NovelToon NovelToon
Rerindang Dan Mira

Rerindang Dan Mira

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita / Fantasi / Romansa
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Chiknuggies

Mira akhirnya harus kembali ke desa setelah kehilangan pekerjaannya di kota.

Kepulangan itu bukan karena keinginan, melainkan keterpaksaan yang lahir dari keadaan.

Rumah yang dulu ia tinggalkan masih sama, orang tuanya tetap setia dengan rutinitas sederhana.

sementara ia datang membawa beban kegagalan dan kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 Chaesura dan Penerimaan

Panen raya, yang sebelumnya hampir gagal karena tidak ada komoditas yang berhasil di panen dengan skala besar. Kini di selamatkan (sekali lagi) oleh figur kesayangan orang-orang di desa kami.

Panen raya kali ini terasa berbeda.

Tidak ada hiruk-pikuk hasil bumi yang biasanya memenuhi bukit. Tidak ada tumpukan padi, tidak ada keranjang sayur, tidak ada aroma tanah basah dari ladang yang baru dipanen.

Yang ada hanya satu. Rerindang.

Pohon besar yang selama ini menaungi desa, kini berdiri untuk terakhir kalinya sebagai pusat perhatian.

Bukan sebagai tempat berteduh, bukan sebagai saksi cinta, bukan sebagai penjaga kenangan, tapi sebagai komoditas panen yang menyelamatkan desa dari kekosongan.

Orang-orang bekerja dengan hati-hati, seolah menebang sesuatu yang hidup lebih dari sekadar kayu. Setiap ayunan kapak terdengar seperti ketukan pelan pada pintu masa lalu. Menarik kenangan satu persatu keluar, demi menemukan wujud terbaiknya.

Semua saling bergotong-royong menebang Rerindang dengan hati-hati. Bapak, juga pak Wiryo, adalah orang yang paling semangat membantu, meski wajah mereka tetap dingin seperti biasa.

Tapi dari balik wajah mereka, aku tahu. Bahwa ada kebahagiaan yang manis, dan kenangan yang tengah bermetamorfosis.

Sekali lagi, aku tahu... Aku bisa melihatnya dari cara mereka menarik napas, dari cara mereka menatap batang pohon itu sebelum memukulnya lagi.

Ada sesuatu yang manis di balik ketegangan itu. Sesuatu yang tidak mereka ucapkan, tapi terasa jelas.

Kebahagiaan kecil. Kelegaan. Dan kenangan yang sedang berubah bentuk, dari sesuatu yang harus dijaga, menjadi sesuatu yang terus diukir bersama-sama.

Dari pohon yang berdiri tegak, menjadi kayu yang akan dipakai untuk membangun sesuatu yang baru. Dari tempat menyimpan kenangan, menjadi bahan untuk menciptakan kenangan berikutnya.

Aku berdiri sedikit jauh, melihat serpihan-serpihan kayu beterbangan seperti salju kecil yang jatuh dari langit.

Dan di dalam hati, aku merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Seperti tinta pada kanvas kosong, mengalir, tapi tetap berasal dari sumber yang sama.

Rerindang tumbang hari ini. Tapi aku tahu, ia tidak benar-benar pergi. Ia hanya sedang memulai bab baru.

Raka datang bersama keluarganya, aku lihat dia berpisah dengan mereka dan langsung menghampiriku.

"Wah… nggak nyangka ya, kalo panen raya tahun ini yang biasanya di bawah Rerindang, sekarang malah-…" Raka berhenti, menatap batang pohon yang kini tinggal separuh, lalu menatapku lagi.

Aku bisa melihat sesuatu di matanya campuran kagum, sedih, dan kecewa. Seolah ia juga sedang mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

"-… malah jadi panen Rerindang itu sendiri." lanjutnya pelan.

Aku mengangguk. "Ya. Rasanya aneh, ya? Kayak… kita lagi merayakan perpisahan."

Raka berdiri di sampingku, kedua tangannya masuk ke saku celana. Ia menatap serpihan-serpihan kayu yang masih beterbangan, memantulkan cahaya matahari sore seperti debu emas.

"Tapi perpisahan yang baik," katanya. "Perpisahan yang… disiapin. Bukan yang tiba-tiba."

Aku tersenyum kecil. "Bapak sama Pak Wiryo kelihatan semangat banget, padahal wajahnya datar semua."

Raka tertawa pendek. "Namanya juga bapak-bapak. Tapi aku ngerti maksud kamu. Mereka kayak… lega, ya?"

Aku menatap ke arah bapak dan Pak Wiryo. Dua lelaki yang jarang bicara, jarang menunjukkan perasaan, tapi hari ini gerakan mereka lebih ringan.

Seolah beban yang mereka pikul selama bertahun-tahun akhirnya menemukan tempat untuk diletakkan.

"Lega," ulangku, mengangguk, tersenyum. "Tapi juga… bahagia. Kayak mereka lagi ngelepas sesuatu yang udah lama mereka simpan."

Raka mengangguk pelan. "Mirip kayak kita ngelepas masa kecil, mungkin."

Aku menoleh ke arahnya. "Kenapa masa kecil?"

Sebelum sempat mendapat jawaban, beberapa kenanganku bersama keluarga, seperti terulang seakan itu semua baru terjadi kemarin.

Aku melihat diriku yang kecil, berlari-lari di bawah Rerindang, tertawa sambil mengejar bayangan sendiri.

Melihat ibu duduk di akar besarnya, menjahit sambil sesekali memanggilku untuk makan.

Melihat bapak muda, mengasah parang sambil bersiul pelan, seolah dunia tidak pernah menuntut apa pun darinya.

Aku melihat semuanya begitu jelas, seperti film lama yang diputar ulang oleh udara sore.

Raka menatapku, wajahnya berubah lembut. "Mir… kamu kenapa?"

Aku menggeleng pelan. "Enggak. Cuma… keinget sesuatu aja." Aku menghela napas. "Aneh banget, padahal pohon, tapi bisa sedih gini pas ditebang.”

"Rerindang pamit baik-baik sama kita."

Aku tersenyum kecil. "Dia pasti bilang kalau, ini semua buat kalian."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!