang buas, lalu dibawa kemari.”

Kakek Zhou mendengus kecil.

“Sudahlah. Tidak usah berpura-pura di depanku.”

Tang Ming terdiam.

“Dicakar binatang?” lanjut Kakek Zhou sambil menahan tawa.

“Hampir lima puluh tahun aku jadi prajurit, dan baru kali ini aku melihat luka cakaran sehalus itu.”

Tang Ming menatapnya kesal, namun tidak membantah.

“Dan oh,” tambah Kakek Zhou sambil menyeringai,

“aku juga melihat PENGUNTIT tadi malam. Posturnya mirip sekali dengan orang yang sangat kukenal.” ucapnya sambil menatap remeh kepada Tang Ming.

Pipi Tang Ming kini merah padam.

“Baiklah, baiklah Kakek Zhou. Aku menyerah,” ucapnya akhirnya, pasrah.

"Dasar bocah ini"

"Aku sudah bukan bocah lagi Kek" bantah Tang Ming.

Kakek Zhou tertawa singkat. Sedetik kemudian ia lalu bertanya dengan nada lebih serius,

“Bagaimana kabar kakekmu?”

Tang Ming menghela napas panjang.

“Tidak baik. Dua bulan ini, ia hanya terbaring di ranjang.”

Kakek Zhou terdiam.

1
Murni Dewita
double up thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!