NovelToon NovelToon
Melodi Yang Tidak Tersentuh

Melodi Yang Tidak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:507
Nilai: 5
Nama Author: Yumine Yupina

Airi tidak pernah benar-benar percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ingin, tapi karena cinta pertamanya justru meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Kini, di bangku kuliah, hidupnya hanya berputar pada musik, rutinitas, dan tembok yang ia bangun sendiri agar tak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya.

Namun segalanya berubah ketika musik mempertemukannya dengan dunia yang berisik, penuh nada, dan tiga laki-laki dengan caranya masing-masing memasuki hidup Airi. Bersama band, tawa, konflik, dan malam-malam panjang di balik panggung, Airi mulai mempertanyakan satu hal: apakah melodi yang ia ciptakan mampu menyembuhkan luka yang selama ini ia sembunyikan?

Di antara cinta yang datang perlahan, masa lalu yang terus menghantui, dan perasaan yang tak pernah ia pahami sepenuhnya, Airi harus memilih—bertahan dalam sunyi yang aman, atau berani menyentuh nada yang bisa saja kembali melukainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumine Yupina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 — Nada yang Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

Ren tidak menyukai firasat.

Bukan karena ia tidak percaya pada firasat itu, melainkan karena firasat sering datang saat segalanya terlihat baik-baik saja. Seperti retakan halus di bawah cat baru. Tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat kaki ragu melangkah.

Sore itu, kampus terasa lebih ramai dari biasanya.

Mahasiswa berlalu-lalang, sebagian berhenti di papan pengumuman fakultas musik. Ada wajah-wajah penasaran, ada yang sekadar lewat sambil mengobrol. Ren berdiri agak jauh, memegang gitar di punggungnya, memperhatikan tanpa benar-benar ingin tahu.

Sampai namanya disebut.

“Ren?”

Ia menoleh.

Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya. Usianya sekitar awal tiga puluhan. Berpakaian rapi, senyum profesional terpasang di wajahnya. Terlalu rapi, pikir Ren. Terlalu siap.

“Ren, kan?” pria itu melanjutkan, seolah memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah ia ketahui.

Ren mengangguk kecil. “Iya.”

Pria itu tersenyum lebih lebar. “Aku dosen baru di sini. Mulai minggu ini ngajar di jurusan musik.”

Ren mengangguk lagi. Satu kebiasaan lama saat ia belum yakin harus berkata apa.

“Aku dulu ngajar SMP juga,” lanjut pria itu santai. “Lama sekali. Beberapa muridku sekarang sudah kuliah.”

Nada suaranya ringan, seperti obrolan biasa.

Namun ada sesuatu di dada Ren yang mengeras.

Ia menatap wajah pria itu lebih saksama.

Tidak asing.

Bukan dalam arti ingatan yang jelas, melainkan rasa tidak nyaman yang muncul tanpa undangan.

“Ah,” pria itu tiba-tiba tertawa kecil, seolah baru mengingat sesuatu. “Kamu Ren, ya?”

Ren tidak menjawab langsung.

“Waktu aku mengajar di SMP” pria itu mengernyit, berpura-pura berpikir. “Kamu satu sekolah denganku, kan?”

Ren tahu.

Ia tahu persis siapa orang di hadapannya.

Namun wajahnya tetap tenang.

“Sepertinya begitu,” jawab Ren singkat.

Pria itu mengangguk-angguk, lalu tersenyum. “Aku lupa banyak nama murid lama. Apalagi yang perempuan. Ada satu temanmu… cewek. Siapa ya namanya?”

Ren menatapnya lurus.

Tatapan Ren tidak tajam. Tidak agresif. Justru tenang, terlalu tenang.

“Coba saja kau ingat, Sensei,” katanya pelan.

Ada tekanan di sana. Tipis. Namun jelas.

Senyum pria itu sedikit mengeras. Bibirnya tertarik ke samping, membentuk seringai kecil yang cepat ia rapikan kembali.

“Heh, iya juga,” katanya ringan. “Usia bertambah, ingatan suka hilang.”

Ren mengangguk kecil.

Tidak ada yang bisa disanggah dari kalimat itu.

Ia melangkah mundur satu langkah. “Kalau begitu, saya pamit dulu, Sensei.”

Ia berbalik.

Baru dua langkah ia menjauh ketika suara itu kembali terdengar, lebih cepat dari sebelumnya.

“Oh iya—Airi, kan?”

Langkah Ren terhenti.

Satu detik.

Dua detik.

Ia tidak menoleh.

Punggungnya menghadap pria itu, bahunya tegang. Tangannya mengepal di samping tubuhnya, nyaris tanpa ia sadari.

“Namanya Airi,” lanjut pria itu, nada suaranya terdengar puas. “Aku ingat sekarang.”

Ren menarik napas perlahan.

Tidak ada amarah yang meledak. Tidak ada kata kasar.

Namun ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Sesuatu yang selama ini ia tekan, ia tutupi, ia yakinkan tidak perlu dihadapi lagi.

“Airi,” ulang pria itu, seolah menguji reaksi Ren. “Kudengar dia di bandmu, ya?”

Ren tetap diam.

“Kamu dan kakak tingkatmu sedang bikin project band,” lanjutnya santai. “Lumayan serius, katanya.”

Ren akhirnya berbalik.

Tatapannya kali ini berbeda.

Masih tenang, namun tidak lagi kosong.

“Kami hanya latihan,” katanya singkat.

“Ah,” pria itu mengangguk, lalu tersenyum. “Tapi aku dengar… band kalian belum punya pembimbing resmi, ya?”

Ren menegang.

“Club musik tanpa pembimbing itu rawan,” lanjut pria itu. “Manajemen kacau, latihan nggak terarah. Padahal potensinya besar.”

Ren mulai mengerti ke mana arah pembicaraan ini.

Dan ia tidak menyukainya.

“Surprise,” kata pria itu ringan. “Aku yang dipilih jadi pembimbing club band kalian.”

Kata-kata itu jatuh pelan.

Namun dampaknya seperti nada sumbang di tengah lagu yang seharusnya harmonis.

Ren terdiam.

Ia menatap pria itu lebih lama dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ekspresinya tidak bisa ia jaga sepenuhnya.

“Apa… Sensei bercanda?” tanyanya akhirnya.

Pria itu tertawa kecil. “Tidak. Keputusan fakultas.”

Ren menghela napas pelan.

Di kepalanya, wajah Airi muncul.

Tatapannya yang selalu menghindar.

Cara napasnya tertahan.

Tubuhnya yang menegang hanya karena satu langkah terlalu dekat.

Dan kini… orang ini.

“Kapan?” tanya Ren.

“Minggu depan,” jawabnya cepat. “Aku akan datang ke sesi latihan kalian.”

Ren mengangguk.

Gerakannya otomatis. Tubuhnya masih berdiri, tapi pikirannya sudah melesat ke mana-mana.

“Sampai ketemu, Ren,” kata pria itu. “Senang bisa bertemu murid lama.”

Ren tidak menjawab.

Ia berbalik dan berjalan pergi.

Langkahnya cepat, namun terukur. Ia tidak ingin terlihat panik. Tidak ingin memberi apa pun yang bisa ditangkap sebagai kelemahan.

Namun begitu ia sampai di luar gedung, dadanya terasa sesak.

Ia berhenti sejenak, menunduk, menarik napas panjang.

“Apa-apaan ini…” gumamnya pelan.

Ia tidak bodoh.

Ia tahu siapa pria itu bagi Airi.

Ia tahu cukup banyak untuk mengerti bahwa pertemuan ini bukan kebetulan yang bisa dianggap enteng.

Ren menatap langit sore yang mulai berubah warna.

“Airi…” gumamnya.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ketakutan Ren tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri.

Melainkan pada kemungkinan bahwa luka Airi—yang belum kering—akan disentuh lagi oleh tangan yang sama.

Dan kali ini, Ren tidak tahu apakah ia bisa menahannya dari kejauhan.

---

Di sisi lain kampus, sore turun perlahan.

Langit belum sepenuhnya gelap, tapi cahaya matahari sudah mulai kehilangan ketegasannya. Udara terasa lebih sejuk, membawa aroma aspal hangat dan daun kering. Di halte bus dekat gerbang kampus, Yukito duduk sambil menopang dagunya dengan satu tangan.

Ia tidak terburu-buru.

Yukito memang jarang terburu-buru untuk hal-hal seperti ini. Menunggu, baginya, bukan hal yang mengganggu. Terutama jika yang ditunggu adalah seseorang yang ingin ia pastikan pulang dengan selamat.

Beberapa menit kemudian, langkah ringan terdengar mendekat.

“maaf, Yukito.”

Suara itu membuat Yukito menoleh.

Airi berdiri di depannya, tas selempang menggantung di bahu, rambutnya terikat rapi meski beberapa helai lolos dan jatuh ke pelipisnya. Ada senyum kecil di wajahnya, senyum yang terlihat lebih jujur daripada yang ia tunjukkan di studio tadi.

“Kamu nunggu kelamaan nggak?”

Yukito menggeleng kecil. “Ah, nggak kok. Aku juga baru sampai.”

Itu kebohongan kecil yang tidak perlu diperdebatkan. Yukito memang sudah duduk di sana hampir sepuluh menit, tapi ia tidak merasa perlu menyebutkannya.

Airi tersenyum lega, lalu ikut duduk di sampingnya. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi juga tidak canggung.

“Hm?” Airi menoleh ke sekeliling. “Mei mana? Nggak bareng kita?”

“Mei?” Yukito mengangkat bahu. “Rumahnya deket sini. Dia jalan kaki aja. Katanya pengen langsung pulang.”

“Oh…” Airi mengangguk. “Kupikir dia bakal bareng kita. Dulu waktu SMA rumahnya agak jauh, makanya dia sewa apartement. Aku malah nggak tahu rumah aslinya di mana.”

Ia tertawa kecil, singkat. Yukito ikut tersenyum.

“Pantes,” katanya. “Aku dulu beda sekolah sama dia soalnya. Aku sekolah di sekolah khusus, dapet beasiswa.”

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan cepat, “Bukan mau pamer, ya.”

Airi tertawa lagi, kali ini sedikit lebih lama. “Iya deh, Yukito si paling pinter seangkatan.”

Nada bercandanya ringan, tidak menghakimi. Yukito menggaruk tengkuknya, sedikit malu.

“Eh,” Airi tiba-tiba menoleh padanya. “Ngomong-ngomong… kamu kenal Mei dari kapan, sih? Kok kelihatannya dekat banget.”

Yukito terdiam sebentar, lalu menjawab santai. “Dari kecil. Dulu apartemenku di sekitar sini. Kami sering main bareng. Terus keluarga aku pindah agak jauh karena biaya di sini makin mahal. Baru ketemu lagi pas kuliah.”

“Oh…” Airi mengangguk pelan. “Pantesan.”

Ia tidak melanjutkan dengan pertanyaan lain. Tidak ada rasa ingin tahu yang berlebihan. Itu membuat Yukito merasa nyaman.

“Maaf ya,” kata Yukito tiba-tiba. “Malah jadi cerita soal keluargaku.”

“Ah, nggak apa-apa,” jawab Airi cepat. “Aku malah senang denger cerita orang.”

Mereka terdiam sejenak, tapi bukan keheningan yang canggung. Lebih seperti jeda alami. Beberapa mahasiswa lain berdiri agak jauh, menunggu bus yang sama. Suara mesin kendaraan sesekali terdengar dari jalan besar.

Percakapan mereka berlanjut. Tentang kelas. Tentang dosen yang suka datang terlambat. Tentang tugas yang menumpuk tanpa peringatan. Airi terlihat lebih rileks. Tawanya lebih sering muncul, meski tidak terlalu keras.

Namun di satu titik, pandangannya teralih.

Sebuah mobil keluar dari area kampus.

Warnanya gelap. Bentuknya biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tapi entah kenapa, Airi merasa dadanya menegang.

Mobil itu melintas pelan di depan halte.

Sekilas.

Namun cukup untuk membuat Airi terdiam.

Ia menatap lurus ke arah jalan, matanya sedikit menyipit, seolah berusaha memastikan sesuatu. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

Kenapa?

Ia tidak tahu.

Tidak ada wajah yang jelas. Tidak ada kejadian nyata. Hanya perasaan asing yang tiba-tiba muncul, seperti suara rendah yang bergetar di dada.

“Airi?”

Yukito melambaikan tangannya di depan wajah Airi.

“Halo?”

Airi tersentak kecil. “Eh—iya?”

“Bus-nya udah datang,” kata Yukito sambil menunjuk ke arah jalan.

Airi mengikuti arah pandangnya. Bus benar-benar sudah berhenti beberapa meter dari mereka.

“Oh. Iya. Ayo,” katanya cepat.

Mereka berdiri dan berjalan menuju pintu bus. Airi naik lebih dulu, lalu Yukito mengikutinya. Mereka duduk di kursi yang sama seperti biasa, dekat jendela.

Namun Airi tidak lagi banyak bicara.

Tangannya terlipat di atas pangkuan. Matanya menatap keluar jendela, mengikuti lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Napasnya pelan, tapi tidak sepenuhnya tenang.

Yukito memperhatikannya dari sudut mata.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lembut.

Airi tersenyum tipis, terlalu cepat. “Iya. Cuma… capek aja.”

Yukito tidak memaksa. Ia tahu kapan harus berhenti bertanya.

Bus melaju, meninggalkan gerbang kampus di belakang. Di dalam bus, suara mesin bercampur dengan obrolan penumpang lain. Airi menyandarkan kepalanya ke kaca jendela yang dingin.

Bayangan mobil itu masih terlintas di pikirannya.

Ia mencoba mengingat. Mencari alasan logis. Mungkin hanya perasaannya saja. Mungkin ia sedang terlalu sensitif akhir-akhir ini.

Namun rasa tidak nyaman itu tidak pergi.

Seperti nada sumbang yang tertinggal di telinga, meski lagu sudah selesai dimainkan.

Airi memejamkan mata sebentar, menarik napas dalam-dalam.

Tenang.

Ia harus tenang.

Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik—pelan, nyaris tak terdengar—bahwa ketenangan ini mungkin tidak akan bertahan lama.

Dan tanpa ia sadari, langkah-langkah menuju sesuatu yang lebih besar sudah mulai bergerak, perlahan tapi pasti.

1
Esti 523
suemangad nulis ka
mentari anggita
iihh hati aku ikut panas dan sesak. Amarah Ren kerasa nyata, tapi lebih sakit lagi waktu dia harus berhenti demi Airi dan orang tuanya. 😭
Huang Haing
Semangat kak, penulisan nya bagus banget! 👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!