Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 KHSC
Di dalam pesawat, Juna duduk di seberang Nares, membaca laporan saham terakhir, mencoba terlihat seperti CEO yang kejam. Namun, Nares melihat kegugupan di balik ketenangan itu. Juna sedang berjuang untuk beradaptasi dengan statusnya yang baru: bukan lagi suami kontrak, tetapi suami sejati.
Nares mendekat, membawa secangkir teh herbal hangat. “Kau ingin teh, Juna?”
Juna mendongak. “Terima kasih.” Ia mengambil cangkir itu.
“Kau terlihat gugup,” kata Nares lembut.
Juna meletakkan cangkir itu. “Aku tidak gugup. Aku hanya tidak terbiasa meninggalkan kendali untuk waktu yang lama. Bhaskara Corp adalah hidupku.”
“Mungkin kau perlu menyadari bahwa sekarang ada hal lain yang juga menjadi hidupmu,” balas Nares, suaranya tenang. “Aku bukan lagi aset yang kau kontrol. Aku adalah bagian dari hidup yang kau jalani.”
Juna menatapnya. Ia tidak bisa membantah. Nares selalu memiliki cara untuk merobohkan bentengnya dengan kalimat yang sederhana dan logis.
“Lalu, ke mana kita akan pergi?” tanya Nares, mengalihkan pembicaraan.
“Kepulauan Raja Ampat. Ada vila pribadi milik keluarga yang tersembunyi di sana. Tidak ada sinyal ponsel, tidak ada jaringan internet yang bagus. Hanya laut, hutan, dan kita,” jawab Juna.
Nares tersenyum. “Kedengarannya sempurna.”
***
Setelah penerbangan panjang dan perjalanan perahu yang mendebarkan, mereka tiba di vila terapung yang menakjubkan, dikelilingi oleh air laut yang jernih dan hutan hijau yang lebat.
Juna langsung menuju balkon, menikmati pemandangan. Nares melihat Juna menarik napas dalam-dalam, seolah melepaskan beban berton-ton dari pundaknya.
Mereka hanya ditemani oleh seorang pelayan lokal yang bertugas menyiapkan makanan, tetapi pelayan itu sangat menjaga jarak dan privasi mereka.
Malam pertama, suasana sangat canggung. Mereka berbagi kamar tidur yang indah dengan dinding kaca yang menghadap ke laut, tetapi ada kesunyian yang tebal.
Nares keluar dari kamar mandi, mengenakan piyama katunnya. Juna sedang berdiri di balkon, hanya mengenakan celana pendek.
“Malam ini… kita akan tidur bagaimana?” tanya Nares, suaranya ragu.
Juna berbalik. Ia melihat Nares. Keintiman fisik yang mereka bagi di Jakarta, meskipun dipaksakan oleh kecelakaan, kini terasa seperti janji yang harus dipenuhi.
“Kita tidak lagi memiliki bantal batas, Nareswari. Kontrak itu sudah selesai,” kata Juna, berjalan mendekat. “Tapi aku tidak akan memaksamu. Kita berdua sama-sama sedang belajar tentang pernikahan ini.”
Juna duduk di tepi tempat tidur. “Kau sudah melewati banyak hal. Aku tidak akan memaksamu melanggar batasanmu.”
Nares mendekat, duduk di samping Juna. Ia meraih tangan Juna yang memegang pergelangan kakinya.
“Aku tahu, Juna. Tapi aku juga ingin ini berhasil. Aku ingin kau menemukan kebahagiaan yang hilang, dan aku ingin menjadi istrimu, seutuhnya,” bisik Nares, menatap mata Juna.
Juna terdiam, terkejut oleh keterusterangan Nares. Juna mendekat. Ia memiringkan kepalanya dan mencium Nares. Ciuman itu tidak lagi mendominasi, tetapi terasa mengeksplorasi—hati-hati, lembut, dan penuh pertanyaan yang tak terucapkan.
Malam itu, mereka tidur saling berhadapan. Tidak ada lagi bantal. Juna membiarkan tangannya melingkari pinggang Nares. Mereka tidak melanggar batas yang lebih jauh, tetapi mereka tidur dalam pelukan penuh kasih sayang.
***
Keesokan harinya, Juna memutuskan untuk menyewa perahu kecil untuk mengelilingi pulau. Juna, yang selalu mengenakan jas mahal, kini mengenakan kaus polo sederhana dan celana pendek. Ia terlihat lebih muda, lebih santai.
Nares duduk di haluan perahu, menikmati angin laut yang menerpa wajahnya.
Juna duduk di belakang, mengendalikan perahu. “Kau terlihat senang,” katanya.
“Ya. Aku tidak pernah membayangkan melihat laut seindah ini. Di desaku, kami hanya punya sungai,” kata Nares.
“Dunia ini luas, Nareswari. Kau harus melihat lebih banyak lagi,” Juna berkata.
Juna mematikan mesin perahu di tengah laut, di atas karang koral yang indah. Ia mengeluarkan peralatan snorkeling.
“Kau bisa snorkeling?” tanya Juna.
Nares menggeleng. “Tidak. Aku hanya bisa berenang di sungai dangkal.”
Juna menghela napas. “Kau harus belajar. Lihat apa yang kau lewatkan.”
Juna, yang biasanya tidak sabar, dengan sabar mengajari Nares. Ia menunjukkan cara menggunakan masker, cara bernapas melalui snorkel, dan cara mengapung. Juna memegang Nares, membawanya ke permukaan air.
“Jangan takut, aku memegangmu. Kau hanya perlu rileks,” kata Juna, suaranya lembut.
Nares memejamkan mata, mempercayai Juna sepenuhnya. Ia membuka matanya dan melihat ke bawah: pemandangan koral yang penuh warna, ikan-ikan kecil yang berseliweran.
“Indah sekali, Juna!” seru Nares saat mereka kembali ke perahu.
“Kau lihat? Hal-hal terindah dalam hidup ini tidak bisa dikontrol. Kau hanya perlu percaya dan membiarkannya terjadi,” kata Juna. Kalimat itu bukan hanya tentang snorkeling, tetapi juga tentang pernikahan mereka.
“Kau juga harus belajar rileks, Juna. Kau mengontrol segalanya, dari Bhaskara Corp hingga napasmu sendiri. Biarkan aku membantumu untuk bernapas sedikit lebih dalam,” balas Nares, meraih tangan Juna.
Juna menatap Nares. Ia menyadari, Nares bukan hanya memberinya ketenangan; Nares sedang mengajarinya cara untuk hidup tanpa kendali.
***
Di malam hari, mereka makan malam di tepi pantai, diterangi oleh lilin dan bintang-bintang.
“Kau belum pernah bercerita banyak tentang masa lalumu, Juna. Hanya tentang pengkhianatan Larasati,” kata Nares.
Juna menghela napas. “Tidak ada yang menarik. Keluargaku kaya, tetapi disfungsional. Orang tuaku menikah karena kepentingan, dan mereka bercerai karena ego. Sejak itu, aku berjanji pada diriku sendiri, aku hanya akan menggunakan kontrak dalam hubungan.”
“Jadi, kau tidak percaya pada pernikahan karena cinta?”
“Aku percaya itu omong kosong. Cinta adalah ilusi yang digunakan orang untuk membenarkan tindakan egois mereka. Laras mencintaiku, tetapi dia mengkhianatiku karena dia lebih mencintai uang dan kekuasaan yang bisa ia dapatkan dari pria lain,” jawab Juna pahit.
Nares meraih tangan Juna. “Kau tahu? Kau tidak membenci cinta, Juna. Kau membenci pengkhianatan. Itu berbeda.”
“Sama saja,” kata Juna.
“Tidak. Pengkhianatan adalah tindakan. Cinta adalah emosi. Kau mungkin mengalami tindakan buruk, tetapi kau tidak bisa menghukum emosi itu. Aku ingin kau tahu, tidak semua orang akan mengkhianatimu. Aku tidak akan mengkhianatimu. Aku sudah berjanji, di hadapan Tuhan,” kata Nares, matanya bersinar dengan ketulusan.
Air muka Juna melunak. Ia menatap Nares. “Kenapa kau sangat baik padaku, Nareswari? Kau tidak mendapatkan apa-apa dari ini.”
“Aku mendapatkan lebih dari yang kau tahu. Aku mendapatkan kesempatan untuk belajar, dan aku mendapatkan seorang suami yang, meskipun kaku, dia adalah pria yang baik. Dia menyelamatkan nyawaku (saat demam), dan dia membantuku melihat dunia di bawah laut. Itu lebih berharga daripada semua saham Bhaskara Corp,” kata Nares.
Juna memegang tangan Nares erat-erat. Ia mendekat dan mencium kening Nares, ciuman yang penuh rasa terima kasih dan penghormatan.
***
Keesokan paginya, Juna mengajak Nares mendaki bukit kecil untuk melihat pemandangan matahari terbit.
Saat mereka mencapai puncak, pemandangan itu sungguh menakjubkan: matahari terbit di atas ribuan pulau kecil yang tersebar di laut biru.
Juna dan Nares duduk berdampingan, menikmati keindahan alam.
“Pemandangan ini… membuat masalah di Jakarta terasa sangat kecil,” kata Juna, suaranya penuh kekaguman.
“Ya. Semua kendali, semua kekuasaan, tidak ada artinya di hadapan ciptaan Tuhan,” balas Nares.
Juna memegang tangan Nares. “Nareswari… aku… aku minta maaf.”
“Untuk apa, Juna?”
“Untuk semua yang terjadi. Untuk kontrak, untuk ciuman paksa di awal, untuk memperlakukanmu seperti benda. Aku tidak tahu bagaimana harus memulai pernikahan ini dengan benar. Aku tidak tahu bagaimana harus mencintai. Yang aku tahu hanyalah mengontrol,” Juna mengaku, sebuah pengakuan yang sangat sulit bagi egonya.
“Kau tidak perlu tahu bagaimana harus mencintai. Kau hanya perlu tahu bagaimana menjadi diri sendiri, Juna. Dan aku akan menerimanya,” kata Nares, menyentuh pipi Juna.
Juna menatap Nares, air matanya sedikit menggenang. “Aku mencabut semua kontrak kita di depan publik. Aku berjanji, Nareswari. Mulai sekarang, aku akan menjadi suamimu, yang sesungguhnya.”
“Aku tahu, Juna,” kata Nares.
Juna mendekat. Ia mencium Nares, ciuman yang panjang dan lembut, ciuman yang dipenuhi pengakuan yang tulus. Ciuman itu menandai akhir dari sandiwara dan awal dari komitmen yang sesungguhnya.
Setelah ciuman itu, Juna kembali memeluk Nares. Ia membisikkan kata-kata yang tidak pernah ia duga akan ia ucapkan.
“Aku menyayangimu, Nareswari. Terima kasih telah mengajarkan aku cara bernapas tanpa harus mengontrol segalanya.”
Nares membalas pelukan itu, hatinya dipenuhi kebahagiaan. Nares tahu, ia telah berhasil merobohkan benteng Arjuna Bhaskara dengan ketulusan dan keimanan. Bulan madu yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bersambung....