NovelToon NovelToon
Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Yun Ma Yang Menolak Takdir Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Kelahiran kembali menjadi kuat / Bepergian untuk menjadi kaya / Mengubah Takdir
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: inda

Yun Ma, seorang gadis modern yang sedang menikmati cuti dari pekerjaannya yang melelahkan, tak pernah menyangka kematiannya di dasar sebuah sumur tua justru membawanya ke dunia lain. Saat membuka mata, ia terbangun sebagai Yun Mailan, putri sah Menteri Pendidikan Kekaisaran tokoh utama wanita dalam sebuah novel tragis yang pernah ia baca dan benci.

Dalam cerita asli, Yun Mailan dibenci ayahnya, dimanfaatkan kakaknya, dikhianati tunangannya, difitnah tanpa pembelaan, lalu mati sendirian dalam kehinaan. Mengetahui seluruh alur nasib tersebut, Yun Ma menolak menerima takdir.

Pada malam kebangkitannya, ia melarikan diri dari kediaman keluarga Yun dan membakar masa lalu yang penuh kepalsuan. Bersama pelayan setia bernama Ayin, Yun Mailan memulai hidup baru dari nol.

Berbekal pengetahuan masa depan, tekad kuat untuk bertahan hidup, dan sebuah liontin peninggalan ibunya yang menyimpan kekuatan tersembunyi, Yun Mailan bersumpah untuk bangkit. Suatu hari, ia akan kembali bukan sebagai korban

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Api di Pasar Agung akhirnya padam menjelang tengah malam.

Asap masih menggantung rendah, bau kayu terbakar bercampur keringat dan ketakutan. Orang-orang duduk di tanah, sebagian menangis, sebagian hanya terdiam sambil memeluk lutut.

Xuan berdiri di tengah lapangan pasar bersama Yun Ma.

Tidak ada pidato.

Tidak ada teriakan.

Hanya kehadiran.

Lin Que mendekat. “Yang Mulia, para provokator sebagian besar melarikan diri. Dua tertangkap.”

“Di mana?” tanya Xuan.

“Gudang ikan lama. Mereka menyamar sebagai buruh.” jawab Lin Que

“Amankan,” kata Xuan. “Jangan disiksa.”

Lin Que terdiam sejenak. “Mereka membakar lapak rakyat.”

“Aku tahu,” jawab Xuan. “Justru itu jangan disiksa. Aku ingin mereka bicara karena takut, bukan dendam.”

Yun Ma melirik Xuan. “Kau berubah.”

Xuan menoleh. “Atau aku akhirnya memilih berdiri.”

Di sudut pasar, beberapa pedagang mendekati Yun Ma.

“Nona Yun…” panggil mereka, “Kami melihat semuanya, kalau besok mereka datang lagi… apa kami harus melawan?”

Yun Ma menatap wajah-wajah lelah itu. “Kalian tidak perlu menjadi prajurit.”

“Lalu apa yang harus kami lakukan?” tanya mereka lagi

“Bertahan hidup,” jawab Yun Ma tegas. “Dan jangan diam.”

Seorang pria tua mengangguk. “Kami bisa bersaksi.”

Yun Ma tersenyum tipis. “Itu sudah cukup kuat.”

Malam itu, Xuan mengumpulkan orang-orang kepercayaannya di penginapan.

Peta Pasar Agung dibentangkan di meja.

“Dewan Bayangan tidak akan berhenti,” kata Xuan. “Malam ini hanya ujian.”

“Ujian apa?” tanya Lin Que.

“Ujian reaksi rakyat,” jawab Yun Ma. “Dan mereka gagal.”

Shen Yu menunjuk sisi timur peta. “Titik ini lemah. Banyak gang kecil. Cocok untuk penyusup.”

“Aku bisa tempatkan orang,” kata Lin Que.

“Bukan tentara,” potong Yun Ma. “Rakyat.”

Lin Que mengernyit. “Itu berbahaya.”

“Justru karena itu Dewan Bayangan tidak akan menduga,” jawab Yun Ma. “Mereka terbiasa menghadapi pedang, bukan mata.”

Xuan mengetuk meja. “Kita bentuk tiga lapis.”

“Lapisan pertama?” tanya Ye.

“Saksi,” jawab Xuan. “Pedagang, tabib, pengelana.”

“Lapisan kedua?” tanya Hui.

“Perlindungan,” jawab Shen Yu. “Orang-orang Lin Que menyamar.”

“Lapisan ketiga?” tanya Ye.

Yun Ma mengangkat kepala. “Umpan.”

Ruangan sunyi.

“Kau?” tanya Xuan.

“Tidak sendirian,” jawab Yun Ma. “Tapi ya.”

Xuan langsung berdiri. “Aku tidak setuju.”

“Kau tidak perlu setuju,” balas Yun Ma datar. “Kau hanya perlu siap.”

Xuan menatapnya lama, lalu menghela napas. “Baik. Tapi kali ini, aku berdiri di depan.”

Yun Ma tersenyum tipis. “Itu lebih berbahaya.”

“Aku tahu.”

Dua hari kemudian, kabar menyebar cepat.

Dewan Bayangan mengirim utusan ke Pasar Agung.

Bukan pembunuh.

Bukan preman.

Utusan resmi.

Berpakaian rapi, berbicara sopan, membawa segel palsu.

Mereka berdiri di alun-alun dan berteriak.

“Atas nama ketertiban, Pasar Agung harus ditutup sementara!”

Kerumunan langsung ribut.

“Ditutup?”

“Kenapa?!”

Xuan maju. “Atas dasar apa?”

Utusan itu tersenyum tipis. “Atas dasar keamanan. Ada ancaman.”

“Ancaman dari siapa?” tanya Yun Ma yang berdiri di samping Xuan.

Utusan itu menoleh. “Dari orang-orang yang menghasut rakyat.”

“Sebutan yang menarik,” jawab Yun Ma. “Biasanya disebut saksi.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Utusan itu berdehem. “Kami minta Yang Mulia bekerja sama.”

“Kalau aku menolak?” tanya Xuan.

“Pasar ini akan dianggap melawan.”

“Dan kalau aku setuju?”

“Dewan akan berterima kasih.”

Xuan menggeleng pelan. “Aku tidak butuh terima kasih dari orang yang membakar lapak rakyatku.”

Kerumunan bersorak.

Utusan itu mundur selangkah. “Kau memilih jalan sulit.”

Yun Ma melangkah maju. “Bukan. Kau yang memilih jalan bodoh.”

Malamnya, serangan datang.

Tidak frontal.

Tidak besar.

Tapi teratur.

Di tiga titik berbeda, orang-orang bersenjata ringan menyerang gudang.

Teriakan terdengar.

Api kembali muncul.

Namun kali ini, rakyat tidak panik.

“Ke sisi barat!”

“Air! Bawa air!”

“Lindungi anak-anak!”

Lin Que memimpin pasukannya yang menyamar.

“Blok gang ini!”

“Jangan kejar terlalu jauh!”

Di atap, Shen Yu mengamati.

“Gerakan mereka rapi,” katanya pada Ye. “Bukan preman.”

Ye mengangguk. “Pasukan bayangan tingkat menengah.”

Yun Ma berdiri di tengah pasar.

Tidak bergerak.

Tidak menyerang.

Hanya berdiri.

Beberapa penyerang ragu.

“Itu dia…”

“Perintahnya apa?”

“Bukan dia target utama....”

Terlambat.

Yun Ma melangkah.

Satu gerakan cepat.

Seorang penyerang jatuh, senjatanya terpental.

Yun Ma menekan lutut ke dada pria itu. “Siapa yang mengirimmu?”

Pria itu terdiam.

Yun Ma menekan lebih kuat. “Aku tidak suka mengulang.”

“D-dewan… divisi utara…” jawabnya ketakutan.

“Nama komandannya.”

Pria itu ragu.

Pedang Shen Yu sudah menempel di lehernya. “Sekarang.”

“Zhao Ren…!”

Yun Ma bangkit. “Bawa dia.”

Subuh datang dengan luka.

Beberapa gudang rusak.

Tiga orang rakyat terluka.

Dua penyerang tewas.

Lima tertangkap.

Xuan berdiri menatap pasar yang porak-poranda.

“Ini baru permulaan,” katanya.

Yun Ma mengangguk. “Ya.”

“Lalu apa langkah kita?” tanya Lin Que.

“Kita berhenti bertahan,” jawab Yun Ma. “Sekarang menyerang.”

Shen Yu menatapnya. “Ke mana?”

“Bukan Dewan Bayangan,” jawab Yun Ma. “Belum.”

“Lalu?”

“Rantai pasok mereka.”

Ye tersenyum. “Gudang senjata.”

“Dan uang,” tambah Hui.

Xuan menarik napas panjang. “Itu berarti perang terbuka.”

Yun Ma menatapnya. “Perang sudah dimulai saat mereka membakar lapak pertama.”

Hari itu juga, berita menyebar ke kota-kota sekitar.

Bukan lewat pengumuman.

Lewat cerita.

Tentang Pasar Agung yang diserang.

Tentang rakyat yang melawan.

Tentang Yun Ma dan Xuan yang berdiri bersama.

Di sebuah kota kecil, seorang mantan penjaga membaca kabar itu.

“Jadi benar…”

Ia meraih pedangnya yang sudah lama disimpan.

Di Qinghe, Ayin mendengar laporan dari para pedagang.

“Mereka tidak tumbang.”

“Pasar Agung bertahan.”

Ayin tersenyum lelah. “Bagus.”

Seorang tabib keliling bertanya, “Apa kita ikut?”

Ayin mengangguk. “Kita tidak menyerang.”

“Lalu?”

“Kita jadi tempat aman.”

Di ruang Dewan Bayangan, amarah meledak.

“Pasar Agung tidak jatuh!”

“Gudang utara diserang!”

“Dana terlambat!”

Pria di ujung meja membanting tangan ke meja. “Cukup!”

Semua diam.

“Siapkan pasukan inti,” katanya dingin. “Kita akhiri ini.”

“Target?”

“Yun Ma.”

Seseorang ragu. “Dan Xuan?”

Pria itu tersenyum tipis. “Kalau dia di jalan… anggap bonus.”

Di Pasar Agung, Yun Ma menatap langit sore.

“Ada yang bergerak,” kata Shen Yu.

“Pasukan inti,” tambah Ye.

Xuan mendekat. “Kalau mereka datang langsung—”

“Kita sambut,” jawab Yun Ma.

Xuan menatap wajahnya. “Kau tidak takut?”

Yun Ma tersenyum kecil. “Takut.”

“Lalu kenapa masih berdiri di depan?”

“Karena kalau aku mundur,” jawab Yun Ma pelan, “semua ini runtuh.”

Xuan mengangguk. “Kalau begitu, kita berdiri bersama.”

Di kejauhan, debu mulai naik.

Langkah kaki banyak orang.

Perang terbuka akhirnya tiba.

Bersambung

1
Shai'er
💪💪💪💪💪💪💪
Shai'er
👍👍👍👍👍
Shai'er
🙄🙄🙄🙄🙄
Shai'er
💪💪💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Shai'er
👍👍👍👍👍👍
Shai'er
😱😱😱😱
Shai'er
💪💪💪💪💪
Shai'er
🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Shai'er
🤧🤧🤧🤧🤧
sahabat pena
bener ternyata mantan ya? mantan yg menyesal dan mengejar masa depan
sahabat pena
siapa itu? apa mantan tunangan nya ya
Naviah
lanjut thor
Shai'er
puyeng 😵‍💫😵‍💫😵‍💫😵‍💫
Shai'er
lha...... kenapa baru sekarang lu ngomong tentang keadilan 😏😏😏
Shai'er
hayoo loh😏😏😏
Shai'er
Ayin💪💪💪
Cindy
lanjut kak
Naviah
ini perang narasi kah 🤔 dan siapa itu Dewan bayangan
Naviah
semangat Ayin bertahan lah🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!