NovelToon NovelToon
Unbound By Royalty

Unbound By Royalty

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Alin dikirim ke negara asing untuk menjadi tenaga sukarelawan, negara berbentuk monarki. Terlibat percintaan yang dalam dengan sang pangeran. Pangeran yang mencintainya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Namun takdir harus memilih antara tahta dan wanita. Disaat sistem monarki menuntutnya meneruskan kerajaannya, namun Alin hanya ingin hidup bebas tanpa terikat norma dan adat dibalik tembok besar. Akankah cinta mereka berakhir bersama atau justru melepaskan satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 : Mendekat

“Kau sudah pulang? Bagaimana keadaan mu?” Tanya Yuhan saat menjawab panggilan video dari adiknya.

“Aku sudah diwisma ku lagi. Sudah sangat baik, besok aku akan kembali bekerja…”

“Kau yakin?” Nadanya terdengar sangsi.

“Ya… besok aku hanya menerima jadwal kontrol pasien rawat jalan. Tidak berat.”

“Apa dia mengantarmu?”

“Siapa?” Tanya Alin yang kini memutar kamera belakangnya dan menyoroti Rei yang tengah membawa masuk koper kecil Alin.

“Apa yang kau lakukan?” Kesal Yuhan meradang saat melihat seorang pangeran justru dijadikan pelayan oleh Alin yang malah asyik berbaring di sofa.

“Apa?! Kau yang menyuruhnya menjaga ku. Jadi dia yang mengantar ku.”

“Bukan begitu Lin…” Yuhan terlihat menghela nafas, pusing dengan sikap adiknya, “Bisakah kau tidak merepotkannya. Jangan mempersulitnya.”

“Tidak apa Tuan Zhang. Aku baik-baik saja.” Senyum hangat Rei menenangkan ketegangan Yuhan, “Aku pastikan adikmu aman. Kau tidak perlu khawatir.”

Yuhan semakin tidak habis pikir kenapa pangeran itu belum memberitahu jati dirinya.

“Kakak, profesor Alan menghubungi ku. Sudah dulu ya…”

BIP BIP

Alin segera menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan baru. “Ya, Prof—”

“APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Teriakan menggelegar Profesor Alan spontan membuat Alin menjauhkan ponsel dari telinganya. Napas sang profesor terdengar memburu di seberang sana.

“Yi... apa kau serius melakukannya? Kenapa tidak diskusi dulu denganku?”

“Di... diskusi?” Alin mendadak gugup. “Ini mengenai hal apa, Profesor?” tanyanya takut-takut.

Baru kali ini Rei melihat Alin yang biasanya keras kepala dan dominan, mendadak tunduk dan ciut pada seseorang.

“Tidak, Prof. Aku tidak mengirimkannya. Aku bahkan belum memutuskan untuk mendaftar...” Kalimat Alin menggantung.

Ia terperanjat saat jemarinya membuka laptop. Di layar monitor, sebuah surel resmi dari Universitas Kerajaan Xinglan berkedip, menyatakan bahwa ia lolos untuk melanjutkan studi spesialis bedah umumnya.

“Aku rasa ini ada kekeliruan, Prof. Aku merasa belum mengirim berkas itu. Bahkan aku belum mengikuti tesnya sama sekali.”

“Belum? Belum katamu?! Jadi kau memang terpikirkan untuk melanjutkan studi di sana tanpa berdiskusi denganku?!”

Alin kembali tertunduk, merutuki dirinya yang salah bicara. Hampir sepuluh menit lamanya ia pasrah diceramahi oleh Profesor Alan. Dan selama itu pula, Rei hanya berdiam diri duduk, menahan senyum geli melihat sang dokter tangguh yang kini takluk tak berkutik.

Alin meletakkan ponselnya, lalu kembali menyisir pesan keluar serta draf yang tersimpan di email. Sambil duduk lesehan di depan sofa, ia menatap layar laptop dengan kening berkerut, tampak bingung.

“Ada apa?” tanya Rei yang datang menghampiri sambil membawa piring berisi potongan buah.

“Ini,” Alin menunjuk sebuah email masuk dari Yayasan Xinglan. “Aku merasa belum mengirimkan berkasnya, tapi kenapa mereka bilang aku sudah lolos seleksi?” Alin menerima potongan buah yang disodorkan Rei, lalu mengunyahnya pelan.

Rei melirik layar laptop. Di sana tertera tenggat waktu yang sebenarnya masih cukup lama untuk mengirimkan lima berkas pendaftaran ke kampus bergengsi tersebut—tempat yang biasanya sangat sulit ditembus.

“Mungkin kau sudah menyetel jadwal pengiriman otomatis tanpa sadar?” tebak Rei.

“Iya tapi untuk dikirim akhir bulan.”

“Jadi, kau berniat meneruskan gelarmu di sana?” tanya Rei lagi sembari kembali menyuapi Alin.

“Entahlah. Aku mendaftar ke lima tempat, dan Yayasan Xinglan sebenarnya ada di urutan terakhir karena lokasinya paling jauh dari negaraku,” Alin melahap suapan buah berikutnya. “Tapi aku yakin sekali baru akan mengirimnya akhir bulan nanti, bersamaan dengan berkas lainnya.”

Alin menoleh pada pria di sampingnya. “Ah, bukankah kau ketua yayasannya? Masa kau tidak tahu hal-hal seperti ini?”

Rei hanya menggeleng santai. “Aku tidak mengurusi bagian penyeleksian.”

“Apa tidak ada tes atau semacamnya? Aku bahkan dapat beasiswa penuh sampai lulus,” gumam Alin makin heran.

Rei mengambil alih laptop Alin, berpura-pura memeriksa profil wanita itu. Padahal, ia sendiri yang memerintahkan Yuchen untuk meretas email Alin dan meloloskan seluruh rangkaian uji masuk tanpa perlu prosedur rumit.

“Kalau melihat nilai dan deretan penghargaanmu, kurasa wajar jika kau lolos tanpa tes,” puji Rei.

“Hmm...” Alin tampak mulai terbujuk. “Kau benar. Bahkan kampus peringkat pertama di dunia saja sudah meminta berkas-berkasku sejak tahun lalu.”

Alin menyandarkan punggung ke sofa. “Apalagi cuma yayasanmu.”

Rei tersenyum simpul, ucapan Alin selalu berhasil memancing tawa kecilnya. “Apa ada yang salah dengan yayasanku? Kau tahu, Yayasan Xing itu peringkat ketiga di dunia, mengalahkan jutaan yayasan pendidikan lainnya.”

“Ah, iya juga, sih.”

Rei tiba-tiba memasang wajah jahil. “Tapi aku ragu. Apa seharusnya kau ikut tes saja? Sepertinya kau tidak sepintar itu.”

“Apa maksudmu?! Daftar prestasi yang kucantumkan itu baru setengahnya saja!” protes Alin tidak terima.

“Tidak. Menurutku kau tetap bodoh.” Balasnya mengingat Alin bahkan terlalu bodoh menyadari Rei adalah pangeran negara Xinglan.

“Jaga ucapanmu! Aku susah payah belajar, bisa-bisanya kau bilang aku bodoh!” Alin mulai menghujani Rei dengan pukulan bantal sofa berkali-kali.

“Aku rasa kau bukan tandinganku! Apa orang tuamu tidak mengajarimu dengan benar?” omel Alin kesal.

“Hahaha, iya, maafkan aku. Sudah, jangan marah lagi.” Rei menangkap kedua tangan Alin, lalu menariknya lembut ke dalam dekapannya

Seketika suasana berubah. Detak jantung Rei berpacu cepat. Alin begitu dekat; tubuh wanita itu terasa hangat dan tampak mungil dalam pelukannya. Tiba-tiba, suara detak jantung dari smartwatch milik Rei mulai berbunyi nyaring—kali ini ia sengaja tidak mematikannya seperti saat mereka berada di balon udara.

Alin terdiam, pandangannya jatuh ke pergelangan tangan Rei. Suara peringatan itu semakin cepat, beradu dengan detak jantung Alin sendiri yang mulai kehilangan kendali.

“Kau tidak bodoh untuk mengetahui alasan kenapa jantungku berdetak secepat ini, kan, Alin?” bisik Rei, membuat Alin semakin gugup.

“Ini selalu terjadi tiap kali aku berada di dekatmu. Aku tidak tahu cara menghentikannya.”

“Yang aku tahu, jika kau terluka, aku akan merasa sesak. Jantungku rasanya seperti mau berhenti berdetak, terutama saat kau mengusirku dan memintaku menjauh.”

Alin menunduk, tak mampu berkata-kata. Ia sedang berusaha keras mengatur napasnya sendiri yang kian memburu.

“Jika kau tahu cara menghentikan degup ini tanpa membuatku harus menjauh darimu, katakan padaku. Aku sulit mengontrolnya sendiri,” gumam Rei sembari mengeratkan pelukannya.

“Rei, a-aku...”

“Apa kau juga merasakan hal yang sama?”

Alin membeku. Wajah Rei perlahan mendekat. Begitu dekat hingga bibir pria itu nyaris menyentuh sudut bibir Alin. Mata Rei seolah mengunci seluruh dunianya, hanya ada bayangan Alin di sana, begitu pun sebaliknya.

“Izinkan aku mendekatimu,” bisik Rei lembut, napas hangatnya menerpa bibir Alin.

Bibir mereka hampir bersentuhan, namun Rei menahan diri. Ia tidak ingin mencium Alin tanpa izin.

“Bolehkah?” tanya Rei lagi, menyisakan jarak hanya satu sentimeter di antara mereka.

KLAK

“Tuan Rei, ada hal penting untuk…”

Alin spontan mendorong tubuh Rei hingga pelukan mereka terlepas. Rei menoleh, menatap Yuchen yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan tajam yang seolah ingin membunuh asistennya itu.

“Ma-maafkan saya!” Yuchen bergegas mundur dan keluar. Ia merutuki diri sendiri karena telah merusak momen berharga sang Pangeran yang sudah bersusah payah mendekati wanita pujaannya.

“Kembalilah. Sepertinya ada hal penting yang ingin Yuchen sampaikan,” ujar Alin canggung.

Rei tersenyum melihat kegugupan Alin. Wajah wanita itu merah padam—perpaduan antara malu dan sisa-sisa debaran tadi. Rei tahu persis apa yang Alin rasakan.

“Kau tidak apa-apa jika kutinggal?”

“Ya... lagipula kau tidak mungkin menginap di sini. Besok pagi aku juga harus mulai bekerja.”

“Jangan terlalu memaksakan diri,” pesan Rei sambil beranjak berdiri.

“Aku mengerti.”

Rei diam-diam menikmati ekspresi gugup Alin, terutama saat wanita itu menggigit bibir bawahnya. Ada keinginan liar untuk kembali mendekat, namun ia menahannya.

“Alin... jika terjadi sesuatu, apa kau bisa menghubungiku?”

Alin hanya mengangguk pelan sembari membukakan pintu untuknya.

“Selamat malam, Alin.”

“Selamat malam, Rei,” jawab Alin dengan senyum yang akhirnya mengembang.

Malam itu, Rei melangkah pergi dengan perasaan ringan. Kesalahpahaman yang sempat memicu pertengkaran di antara mereka akhirnya mencair.

“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu?” ketus Rei saat menemui Yuchen di luar.

“Maafkan saya, Yang Mulia.”

“Sudahlah. Aku sedang senang karena dia mau menerimaku lagi. Sekarang katakan, ada masalah apa?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!