NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Mobil sedan mewah itu meluncur mulus memasuki gerbang besi tinggi yang menuju ke kediaman utama keluarga Dewangga. Rumah besar itu tampak seperti istana modern dengan pilar-pilar megah dan pencahayaan eksterior yang dramatis. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, suasana terasa begitu mencekik. Dewangga duduk di balik kemudi dengan wajah tanpa ekspresi, sementara Siham duduk di sampingnya, mengenakan gaun sutra berwarna nude yang sangat elegan namun terasa seperti kain kafan yang membungkus jiwanya.

​"Ingat, Siham," suara Dewangga memecah keheningan dengan nada rendah yang penuh peringatan. "Jangan tunjukkan wajah kusammu itu di depan Mama. Bersikaplah seperti biasa. Aku tidak mau Mama mencemaskan hal-hal yang tidak penting."

​Siham hanya menatap lurus ke depan, jemarinya meremas tas tangan kecilnya. "Aku sudah terbiasa mengedit wajahku, Mas. Kau tidak perlu khawatir."

​Begitu pintu mobil terbuka, suasana berubah 180 derajat. Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Mama Dewangga, seorang wanita sosialita yang tetap tampak awet muda, langsung menghambur memeluk Siham dengan hangat.

​"Siham! Menantu kesayangan Mama akhirnya datang!" seru Mama Dewangga sembari mencium kedua pipi Siham. "Duh, kamu makin cantik, tapi kok agak kurusan? Dewangga nggak telat kasih kamu makan, kan?"

​Siham memaksakan sebuah senyuman, senyuman yang sudah ia asah selama lima tahun agar tampak tulus di depan mertuanya. "Enggak kok, Mah. Siham cuma lagi sibuk di kantor saja."

​Papa Dewangga juga menyambut mereka dengan jabat tangan erat dan tawa yang berwibawa. Di rumah ini, Siham selalu diperlakukan bak permata. Ia disambut hangat, didengarkan, dan dipuji. Namun, justru kehangatan inilah yang membuat hati Siham terasa seperti diiris sembilu.

​Saat mereka mulai duduk di meja makan panjang yang dipenuhi hidangan kelas atas dari wagyu steak hingga truffle soup Siham merasakan sebuah Dejavu yang menyakitkan. Ia melihat Dewangga duduk di sana, bersikap sangat sopan, menanggapi setiap obrolan Papa tentang ekspansi bisnis dengan antusias, dan sesekali menuangkan minuman untuk Mama. Dewangga tampak seperti sosok suami dan anak yang sempurna. Ia selalu menyempatkan diri jika orang tuanya yang memanggil.

​Pikiran Siham mendadak melayang ke rumah kecil Ayahnya. Ingatannya berputar pada momen bulan lalu, saat Ayahnya menelepon dengan suara gemetar karena rindu dan ingin mengajak makan malam sederhana. Saat itu, Dewangga bahkan tidak mau melihat layar ponselnya. Ia hanya menjawab, "Bilang pada Ayahmu, aku ada meeting dengan investor. Jangan ganggu aku dengan urusan makan malam yang tidak produktif."

​Siham menatap potongan daging di piringnya dengan pandangan kosong. Seribu alasan untuk ayahku, tapi seribu ketaatan untuk orang tuanya, batin Siham pedih. Dewangga bisa membatalkan jadwal rapat penting demi jamuan di rumah ini, namun ia tidak bisa meluangkan waktu satu jam saja untuk duduk di ruang tamu sederhana milik mertuanya yang mantan pelayan itu.

​"Siham, sayang, kenapa melamun? Makanannya nggak enak?" tanya Mama Dewangga lembut, menyentuh punggung tangan Siham.

​Siham tersentak, kembali ke realita. "Eh, enggak kok, Mah. Enak banget. Siham cuma terpukau sama dekorasi meja Mama yang baru."

​"Oh ya? Ini Mama pesan khusus dari desainer bunga di Paris, lho," Mama Dewangga mulai bercerita dengan riang.

​Di sela-sela obrolan itu, Dewangga tiba-tiba menggenggam tangan Siham di atas meja sebuah gestur yang terlihat sangat manis di mata orang tuanya, namun terasa sangat dingin dan penuh kepalsuan bagi Siham. Sentuhan itu bukan tanda kasih sayang, melainkan tanda agar Siham tetap pada perannya".

​"Siham ini istri yang hebat, Pah, Mah," ucap Dewangga dengan nada bangga yang dibuat-buat. "Meskipun sibuk jadi editor senior, dia tetap nggak pernah lupa urus rumah. Aku benar-benar beruntung punya dia."

​Papa Dewangga manggut-manggut bangga. "Bagus, Dewangga. Istri seperti Siham ini jarang ada. Dia sabar, pintar, dan tahu diri. Kamu harus jaga dia baik-baik."

​Tahu diri. Kata itu menghantam telinga Siham. Ya, di mata keluarga ini, ia dianggap tahu diri karena ia tidak pernah menuntut, tidak pernah mengeluh, dan selalu tahu posisinya sebagai anak asisten rumah tangga yang diangkat derajatnya melalui pernikahan. Mereka tidak tahu bahwa wanita tahu diri ini sedang menanggung luka yang nyaris meledak.

​Siham menatap Dewangga yang sedang tersenyum tipis ke arah ayahnya. Ia teringat kotak bludru merah marun yang ia temukan di perpustakaan tadi siang. Laki-laki di hadapannya ini, yang tampak sangat terhormat, menyimpan sajak cinta yang mendalam untuk wanita bernama Agata, sementara untuk istrinya sendiri, ia hanya memberikan instruksi dan perintah psikiater.

​"Mas Dewangga memang suami yang sangat... tertata, Pah," timpal Siham, suaranya sedikit bergetar namun tetap terkendali. "Semuanya harus sesuai jadwal. Bahkan untuk merasa bahagia pun, Mas Dewangga punya jadwalnya sendiri."

​Dewangga menoleh ke arah Siham, matanya menyipit memberi peringatan, namun Siham tetap tersenyum manis ke arah mertuanya.

​"Oya, Dewangga, kamu tidak boleh seperti itu" Papa Dewangga membuka topik baru. ", Tadi Papa lihat di media sosial penulis misterius yang lagi viral itu, siapa namanya? Aksara... Aksara apa itu?"

​"Aksara Renjana, Pa," jawab Siham cepat, sebelum Dewangga sempat menjawab.

​"Nah, itu! Katanya dia penulis hebat tapi nggak mau muncul, ya? Dan dia cuma mau bicara lewat editornya yang namanya sama dengan istrimu, Siham. Itu kamu, kan?" tanya Papa Dewangga penasaran.

​Siham mengangguk. "Iya, Pa. Kebetulan saya yang memegang naskahnya."

​Dewangga mendengus pelan, hampir tak terdengar oleh orang tuanya. "Itu cuma trik pemasaran, Pah. Penulis itu cuma menjual kesedihan yang berlebihan agar orang-orang merasa iba. Isinya sampah, tidak punya nilai logika bisnis sama sekali."

​Siham merasakan darahnya mendidih. Di depan orang tuanya pun, Dewangga masih sempat menghina karyanya tanpa ia tahu.

​"Tapi Mas," sela Siham dengan nada lembut namun menantang, "Aksara Renjana tidak sedang menjual kesedihan. Dia sedang menceritakan kenyataan. Dia bicara tentang pria-pria yang tampak sempurna di luar, punya segalanya, namun hatinya kosong dan hanya mencintai masa lalu. Banyak orang yang merasa terwakili oleh ceritanya."

​Suasana di meja makan mendadak sedikit hening. Mama Dewangga menatap Siham dengan heran. "Wah, kedengarannya dalam sekali ya ceritanya. Mama jadi pengen baca."

​Dewangga berdehem keras, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Sudahlah, itu cuma urusan pekerjaan Siham. Mari kita bicarakan soal rencana liburan keluarga bulan depan ke Swiss."

​Sisa waktu makan malam itu diisi dengan rencana-rencana mewah yang tidak menyentuh hati Siham sedikit pun. Setiap kali Dewangga tertawa atau menyahut perkataan orang tuanya, Siham hanya bisa membayangkan wajah Ayahnya yang duduk sendirian di meja makan kayu yang sudah kusam, menatap kursi kosong yang seharusnya diisi oleh menantunya.

​Kehangatan mertuanya malam ini justru menjadi konfirmasi paling pahit bagi Siham. Dewangga bisa menjadi manusia yang sangat hangat, sangat peduli, dan sangat hadir tapi hanya untuk orang yang dianggapnya selevel atau memiliki pengaruh bagi hidupnya. Sementara untuk keluarga Siham, Dewangga memilih untuk tetap menjadi gunung es yang tak tersentuh.

​Saat jamuan selesai dan mereka berpamitan, Mama Dewangga kembali memeluk Siham. "Sering-sering ke sini ya, sayang. Mama senang kalau ada kamu."

​"Iya, Mah. Siham juga senang," bohong Siham untuk kesekian kalinya hari itu.

​Begitu mereka masuk ke dalam mobil dan gerbang rumah besar itu tertutup, senyum di wajah Dewangga menghilang seketika. Ia kembali menjadi pria yang dingin dan kaku.

​"Kamu tadi hampir saja melewati batas, Siham," ucap Dewangga sembari menyalakan mesin mobil dengan kasar. "Membahas soal penulis sampah itu di depan Papa. Kamu ingin terlihat pintar?"

​Siham tidak menjawab. Ia menyandarkan kepalanya ke kaca mobil yang dingin. Ia merasa lelah lelah mengedit, lelah berpura-pura, dan lelah melihat ketidakadilan ini.

​"Tadi Mas bilang aku beruntung punya Mas di depan Mama," batin Siham. "Tapi Mas tidak pernah tahu, bahwa setiap menit yang aku habiskan bersamamu adalah proses pengeditan luka agar tidak menjadi air mata. Dan mulai malam ini, aku tidak akan mengeditnya lagi. Aku akan membiarkan seluruh dunia tahu betapa hancurnya naskah yang kamu buat untukku."

​Mobil melaju membelah malam Jakarta, membawa dua orang yang terikat janji suci namun terpisah oleh jurang penderitaan yang tak bertepi.

1
Lee Mba Young
laki blm move on di paksa nikah ya bgini hasil nya.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
sukensri hardiati
ya Allah ....sihaaam....kuat yaa...
Lee Mba Young
Sdh tau laki gk Cinta, ngapain bertahan smp 5 th.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
lulu oey
AAHH TERLALU LAMA THOR PELAN TAPI PASTI
stela aza
kelamaan Thor ,,, q udh gemes bgt sama si dewangga pingin getok kepalanya biar otaknya balik ketempatnya ,,, 🤦
falea sezi
knp mesti dk kasih skit Thor jd males😕 harusnya abis ne pergi jauh males bgt liat lu nulis scene menderita buat siham 😒
falea sezi
sakit bgt jd siham😕
falea sezi
laki kayak gini harus di buang di laut😕
Lee Mba Young
bner juga sih, mnujual kesedihan sdng penulis alias siham sendiri gk berusaha bangkit. cm jual kesedihan tok tp gk nglawan. coba kl berani main terbuka 🤣. gk akn berani siham. ya cm bisa mnujual tulisan kesedihan itu smp mati. nnti sekarat berharap belas kasian.
Lee Mba Young
ibu meninggal bpk mninggal bukan ninggalin warisan mlh ninggalin penderitaan buat anak. yg mati enak gk ngrasain apapun. yg hidup hrs bertahan dng penderitaan. dosa ortu banget itu.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
Haryati Atie
ka cerita nya bagus banget😍 .
Bunga
buat sigam bahagia dong Thor...jangan bikin tragis banget hidupnya
stela aza
lanjut thor up-nya double donk ❤️❤️❤️
blcak areng: udah up ya kak tiap hari 2 bab kakak 🙏
total 1 replies
stela aza
next thor ❤️❤️❤️
Nurlaila Ikbal
ya Allah sedih sekali thor baca bab ini..semangat thor upnya 🙏🙏🙏🙏
Bunga
sigam perjalanan hidup mu begitu menyakitkan...adakah kebahagian menemui mu....
Bunga
kasian sekali hidupmu shiham.
kenapa di buat semenderita itu thor
stela aza
kelamaan
Anonim
Kesel banget kalau ada ortu modelan bapak dan ibu nya siham nyiksa anak namanya kalau begini ,wasiat ko aneh emang kalau anak nya nikah sama orang kaya bakal selalu bahagia gitu blok
Lee Mba Young
Trus bpk mu ttp membiarkan anak nya mnikah dng KDRT contoh ayah yg gagal. bhgia anaknya mnikah untuk balas budi Dan orang Kaya. kl bpk yg keren hrse lawan jd Garda terdepan pelindung anak nya. contoh bpk miskin Dan gagal. seharuse walau miskin jd lah bpk yg keren terutama melindungi anak nya. ini dah miskin mlh membiarkan anak nya hidup di neraka. ibuk nya dah mati jd gk ngrasain anak nya tersiksa. pelajaran jng ninggalin wasiat seenak jidat saja, yg mati dah mati saja toh di kubur juga kan gk bakal hidup lagi. mati tenang bukan krn wasiat di laksanakan tp Amal ibadah Dan anak sholeh yg jd penenang di Alam kubur.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!