seorang pemuda berusia 25 tahun tampak sedang rebahan dengan posisi super tidak estetis di atas bangku kayu panjang.
Dia adalah Kevin Wahyu Wijaya. Lulusan sarjana manajemen dari salah satu universitas swasta di Depok yang gelarnya saat ini hanya berguna sebagai alas tikar saat piknik keluarga.
"Kevin! Lu kagak ada niat nyari kerja apa? Itu si Doni anak RT sebelah udah keterima kerja di SCBD, tiap hari pake kemeja rapi. Lah lu? Dari pagi sampai ketemu pagi lagi kerjaan lu cuma mabar Mobile Legends sambil ngetek di warkop gua!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter: 13
"Mas Kevin... gimana ini? Papa diculik..."
"Orang kantor bilang mereka bawa Papa pakai mobil penculik ke arah jalan raya,"
suara Viola bergetar hebat. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mulai luruh, membasahi pipinya yang mulus.
Karakter nona muda yang dingin dan angkuh runtuh seketika digantikan oleh seorang anak perempuan yang ketakutan setengah mati.
Kevin menaruh kedua tangannya di pundak Viola, menatap mata gadis itu dengan lekat untuk menyalurkan ketenangan.
"Viola, dengerin Mas."
"Jangan panik. Kalau kamu panik, kita gak bisa mikir jernih."
"Mas ada di sini, Papa kamu pasti aman."
Aura karisma bercampur dengan ketegasan Tubuh Baja Dewa membuat kata-kata Kevin seperti hipnotis yang menenangkan badai di dada Viola.
Gadis itu mengangguk pelan, menyeka air matanya.
"Sistem, lu punya pelacak kan?"
"Jangan bilang lu cuma bisa ngasih ruko tapi gak bisa nyari orang,"
batin Kevin mendesak entitas di kepalanya.
Ding!
[Merespons Permintaan Pengguna. Radar Sistem Mendeteksi Sinyal Gawai Target (Ayah Viola) yang sedang bergerak cepat.]
[Rute Target: Bergerak meninggalkan Margonda, masuk ke arah kawasan perumahan Grand Depok City (GDC), menuju ke sebuah klaster terbengkalai di ujung selatan.]
[Peringatan: Target dalam bahaya fisik. Sisa waktu sebelum interogasi paksa: 15 menit!]
"GDC lagi?"
"Kayaknya daerah situ emang sarangnya," pikir Kevin geram.
Dia langsung menyambar helm merah muda milik Viola dan memakaikannya ke kepala gadis itu dengan sigap.
"Naik, Vi."
"Pegangan yang erat. Kita bakal sedikit melanggar hukum gravitasi lagi,"
perintah Kevin tegas sambil melompat ke atas jok NMAX-nya.
Viola tidak banyak tanya. Dia langsung naik dan kali ini, tanpa ragu sedikit pun, kedua lengan kecilnya memeluk pinggang Kevin dengan sangat erat, menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada punggung kokoh sang guru honorer.
BRRRMMMM!
Kevin memutar kunci kontak dan mengaktifkan mode performa maksimal. Mesin MotoGP di dalam bodi NMAX hitam itu meraung rendah, memancarkan aura predator yang siap berburu.
Begitu Kevin menarik tuas gas, motor itu melesat bagai kilat, meninggalkan halaman ruko nomor 88 dengan menyisakan asap tipis di aspal.
Kevin mengambil rute memotong melewati jalur tikus di belakang Terminal Depok untuk menghindari kemacetan lampu merah Ramanda.
Di atas motor, Viola hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Angin sore menembus jaketnya dengan kencang, bermanuver ekstrem ke kanan dan ke kiri seolah-olah motor mereka mengalir di antara sela-sela kendaraan lain tanpa hambatan.
Hanya dalam waktu kurang dari tujuh menit, mereka sudah memasuki gerbang utama Grand Depok City.
Radar merah di sudut pandang Kevin berkedip-kedip semakin cepat, menunjukkan sebuah titik merah yang berhenti di sebuah area proyek perumahan mangkrak yang dikelilingi oleh ilalang tinggi.
Kevin mematikan mode bising mesinnya hingga motor itu menggelinding senyap seperti hantu di antara semak-semak.
Dia menghentikan motor di balik sebuah tembok beton tua yang retak-retak.
"Viola, kamu tunggu di sini, sembunyi di balik motor Mas."
"Jangan keluar sampai Mas panggil," bisik Kevin setelah melepas helmnya.
"Tapi Mas Kevin... mereka pasti banyak dan bawa senjata,"
ujar Viola cemas, memegang tangan Kevin dengan erat.
Kevin tersenyum tipis, menepuk punggung tangan Viola lembut.
"Kamu lupa kalau otot Mas setara Semen Tiga Roda?"
"Di dalam sana cuma ada kerikil-kerikil kecil yang butuh dirapihin. Tunggu di sini, ya."
Dengan langkah seringan kucing, Kevin mengendap-endap mendekati sebuah bangunan setengah jadi tanpa pintu.
Di dalam sana, terdengar suara bentakan kasar dan suara kursi kayu yang digeser dengan kasar.
"Tanda tangan surat pelepasan aset ruko ini sekarang, Herman! Atau anak perempuanmu yang cantik di SMA Garuda itu gak bakal pulang dengan selamat hari ini!"
ancam sebuah suara berat yang dipenuhi tawa licik.
Kevin mengintip dari balik pilar beton.
Di tengah ruangan, seorang pria paruh baya berpakaian kemeja kantoran yang acak-acakan ayah Viola terikat di sebuah kursi dengan wajah lebam.
Di sekelilingnya, ada lima orang pria kekar berjaket kulit hitam, dan salah satu dari mereka memegang dokumen kertas serta sebuah pena.
Mendengar nama Viola dibawa-bawa sebagai ancaman, mata Kevin mendadak menggelap. Amarahnya bangkit.
"Mau tanda tangan pake pena biasa, atau pake darah, Bos?"
celetuk Kevin santai sambil melangkah masuk ke dalam bangunan kosong tersebut, mengejutkan kelima penculik di dalam.
"Siapa lu?! Ojol nyasar berani masuk ke sini?!"
bentak salah satu anak buah penculik yang bertubuh paling besar, langsung mencabut sebatang besi pipa dari lantai.
Kevin meretakkan lehernya ke kiri dan ke kanan, menatap kelima orang itu dengan pandangan dingin yang mematikan.
"Gue? Gue cuma guru honorer yang dapet tugas tambahan buat bersih-bersih sampah Depok."