"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"
Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.
Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.
Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Ancaman dari Takhta Tertinggi
Sore menjelang, bias cahaya jingga matahari mulai menerobos masuk melalui celah gorden kamar tamu lantai bawah. Alin perlahan membuka sepasang matanya, terbangun dari tidur siangnya yang terasa cukup nyenyak setelah terkuras emosi sejak subuh. Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, menyugar rambut panjangnya yang hitam pekat, lalu merapikan tunik abu-abu gelapnya yang sedikit kusut. Setelah membasuh wajahnya di kamar mandi hingga kembali segar, ia bergegas melangkah keluar menuju kamar Nenek Aisyah yang berada tidak jauh dari sana.
Namun, begitu Alin membuka pintu kamar sepuh tersebut, pemandangan di dalam ruangan seketika membuat langkah kakinya tertahan sejenak. Di sana, tepat di sisi kanan ranjang jatinya, ada Elang yang sedang duduk tegak di atas kursi kayu. Pria dengan kemeja biru tua yang lengannya sudah digulung hingga siku itu tampak sedang fokus mengupas sebutir jeruk dengan pisau kecil di tangannya.
Mendengar suara pintu dibuka, Elang mendongak. Sepasang mata elangnya yang tajam seketika beradu dengan manik mata bulat milik Alin. Alin melengos dengan gerakan yang sangat kaku, memutus kontak mata itu tanpa sudi membalas tatapan suaminya. Ia melangkah anggun mendekati sisi kiri ranjang, lalu duduk dengan lembut di tepi kasur dekat bantal Nenek Aisyah.
"Bagaimana keadaan Nenek sekarang? Sudah merasa agak mendingan?" tanya Alin, nada suaranya berubah drastis menjadi teramat lembut, hangat, dan penuh perhatian, berbanding terbalik dengan sikap dinginnya pada Elang.
Nenek Aisyah yang bersandar pada tumpukan bantal melempar senyum lemah. "Nenek masih merasa lemas, Nduk ... rasanya seperti orang yang kecapean setelah jalan jauh."
Alin mengusap punggung tangan kurus sang nenek dengan telaten. "Nenek harus banyak istirahat sekarang, jangan banyak pikiran lagi ya, Nek? Segala urusan di luar biar Alin yang bantu urus. Oh iya, Nek ... Alin pamit mau ke dapur belakang sebentar ya? Alin ingin masak buat makan malam Nenek."
Nenek Aisyah mengangguk perlahan, matanya melirik sekilas pada Elang yang masih mematung memegang pisau kupas, lalu kembali menatap Alin dengan binar penuh sayang. "Iya, Nduk, silakan. Masaklah apa yang kamu mau di belakang."
Nenek Aisyah mempersilakan dengan cepat karena ia tahu dan paham betul dari bahasa tubuh cucu menantunya yang tampak sama sekali tidak mau berlama-lama melihat atau berada di dalam satu ruangan dengan suaminya yang telah berkhianat.
Begitu Alin memutar tubuhnya dan melangkah keluar menutup pintu kamar dengan rapat, keheningan yang mencekik mendadak kembali membentang luas di antara nenek dan cucu tersebut. Elang meletakkan jeruk yang baru setengah dikupasnya ke atas piring kecil, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Nenek ..."
"Elang, dengarkan Nenek baik-baik," potong Nenek Aisyah dengan suara yang parau namun sarat akan nada dingin yang teramat tegas, memutus kalimat cucunya sebelum sempat dimulai. Posisinya yang semula bersandar rileks kini menegak, memancarkan wibawa penuh sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di keluarga besar. "Nenek tidak main-main dengan ucapan Nenek sejak semalam. Jika kamu tetap bersikeras mempertahankan mantan kekasihmu itu tinggal di rumah baru kalian ... hanya karena ada anak kecil yang katanya adalah anak kandungmu ...."
Nenek Aisyah menjeda kalimatnya sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata Elang dengan sorot tajam yang menghancurkan sisa-sisa keangkuhan sang cucu. "... maka besok pagi-pagi sekali, Nenek sendiri yang akan mengadakan rapat komisaris mendadak di yayasan dan korporasi milik Nenek! Nenek akan mencopot seluruh posisimu sebagai CEO! Kamu tidak layak memegang jabatan tertinggi itu jika mengurus moral dan rumah tanggamu saja kamu gagal total!"
Deg.
Hantaman kalimat sang nenek seolah membuat pasokan oksigen di paru-paru Elang mendadak lenyap. Pria berusia tiga puluh tahun itu menarik napasnya dalam-dalam dengan rahang yang mengatup rapat, mencoba menahan gejolak penolakan yang membakar dadanya.
"Tapi, Nek! Perusahaan baru itu bisa berkembang pesat dan sebesar ini berkat kerja kerasku selama ini! Aku yang memeras keringat siang dan malam untuk membangun sistemnya dari nol, Nek! Aku tidak terima kalau Nenek mencopot jabatanku begitu saja hanya karena masalah pribadi ini!" protes Elang, suaranya meninggi menahan rasa frustrasi yang teramat sangat.
"Kalau begitu, lepaskan Cindy!" sahut Nenek Aisyah telak, suaranya naik satu oktaf tanpa ada keraguan sedikit pun. "Usir perempuan ular itu dari rumah kalian jika kamu masih ingin memegang takhta dan masa depan perusahaanmu! Hidup ini adalah pilihan, Elang. Tidak ada yang gratis di dunia ini."
Nenek Aisyah mencengkeram sisi sprei kasurnya dengan tangan yang gemetar akibat emosi. "Kalau kamu memang masih sayang pada Nenek, dan masih menghargai nyawa Nenek yang sudah ringkih ini, ikuti perintah Nenek untuk menjaga martabat Alin sebagai istri sahmu! Tapi, jika kamu masih keras kepala ingin mempertahankan Cindy dan anak itu di bawah atapmu ... silakan terima konsekuensinya besok pagi! Angkat kakimu dari kursi CEO dan hiduplah melarat bersama wanita pilihanmu itu!"
Elang terdiam membisu, napasnya memburu kencang dengan dada yang kembang kempis. Ancaman sang nenek bukan sekadar gertakan sambal, ia tahu betul bagaimana kuasanya Nenek Aisyah atas seluruh aset keluarga besar mereka.
"Lagipula, Elang ..." Nenek Aisyah terkekeh sinis, menatap cucunya dengan pandangan meremehkan. "Kenapa kamu bisa langsung percaya begitu saja kalau anaknya Cindy itu adalah anak kandungmu? Memangnya kamu sudah melakukan tes DNA secara resmi? Memangnya kamu sudah memegang bukti medis yang sah?"
Pertanyaan beruntun dari sang nenek seketika membuat Elang bungkam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu, membeku di dalam rongga mulutnya. Pikirannya mendadak berputar liar mengingat bagaimana histerisnya Cindy semalam saat menyerahkan Ega ke pelukannya di gedung pernikahan, tanpa pernah ada selembar kertas laboratorium pun yang melampirinya.
Di dalam kamar utama yang sunyi itu, Elang merasakan sebuah beban yang teramat berat menghimpit kedua pundaknya. Pilihannya terasa begitu dilematis, menjepitnya di antara posisi puncak perusahaan yang baru saja berkembang pesat di bawah kendalinya, atau wanita masa lalu yang ia klaim masih sangat ia cintai di rumah baru mereka. Belum lagi, ia baru saja menghadapi watak asli Alin yang ternyata sangat keras, tajam, dan siap meledak menjadi sosok barbar jika posisinya diganggu. Elang menyadari, posisinya sebagai pria berkuasa kini tidak lagi memiliki arti apa-apa di hadapan benteng kokoh yang dibangun oleh dua wanita di dalam rumah besar ini.
Bersambung ...