(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Sebuah pelajaran
Raka berdiri terpaku di ambang pintu, dadanya terasa sesak saat melihat wanita yang selama ini hanya hidup dalam ingatannya kini tampak begitu rapuh di hadapannya. Rambut sang ibu terlihat lebih tipis, wajahnya pucat, dan tubuhnya jauh lebih kurus dibanding terakhir kali ia melihatnya bertahun-tahun lalu.
“Mama...” suara Raka kembali terdengar lirih, kali ini lebih berat.
Nyonya Shanum berkedip beberapa kali, seolah berusaha memastikan bahwa sosok di hadapannya bukan sekadar mimpi yang selama ini terlalu sering ia harapkan, tangannya yang sedikit gemetar perlahan terangkat.
“Raka... ini benar kamu?” tanyanya pelan dengan suara bergetar.
Langkah kaki Raka terasa berat, tetapi akhirnya ia berjalan mendekat, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa takut yang aneh di dalam dirinya. Takut jika semua ini hanya sesaat, takut melihat seberapa besar luka yang telah ia tinggalkan untuk sang Ibu.
“Iya, Ma...” jawabnya lirih sambil berlutut di sisi ranjang. “Raka sudah pulang.”
Kalimat sederhana itu seolah meruntuhkan seluruh pertahanan wanita paruh baya tersebut, air mata mengalir semakin deras di pipinya. Dengan tangan gemetar, Nyonya Shanum menyentuh wajah putranya perlahan, seakan takut sosok di depannya akan menghilang jika disentuh terlalu keras.
“Kamu benar-benar pulang...” gumamnya lirih. “Mama pikir kamu masih marah... Mama pikir kamu nggak akan pernah mau lihat Mama lagi.”
Raka menundukkan kepala, tenggorokannya terasa tercekat.
“Maaf...” ucapnya pelan. “Raka terlalu keras kepala.”
Wanita itu langsung menggeleng cepat meski tubuhnya tampak lemah. “Jangan bilang begitu,” katanya terbata. “Mama cuma takut kehilangan kamu saja, nak.”
Raka menggenggam tangan ibunya erat, untuk sesaat, semua luka yang baru saja ia alami seperti tertahan di belakang rasa bersalah yang jauh lebih besar.
Tatapannya tanpa sadar jatuh pada meja kecil di samping ranjang, di sana terdapat beberapa botol obat, tumpukan hasil pemeriksaan rumah sakit, dan sebuah bingkai foto lama yang menampilkan dirinya saat masih remaja sedang berdiri di antara kedua orang tuanya.
Sudut bingkainya sedikit aus, Raka menelan ludah pelan. “Mama sakit sejak kapan?” tanyanya dengan suara rendah.
Nyonya Shanum tersenyum kecil, berusaha terlihat baik-baik saja.
“Nggak separah itu,” jawabnya pelan. “Mama cuma kecapean aja.”
Namun sebelum Raka sempat berkata apa-apa, suara lain tiba-tiba terdengar dari belakang pintu.
“Capek karena tiap malam nangis mikirin seorang anak yang keras kepala.”
Suara berat itu membuat suasana seketika berubah, Raka menoleh perlahan.
Di ambang pintu, seorang pria paruh baya berdiri dengan jas rumah sederhana, tangan dimasukkan ke saku, wajah tegasnya tampak dingin seperti biasa.
Namun ada sesuatu yang berbeda malam ini, sorot mata itu terlihat lelah. Tuan Rendra Pradipta berdiri diam menatap putranya yang sudah bertahun-tahun menghilang.
Beberapa detik berlalu tanpa suara, lalu pria itu menarik napas pelan. “Akhirnya pulang juga kamu,” ucapnya datar.
Tidak ada sambutan hangat, bahkan tidak ada pelukan.
Tetapi untuk seseorang seperti Rendra Pradipta, kalimat itu saja sudah terdengar seperti sesuatu yang selama bertahun-tahun sulit ia ucapkan.
Raka perlahan berdiri dari sisi ranjang. Tatapannya bertemu dengan sang ayah yang masih berdiri di depan pintu dengan ekspresi sulit ditebak. Waktu terasa berjalan lambat di antara keduanya. Bertahun-tahun tidak bertemu, terlalu banyak amarah, gengsi, dan kesalahpahaman yang belum pernah benar-benar selesai.
Nyonya Shanum langsung mengusap air matanya cepat.
“Mas, jangan marah,” ucapnya lirih sambil menatap suaminya penuh harap. “Tolong...”
Tuan Rendra mengembuskan napas panjang lalu melangkah masuk ke kamar. Tatapan matanya sempat berhenti pada putranya beberapa detik sebelum akhirnya mengalihkan perhatian pada sang istri.
“Aku tidak marah,” jawabnya singkat.
Namun nada suaranya justru terdengar lebih berat dari biasanya.
Raka mengepalkan tangan pelan. “Papa...”
“Aku pikir kamu sudah lupa jalan untuk pulang,” potong Tuan Rendra datar.
Kalimat itu membuat suasana kembali hening.
Selina yang berdiri di dekat pintu hanya diam sambil menyandarkan tubuh ke dinding. Bahkan Jack memilih menundukkan kepala, sadar bahwa momen ini terlalu pribadi untuk disela.
Raka menunduk sesaat sebelum akhirnya berkata pelan, “Maaf.”
Satu kata itu membuat Tuan Rendra sedikit mengernyit.
Selama hidupnya, Raka hampir tidak pernah meminta maaf dengan mudah, apalagi setelah pertengkaran besar yang membuatnya meninggalkan rumah.
Namun pria tua itu tetap mempertahankan wajah tegasnya.
“Kamu pergi tanpa kabar selama bertahun-tahun,” katanya pelan namun tajam. “Ibumu sakit, perusahaan kacau, keluarga besar mulai berebut posisi, dan kamu lebih memilih untuk hidup demi seseorang yang bahkan tidak pantas untuk diperjuangkan.”
Raka terdiam dan tidak ada bantahan seperti biasanya. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa ayahnya mungkin benar.
Tuan Rendra menatap putranya lebih lama. Penampilan sederhana itu membuat rahangnya sedikit mengeras. Sandal usang, pakaian lusuh, tubuh yang tampak lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.
“Kamu terlihat menyedihkan,” ucapnya dingin.
Nyonya Shanum langsung menatap tajam suaminya.
“Mas!”
Namun anehnya, Raka justru tersenyum tipis.
“Memang,” jawabnya lirih. “Kayaknya selama ini aku memang terlalu bodoh.”
Selina sampai sedikit mengangkat alis, tidak menyangka pria keras kepala di hadapannya akan mengakui hal seperti itu.
Tuan Rendra menyipitkan mata tipis. “Apa akhirnya kamu sadar?”
Raka menarik napas panjang lalu menatap ayahnya lurus untuk pertama kali setelah sekian lama. “Rasti selingkuh.”
Kalimat itu membuat Nyonya Shanum langsung menutup mulutnya pelan.
Selina mendecak kecil sambil memalingkan wajah.
“Sudah kuduga,” gumamnya.
Sedangkan Tuan Rendra hanya diam, tidak terkejut dan seperti sudah menduga semuanya akan berakhir seperti ini dan seolah informasi itu justru sesuatu yang sudah lama ia ketahui.
Raka menangkap ekspresi itu dan langsung mengernyit.
“Papa tahu?”
Tuan Rendra berjalan pelan menuju jendela sebelum akhirnya berkata tanpa menoleh, “Aku tahu anakku sedang menghancurkan hidupnya sendiri. Tentu saja aku akan cari tahu.”
Raka terdiam.
“Aku sengaja tidak terlalu ikut campur,” lanjut pria itu. “Karena aku pikir suatu hari kamu akan sadar sendiri. Tapi jujur saja, aku tidak menyangka kamu bisa bertahan selama itu diperlakukan dengan buruk, oleh wanita itu.”
Nada suaranya tetap dingin, tetapi ada sesuatu yang samar terdengar di baliknya.
Nyonya Shanum menggenggam tangan Raka erat.
“Sudah lah,” ucapnya lembut dengan mata berkaca-kaca. “Sekarang kamu sudah pulang. Mama nggak mau kehilangan kamu lagi.”
Raka menunduk pelan, untuk pertama kalinya setelah malam panjang itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Tuan Rendra membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan itu, di luar kamar ia meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
“Buat pelajaran untuk keluarga mereka,” ucapnya pada seseorang di sebrang telpon.
Setelah itu ia menutup ponselnya, dan melangkah menuju ruang kerjanya.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km