Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Goyah
"Sudah selesai bicara dengan Baskara, Nu?"
Itu adalah kata sambutan untuk Wisnu saat menginjakkan kaki di ruang kerja Dirga.
Wisnu sudah bicara dengan Baskara mengenai bukti-bukti tentang keberadaan Loria sebelumnya, berunding tentang apa yang mungkin bisa mereka lakukan untuk menemukan Loria.
Namun alasan Wisnu berada di sini sekarang bukan untuk membahas wanita hilang itu, melainkan karena istri pengganti sang majikan yang membuatnya pusing.
Rasanya kepala Wisnu hampir pecah saat mengabdi untuk putra-putri keluarga Martadinata itu.
"Sudah, Pak." Wisnu mengangguk pelan, berdiri di hadapan Dirga yang tengah sibuk membolak-balikkan berkas.
Dirga tampak fokus sekarang, berbeda dari beberapa saat sebelumnya. Wajah dingin itu terpasang, begitupun sorot tajam di balik kacamata.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, ada yang ingin saya sampaikan. Tapi kali ini bukan tentang Nona Loria," ujar Wisnu.
"Lalu?"
"Ini tentang Nona Pramahita."
Sontak tangan Dirga berhenti diatas helaian kertas, fokusnya langsung terpecah begitu mendengar nama istri penggantinya itu disebut.
Pramahita. Entah kenapa nama itu membuatnya langsung teralihkan.
"Ada apa dengannya?" Nada Dirga masih terdengar dingin, namun berkas itu ia tutup saat fokus pada ucapan Wisnu.
Entah Dirga menyadarinya atau tidak, sepertinya Pramahita memang memiliki ruang di dalam dirinya sekarang, khususnya pada pikiran.
Wisnu menatap majikannya itu sejenak, terlihat sedikit ragu sebelum akhirnya berucap.
"Saya tidak sengaja mendengar percakapan antara Pak Bram dan Nona Pramahita di dapur tadi pagi," mulainya menjelaskan. "Mereka membahas tentang anak yang Nona Pramahita selamatkan di mall beberapa hari yang lalu."
"Lalu?" Sebelah alis Dirga terangkat, tangannya bertaut di bawah dagu. "Apa saja yang mereka bicarakan?"
"Cukup banyak..." Wisnu tampak menimang-nimang.
Wisnu berpikir bahwa bodoh sekali jika ia memaparkan semua, terutama tentang Bram yang memakan roti gosong buatan Hita dan melontarkan kata-kata manis. Apa tidak langsung dilempari berkas wajah tampannya ini?
"Dari yang saya dengar, mereka akan bertemu dengan anak itu dan orang tuanya," ucap Wisnu pada akhirnya. "Mereka akan pergi sore ini."
"Sore ini?" Sontak Dirga menoleh ke arah jam yang menempel di tembok, tubuhnya menegak. "Dan kenapa kau membiarkan mereka pergi? Bukankah saya sudah menugaskanmu untuk menjauhkan Bram dari istriku itu?"
Was was lah Wisnu begitu melihat raut wajah Dirga yang mengeras. Ia jadi tak mengerti mengapa Dirga ingin menjauhkan Hita dari Bram, bukankah majikannya itu hanya mencintai Loria seorang?
"Maaf, Pak." Wisnu buru-buru menunduk sopan. "Saya merasa bahwa tidak sopan jika saya menyela percakapan mereka dan menjauhkan Nona Pramahita dari Pak Bram secara tiba-tiba."
"Bagaimanapun juga Pak Bram adalah anggota keluarga Martadinata, dan saya juga bekerja untuk beliau. Saya bekerja untuk seluruh anggota keluarga Martadinata, jadi saya juga tak ingin bersikap lancang padanya."
Wisnu mengatakan segalanya yang ia rasa masuk akal, bahwa ia tak mungkin tiba-tiba melarang Bram mendekati Hita. Bagaimanapun melakukan hal seperti itu akan terdengar begitu lancang.
Dirga memejamkan matanya, menekan rasa amarah yang tiba-tiba mengancam akan meledak. Ia juga tak mengerti mengapa ia ingin sekali membuat jarak diantara kakak dan istri penggantinya itu.
Tapi Wisnu benar, dia tak mungkin tiba-tiba menyeret Hita menjauh dari Bram.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Dirga bangkit dari tempat duduknya, menarik kasar jas yang tersampir di kursi putar itu sebelum melangkah melewati Wisnu untuk keluar dari ruangan.
"Ada hal penting yang harus saya lakukan, suruh sekretaris saya untuk membatalkan semua jadwal hari ini," perintahnya, sebelum benar-benar lenyap di balik pintu.
...****************...
"Tunggu saja dimobil, Kak, nanti aku akan menyusul."
Hita melambaikan tangannya begitu Bram melangkah ke arah mobil yang terparkir di sisi taman.
Hari ini ia benar-benar bertemu dengan orang tua Jojo. Mereka hidup sederhana sekali, bekerja banting tulang untuk menghidupi keluarga kecil mereka.
Setelah pertemuan ini Hita jadi sadar bahwa di luaran sana masih ada banyak orang yang jauh lebih kesulitan dari pada dia dalam menjalani kehidupan yang kejam ini.
Apakah Hita terlalu banyak mengeluh selama ini?
Begitu sampai di toilet, Hita menatap pantulannya pada cermin besar, tangannya memutar kran hingga air mengucur. Hita menadahkan tangannya, membiarkan air membasahi.
Senyum tipis terukir di wajah Hita saat mendengar suara berisik anak-anak yang bermain di taman. Ia jadi bernostalgia.
Namun tiba-tiba senyum itu lenyap saat Dirga kembali menghinggapi pikirannya.
Apa yang akan terjadi jika Dirga tau ia keluar dengan Bram? Laki-laki itu sudah memperingatkan agar ia tak dekat-dekat dengan Bram.
Hita mengibaskan tangannya, satu tangannya menarik helaian tisu dan mengelap kulit yang basah.
Barulah saat Hita mendongak, perempuan itu terbelalak begitu melihat pantulan sosok yang baru saja ia pikirkan—Dirga.
Ya, laki-laki itu berdiri di belakangnya, dengan setelan kantor rapi yang terpasang di tubuh. Hanya saja, rambut Dirga tampak sedikit acak-acakan karena diterpa angin, begitu pula dengan kacamata yang sedikit melorot di hidungnya yang mancung.
"Kak Dirga?" Hita menelan ludah, mengerjapkan matanya dan berharap ini adalah mimpi.
Tapi ini adalah kenyataan.
"Apakah begitu sulit untuk sekedar mengabari?" Dirga tak menjawab sapaan itu, nadanya dingin saat bicara.
"Aku membelikan ponsel yang cukup mahal, dan aku rasa kau terlalu kuno untuk mengetahui apa kegunaannya."
Tubuh Hita semakin menegang begitu suara langkah kaki mendekat, bahkan Hita tak berani menatap Dirga meskipun hanya dari pantulan cermin.
Hita tak mengerti mengapa ia begitu takut pada Dirga. Begitu patuh. Padahal Hita memiliki tekad untuk sedikit memberontak setelah hal bejat yang laki-laki itu lakukan padanya tanpa sadar.
"Dan aku juga ingat sekali bagaimana aku memperingatkanmu untuk menjauh dari kakakku," lanjut laki-laki itu, berdiri tepat di belakang Hita.
"Apakah otakmu juga tak bisa bekerja dengan baik hingga tak mengingatnya?" bisik Dirga, tepat di telinga Hita hingga bulu kuduk perempuan itu berdiri. "Apakah aku terlalu lembut dalam memperingatkanmu?"
Mata tajam Dirga menatap Hita dari pantulan cermin, mengamati bagaimana perempuan itu menunduk dan tampak ketakutan—Hita yang lemah kembali lagi setelah pemberontakan yang singkat.
"Sikapmu hari ini juga sangat lancang." Dirga semakin mendekatkan tubuhnya, membuat dada bidangnya menyentuh punggung Hita.
Aliran darah Hita terasa membeku tatkala merasa familiar dengan situasi ini—saat di ruang tamu malam itu. Seketika itu membuat Hita gemetar di tempat, mengingat momen traumatis.
"Aku hanya ingin bertemu dengan orang tua Jojo." meskipun menahannya, suara Hita tetap saja gemetar. "Aku tidak mungkin menolaknya."
Bodoh, anggap saja itu jawaban yang bodoh.
Dirga tertawa hambar, seperti ejekan untuk Hita. "Benarkah? Itu bukanlah jawaban yang tepat untuk tuntutanku," bisiknya. "Kau ingin bertemu dengan orang tua Jojo, dan sedikitpun tak berniat untuk mengabariku. Kau merasa kau punya hak atas dirimu sendiri sekarang?"
Tangan Dirga merayap ke arah wastafel, mencengkram porselen itu erat-erat saat menjebak Hita diantara wastafel itu dan tubuhnya.
"Ingatlah bahwa Arseno memberikanmu padaku sebagai jaminan," peringat Dirga. "Apapun yang kau lakukan adalah atas persetujuanku, jangan berani-beraninya kau lancang melanggarnya."
Hita semakin tak berkutik dibuat Laki-laki itu. Dirga benar-benar memiliki hal yang membuatnya begitu tunduk, begitu takut hingga tak mampu mengangkat dagu.
Hita bahkan tak menyangka Dirga akan datang tiba-tiba. Tapi itu bukanlah hal yang mustahil, karena bisa saja Dirga melacak keberadaannya.
"Apakah aku sama sekali tidak memiliki hak atas diriku sendiri?" Hita memberanikan diri untuk bicara. "Kenapa aku harus diperlakukan seperti ini? Apa karena aku adalah anak haram yang tidak diinginkan? Apakah itu mengapa aku diperlakukan seperti ini?"
Saat itu Hita perlahan-lahan mengangkat wajahnya, menatap Dirga dari cermin.
Hita bisa melihat bagaimana dekatnya Dirga dengannya, merasakan hangat tubuh laki-laki itu menekan punggungnya. Tapi jauh dari itu, tak ada kesenangan di hati Hita saat merasakan rasa sakit familiar dari momen ini.
Saat di ruang tamu, Dirga juga menyerangnya dari belakang.
"Aku tau bahwa aku anak yang tidak diinginkan," ujar Hita, tanpa sadar mencengkram tepian wastafel hingga jarinya sedikit bersentuhan dengan Dirga.
"Aku tau juga bahwa ayah hanya memanfaatkanku sekarang. Sebaik apapun ayah padaku, aku tau bahwa setiap kata sayangnya harus dibayar dengan pengorbanan," lanjutnya. "Termasuk pernikahan ini."
Hita memperhatikan saat Dirga terdiam, suaminya itu mendengarkan tanpa sedikitpun menyela. Laki-laki itu tampak berbeda dari biasanya, tatapannya sedikit goyah setiap melontarkan kata-kata kasar pada Hita.
"Kakak bisa melakukan apapun yang kakak mau padaku. Kakak bisa menyakitiku dengan kata-kata kakak sepuasnya jika kakak menganggap itu hal yang benar." Hita belum juga berhenti berucap. "Aku juga mengerti bahwa sejatinya aku memang ada tanpa diharapkan, berbeda dengan Kak Loria."
Ada jeda hening yang panjang dan memuakkan setelah kata-kata Hita terlontar. Pengakuan rasa sakit itu menggantung di udara, berhasil membuat putra tengah keluarga Martadinata itu tak berkutik.
Perlahan-lahan Dirga menarik diri dari Hita, mengambil satu langkah mundur dari perempuan itu tanpa kata-kata.
Konyol sekali jika Dirga harus mengakui bahwa kata-kata Pramahita mempengaruhi otaknya yang biasanya rasional. Tindakannya yang biasanya konsisten. Hita telah menghancurkannya.
"Aku akan ikut denganmu dan kak Bram." Dirga berucap dengan mata berpaling dari Hita. "Aku tidak akan membiarkanmu lebih banyak menghabiskan waktu dengannya."
Dengan langkah yang sedikit goyah namun dipaksa tegak itu Dirga menjauh dari Hita, keluar dari kamar mandi dengan pikiran yang berpacu.
Hita lagi-lagi membuatnya berpikir keras.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga