Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.
Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?
Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata ...
Tindakan Xavier semakin melampaui batas, dipacu oleh amarah yang membara dan dorongan naluri yang tak terkontrol. Dia sama sekali tidak peduli dengan reaksi atau rasa sakit Azura. Baginya saat ini, wanita di bawahnya hanyalah objek untuk melampiaskan segala kemarahan, rasa kecewa, dan hasrat yang selama ini dia pendam dalam kebencian.
"Kau menginginkan ini, kan? Kau yang memulainya duluan." desis Xavier dengan suara serak berat, napasnya memburu dan panas menerpa kulit halus Azura.
Dia merobek kain gaun itu tanpa belas kasihan, membuat kain itu terkoyak dan terlempar ke lantai tenda, membiarkan tubuh mungil Azura terbuka sepenuhnya di hadapan pandangan lelaki itu. Kulit putih bersih Azura kini terpampang nyata, namun tatapan Xavier bukan tatapan kekaguman, melainkan tatapan buas yang siap menerkam mangsanya.
Azura berusaha sekuat tenaga untuk menolak, tubuhnya menggigil ketakutan dan rasa sakit.
"Xavier... lepaskan aku! Sakit..." rintihnya, suaranya terdengar lemah dan tertahan. Dia memutar tubuhnya, berusaha menutupi tubuhnya yang telanjang dengan kedua tangannya, namun usaha itu sia-sia. Xavier dengan mudah menyingkirkan tangan gadis itu kembali ke atas kepala, menekannya lebih kuat hingga persendiannya terasa sakit sekali.
"Sudah terlambat untuk menangis atau memohon!" bentak Xavier, matanya menatap tajam ke tubuh Azura yang menggigil.
"Bukankah ini yang harus dilakukan suami istri? Kau sendiri yang bilang, bukan hanya kau yang berhak, tapi aku juga."
Tangannya yang besar dan kasar langsung meremas payudara gadis itu dengan kasar, tidak ada sentuhan lembut sedikitpun. Dia menekan, memilin, dan menariknya dengan keras, membuat Azura menahan napas sambil menahan jeritan sakit yang hampir keluar dari mulutnya.
"Xavier, tolong... jangan..." pinta Azura. Ia merasa kesakitan dengan perlakuan Xavier yang brutal.
Namun Xavier seolah tuli. Mulutnya turun, menyambar salah satu puting payudara yang menegang karena dingin dan rasa sakit itu. Dia menggigitnya, menyedotnya dengan kasar dan kuat. Rasanya perih sekali, seperti digigit binatang buas. Azura melengkungkan tubuhnya karena rasa sakit yang tajam, namun hal itu justru membuat tekanan tubuh Xavier semakin berat menindihnya.
Belum sempat rasa sakit di dadanya mereda, Azura kembali terbelalak kaget dan menahan napas saat merasakan tangan kasar Xavier bergerak turun, menyusuri perut rata wanita itu hingga sampai ke bagian paling pribadinya. Tanpa basa-basi, jari-jari kasar itu langsung masuk ke sana, menggosok dan bergerak dengan irama yang kasar dan cepat, sama sekali tidak mempedulikan kenyamanan atau persiapan sedikitpun.
"Aaaahh!!" jerit Azura tertahan, wajahnya memerah padam karena campuran rasa sakit, kaget, malu, dan marah. Dia menatap wajah Xavier yang tampak begitu asing dan mengerikan di atasnya.
Lelaki itu sama sekali bukan Xavier yang dulu dia kenal, bukan Xavier yang lembut dan pelindung. Ini adalah Xavier yang penuh amarah, yang ingin menghancurkannya.
"Kau basah..." gumam Xavier dengan nada yang terdengar mengejek namun berat dan penuh tekanan. Dia tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak ramah.
"Bahkan saat kau ketakutan pun, tubuhmu tetap merespons, kan? Benar-benar wanita murahan."
Ucapan itu terasa seperti pisau yang menancap tepat di jantung Azura. Dia ingin membantah, ingin berteriak bahwa ini bukan karena dia menginginkannya, tapi karena reaksi tubuh yang tidak bisa dia kendalikan, tapi mulutnya tertutup kembali oleh ciuman kasar Xavier.
Jari-jari di bagian kewanitaannya bergerak semakin cepat dan kasar, kadang menekan titik yang paling sensitif dengan kekuatan yang membuatnya sakit luar biasa, namun di saat yang sama juga memaksa tubuhnya untuk merespons dengan cara yang memalukan.
Azura merasakan dirinya mulai lemas, tubuhnya terasa panas dingin, kakinya gemetar hebat. Rasa sakit itu nyata, rasa dipermalukan itu nyata, tapi anehnya tubuhnya justru bergerak menurut sentuhan kasar itu, membuatnya semakin membenci dirinya sendiri.
"Lihat dirimu..." bisik Xavier di telinganya, napasnya panas dan berat.
"Lihat dirimu sekarang, menggeliat di bawahku, menikmati sentuhanku meski kau berusaha mendorongku. Kau sama persis seperti apa yang aku pikirkan selama ini."
Xavier menarik jarinya keluar secara tiba-tiba dan kasar, membuat Azura mendesis kaget karena rasa perih yang ditinggalkan. Tanpa memberi waktu bagi gadis itu untuk bernapas atau memulihkan diri, dia segera melepaskan ikat pinggang dan pakaiannya sendiri dengan gerakan kasar. Dia memposisikan dirinya di antara kedua kaki Azura yang masih gemetar itu, menatap ke bawah dengan tatapan yang penuh kebuasan dan kemarahan.
Azura menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya, matanya melebar penuh ketakutan. Dia menggelengkan kepalanya dengan lemah, mencoba menutup pahanya. Bukan ini yang dia inginkan. Dia akui dirinya diam-diam telah jatuh hati pada pria ini, tapi dia tidak ingin melakukannya dalam keadaan seperti ini. Dalam keadaan laki-laki itu sangat membenci dan menganggapnya wanita menjijikkan.
"Ti... tidak, Xavier... jangan... jangan lakukan ini..." mohonnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Kau yang memintanya sendiri, Azura. Kau yang menuntut hakmu bukan?" jawab Xavier dingin dan tanpa belas kasihan. Dia menahan kedua paha Azura agar tetap terbuka lebar dengan cengkeraman yang kuat hingga meninggalkan bekas merah di kulit putih itu.
Dia mencondongkan tubuhnya, siap untuk masuk dan mengambil apa yang dia anggap sebagai hak yang dia minta tadi, untuk menghancurkan Azura secara utuh dan membiarkan wanita itu merasakan penderitaan yang sama seperti apa yang dia rasakan karena pengkhianatannya.
Di mata Xavier, tindakan ini adalah bentuk hukuman yang paling pantas bagi wanita yang telah menghancurkan hatinya dan hidupnya. Namun jauh di sudut paling dalam hati nuraninya yang masih tersisa, ada perasaan sakit yang bercampur, perasaan takut kalau apa yang dia lakukan ini akan membuat dia menyesal seumur hidupnya. Tapi amarahnya terlalu besar untuk dikendalikan saat ini. Dia hanya ingin melampiaskan semuanya, tak peduli apa akibatnya nanti.
Xavier mengarahkan batangnya yang besar ke lubang Azura, lalu langsung menerobos masuk tanpa aba-aba.
"Ahhhh!"
Azura berteriak kaget dan detik itu juga Xavier terhenti sebentar. Keningnya mengernyit. Ia menyadari sesuatu, sesuatu yang makin membuatnya merasa wanita di bawahnya ini hina.
"Ah, aku tidak menikahi seorang gadis suci rupanya. Padahal kau seorang putri agung yang belum pernah menikah."
Nafas Azura tercekat. Suara itu terdengar merendahkan. Ia malu sekali, malu karena Xavier mengetahui dirinya sudah tidak suci lagi. Ia kembali mendorong tubuh Xavier agar terlepas darinya, namun pria kembali melanjutkan apa yang belum dia mulai. Pinggulnya mulai bergerak dengan kasar.
"Seseorang sepertimu, harus merasakan apa balasannya saat kau memanfaatkan seseorang yang pernah melindungi dan memperlakukanmu dengan tulus."
Plok! Plok!
" Argghh!"
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂
dasar elish sok sok cantik dan caper didepan pangeran xavier, kegatelan elish pengen mendekati pangeran xavier..
yg ada pangeran xavier sangat jijik dan muak sama elish...
putri perdana menteri tutur katanya tidak bisa dijaga, berani menjelek2kan dan menghina putri azura...
putri azura tidak seburuk itu, putri azura pasti ada alasannya tiba-tiba menghilang.. lagi mencari kesempatan membebaskan putranya/melihat anaknya lagi sakit...
pangeran xavier sangat curiga gerak-gerik putri azura, dikira xavier merencanakan sesuatu mencelakainya...
kasian juga nasibnya putri azura anaknya disandera, diancam jadi mata-mata, dan pangeran xavier salahpaham pangeran memperlakukan putri sangat kasar dan kata-katanya bikin sakit hati....
ga jeules ya vier
cuman cemburu 🤣🤣🤣🫣
putri azura sangat ketakutan dan khawatir takut terjadi sesuatu sama anaknya, klo kasih tahu pangeran xavier azura serba salah... raja utara sangat jahat dan licik, bisa melakukan apa aja demi ambisinya sampai tega sandera anaknya putri azura....
tapi putri azura gak mau jujur makin salahpaham pangeran xavier, yg ada kebencian dan merasa dikhianati pangeram xavier...
pangeran xavier tidak akan membiarkan putri azura menghilang dari hidupnya, masih jadi misterius anaknya azura apakah anaknya pangeran xavier....
walau sebel sama Azura tapi depan orang lain kamu harus tetap bela istri ....👍👍👍