My bad story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaLebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Karmel memesan berbagai hidangan - kimchi, bibimbap, dan jjajangmyeon. Nani mencicipi kimchi dan mengernyit.
"Ini kaya acar, tapi lebih pedas," komentarnya membuat Karmel tersenyum.
"Mel, ibu pengen cobain pijet korea yang kamu bilang waktu itu," ujar Nani. "Badan ibu masih capek dari perjalanan kemarin."
Wanita dengan penampilan glamor itu berkata dalam bahasa Inggris dengan aksen Indonesia, "That's mine! I've been eyeing that pair."
Karmel tak gentar. "I was here first," balasnya dengan tegas.
Si wanita langsung berubah bahasa Indonesia sambil merengek, "Sayang! Lihat sepatu incaran aku direbut cewek rese ini!"
"Karmel..." ucapnya, seolah tak percaya dengan kebetulan ini.
Renzi segera mengambil alih situasi. Ia memanggil sales assistant dan berkata dalam bahasa Inggris sempurna, "I'll pay double for those shoes if you give them to my girlfriend."
Mendengar itu, Karmel tak tinggal diam. Dengan bahasa Korea dasar yang ia pelajari sebelum trip, ia berbicara pada sales assistant tersebut, "Saya yang memegang sepatu ini pertama kali. Jika Anda berlaku tidak adil, saya akan melaporkan toko ini ke manajemen pusat. Sepatu limited edition ini seharusnya diberikan kepada yang pertama memegangnya."
"Tebak gue ketemu siapa hari ini?" ujar Renzi sambil memutar gelas wiski di tangannya, senyum tipis tak lepas dari bibirnya.
"Artis Korea?" tebak Herry asal, tak terlalu antusias.
"Karmel," jawab Renzi, matanya berbinar. "Sempit banget yaa dunia ini buat gue dan Karmel." Tawanya rendah, penuh kepuasan.
"Terus lo mau ngapain? Nyamperin Karmel?" tanya Herry, melihat data itu dengan cemas.
Renzi hanya tersenyum penuh arti sambil meneguk wiskinya. "Dia nggak akan bisa lari dari gue."
"Terus cewek itu mau lo apain? Tinggalin gitu aja?" tanya Herry lagi, merujuk pada wanita yang tadi bersama Renzi.
"Lo atur deh biar dia balik ke Jakarta," ucap Renzi santai, seolah sedang memerintahkan hal sepele. "Beliin tiket first class, kasih bonus. Pastiin dia nggak ganggu gue lagi."
Herry menggeleng, meneguk minumannya. Dia sudah terlalu sering melihat pola ini - Renzi mendapatkan apa yang diinginkan, lalu membuang yang lain.
"Ibu dimana?!" tanyanya begitu sambungan tersambung, nada suaranya tegang.
"Dibawah, Mel, lagi sarapan sama Renzi," jawab Nani dengan suara riang, sama sekali tak menyadari badai yang akan datang.
Karmel menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. "Kok ibu nggak bangunin aku?"
"Soalnya kamu keliatan pules banget. Jadi ibu nggak tega bangunin," jawab Nani polos. "Ya udah sini kamu gabung aja sama kita sarapan."
Karmel mendengus kesal dan mematikan telepon. Dalam waktu singkat, ia mandi dan berganti pakaian dengan gerakan cepat. Wajahnya di cermin menunjukkan ketidaksabaran yang jelas.
"Karmel... Sini!" panggil Nani melambai-lambaikan tangannya.
Karmel mendekat dengan langkah berat, senyum tipisnya terpaksa. Saat hendak duduk di sebelah ibunya, matanya menangkap tumpukan tas belanja branded—Chanel, Louis Vuitton, Hermès—memenuhi kursi tersebut.
"Ini Renzi yang beliin, Mel," ujar Nani bangga, matanya berbinar. "Kamu duduk disamping Renzi aja ya."
Dengan perasaan terkekang, Karmel akhirnya duduk di sebelah Renzi. Saat dia menarik kursinya, Renzi menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan yang hanya bisa dilihat oleh Karmel.
"Apa kabar, Mel? Nggak nyangka kita bisa ketemu disini," ujar Renzi dengan nada santai, berpura-pura ini semua adalah kebetulan.
"Biasa aja," balas Karmel pendek, matanya menghindari tatapan Renzi.
"Mel! Nggak boleh begitu sama Renzi," tegur Nani, wajahnya menunjukkan kekesalan yang jarang terlihat. "Dia sudah baik sekali mengajak ibu sarapan dan membelikan semua ini."
Renzi tetap tersenyum, menikmati setiap detil ketidaknyamanan Karmel. Di balik senyumannya yang sempurna, pikirannya bekerja cepat—merencanakan langkah berikutnya dalam permainan yang ia ciptakan ini.
lanjut Thor plissssss🙏🙏🙏