NovelToon NovelToon
Holong Di Balik Adat

Holong Di Balik Adat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:192
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Toko Buku "Lentera Kata"

"Selamat datang di Lentera Kata."

Senyumnya bukan sekadar keramahan yang dipaksakan.

Elisya mengangguk sopan.

"Terimakasih"

Begitu masuk, hawa sejuk langsung menyambutnya. Aroma khas buku baru bercampur dengan aroma kopi yang samar. Rasanya nyaman. Sangat nyaman.

Pria itu kemudian berjalan beberapa langkah mendampinginya.

"Kalau ada buku yang sedang dicari, boleh tanya ke kami ya, Kak."

"Okee......" jawab Elisya sambil tersenyum kecil.

Pria itu berjalan menjauh dari Elisya, meninggalkannya untuk mengenali suasana tempat itu.

Pandangan Elisya mulai berkeliling. Rak-rak kayu tinggi tersusun rapi. Setiap kategori diberi penanda yang jelas.

Novel, pengembangan diri, pendidikan, sejarah, psikologi, hingga buku anak-anak.

"Rapi......." gumamnya sendiri.

Semakin lama ia berada di sana, semakin ia merasa tempat itu berbeda dari toko buku yang pernah ia kunjungi.

"Tunggu......" ucap Elisya sambil mengingat perkataan Elora tadi bahwa toko itu punya ciri khas sendiri.

Elisya terus melangkah dan melewati meja informasi. Ia melihat pria yang tadi menyambutnya sedang menyusun beberapa buku baru di rak pajangan.

"Permisi"

Pria itu langsung menoleh.

"Iya, Kak?"

Elisya tersenyum sopan.

"Maaf. Saya mau tanya."

"Silahkan." ucap pria itu sambil menghentikan kesibukannya tadi.

"Konsep tempat ini memang dari awal seperti ini?"

Pria itu tampak senang mendapat pertanyaan itu.

"Maksudnya toko buku dan kafenya?"

Elisya mengangguk.

"Iya, Kak. Memang begitu konsepnya."

Elisya melirik ke arah sudut ruangan.

"Menarik......" ucapnya pelan.

Pria itu tersenyum, "pemiliknya memang ingin orang betah berlama-lama di sini."

Pria itu menunjuk ke arah beberapa pengunjung yang sedang membaca.

"Kalau diperhatikan, banyak yang datang tidak langsung membeli buku."

Elisya ikut melihat ke arah yang ditunjuk.

Memang benar. Ada yang membaca. Ada yang mengobrol pelan. Ada yang bekerja di depan laptopnya.

"Katanya..... Pemiliknya percaya kalau toko buku ini harus menjadi tempat orang beristirahat juga." jelas pria itu.

"Beristirahat?"

"Iya. Bukan hanya dari pekerjaan tapi juga dari pikiran yang terlalu penuh."

Kalimat itu membuat Elisya terdiam sejenak. Entah kenapa terasa pas dengan keadaan dirinya saat ini.

Pria itu kemudian menunjuk ke arah lantai atas.

"Makanya di setiap lantai ada area kopi dan area duduk."

"Oh, jadi memang sengaja dibuat begitu?" tanya Elisya.

"Iya. Tapi harus tetap intinya membaca ya....."ucap pria itu sambil tersenyum.

Elisya mengangguk pelan.

"Makanya area kafenya tidak dibuat terlalu besar. Supaya orang tetap datang karna bukunya, bukan karna kopinya." Lanjut pria itu.

Elisya memperhatikan sekeliling sekali lagi. Dan memang benar. Rak buku jauh lebih mendominasi ruangan dibanding area minum. Kafenya hanya seperti pelengkap yang menyatu dengan suasana.

"Kata pemilik tempat ini, membaca itu butuh suasana."

Elisya mengangguk setuju.

"Tidak semua orang fokus membaca di tempat ramai."

"Betul." balas Elisya cepat.

"Makanya dibuat tempat seperti ini."

Elisya menatap area rak buku dengan bangga. Sebagai seorang guru yang menyukai buku, ia memahami maksudnya. Karna terkadang sebuah buku memang bisa mengubah suasana hati seseorang.

"Ini pemiliknya si....."

Bzzztt.... Bzzztt.....

Sebelum Elisya sempat menyelesaikan pertanyaannya, suara getaran ponsel terdengar dari saku kemeja pria itu.

Ekspresinya langsung berubah sedikit lebih serius.

"Maaf, Kak."

Ia menunjukkan ponselnya sekilas.

"Sepertinya saya harus ke bawah dulu."

"Oh...." jawab Elisya mengangguk mengerti.

"Selamat menikmati, Kak....." ucap Pria itu sedikit membungkukkan badan sebagai tanda permisi sebelum berjalan cepat menuju tangga.

Dari kejauhan terdengar ia menjawab panggilan telepon.

"Ya, Pak.... Iya, Sekarang."

Elisya berdiri sendirian di dekat rak buku. Matanya sempat mengikuti pria itu pergi. Lalu ia terkekeh kecil pada dirinya sendiri. Sedikit lagi ia akan tau siapa yang punya konsep Lentera Kata itu.

"Siapa ya....." gumamnya pelan.

Tangannya mulai menyusuri deretan judul yang tersusun rapi.

Jarinya bergerak dari satu punggung buku ke punggung buku lainnya. Membaca judul judul yang tersusun rapi. Hingga sebuah buku menarik perhatiannya.

"Pertemuan Yang Tidak Direncanakan."

Judulnya sederhana. Tapi membuatnya berhenti. Elisya mengambil buku itu, membaca sinopsis singkat di sampul belakang.

Ceritanya tentang dua orang asing yang beberapa kali dipertemukan oleh keadaan yang tidak pernah mereka rencanakan.

Satu pertemuan. Lalu pertemuan berikutnya. Sampai akhirnya mereka mulai mempertanyakan apakan semuanya benar-benar kebetulan.

Elisya tersenyum kecil.

"Novel sekali......" gumamnya pelan.

Saat membuka beberapa halaman pertama, pikirannya melayang ke tempat lain. Ke Gereja, minggu lalu.

Ia masih ingat dengan jelas. Bagaimana ia berjalan susah payah karna sepatunya bermasalah. Bagaimanapun rasa malunya. Dan bagaimana laki- laki itu datang menghampiri.

"Mana ada orang seperti itu....." gumamnya pelan sambil menunduk melihat halaman buku.

Elisya membalik halaman berikutnya. Namun matanya tidak benar-benar membaca. Yang terlihat justru sosok Asido yang berdiri di depan gereja. Dengan ekspresi tenang yang membuatnya semakin tidak enak.

"Pakai saja...." kalimat sederhana itu masih teringat jelas.

Elisya menutup buku itu sebentar.

"Aku ini kenapa sih....." Ucapnya dengan menggeleng kecil.

Elisya masih berdiri diam di antara rak-rak novel. Buku tadi masih berada di tangannya dengan keadaan tertutup. Ia bahkan tak menyadari sudah berdiri cukup lama di tempat yang sama.

"Permisi" suara lembut seorang perempuan membuatnya tersadar.

Elisya langsung mengangkat kepala. Di depannya berdiri seorang perempuan yang tampaknya masih seusia dengannya.

Wajahnya ramah dengan senyum hangat langsung membuat orang merasa nyaman.

"oh, iya?"

Perempuan itu tersenyum, "maaf mengganggu."

"Tidak apa-apa......" jawab Elisya.

Perempuan itu kemudian menunjuk buku yang sedang dipegang Elisya.

"Buku itu..... Apakah masih kaka baca?"

Elisya menunduk melihat buku di tangannya.

"Oh...."

"Sebenarnya saya dari tadi mencari judul itu."

Elisya langsung memahami maksudnya.

"Kalau kakak belum jadi membacanya, boleh saya pinjam dulu?" tanyanya, suaranya terdengar sangat sopan. Seperti merasa tidak enak karna bertanya.

Elisya langsung tersenyum, "Tentu boleh..."

"Benarkah?" tanyanya meyakinkan.

"Iya...."

Perempuan itu tampak lega.

"Terimakasih ya...."

"Sama-sama" ucap Elisya sambil menyerahkan buku itu.

"Padahal saya sudah keliling satu lantai mencari buku ini....." ucapnya pelan.

Tapi Elisya masih bisa mendengarkan itu.

"Tapi memang sudah ada penandanya bahwa disini kumpulan novel....." ucap Elisya.

Perempuan itu menoleh, "Iya ka. Tapi saya langsung ke lantai dua tadi. Disana juga ada kumpulan novel."

Elisya melihat ke lantai atasnya, "lantai dua?" tanyanya heran.

"Iya, Kak....."

Perempuan itu lalu memperhatikan wajah Elisya sesaat saat ia masih melihat ke atas.

"Kaka suka membaca ya??"

Mendengar itu, Elisya menatapnya.

"Cukup suka."

"Pantas. Kelihatannya nyaman sekali berdiri di depan rak buku....."

Komentar itu membuat Elisya tersenyum malu.

"Kaka sering ke sini ya?" tanya perempuan itu lagi.

Elisya menggeleng, "Baru pertama."

Perempuan itu tampak terkejut.

"Serius ka? Kalau begitu nanti pasti datang lagi."

"Kenapa?"

"Sebagian besar yang datang pertama kali biasanya begitu......" lanjut perempuan itu.

Mereka berdua tertawa kecil. Suasana percakapan yang tadinya canggung perlahan menjadi hangat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!