NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — Satu Frame (1)

Lorong sekolah terasa berbeda sejak kemenangan itu.

Bukan karena suara yang lebih keras, atau kerumunan yang mendadak padat. Justru sebaliknya—semuanya berjalan seperti biasa, hanya dengan ritme yang sedikit bergeser.

Dua nama itu disebut lebih sering. Tidak dengan teriakan, tidak dengan bisik yang dilebih-lebihkan. Hanya disebut, lalu dibiarkan lewat.

Ketika Rakha dan Keenan berjalan berdampingan, beberapa langkah melambat. Beberapa kepala menoleh sepersekian detik lebih lama dari seharusnya. Tidak ada yang menunjuk. Tidak ada yang berkomentar.

Pengakuan itu terjadi diam-diam.

Kedekatan Rakha dan Keenan pun tak lagi terasa asing di mata orang lain.

.

.

Siang itu, Pelatih Arwin memanggil Nayla ke ruangannya.

Ruangan itu seperti biasa dipenuhi aroma kopi yang sudah mendingin bercampur dengan kertas lama. Tumpukan berkas menempati separuh meja, sebagian miring, sebagian lagi ditahan oleh penjepit hitam.

Pelatih Arwin meletakkan sebuah map tipis di atas meja, lalu mendorongnya pelan ke arah Nayla.

"Kepala sekolah sangat senang," katanya, nadanya datar. "Katanya atmosfer sekolah berubah."

Nayla membuka map itu. Poster. Dokumentasi. Profil tim. Semuanya rapi, terlalu rapi, seperti sesuatu yang sudah dipikirkan jauh sebelum kemenangan itu benar-benar terjadi.

"Kita mau warga sekolah ikut berpartisipasi sebagai suporter," lanjut Pelatih Arwin. Ia tidak langsung menatap Nayla. Pandangannya jatuh ke tumpukan berkas di meja.

"Tapi fokusnya jangan berhenti di dua orang."

Kalimat itu dibiarkan menggantung. Tidak ditujukan pada siapa pun secara spesifik—dan justru karena itu, pesannya terasa jelas.

"Ini tentang tim kita," tambahnya singkat.

Nayla mengangguk kecil. "Iya, Coach."

Pelatih Arwin bersandar ke kursinya. "Ambil momennya saja," katanya lagi. "Nggak perlu dibuat dramatis."

Nayla menutup map itu perlahan. Ujung jarinya sempat tertahan di sampul depan, seolah memastikan sesuatu yang memang tidak tertulis di sana.

Instruksinya terdengar sederhana. Justru itu yang membuatnya sulit.

...----------------...

Pintu ruang multimedia terbuka.

Keenan masuk lebih dulu, helm masih di tangannya. Ia berhenti di tengah ruangan, menatap lampu yang redup dan background polos di sudut.

"…Serius?" katanya.

Nayla sudah mengangkat kamera. "Kenapa?"

"Kirain minimal ada apa gitu," Keenan menggerakkan helmnya sedikit. "Banner. Kursi. Kabel-kabel ribet."

"Capek ngurusnya," jawab Nayla singkat.

Keenan mendengus kecil, lalu nyengir. "Fair."

Rakha masuk beberapa detik kemudian. Ia berhenti sebentar di dekat pintu, matanya menyapu ruangan sekilas, lalu melangkah masuk tanpa komentar.

"Keenan, di sini," kata Nayla sambil menunjuk lantai. "Rakha, di sebelahnya."

Keenan menggeser posisinya pelan. Sepatunya menggesek lantai, asal—nyaris malas.

Rakha menyusul setengah detik kemudian, berhenti di jarak yang pas. Terlalu pas.

Nayla mengintip layar kameranya.

Keenan berdiri santai, berat tubuh bertumpu ke satu kaki. Rakha berdiri tegak dengan punggung lurus, dagunya sedikit terangkat. Seolah kamera itu petugas pemeriksa.

Nayla menurunkan kameranya sebentar.

"Rakha," katanya, "tarik napas, gak perlu setegang itu."

Rakha melakukannya. Terlalu sadar. Dadanya naik, lalu turun rapi.

Keenan menoleh. "Lu kayak mau presentasi."

Rakha tidak menanggapi.

Nayla mengangkat kameranya lagi.

Keenan menggeser bahunya, sengaja membuat jarak mereka berubah sedikit. Rakha ikut bergeser—refleks—lalu berhenti ketika sadar ia meniru.

Klik.

Nayla melirik layar sekilas.

"Ulangi."

Keenan mendekat lagi. Kali ini tanpa bertanya, tanpa menunggu isyarat siapa pun. Rakha menegang sepersekian detik.

"Segini?" gumam Keenan pelan. Bukan pertanyaan. Lebih seperti kebiasaan yang keluar begitu saja.

Rakha hanya maju setengah langkah hingga lengan mereka saling bersentuhan.

Singkat. Tidak disengaja.

Tapi tidak ditarik menjauh.

Klik.

Nayla menahan kamera itu lebih lama dari biasanya. Matanya tetap di layar, seolah sedang memastikan sesuatu yang tak bisa diulang.

"Cukup sampai di sini dulu," katanya.

Keenan menghembuskan napas, bahunya turun tanpa ia sadari. Rakha baru menyadari tubuhnya ikut mengendur sesaat setelahnya.

"Nanti kita foto lagi," lanjut Nayla sambil menurunkan kamera. "Kalian tahu, kan—wajah kalian bakalan terpampang di setiap sudut sekolah."

Keenan terkekeh kecil, setengah santai. "Of course. We know, Nay."

Rakha hanya melirik sekilas, lalu mengalihkan pandangannya.

Nayla menghembuskan napas pelan.

Ia ragu. Semua posisi barusan terasa terlalu diatur. Terlalu sadar kamera.

Kamera sudah tergantung di leher Nayla.

Ia bahkan sudah berniat menyudahi sesi itu.

Keenan tiba-tiba menunduk, bicara terlalu pelan untuk ditangkap kamera—atau siapa pun selain Rakha.

Rakha ikut condong tanpa sadar, refleks yang terlalu cepat untuk dipikirkan. Fokusnya terlanjur tertarik pada suara Keenan.

Jarak yang tadi diatur, runtuh begitu saja.

Tidak ada aba-aba.

Tidak ada pose.

Nayla mengangkat kamera—refleks.

Klik.

"Eh—" Keenan menoleh, jelas terkejut oleh kilatan cahaya yang tiba-tiba. "Kok nggak bilang?"

Nayla tidak langsung menjawab. Ia masih menatap layar kameranya, ibu jarinya berhenti di tepi tombol.

"Yang ini cukup," katanya.

Keenan mendecak kecil, setengah tertawa. "Kalau muka aku jelek gimana?"

Nayla hanya mengangkat bahu, lalu menggeser kameranya ke arah mereka.

Rakha ikut menoleh.

Tidak ada yang terasa dibuat-buat. Bahu mereka terlalu dekat untuk disebut rapi, tapi tidak sampai saling menjauh. Keenan sedikit condong. Rakha miring sepersekian derajat—cukup untuk menyesuaikan, bukan mendekat.

Rakha terdiam lebih lama dari yang ia niatkan.

Sudut bibirnya bergerak tipis.

Keenan menangkapnya.

"Lu senyum," katanya pelan. Bukan menggoda—lebih seperti memastikan.

Rakha segera berpaling. "Ngaco lu."

Nayla menurunkan kameranya. Kali ini, ia tidak merasa perlu mengulang.

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bicara. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.

Keenan mendekat, lengannya melingkar singkat di leher Rakha—tidak menahan, tidak menekan.

"Makin cocok, kan."

Rakha menepis pelan, tidak benar-benar menjauh.

"Banyak omong."

Keenan tertawa kecil, lalu melepasnya begitu saja—seolah memang tidak berniat menahan lebih lama.

.

.

Pintu ruang multimedia terbuka perlahan. Cahaya dari lorong menyusup masuk, tipis, memotong ruangan yang sejak tadi temaram. Debu halus berpendar sesaat sebelum kembali jatuh.

Rakha meraih botol minumnya di meja, memutar tutupnya pelan—lalu berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Nayla, seolah baru ingat sesuatu.

"Nay, kami duluan, ya," ujarnya. Nada suaranya ringan, tanpa jarak.

"Byee, Nayla," sahut Keenan, sudah melangkah lebih dulu ke pintu.

Rakha menyusul. Sebelum keluar, ia sempat melirik kamera yang tergantung di leher Nayla—sekilas saja—lalu mengangguk kecil, hampir tak terlihat.

Langkahnya baru benar-benar menjauh.

Nayla tetap berdiri di tempatnya. Kamera masih tergantung diam di lehernya, belum ia sentuh.

Ruangan itu kembali tenang, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Padahal sesuatu sudah bergeser—pelan, nyaris tak terasa.

Di lorong, Keenan dan Rakha berjalan berdampingan. Tidak sedang menyesuaikan langkah. Tidak juga saling menjaga jarak. Hanya berjalan.

Nayla berdiri di ambang pintu, memperhatikan punggung mereka menjauh. Ada senyum kecil yang tinggal lebih lama dari yang ia sadari.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!