"Arina Andrews!" Panggil seorang guru saat Arin hendak berlalu.
Arin lalu berbalik dan mendapati jika orang yang memanggil dirinya adalah sang guru. Orang yang membuat dirinya merasa hidup. Namun Arin terkejut saat mengetahui gurunya hendak menikah. Baginya Ibu Sarah adalah ibu baginya.
"Ibu guru tidak akan melupakan sayakan ?" Tanya Arin...
Ibu Sarah hanya terdiam, dia lalu mengelus kepala anak muridnya itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jauhadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Bab 15
Arina duduk bersender di meja belajarnya, di ketiknya beberapa kata di laptop miliknya, dia ingin menulis beberapa cerpen di aplikasi catatan miliknya, nantinya saat Arina ada jadwal updated, dia akan mengupdetnya di laman webb, Arina sudah memiliki cukup banyak pengikut di laman webb miliknya. Cukup banyak untuk menghasilkan uang sendiri, walaupun tidak seberapa jumlahnya.
Arina hanya menjadikan menulis sebagai hobi, matematika masih menjadi kesukaannya. Arina lalu merebahkan dirinya di kasur, hari ini begitu berat rasanya, dia sangat lelah, dan memutuskan untuk tidur saja di atas kasur king size miliknya yang empuk. Baru Arina mau tidur, ternyata Thomas Andrews mengetuk pintu.
"Masuk saja." Ujar Arina pada Thomas Andrews. Arina terkejut, ternyata Thomas Andrews datang menemuinya, dia pikir tadi Sarah yang datang, ternyata orang yang tidak dia harapkan lah yang datang. Tahu begitu tadi Arina pura-pura tidur saja. "Ada apa? "
Thomas Andrews mengeluarkan sebuah kunci motor. Arina kaget melihatnya. "Ayah belikan motor untukmu." Arina heran kenapa Thomas Andrews membelikannya motor, padahal Arina belum punya SIM.
"Ayah Arina minta maaf tidak bisa menerima hadiah kali ini. Arina kan belum punya SIM." Ujar Arina pada Thomas Andrews.
"Kan tinggal bikin sayang, kamu sudah tujuh belas tahun, setelah nantinya kamu mahir bersepeda motor kamu bisa membikin SIM." Ujar Thomas Andrews pada Arina.
"Tapi apa gak pemborosan ayah? Arina kan sudah punya mobil." Ketus Arina.
Thomas Andrews hanya tersenyum, dia hanya ingin memanjakan putrinya yang tidak pernah di manjakan olehnya. "Kamu tidk usah khawatir ayah ke habisan uang, ayah sudah memperhitungkan nya sayang." Ujar Thomas Andrews pada Arina.
Arina hanya menganggukkan kepalanya, dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dia benar-benar bingung harus berkata apa pada Thomas Andrews.
"Ya sudah terima kasih." Ujar Arina. "Lain kali ayah bilang dulu sebelum membelikan ya, agar tidak boros, Arin tahu ayah kaya, tapi ada baiknya kita investasi kan saja uangnya atu di tabung, mungkin juga bisa di sumbangkan." Lanjut Arina.
Thomas Andrews mengerti, putrinya sudah beranjak dewasa. Dia menganggukan kepalanya. "Baiklah, ayah lain kali akan bilang dulu padamu sebelum membelikan kamu sesuatu." Ujarnya.
Arina lega setelah Thomas Andrews mengatakan hal itu. Dia tidak ingin ayahnya itu boros, dan memanjakan dirinya, bagi Arina, yang dia perlukan adalah sosok ayah yang bertanggung jawab, dan dapat menjadi pemimpin serta dapat menasehati Arina jika dia salah. Dia tidak ingin ayahnya memanjakan dirinya, dan menjadikan dirinya lalai.
Beberapa saat berlalu, Sarah datang menemui Arina. "Sayang, Ayahmu mengajak kita belanja, Ibu sudah menolaknya, tapi dia bersikeras ingin membelikan kita gaun." Ujar Sarah pada Arina.
Arina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku ayahnya, padahal Arina baru saja bilang agar tidak boros, kini ayahnya malah mengajak mereka membeli pakaian.
"Astaga, ya sudah, aku ganti baju dulu Ibu Sarah." Ujar Arina. Arina masuk kedalam kamar mandi dengan mengganti pakaiannya menjadi hoodie santai berwarna cream. Dia ingin tampak santai saat pergi ke luar rumah.
Tak lama berselang, Arina, dan Sarah keluar dari kamar. Mereka turun menemui Thomas Andrews.
"Ayah bukankah kami sudah mengatakan agar tidak boros?" Ujar Arina, dia tahu Sarah pasti juga menasehati Thomas Andrews agar tidam boros. Sarah menganggukkan kepalanya, dia tidak suka membuang-buang uang sebab uang sangat sulit di dapatkan.
"Sesekali saja sayang, ayo berangkat, kita beli gaun untuk kalian." Tukas Thomas Andrews.
"Ayah biarkan Arina menyetir, Arina baru dapat SIM mobil." Ujar Arina pada Thomas Andrews, dia bukan ingin memamerkan kebolehannya dalam mengendarai mobil, melainkan ingin pergi ke toko baju biasa, dia tidak ingin menghabiskan uang ayahnya untuk hal yang tidak perlu.
"Baiklah sayang, jika itu yang kamu mau." Thomas Andrews turun dari kursi kemudi, dia menyerahkan tugas mengemudi pada Arina.
Arina mengemudi mobil ke arah toko yang menjual baju, toko sederhana yang menjual baju seharga puluhan sampai ratusan ribu.
Sarah melihat ke arah mana Arina pergi, dia tersenyum puas. Sarah juga sama seperti Arina, dia tidak ingin membeli baju seharga jutaan, dan menghamburkan uang begitu saja.
"Ayah kita sudah sampai." Ujar Arina pada Thomas Andrews. Thomas Andrews terkejut, dia tidak menyangka Arina akan ke sini, toko baju biasa yang ada di pinggir jalan. Meski baju di sana semuanya baru, tapi toko itu sangat sederhana di mata Thomas Andrews.
"Kita tidak ke mall?" Ujar Thomas Andrews bertanya dengan nada heran.
"Buat apa ke mall, ayo kita beli baju!" Seru Sarah. Dia tahu suaminya pasti tidak pernah ke tempat seperti ini. Thomas Andrews saat dia bangkrut dulu, dia mengenakan pakaian yang dia beli dari mall, dia tidak pernah membeli pakaian lain lagi. Meski bangkrut, dia tidak akan ke tempat biasa seperti ini.
"Ayah, aku cocok tidak dengan hoodie ini?" Tanya Arina Andrews pada ayahnya. Dia membeli hoodie warna abu-abu, Sarah juga membeli kaus warna putih untuk olahraga. Toko itu meski kecil, tempatnya cukup lengkap. Thomas Andrews tidak menyangka ada toko seperti ini, selain murah, toko ini juga menjual berbagai baju.
"Cantik sayang, kamu juga Sarah, hanya saja Sarah, ukurannya terlalu besar, carilah ukuran yang lebih kecil." Ujar Thomas Andrews pada Sarah, dan Arina. Dia bahagia menemani dua wanita itu berbelanja.
Tidak lama berselang, mereka sudah selesai belanja. Arina hanya mengambil hoodie dari tadi, sementara Sarah membeli berbagai macam pakaian dalam berbagai kebutuhan termasuk gaun pesta yang terlihat mahal meski harganya murah.
"Harganya murah sekali, aku tidak pernah berbelanja setelah ke bangkrutanku dulu, setelah aku bangkit aku juga tidak pernah berbelanja, tidak di sangka harga sekarang lebih murah ternyata." Kata Thomas Andrews. Arina tertawa mendengar utaraan hati ayahnya, dia tidak menyangka ayahnya sepolos itu.
"Tidak ayah, kita belanja di toko, bukan di mall, wajar jika kita mendapatkan harga murah, jika di mall akan tetap mahal." Arina menjelaskan.
Thomas Andrews menganggukkan kepalanya. Dia mengerti sekarang, lain kali dia akan mengajak Arina, dan Sarah untuk berbelanja. Mereka sepertinya lebih bisa mendapatkan harga murah dari pada Thomas Andrews yang kurang berpengalaman.
Thomas Andrews kali ini yang menyetir. Dia menyetir dengan hati-hati. Dalam hati dia senang bisa menemani Arina Andrews, dan Sarah Andrews belanja. Dia senang mereka berdua bahagia bisa belanja. Dia juga tidak mengeluarkan banyak uang juga untuk membeli baju, dan barang yang mereka beli. Meski begitu Thomas Andrews lain kali akan mengajak mereka ke mall. Setidaknya sesekali tidak masalah untum pergi ke mall.
Mereka sampai di rumah. Arina serta Sarah masuk ke dalam rumah.
"Kalian tidak mencuci baju kalian dulu?" Tanya Thomas Andrews, biasanya Thomas Andrews akan mencuci baju yang di beli dari mall sebelum di pakai.
"Kami akan mencucinya besok. Ada keranjang cucian di kamar. Kami lelah ayah, kami mau istirahat." Ujar Arina.
"Kan pakai mesin cuci, tidak capek sayang." Ujar Sarah. Arina baru ingat jika mereka tisak perlu mencuci pakai tangan lagi sekarang.
Thomas Andrews menghentikan mereka berdua. "Tidak usah, serahkan saja ke pelayan." Ujar Thomas Andrews. Dia tidak ingin istri, dan anaknya melakukan pekerjaan rumah.
"Baik." Ujar Sarah sambil melirik Arina, Arina lalu mengangguk tanda dia mengerti.