Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2: JEJAK KEGELAPAN DI TIMUR Bab 8: Jejak Masa Lalu dan Arah Baru
Angin yang berhembus kini terasa sangat berbeda—tidak lagi membawa rasa dingin yang menusuk atau aroma belerang yang mengganggu, melainkan membawa bau tanah basah dan sisa-sisa kelembapan hutan yang mulai bangun kembali. Kabut tebal yang selama berhari-hari menyelimuti kawasan Menara Kembar itu perlahan terurai, menyisakan gumpalan putih tipis yang melayang rendah di antara pepohonan. Cahaya matahari sore yang berwarna keemasan menembus celah awan, menyinari halaman luas tempat pertarungan besar baru saja berlangsung. Sisa-sisa energi ungu yang menempel di permukaan batu perlahan memudar, terserap atau hilang terbawa angin.
Rey masih berdiri dengan bantuan bahu Sylfia dan Valerius. Kekuatan yang ia salurkan ke kedua menara itu menyedot hampir seluruh cadangan tenaganya, membuat anggota tubuhnya terasa berat seolah dipenuhi timah. Keringat dingin masih menetes di pelipisnya, namun napasnya perlahan mulai teratur kembali. Di sekelilingnya, anggota tim yang lain mulai berkumpul—beberapa duduk bersandar di dinding bangunan atau batang pohon, merawat luka dan memulihkan tenaga yang terkuras.
“Kau benar-benar memaksakan batas kemampuanmu lagi,” ujar Sylfia pelan sambil mengoleskan ramuan penyembuh ke luka memar di lengan Rey. “Lain kali, tolong pertimbangkan dulu apakah tubuhmu sanggup atau tidak.”
Rey tersenyum tipis, meski matanya masih terlihat lelah. “Kalau aku tidak melakukannya, mungkin kita tidak akan bisa melihat matahari sore ini lagi. Zarghul… kekuatannya berada di tingkat yang sama sekali berbeda dari apa pun yang kita duga sebelumnya.”
Valerius, yang sedang memeriksa sisa-sisa jejak di tempat Zarghul menghilang, berjalan kembali mendekat dengan wajah serius. “Benar. Cara dia bergerak, cara dia mengendalikan energi, dan apa yang dia katakan tentang ‘hak waris’… semua itu menunjuk pada asal-usul yang sangat tua. Bukan sekadar makhluk terkontaminasi atau penyihir yang jatuh ke dalam kegelapan.”
Daren dan Lyra, yang luka-lukanya cukup parah namun tidak mengancam nyawa, juga ikut mendengarkan sambil memeriksa sebuah benda yang mereka temukan tidak jauh dari tempat Voren dan Kaelix berlutut tadi. Itu adalah kepingan lempengan batu hitam yang berukir pola sayap terlipat—sama seperti yang ada di zirah Zarghul.
“Lihat ini,” kata Daren sambil mengangkat benda itu. “Batu ini tidak berasal dari wilayah timur. Bahan dasarnya lebih sering ditemukan di pegunungan jauh ke utara, di wilayah yang sudah lama dianggap mati dan terlarang.”
Kaelan mengerutkan kening, ikut memeriksa benda itu. “Wilayah utara? Bukankah di sana terletak sisa-sisa benteng kuno yang hancur saat Perang Keseimbangan Besar berabad-abad lalu? Tempat yang dicatat dalam legenda sebagai tempat pengasingan bangsa yang kalah?”
“Tepat sekali,” sahut Rey, yang mulai bisa duduk tegak sedikit lebih baik. “Zarghul menyebutkan bahwa wilayah ini adalah hak waris yang dirampas berabad-abad lalu. Jika dia benar-benar berasal dari bangsa yang dikalahkan dalam perang itu… berarti musuh yang kita hadapi bukan hanya satu individu, melainkan sisa kebencian yang telah menunggu waktu yang sangat lama.”
Rina, yang selama ini lebih banyak bekerja dengan catatan dan peta, mengeluarkan gulungan kertas dari tasnya—peta kuno yang ia bawa dari perpustakaan Astoria. Ia membentangkannya di atas permukaan batu yang rata, menunjuk ke arah titik tempat mereka berada sekarang, lalu menggerakkan jari lebih jauh ke arah utara.
“Lihat hubungan ini,” tunjuk Rina dengan antusias namun tetap hati-hati. “Jaringan Pilar Penyeimbang ini tidak tersebar sembarangan. Jika kita hubungkan pilar di sini, pilar di Hutan Terlarang tempat kita pertama kali bertemu, dan pilar-pilar lain yang tercatat… semuanya membentuk garis lengkung yang mengarah ke satu titik pusat di utara. Titik yang sama dengan asal batu ini.”
“Jadi… Zarghul hanya salah satu ujung benang itu,” simpul Valerius dengan nada berat. “Dan pusat dari segala rencana ini ada di sana.”
Suasana menjadi hening sejenak. Apa yang awalnya dianggap sebagai tugas pembersihan wilayah berubah menjadi penemuan jejak konflik kuno yang bangkit kembali. Kemenangan di sini terasa manis, namun sekaligus menjadi pengingat betapa luasnya medan pertempuran yang sebenarnya.
“Kita harus mengumpulkan lebih banyak bukti sebelum melangkah lebih jauh,” kata Rey sambil perlahan berdiri tegak sepenuhnya. Kakinya masih terasa sedikit goyah, namun tekadnya sudah kembali kuat. “Di dalam kompleks bangunan ini pasti ada ruang arsip atau catatan yang ditinggalkan Zarghul. Selama dia tinggal di sini cukup lama, dia pasti menyimpan sesuatu—nama, tempat, atau rencana selanjutnya.”
“Benar,” tambah Lyra sambil memasukkan lempengan batu itu ke dalam kantong pelindung. “Selama kita masih di sini, sebaiknya kita gali semua informasi yang tersedia. Kita tidak ingin berjalan buta ke wilayah yang lebih berbahaya.”
Mereka membagi tugas dengan cepat. Kaelan dan Rina akan tetap berada di halaman utama untuk menjaga keamanan dan memulihkan kondisi fisik lebih lanjut. Daren dan Lyra akan memeriksa bagian bangunan yang lebih runtuh dan tersembunyi, tempat yang mungkin dijadikan ruang penyimpanan rahasia. Sedangkan Rey, Sylfia, dan Valerius akan masuk ke bagian utama menara—tempat yang paling mungkin menyimpan catatan penting.
Saat Rey dan kawan-kawan melangkah masuk ke lorong menara kanan yang baru saja ia pulihkan, suasana di dalamnya jauh lebih tenang dibandingkan saat mereka pertama kali mendekat. Ukiran di dinding kini bersinar lembut, menerangi jalan mereka tanpa perlu bantuan obor. Lorong ini terlihat serupa dengan yang ada di menara sebelumnya, namun ada perbedaan: di sini lebih banyak terdapat ruang samping yang berfungsi sebagai kamar atau ruang kerja.
Di salah satu ruangan yang agak luas, tepat di lantai atas, mereka menemukan apa yang dicari. Sebuah meja kerja besar terbuat dari kayu keras yang masih utuh, di atasnya tersusun tumpukan gulungan kertas dan buku kulit. Tidak ada debu tebal yang menutupi, tanda bahwa tempat ini baru saja ditinggalkan dalam waktu dekat.
“Dia benar-benar terburu-buru saat mundur,” gumam Valerius sambil memeriksa sebuah peta yang terbentang di meja. “Dia tidak sempat menghancurkan semuanya.”
Sylfia mendekati rak buku yang terisi penuh. “Banyak tulisan ini menggunakan aksara kuno yang hampir tidak ada yang menggunakannya lagi. Tapi ada catatan yang lebih baru, ditulis di pinggiran kertas dengan aksara yang lebih kita kenal.”
Rey mengambil salah satu gulungan yang tampak paling penting. Ia membacanya perlahan, membiarkan maknanya meresap. Isinya bukan catatan harian biasa, melainkan laporan perkembangan kekuatan. Di sana tertulis bahwa Zarghul tidak bekerja sendirian sepenuhnya. Ada ‘kawan-kawan lama’ yang tersebar di wilayah lain, masing-masing menjaga atau mengincar pilar-pilar lain. Dan yang paling mengkhawatirkan: ada rencana besar yang disebut ‘Kebangkitan Kembali’, yang waktunya dihitung mendekat.
“Lihat ini,” tunjuk Rey pada satu bagian. “‘Jika jalur timur terhalang, maka fokus harus dialihkan ke selatan. Sumber kuno di sana lebih stabil dan kurang terjaga.’”
Valerius mengerutkan kening. “Selatan? Itu berarti mereka punya rencana lain yang sudah berjalan.”
“Dan lihat tanda ini,” tambah Sylfia sambil menunjuk simbol yang sama persis dengan yang ada di lempengan batu yang ditemukan Daren tadi. “Ini lambang dari kelompok atau bangsa yang sama. Jadi pergerakan mereka terkoordinasi.”
Rey melipat gulungan itu dengan hati-hati. “Kita tidak bisa berlama-lama di sini. Kita sudah tahu ke mana arah utamanya, tapi ancaman di selatan juga nyata. Laporan ini harus segera sampai ke Dewan agar pengamanan bisa diperkuat.”
Saat mereka berjalan keluar kembali menuju halaman, matahari sudah hampir terbenam sepenuhnya, menyisakan semburat ungu dan jingga di langit. Angin sore berhembus membawa kabar bahwa bahaya di wilayah ini sudah mereda, namun bahaya yang lebih luas masih menanti.
Tim berkumpul kembali, berbagi temuan penting satu sama lain. Tidak ada lagi pertanyaan apakah mereka harus kembali atau tidak—jawabannya sudah jelas. Misi ini belum selesai, bahkan baru saja mendapatkan arah yang lebih nyata.
“Besok pagi kita berangkat kembali,” putus Valerius setelah semua informasi disatukan. “Kita akan kembali ke ibu kota secepat mungkin untuk menyampaikan laporan lengkap, lalu menentukan langkah selanjutnya ke arah utara atau selatan.”
Rey menoleh ke arah menara kembar yang kini berdiri tenang dan damai. Ia merasa lega, namun juga sadar sepenuhnya: kekuatan lima elemen yang ia miliki bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan satu-satunya penyeimbang yang tersisa di tengah kebangkitan musuh kuno.
Di kejauhan, di balik cakrawala yang mulai gelap, bintang pertama mulai muncul. Dan di tempat yang jauh di utara, sepasang mata merah tua masih mengawasi, menunggu waktu yang tepat untuk kembali bertemu.