Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Sayang
...Selamat membaca semuanya......
................
................
Boris membuka matanya perlahan, dia melihat wajah bidadari di depannya dengan senyuman yang sangat manis.
"Pagi Boris," sapaan yang menyadarkannya kembali pada dunia nyata, dia bergegas duduk dan memandangi Rania yang sudah terbangun lebih dulu.
"Nona sudah bangun?" Boris merapikan rambutnya yang berantakan.
"Kamu harus melihat di luar," Boris menoleh ke arah jendela kamar tersebut, matanya melihat diluar diguyur hujan salju.
"Salju pertama?"
Rania menganggukkan kepalanya antusias. "Mau main salju," dengan nada manja Rania memegang lengan Boris sambil digoyangkan pelan.
"Saya minta karyawan yang lain dulu buat mempersiapkan mantel musim dinginnya. Nona, tunggu dulu sebentar ya. Saya cuci muka," Rania mengangguk antusias.
Boris bergegas menyuruh karyawan yang lain untuk menyiapkan mantel musim dingin untuk mereka. Dia bergegas cuci muka dan menggosok giginya.
...******...
Rania sudah berlarian ke sana kemari menikmati dinginnya salju pertama yang memenuhi jalanan. Boris hanya memantau dari kejauhan sambil memandangi Rania yang asik dengan dunianya.
"Nona hati-hati nanti terples-"
Bug..
"Aaaa.." teriakan Rania karena terjatuh membuat Boris bergegas menghampirinya dan panik. Rania benar-benar terpleset karena jalanan menjadi sangat licin dan kotor.
"Saya bantu bangun, Nona."
Boris meraih lengan tangan Rania dan berusaha menariknya agar mudah bangkit. Tapi, tidak menyangka tarikannya terlalu kuat hingga wajah mereka terlalu dekat. Tangan Boris menahan pinggang Rania agar tidak tumbang kembali ke belakang.
Saling bertatap tanpa ada niatan berpaling, keduanya terhipnotis hingga hidung mereka saling menyentuh. Membuat Boris tersadar dan segera menjauhkan diri dari Rania.
"Maaf Nona! Saya tidak bermaksud."
Rania tersenyum tipis, mengangguk pelan. Dia merasa bahwa Boris juga menyukainya. Jadi, dia tidak marah melainkan merasa senang karena perasaannya tidak sendiri.
"Boris, terlalu cepat tidak, jika aku mengajakmu untuk berkencan?" Boris membulatkan matanya, dia terkejut karena Rania sungguh berani mengajaknya berkencan lebih dulu. Seharusnya dia, bukan wanita itu.
Melihat Boris hanya terdiam memandanginya, Rania menghembuskan napas panjang terdengar sangat kecewa.
"Setidaknya, mulai hari ini jangan panggil aku dengan embel-embel Nona. Cukup memanggilku Rania." Boris menganggukkan kepalanya cepat.
"Jangan terkejut dan jangan dorong aku." Boris bingung dengan ucapan Rania. Tapi, beberapa detik kemudian tubuhnya terpaku saat Rania dengan berani bergerak mencuri bibirnya singkat dan berlari meninggalkan Boris yang masih terkejut dengan yang dia terima baru saja.
Melihat Rania sudah tidak terlihat dari pandangannya, Boris memegang bibirnya dengan senyuman yang merekah. Wajahnya berubah memerah karena merasa senang mendapatkan itu dari Rania.
Dia pegang bibirnya, "dia benar-benar berani menggodaku," kekehan lirih tercipta dicampur dengan degup jantung yang tidak beraturan.
................
Saat kembali ke kamar Hotel, Boris melihat Rania sudah di atas ranjang dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Boris melepas mantelnya, menyisakan sweater hitam dan celana pendeknya. Dia duduk di sofa dan memandangi Rania yang masih menutupi seluruh tubuhnya.
"Berani menggodaku, sekarang langsung bersembunyi di balik selimut?"
Rania membuka selimutnya lebar mendengar perkataan itu. Matanya menatap tajam ke arah Boris, "kenapa bicaramu berubah?"
Boris melipat kedua tangannya di depan dada dan bersandar pada sofa, "bukannya ini yang kamu mau? Rania." Perkataan Boris memanggil Rania dengan sedikit menekan.
Rania mendengus sambil menendangkan kakinya diudara. "Aneh! Boris jadi aneh!"
Boris tersenyum tipis, dia mendekat dan duduk di dekat Rania. Jarak mereka yang terbilang cukup dekat sekarang, membuat Rania justru pasang badan jika selanjutnya yang terjadi sesuatu mendebarkan jantungnya.
"Jadi mau aku panggil Nona atau Rania?"
Rania tersenyum jahil, "panggil aku-Sayang" Boris kesekian lagi dibuat terkejut dengan Rania. Dia semakin salah tingkah dan menjadi canggung karena godaan tersebut.
Boris melihat sekelilingnya gelisah, lalu menatap Rania lekat dan berkata "Sayang" Rania justru sekarang yang tidak bisa menyembunyikan bahwa dia malu, senang, dan canggung bercampur menjadi satu.
Tidak ada respon dari Rania, Boris berusaha mengulang kembali ucapannya. "Sayang.." semakin menggoda wanita tersebut diiringi kekehan kecil.
...Bersambung......
Terima kasih sudah mampir ya, maaf kalau ceritanya terlalu monoton. Aku bikin cerita ini untuk pemanis awal aku berkarya di sini. Jadi, harap maklum ya jika terlalu kaku dan banyak pengulangan kata..☺🤗🤭😚