NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Leviathan

​"Peringatan integritas lambung kapal! Delapan puluh persen dan terus menurun!" Suara Aegis kini bergetar, terdistorsi oleh medan elektromagnetik masif yang dipancarkan oleh piramida di bawah mereka. "Elara, Zian, jika kita tidak memasuki zona penetralan tekanan di dalam struktur itu dalam enam puluh detik, Nautilus-X akan menjadi peti mati baja bagi kita."

​Zian mendorong tuas pendorong hingga batas maksimal. Kapal selam itu mengerang, suara logam yang menderita terdengar seperti jeritan manusia di seluruh kabin. "Aku sedang mencoba, Aegis! Tapi arus dari pilar cahaya itu mendorong kita menjauh!"

​Di depan mereka, gerbang raksasa 'The Abyssal Vault' terbuka perlahan. Gerbang itu tidak berengsel, melainkan terdiri dari ribuan blok batu heksagonal yang bergeser secara geometris, menciptakan lubang yang cukup besar untuk kapal mereka.

​"Masuk sekarang!" teriak Elara.

​Zian melakukan manuver gila, memutar kapal selam 180 derajat dan membiarkan arus pilar cahaya "menghisap" mereka masuk ke dalam hangar utama. Begitu mereka melewati ambang pintu, air di sekitar kapal tiba-tiba menghilang, digantikan oleh ruang hampa yang kemudian terisi udara segar dalam hitungan detik. Kapal selam itu jatuh dengan keras ke lantai pangkalan yang kering.

​BRAAAKK!

​Hening. Satu-satunya suara yang terdengar adalah desis uap dari mesin kapal yang panas. Elara dan Zian saling berpandangan melalui masker oksigen mereka.

​"Kita hidup?" tanya Zian, napasnya tersengal.

​"Untuk saat ini," jawab Elara. Dia membuka pintu airlock dan melompat keluar.

​Mereka berdiri di sebuah hangar yang sangat luas, namun tidak ada teknologi manusia di sana. Dindingnya terbuat dari material hitam mengkilap yang menyerupai obsidian, dengan garis-garis sirkuit berwarna emas yang berdenyut dengan cahaya biru. Di sekeliling mereka, ratusan kapal tempur kecil berbentuk seperti ikan pari terparkir rapi—armada kuno yang siap diluncurkan.

​"Kael, kau masih di sana?" Elara mencoba menghubungi permukaan.

​"Hanya... statis... Elara... badai... di atas... sangat..." Suara Kael terputus total.

​"Sinyal radio tidak bisa menembus kedalaman ini, apalagi dengan gangguan energi dari pilar itu," kata Aegis yang kini muncul melalui proyeksi kecil di pergelangan tangan Elara. "Namun, aku telah berhasil menyusup ke jaringan lokal pangkalan ini. Elara, tempat ini bukan hanya pangkalan militer. Ini adalah gerbang transportasi."

​"Transportasi ke mana?" tanya Zian sambil memeriksa senapan taktisnya.

​"Bukan ke mana, tapi dari mana," sahut Aegis. "Pilar cahaya itu adalah suar penjemput. Mereka memanggil sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik awan Oort di tepi tata surya kita. Dan mereka akan tiba melalui gerbang ini dalam waktu kurang dari satu jam."

​Mereka mulai berlari menembus koridor pangkalan, menuju pusat kendali transmisi. Sepanjang jalan, mereka melihat tabung-tabung hibernasi yang berisi ribuan prajurit purba—mirip dengan "The First" di Andes, namun mereka tampak lebih "siap tempur" dengan zirah organo-metalik yang melekat pada kulit mereka.

​Tiba-tiba, langkah mereka terhenti oleh sesosok bayangan yang berdiri di tengah jalan. Itu bukan prajurit purba. Itu adalah seorang pria yang mengenakan setelan jas rapi, memegang tongkat dengan kepala naga emas.

​"Selamat datang, Mayor Vanya. Kolonel Arkana," kata pria itu dengan aksen Inggris yang kental. "Aku adalah Lord Sterling, ketua 'The Council of Eternity'. Aku harus berterima kasih kepada kalian karena telah menghancurkan pangkalan Andes. Tanpa ledakan energi fusi yang kalian picu di sana, suar di dasar laut ini tidak akan memiliki cukup daya untuk menembus atmosfer."

​Zian mengarahkan senjatanya. "Jadi kami melakukan apa yang kau inginkan?"

​"Tepat sekali. Kalian adalah pion yang sangat berguna," Sterling tersenyum tipis. "Sekarang, berikan kode biometrik Elara, dan aku akan memastikan kalian mendapatkan tempat di dunia baru yang akan segera lahir. Dunia di mana kematian hanyalah sebuah pilihan."

​"Pilihan yang tidak akan pernah kami ambil jika harganya adalah kemanusiaan kami," Elara maju selangkah, pisaunya berkilat.

​"Kasihan sekali," Sterling menjentikkan jarinya.

​Dari balik bayangan, muncul dua sosok yang membuat Elara membeku. Mereka adalah klon dari dirinya sendiri—namun dengan mata merah dingin dan kulit yang pucat pasi. 'Project Gemini'.

​"Vektor tidak hanya bereksperimen dengan ibumu, Zian," kata Sterling. "Dia menciptakan cadangan. Elara, temui adik-adikmu. Mereka memiliki semua kemampuanmu, tanpa beban nuranimu."

​Kedua klon Elara itu bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Salah satunya menendang Zian hingga terlempar melewati koridor, sementara yang lainnya menerjang Elara dengan pedang laser yang keluar dari pergelangan tangannya.

​"ZIAN!" teriak Elara.

​"Urus dirimu sendiri, Elara!" sahut Zian yang kini terlibat dalam duel jarak dekat yang brutal dengan klon pertama.

​Elara terpaksa bertarung melawan bayangannya sendiri. Setiap gerakan yang ia buat, klon itu sudah mengetahuinya. Mereka bergerak dengan sinkronisasi yang sempurna. Elara menggunakan pisau taktisnya untuk menahan serangan pedang laser, menciptakan percikan api yang menerangi koridor gelap itu.

​"Aegis! Aku butuh bantuan!" Elara berteriak dalam pikiran.

​"Aku sedang mencoba mengacaukan frekuensi kontrol mereka, Elara! Tapi mereka dikendalikan oleh server pusat pangkalan!" Aegis membalas. "Kau harus memancingnya ke arah pusat transmisi. Jika aku bisa menyentuh server pusat, aku bisa mematikan mereka semua!"

​Elara melakukan salto ke belakang, menghindari tebasan maut, dan mulai berlari menuju ruang transmisi yang bercahaya terang di ujung koridor. Zian, yang wajahnya sudah berlumuran darah, berhasil melumpuhkan klon lawannya sejenak dengan granat cahaya dan menyusul Elara.

​Mereka tiba di ruang transmisi. Di tengah ruangan, terdapat pilar energi raksasa yang menghubungkan dasar laut dengan langit. Lord Sterling berdiri di depan konsol utama, menatap ke arah pilar tersebut dengan pandangan memuja.

​"Lihatlah! Mereka datang!" teriak Sterling.

​Di dalam pilar cahaya itu, mulai muncul bayangan kapal-kapal raksasa yang perlahan turun ke Bumi. Tekanan energi di ruangan itu begitu besar hingga lantai obsidian mulai retak.

​"Aegis, SEKARANG!" Elara berteriak sambil melemparkan komunikatornya ke arah konsol utama.

​Komunikator itu menempel secara magnetis. Cahaya emas Aegis langsung merambat masuk ke dalam sistem purba tersebut. Namun, Aegis mengeluarkan suara jeritan digital.

​"Terlalu... banyak... data... Elara! Aku tidak bisa menahannya sendirian!"

​"Gunakan aku!" Elara berlari menuju konsol dan meletakkan kedua tangannya di atas piringan sensor biometrik. "Gunakan DNA-ku sebagai jembatan!"

​"Elara, jangan! Itu akan membakarmu!" Zian mencoba meraihnya, namun dia dihadang kembali oleh kedua klon Gemini yang sudah pulih.

​"Lakukan, Aegis! Hancurkan gerbangnya!" Elara berteriak, tubuhnya mulai bersinar dengan energi biru yang sama dengan pilar cahaya. Rambutnya berkibar liar, dan matanya memancarkan cahaya putih yang menyilaukan.

​Di seluruh pangkalan, alarm mulai meraung. Kapal-kapal purba yang sedang turun tiba-tiba mulai bergetar dan meledak di dalam pilar energi. Lord Sterling berteriak histeris melihat rencananya hancur berantakan.

​"TIDAAAKKK! KEABADIAN KU!"

​Gelombang kejut energi yang masif meledak dari pusat konsol. Lord Sterling dan kedua klon Gemini terlempar seketika. Elara terjatuh lemas, namun pilar cahaya itu kini mulai meredup dan berubah warna menjadi merah darah—tanda bahwa gerbang itu sedang runtuh.

​"Pangkalan ini akan hancur dalam dua menit!" Aegis berteriak melalui speaker pangkalan. "Zian! Ambil Elara dan lari ke arah kapal tempur kuno di hangar! Itu satu-satunya cara untuk keluar sebelum tekanan air masuk!"

​Zian menyambar tubuh Elara yang tak sadarkan diri. Dia berlari sekuat tenaga melewati reruntuhan koridor. Di belakangnya, dinding-dinding obsidian mulai hancur oleh tekanan air yang luar biasa besar yang mulai masuk dari celah-celah pangkalan.

​Zian melompat ke dalam salah satu kapal tempur berbentuk pari. "Aegis! Kendalikan kapal ini!"

​"Memulai urutan peluncuran darurat!"

​Kapal tempur itu melesat keluar dari hangar tepat saat 'The Abyssal Vault' hancur berkeping-keping oleh tekanan samudra. Zian menatap ke belakang melalui kaca kokpit, melihat piramida raksasa itu lenyap di telan kegelapan.

​Namun, di dalam pelukan Zian, Elara tidak bergerak. Denyut nadinya lemah, dan tanda lahir di bahunya kini bersinar dengan warna emas yang aneh.

​"Elara... bertahanlah," bisik Zian.

​Kapal tempur kuno itu melesat ke permukaan, membelah lautan yang mengamuk. Mereka selamat dari Palung Mariana, namun sesuatu di dalam diri Elara telah berubah selamanya. Dan di Antartika, lokasi terakhir dari tiga dewa purba, sesuatu yang jauh lebih besar baru saja terbangun karena ledakan energi di Mariana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!