Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Breakfast
Terapi kelompok sudah enggak menarik sama sekali setelah insiden kalung listrik itu. Bahkan, jujur saja, aku malah makin bingung sama semua hal lainnya. Aku enggak tahu nama mereka, jumlah korban mereka, atau monster apa yang mereka klaim mejadi diri mereka. Tempat ini jauh lebih gila dari aku.
Dan itu … benar-benar mengagumkan.
Rumah sakit jiwa buat para pembunuh yang menganggap diri mereka monster.
Bagaimana ceritanya aku bisa sampai ke sini?
Perawat Agnes menghilang setelah terapi kelompok, dan aku lagi enggak mood, jadi aku balik ke kamar dan membanting pintu sekeras mungkin. Biar semua orang tahu betapa kesal dan muaknya aku ada di tempat ini. Lagipula, ada semacam kepuasan setiap kali aku merusak pintu.
Kakiku menyeret ke kasur, dan aku langsung jatuh telungkup di atasnya. Pegas-pegas tua itu berderit panik.
Pil yang aku telan tadi kayaknya mulai bereaksi. Pikiranku melambat, emosiku tumpul, dan badanku rasanya berat dan lesu.
Aku cuma berharap Agnes atau perawat lain akan datang nanti dan membawaku ke dokter. Aku mendesah di atas kasur … lalu langsung tumbang.
Saat aku buka mata lagi, aku sadar kalau satu hari sudah berlalu, karena ada seseorang yang mengetok pintuku keras-keras.
“Udah pagi!” Suara perempuan serak mendengus dari balik pintu.
Tunggu.
Dia barusan buka kunci pintu aku?
Apa mereka mengunciku di kamar semalam?
Aku merasa kacau banget. Gusiku gatal, perutku rasanya seperti terbelah dua, mengemis minta diisi apa pun. Biasanya, di hari-hari ketika aku merasa seburuk ini, aku akan berusaha ekstra buat menenangkan diri. Semakin parah perasaanku, semakin aku berusaha tampil rapi. Sepertinya penampilan yang menarik bisa menetralisir semua rasa busuk di kepalaku.
Tapi hari ini enggak.
Otakku rasanya kering. Aku cuma terhuyung-huyung. Aku dehidrasi, lapar, dan setengah teler karena obat-obatan yang dipaksakan kemarin.
Dan bonusnya?
Aku baru dapat menstruasi.
Hari keberuntunganku, jelas.
Aku pakai legging sama kaus polos, lalu sepatu, dan berdiri menghadap cermin sambil menghela napas. Aku pilih eyeliner cat-eye sederhana dengan ujung agak tebal. Cuma pakai foundation tipis dan sedikit bedak transparan.
Bibirku pucat dan pecah-pecah, dan lingkaran hitam di bawah mata enggak sepenuhnya tertutup.
Jujur saja, aku tampak seperti orang yang lagi berjuang mati-matian buat enggak kelihatan capek.
Di sepanjang koridor, orang-orang keluar dari kamar mereka menuju ruang perawatan. Semua masih diam, mengusir sisa kantuk, dan bergegas ke makanan pertama hari itu, dan mungkin juga dosis obat pertama.
Saat aku masuk ke ruangan utama, mungkin ada seratus pasien yang lagi memulai hari mereka. Aku jalan ke sisi cafetaria dan bergabung antrean.
Angel dan Fenella tiba-tiba sudah berdiri di kiri dan kananku. Mereka enggak bicara apa-apa, bahkan enggak menengok ke arahku, tapi aku merasa mereka sengaja mengepungku, ngejebak aku di tengah.
Aku menghela napas.
Begitu aku sampai di ujung antrean, Jenny menyodorkan lagi milkshake merah sialan itu ke arahku. Aku langsung keluarkan suara jijik.
“Aku boleh makan yang lain enggak?” tanyaku.
Dia cuma menatapku kosong. Aku langsung memalingkan muka sambil manyun.
Angel memesan milkshake yang hampir sama sepertiku, bedanya ... warnanya perak metalik dan baunya seperti ikan busuk.
Tinggiku sekitar 168 cm, tapi Angel kayaknya cuma sekitar 165 cm. Dia mencubitku.
Dia melepas bajunya dan tarikku ke salah satu meja kotak kecil di ruangan itu.
Enggak lama kemudian, Fenella gabung sama kami sambil membawa sosis. Aku bergidik jijik, tapi Fenella santai saja. Dia menyambar sosis itu dengan jari-jarinya, lalu langsung memasukkan semuanya ke mulut, melahap sarapan menyedihkan itu bahkan sebelum aku sempat menyedot minumanku sendiri.
“Jadi … kayaknya sekarang aku temenan sama kalian berdua,” kataku, sambil memperhatikan seorang perawat muda berambut pirang yang mondar-mandir di ruangan sambil dorong troli penuh gelas. Dia membagikan gelas-gelas itu ke para pasien, mengawasi tenggorokan mereka saat menelan, lalu tersenyum aneh sebelum pindah ke orang berikutnya.
Pandanganku kembali ke Angel waktu dia membungkuk dan minum milkshake-nya. Jujur saja, aku terkesan, dia sama sekali enggak kelihatan jijik. Aku sendiri melirik milkshakeku dengan rasa muak, tapi karena aku haus dan lapar, tanpa sadar aku menempelkan bibir ke sedotan dan menyedot krim kental warna merah muda itu ke mulutku. Perut aku langsung menegang, memberi peringatan.
“Ini menjijikkan,” desahku sambil mendorong gelasnya menjauh.
“Torvald suka yang ginian,” kata Angel sambil mengunyah ujung sedotannya dan menatapku.
Fenella mendengus saat mataku nyapu ruangan, mencari cowok yang dia maksud. Dia belum datang, atau mungkin dia enggak pakai topeng dan aku enggak mengenali dia.
Pikiran itu membuatku gelisah. Bisa saja dia cowok berambut cokelat di seberang ruangan yang cuma menatapku tanpa berkedip. Aku pun meringis.
“Dia selalu pakai masker?” tanyaku.
“Iya. Jauhin dia atau kamu mati!” Fenella menghela napas, bersandar di kursinya sambil menyisir rambut hitam kebiruan dengan jarinya.