NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Diandra tidak pernah menjadi wanita yang pasrah menerima raga barunya ditindas.

Meskipun tubuh mungil Gia masih terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya, jiwanya yang membara sebagai Diandra sudah bangkit sepenuhnya.

Rasa sakit di tengkuk akibat hantaman balok kayu semalam seolah menguap, digantikan oleh dinginnya fokus untuk menghancurkan musuh-musuhnya.

Di atas pangkuannya, sebuah laptop hitam khusus dengan spesifikasi militer terpasang rapi.

Laptop itu dibawakan langsung oleh Pratama atas permintaannya beberapa jam yang lalu, terhubung dengan jaringan satelit privat yang tidak bisa dilacak oleh protokol keamanan siber standar mana pun.

Jari-jemari Diandra mulai bergerak lincah di atas papan ketik.

Suara klik yang ritmis memenuhi ruang rawat intensif yang sunyi.

Menggunakan kemampuan taktis dan logika matematikanya yang superior, ia mulai melakukan penetrasi ke dalam sistem internal jaringan cangkang logistik milik Mita.

"Kamu pikir perusahaan cangkang di luar negeri bisa menyembunyikan busukmu, Mita?" bisik Diandra dengan senyum sinis yang mendinginkan udara sekitar.

Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh menit bagi Diandra untuk menjebol enkripsi berlapis yang membentengi data keuangan Mita.

Di layar monitor, barisan angka biner mulai tersusun ulang, membuka gerbang menuju berkas-berkas rahasia: aliran dana ilegal, pemalsuan tanda tangan aset pasca-kecelakaan Diandra yang asli, hingga manifest pengiriman barang dari perusahaan logistik palsu yang digunakan untuk mendanai para eksekutor pembakaran rumah petak semalam.

Diandra mengirimkan seluruh salinan data matang itu ke surel pribadi Pratama dan Tuan Bayu.

Langkah pertama pembalasan telah selesai dieksekusi secara digital.

Jerat tak kasat mata kini telah mengunci targetnya.

Sementara itu, di kantor pusat Pratama Group, matahari pagi bersinar terang menyinari fasad gedung pencakar langit yang megah.

Mita melangkah turun dari mobil sedan mewahnya dengan keangkuhan yang luar biasa.

Ia mengenakan setelan kerja bermerek dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.

Setiap langkah kakinya di atas lantai marmer lobi utama terdengar tegas dan penuh percaya diri. Berita di media massa yang menyatakan Gia berada dalam kondisi koma kritis tanpa harapan sembuh telah menjadi vitamin terbaik bagi ego dan ambisinya pagi ini.

Para karyawan yang berpapasan dengannya langsung menunduk hormat, menambah rasa superioritas yang membumbung tinggi di dalam dada Mita.

Ia merasa telah berhasil menyingkirkan Diandra dan kini ia berhasil menyingkirkan Gia—anak magang sialan yang sempat mengancam posisinya.

Mita berjalan angkuh memasuki lift eksekutif, menekan tombol menuju lantai tertinggi tempat ruang kerja para petinggi korporasi berada.

Ia merapikan rambutnya di depan cermin lift sambil tersenyum puas, membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan mengambil alih seluruh proyek IT strategis perusahaan.

Ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa tepat di bawah lantai yang ia injak, jerat hukum yang paling kejam dan takdir kematian karier serta kebebasannya sudah dipasang rapi oleh Diandra dan Pratama.

Setiap langkah anggunnya pagi ini sebenarnya bukan menuju puncak kejayaan, melainkan langkah kaki yang membawanya masuk semakin dalam ke ruang eksekusi yang telah disiapkan untuk menghancurkannya hingga tak tersisa.

Setelah mengirimkan berkas-berkas krusial itu ke surel Pratama dan Tuan Bayu, Diandra menarik napas panjang.

Ia hendak menutup laptop di pangkuannya ketika matanya menangkap gerak-gerik aneh dari Pratama yang sejak tadi duduk setia di samping ranjangnya.

Pria itu mencoba berdiri untuk mengambilkan segelas air hangat untuknya. Namun, saat tubuh tegap itu bergerak, Pratama seketika menghentikan langkahnya.

Rahangnya mengencang, dan sebuah rintihan tertahan lolos dari bibirnya yang memucat. Keringat dingin tampak bercucuran di pelipis sang CEO.

Diandra mengernyitkan dahi. Tatapannya turun ke arah punggung Pratama.

Di balik kemeja hitam yang sengaja dilonggarkan, ia melihat siluet perban putih tebal yang membalut tubuh suaminya dari pundak hingga ke pinggang bawah.

Di beberapa bagian, samar-samar terlihat noda cairan obat yang merembes.

Seketika itu juga, ingatan Diandra terlempar pada malam mencekam di dalam rumah petak yang terbakar.

Di tengah kepungan asap dan api yang melahap segalanya, ia samar-samar mendengar suara kayu yang runtuh, diikuti erangan berat dari pria yang mendekapnya dengan begitu erat.

"Mas..." panggil Diandra, suaranya mendadak bergetar.

"Buka kemejamu."

Pratama menoleh, berusaha memaksakan sebuah senyuman tipis untuk menenangkan istrinya.

"Aku tidak apa-apa, Sayang. Hanya luka gores kecil karena puing—"

"Aku bilang buka, Mas Pratama!" potong Diandra dengan nada menuntut yang tidak bisa dibantah. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.

Pratama menghela napas pasrah. Dengan perlahan dan sangat hati-hati agar tidak menarik kulitnya yang melepuh, ia membuka kancing kemejanya dan membalikkan tubuh.

Saat melihat punggung suaminya secara langsung, pertahanan Diandra runtuh seketika. Perban putih itu menutupi luka bakar yang sangat luas.

Diandra tahu betul, jika Pratama tidak memutar tubuhnya malam itu untuk menjadikannya tameng hidup, maka raga Gia saat ini pastilah sudah hangus tak tersisa.

Pratama telah mempertaruhkan nyawanya sendiri demi menyelamatkannya.

Air mata Diandra luruh membasahi pipinya. Ia mengulurkan tangannya yang gemetar, ingin menyentuh perban itu namun mengurungkannya karena takut menyakiti Pratama.

"Kenapa kamu sebodoh ini, Mas?" bisik Diandra di antara isak tangisnya yang pecah.

"Punggungmu, pasti sangat sakit. Kenapa kamu nekat menerobos api sebesar itu hanya untuk raga yang bahkan bukan milikku yang asli?"

Pratama berbalik kembali menghadap istrinya. Ia berlutut di samping ranjang, lalu meraih kedua tangan Diandra dan mengecupnya dengan sangat lembut.

Tatapan matanya memancarkan cinta yang begitu dalam dan tulus, menghapus segala jarak dan raga yang memisahkan mereka.

"Dengar aku, Diandra," ucap Pratama dengan suara rendah yang sarat akan emosi.

"Aku tidak peduli raga apa yang kamu pakai saat ini. Mau itu Diandra yang dulu, atau Gia yang sekarang, karena di dalam tubuh ini ada jiwamu. Ada separuh hidupku. Jika aku harus membiarkan seluruh tubuhku terbakar hanya agar bisa memelukmu sekali lagi, aku bersumpah akan tetap melakukannya tanpa ragu."

Mendengar penuturan itu, Diandra tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya.

Ia menarik leher Pratama dengan hati-hati, membenamkan wajahnya di pundak suaminya, dan menangis sejadi-jadinya.

Pratama membalas pelukan itu dengan sangat lembut, menaruh dagunya di atas kepala Diandra sambil memejamkan mata, menikmati detak jantung istrinya yang masih berdenyut nyata.

Momen emosional yang penuh air mata dan rasa cinta yang mendalam itu mengalir hangat di antara keduanya, menguatkan kembali ikatan jiwa mereka yang sempat terenggut takdir. Namun, di balik air mata itu, Diandra perlahan menghapus tangisnya.

Tatapan matanya kembali berubah menjadi sedingin es.

Pelukan hangat Pratama dan luka bakar di punggung suaminya telah menjadi bahan bakar terakhir bagi amarah Diandra.

"Mita, Ferdian. Aku akan membalas semuanya," ucap Diandra dalam hati.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!