Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam itu, suasana di dalam rumah sederhana itu terasa hening dan tenang, hanya diterangi oleh cahaya lampu tidur yang redup serta rembulan yang bersinar lembut lewat celah jendela.
Udara malam yang sejuk masuk perlahan, membawa kesejukan yang sangat dibutuhkan tubuh yang sedang dilanda demam tinggi.
Sherina masih duduk setia di tepi tempat tidur, matanya tak lepas mengawasi gerak-gerik Arsya yang berbaring gelisah di antara selimut. Demam pemuda itu belum sepenuhnya turun, membuatnya sering kali berbicara sendiri, mengerang pelan, atau menggerakkan tangan tanpa sadar seolah sedang melawan sesuatu yang menakutkan.
"Ibu... Ayah..." gumamnya lemah, diiringi napas yang berat dan tak beraturan. "Maafkan aku... maafkan aku..."
Sesekali Sherina menyeka keringat dingin yang terus membasahi dahi dan leher Arsya dengan kain basah, berusaha meredakan rasa panas yang membakar tubuhnya. Ia merasa begitu sedih melihat sosok yang biasanya tegar, dingin, dan penuh kendali itu kini terbaring tak berdaya, tersiksa oleh rasa sakit fisik maupun luka batin yang tersimpan rapat di dalam hatinya.
Tiba-tiba, Arsya menggerakkan tangan kirinya, meraba-raba ke samping seolah mencari pegangan. Matanya yang sayu terbuka sedikit, pandangannya kabur dan belum sepenuhnya sadar, namun tertuju tepat ke arah wajah Sherina yang sedang menunduk di dekatnya. Bibirnya bergerak-gerak pelan, mengeluarkan suara parau yang hampir tak terdengar.
"Sherina, aku merindukan mereka."
Sherina segera mendekatkan wajahnya, mendengarkan dengan saksama. Ia tahu, dalam keadaan setengah sadar seperti ini, tembok pertahanan yang selama ini dibangun Arsya begitu kokoh perlahan runtuh, dan apa yang keluar dari mulutnya adalah isi hati yang paling dalam, luka yang paling perih, dan kenangan yang paling ia coba lupakan seumur hidupnya.
"Pak Arsya... sedang rindu Ayah dan Ibu ya?" bisik Sherina lembut, menggenggam tangan kiri pemuda itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Saya ada di sini. Jika ingin bercerita, Ceritakanlah... keluarkan saja semuanya. Saya akan mendengarkan."
Seolah mendengar ajakan itu, Arsya menarik napas panjang dan berat, lalu mulai bercerita dengan suara yang tersendat-sendat, penuh kepedihan yang mendalam, seolah ia sedang hidup kembali di momen mengerikan itu.
"Dulu... waktu itu... kami baru saja pulang dari rumah sakit, kami mau merayakan ulang tahun Ibu." cerita Arsya, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar, pandangannya menembus dinding dan waktu, kembali ke masa lalu yang kelam itu. "Ayah sedang menyetir, Ibu duduk di sebelahnya... dan aku di kursi belakang. Kami bahagia hari itu. Kami tertawa, bercerita tentang banyak hal...bercanda dan membicarakan rencana makan malam sederhana untuk merayakan hari bahagia itu. Suasana di dalam mobil terasa hangat dan penuh tawa..."
Suaranya pecah, tertahan oleh isak tangis yang berusaha ia tahan mati-matian meski dalam keadaan lemah. Air mata mulai mengalir keluar dari sudut matanya, membasahi sisi pipinya yang panas.
"Tapi... tiba-tiba saja... ada truk besar yang melaju kencang dari arah berlawanan... hilang kendali... langsung menghantam sisi kanan mobil kami dengan kekuatan yang luar biasa." Arsya menggigil hebat, seolah ia kembali merasakan benturan keras itu, mendengar suara besi yang remuk dan kaca yang pecah berhamburan. "Suara itu... suara benturan itu... masih terngiang jelas di telingaku sampai sekarang. Segalanya berputar, gelap, dan sakit sekali... tapi aku masih sadar. Aku masih bisa merasakan segalanya."
Ia menjeda sejenak, napasnya memburu, seolah ada beban berat yang menindih dadanya. Sherina menangis diam-diam di sampingnya, air matanya jatuh membasahi punggung tangan Arsya yang ia genggam erat. Ia mendengarkan setiap kata, setiap helaan napas, dan setiap kepedihan yang tercurah, menyadari betapa mengerikan momen itu bagi seorang pemuda yang masih muda saat itu.
"Saat aku sadar kembali... segalanya sudah hancur," lanjut Arsya, suaranya kini penuh kepahitan dan rasa sakit yang tak terlukiskan. "Mobil kami hancur lebur tak berbentuk. Dan hal pertama yang aku lihat... saat aku menoleh ke depan... adalah Ayah dan Ibu. Mereka diam saja. Tidak merintih sedikitpun. Darah mengalir di mana-mana... tubuh mereka terjepit parah... dan mereka tidak bergerak sedikit pun. Tidak menjawab saat aku memanggil. Tidak membuka mata saat aku berteriak sekeras-kerasnya meminta mereka bangun."
Isakan tangis Arsya mulai terdengar jelas, pecah sepenuhnya. Rasa sakit itu, rasa kehilangan itu, rasa putus asa saat melihat kedua orang yang paling dicintainya terbaring tak bernyawa tepat di hadapannya... kembali menghantam hatinya dengan kekuatan yang sama besarnya seperti bertahun-tahun lalu.
"Aku tahu saat itu... mereka sudah pergi. Mereka sudah meninggalkanku sendirian di dunia ini," ucapnya parau. "Duniaku hancur... hatiku hancur berkeping-keping saat itu. Rasanya aku ikut mati bersama mereka. Dunia yang indah dan aman yang mereka bangun untukku runtuh seketika, meninggalkanku dalam kegelapan dan tidak akan pernah kembali selamanya."
Arsya menggerakkan tangan kanannya yang cacat, tangan yang selama ini selalu ia sembunyikan, selalu ia lindungi, dan selalu ia anggap sebagai aib serta bukti ketidakberdayaannya. Dengan susah payah, ia mengangkatnya sedikit, menatapnya dengan pandangan penuh kebencian dan rasa sakit.
"Dan belum selesai sampai di situ... ada lagi satu yang juga hancur hari itu," gumamnya getir. "Saat petugas penyelamat menarikku keluar dari tumpukan besi itu... aku melihat tangan kananku.. jariku... jari manisku... putus. Terpotong hancur terkena besi yang tajam saat benturan itu. Darah mengalir deras, sakitnya luar biasa... tapi rasa sakit itu tak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit saat melihat tubuh orang tuaku yang kaku dan dingin."
Ia menutup matanya perlahan, namun air matanya semakin deras mengalir.
"Aku merasa hancur total, Sherina... Aku merasa rusak, cacat, dan tidak berguna. Aku kehilangan segalanya. Keluargaku, masa depanku, kebahagiaanku... dan sebagian dari diriku sendiri. Setiap kali aku melihat tangan ini... aku selalu teringat kecelakaan itu, teringat wajah orang tuaku yang sudah tak bernyawa, teringat betapa lemah dan tak berdayanya aku saat itu. Aku merasa benci pada diriku sendiri. Aku merasa aku hanyalah sisa-sisa manusia yang hancur, yang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan, tidak pantas dicintai, dan tidak pantas bersanding dengan siapa pun, apalagi dengan wanita seindah, semulia, dan sesempurna dirimu."
"Karena itulah aku menjauhimu... karena itulah aku kembali bersikap dingin saat Darren datang," sambungnya pelan, suaranya mulai melemah karena kelelahan.
"Aku pikir... jika aku menjauh, jika aku membuatmu membenciku... kau akan pergi mencari yang lebih baik, mencari orang yang utuh, orang yang tidak membawa masa lalu berdarah seperti aku. Aku tidak ingin kau terbebani oleh luka-lukaku... aku tidak ingin kau hidup bersama sisa-sisa kehancuranku ini..."
Sherina tidak sanggup lagi menahan tangisnya. Ia menangis tersedu-sedu, bahunya naik turun menahan rasa sakit yang luar biasa mendengar seluruh kisah itu. Selama ini ia hanya menduga-duga ada luka mendalam di balik sikap dingin Arsya, ada alasan kuat mengapa ia begitu menutup diri, mengapa ia begitu rendah diri, dan mengapa ia selalu merasa tidak pantas. Namun ia tidak pernah membayangkan betapa berat, betapa mengerikan, dan betapa menyakitkan beban yang dipikul pemuda itu sendirian selama bertahun-tahun lamanya.
Ia menyadari sekarang. Ia menyadari bahwa setiap kali Arsya bersikap dingin, setiap kali ia membandingkan dirinya dengan orang lain, setiap kali ia merasa dirinya tidak berharga... itu semua berakar dari trauma dahsyat yang dialaminya. Ia menyadari bahwa tangan yang cacat itu bukanlah aib atau kekurangan, melainkan saksi bisu dari rasa sakit, kehilangan, dan ketegaran yang luar biasa. Ia menyadari bahwa sosok Arsya yang kuat, cerdas, dan tegas itu sebenarnya adalah sosok yang rapuh, yang selama ini berjuang mati-matian bertahan hidup dan bekerja keras hanya untuk menutupi rasa sakit yang menggerogoti jiwanya setiap detik.
Dengan hati yang penuh kasih sayang dan rasa iba yang mendalam, Sherina mendekatkan wajahnya, menghapus air mata di pipi Arsya dengan jemarinya yang lembut, lalu memeluk tubuh pemuda itu dengan erat dan penuh kelembutan, seolah ingin memindahkan seluruh kekuatan dan kasih sayangnya ke dalam dada Arsya.
"Maafkan aku... maafkan aku karena tidak tahu apa-apa selama ini," bisik Sherina di sela isak tangisnya, suaranya penuh ketulusan dan kepedihan. "Maafkan aku karena membuatmu memikul beban seberat ini sendirian selama bertahun-tahun. Maafkan aku karena tidak datang lebih awal untuk berbagi rasa sakit itu."
Ia melepaskan pelukannya sebentar, lalu menatap lurus ke manik mata Arsya yang masih berair dan kabur karena demam.
"Kau tidak hancur, Arsya. Kau tidak rusak. Dan kau sama sekali tidak pantas di sebut tidak berharga," ucap Sherina tegas namun lembut, menatapnya dengan pandangan penuh cinta yang tulus dan mendalam. "Tanganmu ini... setiap jari yang ada dan yang hilang di sini... adalah bukti bahwa kau selamat dari maut, bukti bahwa kau kuat bertahan melewati neraka itu. Bagi aku, tanganmu ini adalah tangan yang paling indah, paling berharga, dan paling aku sukai di dunia ini. Karena tangan inilah yang dulu merawatku saat aku sakit, tangan inilah yang menuntunku bekerja, tangan inilah yang selalu ada untukku."
Ia mengusap pipi Arsya lagi, menghapus sisa air matanya.
"Dan dengarkan baik-baik... kehadiranmu di hidupku bukanlah sesuatu yang buruk, Arsya. Kau adalah anugerah terindah yang pernah aku dapatkan. Kau adalah kebahagiaanku. Kekurangan fisikmu, masa lalumu yang kelam, rasa sakitmu... semuanya itu tidak akan pernah mengurangi rasa sukaku padamu sedikit pun. Aku menyukaimu seutuhnya, dengan segala yang ada padamu, dengan segala yang kau bawa. Dan aku tidak akan pernah pergi. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian lagi. Mulai sekarang, rasa sakitmu adalah rasa sakitku. Bebanmu adalah bebanku. Dan kebahagiaanmu adalah tujuan hidupku."
Arsya yang sudah mulai lelah dan terbuai rasa kantuk akibat demam serta kelegaan karena akhirnya bisa mengeluarkan segalanya, menatap wajah Sherina dengan pandangan yang penuh rasa syukur, rasa lega, dan rasa cinta yang tak terhingga. Kata-kata itu menembus jauh ke dalam hatinya, menyembuhkan luka yang selama ini bernanah dan menganga. Perlahan, ia tersenyum tipis, senyum yang paling damai dan lega yang pernah ia berikan selama bertahun-tahun, lalu perlahan memejamkan matanya.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan mengerikan itu, Arsya merasa tidak lagi sendirian memikul beban masa lalu yang berat itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa diterima sepenuhnya, dicintai tanpa syarat, dan merasa berharga kembali. Di sampingnya, Sherina tetap duduk setia, menggenggam tangan kanan Arsya yang cacat itu dengan lembut namun erat, seolah berjanji dalam hati untuk selamanya menjaga, mencintai, dan mendampingi sosok yang kini ia tahu betapa suci dan tegar hatinya itu. Malam itu, di antara air mata dan cerita kelam, benih-benih cinta mereka tumbuh menjadi akar yang jauh lebih kuat, kokoh, dan tak tergoyahkan oleh apa pun lagi.