Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.
Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14_LUKA YANG TAK BISA DISEMBUNYIKAN
Siang harinya, di Sekolah. Pelajaran olahraga hari itu berjalan lebih melelahkan dari biasanya.
Matahari terik, lapangan penuh suara teriakan, dan Nayla merasa tubuhnya tidak sekuat biasanya. Sejak kejadian di koridor beberapa hari lalu, ada nyeri yang kadang muncul di sisi lengannya, tepat di bawah seragam. Ia menahannya, menganggap itu hal kecil.
Ia selalu begitu.
Saat guru menyuruh mereka istirahat, Nayla duduk di pinggir lapangan bersama Dani dan Sena. Ia membuka botol minum, lalu tanpa sadar menarik lengan jaket olahraganya sedikit ke atas karena gerah.
Dan di situlah semuanya berhenti.
Dani yang duduk paling dekat langsung menegang. “Nay…”
Sena ikut menoleh, lalu membelalak. “Itu kenapa?”
Nayla tersadar terlambat.
Di lengannya, jelas terlihat bekas memar kebiruan yang belum sepenuhnya pudar. Tidak besar, tapi cukup mencolok. Bentuknya tidak rapi, seperti bekas benturan keras.
Nayla refleks menurunkan lengannya. “Bukan apa-apa.”
“Bukan apa-apa dari mana?” Dani langsung menarik tangan Nayla lagi, kali ini lebih tegas. “Ini jelas luka.”
Sena mendekat. “Itu dari kapan?”
Nayla menghindari tatapan mereka. “Kecelakaan kecil.”
“Kecelakaan apa?” Dani tidak percaya. “Lo nggak pernah cerita.”
Nayla menarik tangannya, berdiri. “Udah, jangan dibesar-besarin.” Nada suaranya keras. Terlalu keras.
Dani dan Sena saling pandang.
Sena menarik napas. “Nayla… ini ada hubungannya sama waktu lo didorong di koridor, ya?”
Nayla diam. Dan diam itu sudah cukup menjawab.
“Ya ampun,” bisik Dani. “Kenapa lo nggak bilang?”
Nayla menelan ludah. “Buat apa? Aku nggak mau tambah masalah.”
“Lo mikir kami bakal ninggalin kamu?” Sena membalas, suaranya bergetar. “Dan lo pikir lo sendirian?”
Nayla menunduk. Dadanya terasa sesak. Di saat itu, sebuah bayangan jatuh di atas mereka.
Azka.
Ia berdiri beberapa langkah dari mereka, wajahnya datar seperti biasa. Tapi tatapannya langsung tertuju ke lengan Nayla yang masih sedikit terbuka.
Mata Azka mengeras.
“Itu apa?” tanyanya. Nada suaranya rendah. Berbahaya.
Nayla terkejut. “Nggak ada apa-apa.”
Azka melangkah lebih dekat. “Aku nanya, itu apa.”
Beberapa siswa di sekitar mulai memperhatikan. Raka dan Devan yang berada tidak jauh dari situ ikut menoleh.
Dani ragu-ragu. “Ka… ini—”
“Bukan urusan lo,” potong Azka tanpa menoleh.
Tangannya terangkat, hampir menyentuh lengan Nayla, tapi berhenti di udara. Rahangnya mengeras.
“Siapa yang ngelakuin?” tanya Azka lagi.
Nayla menarik lengannya ke belakang. “Aku bilang nggak ada apa-apa!”
“Kamu bohong,” ucap Azka tajam.
Semua terdiam.
Nada itu bukan nada menghina. Bukan nada dingin. Itu nada marah. Dan khawatir.
Sena membelalakkan mata. Dani refleks berdiri. Bahkan Raka terlihat terkejut.
Azka jarang, bahkan hampir tidak pernah, menunjukkan emosi seperti itu di depan umum.
“Azka, stop,” bisik Nayla. “Semua orang lihat.”
Azka menoleh ke sekeliling, baru menyadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka. Ia menghembuskan napas kasar.
“Masuk kelas,” katanya singkat pada Nayla. “Sekarang.”
“Pelajaran belum—”
“SEKARANG.”
Tidak ada yang berani menyela.
Nayla menggigit bibir, lalu melangkah pergi lebih dulu. Azka mengikuti di belakangnya, meninggalkan lapangan dalam keheningan aneh.
Raka menatap Devan. “Itu barusan… Azka?”
Devan mengangguk pelan. “Dan dia jelas nggak baik-baik aja.”
***
Sepanjang sisa hari itu, suasana terasa ganjil.
Azka duduk diam di kelas, tapi auranya gelap. Setiap kali Nayla bergerak, ia melirik. Setiap kali ada murid lain mendekat terlalu dekat, Azka menatap dengan dingin.
Orang-orang mulai berbisik lagi. Tapi kali ini, bukan tentang Nayla saja. Tentang Azka.
“Dia kenapa, sih?”
“Kayak jaga Nayla.”
“Sejak kapan?”
"Bukannya mereka musuhan?"
Nayla bisa merasakannya. Tekanan itu kembali. Bedanya, sekarang datang dari arah yang sama sekali tidak ia mengerti.
***
Mobil Mahendra melaju tenang sore itu. Di dalam, tidak ada suara.
Nayla duduk di sisi kanan, menatap jendela. Azka duduk di seberangnya, tangan terlipat di dada. Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya berantakan.
Begitu sampai di rumah, Azka turun lebih dulu.
“Masuk,” katanya singkat. Nada itu bukan perintah dingin. Lebih seperti… tertahan.
Nayla mengikutinya masuk ke dalam rumah. Begitu pintu tertutup, Azka berbalik.
“Sekarang jelasin,” ucapnya.
Nayla menghela napas. “Jelasin apa?”
“Jangan pura-pura,” Azka mendekat. “Luka di lengan kamu.”
“Itu bukan masalah besar.”
“Menurut siapa?” bentak Azka.
Nayla terkejut. “Jangan teriak.”
Azka mengusap wajahnya kasar. “Kenapa kamu nggak bilang?”
Nayla menatapnya. “Bilang ke siapa?”
“Ke Aku” jawab Azka cepat.
Hening.
Nayla tertawa kecil, pahit. “Kamu serius?”
Azka menegang. “Kenapa?”
“Kapan terakhir kali kamu peduli sama apa yang aku rasain?” suara Nayla mulai bergetar. “Kamu nginjek aku di sekolah, Ka. Kamu bikin aku kelihatan bodoh di depan semua orang.”
Azka membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Terus sekarang kamu marah karena aku nggak cerita?” lanjut Nayla. “Kamu pikir aku bakal datang ke kamu dan bilang, ‘Ka, aku sakit’?”
Azka mengepalkan tangan.
“Aku suami kamu.” Kalimat itu jatuh berat di udara.
Nayla membeku.
“Dan itu alasan kenapa kamu harusnya lebih tahu,” lanjut Azka dengan suara lebih rendah. “Bukan lebih nyakitin.”
Nayla menunduk. Air mata menggenang, tapi tidak jatuh.
“Aku nggak mau jadi beban,” katanya lirih. “Aku udah cukup bikin masalah.”
“Kamu bukan masalah,” ucap Azka cepat, lalu terdiam, seolah menyesali kejujurannya sendiri.
Nayla mengangkat wajahnya. “Terus aku apa?”
Azka menatapnya lama. Lama sekali.
“Aku marah,” katanya akhirnya. “Karena aku nggak tahu. Dan karena aku nggak ada di sana.”
Nayla terdiam.
“Apa luka itu parah?” tanya Azka lebih pelan.
Nayla menggeleng. “Udah mau sembuh.”
Azka mengulurkan tangan, kali ini benar-benar menyentuh lengan Nayla. Hati-hati. Sangat hati-hati.
Sentuhan itu membuat Nayla tercekat.
“Lain kali,” ucap Azka pelan, “bilang.”
Nayla menatapnya, bingung, lelah, dan entah kenapa… sedikit hangat.
“Aku nggak janji,” katanya jujur.
Azka menghela napas. “Kamu keras kepala.”
“Kita impas,” balas Nayla.
Sudut bibir Azka bergerak tipis. Hampir seperti senyum.
Hampir.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, Azka tidak berpaling. Ia mungkin masih kasar. Masih dingin. Masih membingungkan. Tapi satu hal menjadi jelas, Azka tidak lagi bisa bersikap seolah Nayla tidak ada. Dan itu… membuat semua orang Heran. Termasuk Nayla sendiri.