NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:665
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Perjuangan Demi Satu Nyawa

Suasana di dalam mobil mewah Aditya terasa mencekam. Pria itu mengemudi dengan kecepatan yang sangat tinggi, menerobos kemacetan kota seolah tidak peduli pada aturan lalu lintas. Tangannya yang memegang setir memutih karena mengepal terlalu kuat, keringat dingin membasahi dahinya, dan napasnya terengah-engah.

Di dalam kepalanya, bayangan wajah Luna terus berputar. Bayangan saat gadis itu menatapnya dengan penuh percaya, bayangan senyumnya, dan bayangan kesedihannya.

"Tahan sedikit lagi, Luna... tolong tahan... Aku janji aku akan datang menyelamatkanmu. Jangan biarkan apa-apa terjadi padamu..." gumam Aditya berulang-ulang dalam hati, matanya menatap tajam ke jalanan di depannya dengan sorot mata yang membara. Rasa takut kehilangan itu jauh lebih menakutkan daripada apa pun di dunia ini.

Ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia sudah berjanji akan melindungi gadis itu bagaikan mata kepalanya sendiri, tapi nyatanya ia membiarkan celah terbuka sehingga Luna bisa terjebak masuk ke dalam mulut harimau dengan mudahnya.

"Dasar bodoh! Kenapa aku tidak mengunci dia di kamar saja?!" umpat Aditya keras pada dirinya sendiri, lalu ia menekan klakson panjang dan menyalip mobil di depannya dengan ugal-ugalan. Waktu terasa berjalan sangat lambat baginya, setiap detik yang terbuang rasanya seperti satu abad penyiksaan.

Sementara itu, di tempat yang jauh berbeda...

Luna perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat dan pusing sekali, pandangannya masih kabur dan berkunang-kunang. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun segera menyadari bahwa kedua tangan dan kakinya terikat erat dengan tali tambang yang sangat kuat.

Perlahan-lahan penglihatannya mulai jernih. Ia mendapati dirinya sedang duduk bersandar di dinding sebuah gudang tua yang sangat besar, berdebu, dan terasa lembap. Udara di sana pengap dan berbau apek. Cahaya matahari hanya bisa masuk sedikit melalui celah-celah atap yang rusak, membuat suasana di sana terasa menyeramkan dan gelap.

"Ummgh..." rintih pelan, ia berusaha mengingat apa yang baru saja terjadi. Ia ingat kabar bohong soal kecelakaan Aditya, ia ingat naik taksi, dan ia ingat bau cairan aneh yang membuatnya pingsan.

Jadi... ini semua benar-benar jebakan.

"Ah, akhirnya si putri kecil sudah bangun juga," terdengar suara berat dan dingin yang sangat dikenalnya memecah keheningan gudang itu.

Luna mengangkat wajahnya dengan susah payah. Di hadapannya, berdiri sosok pria paruh baya dengan senyum licik dan penuh kemenangan yang tak pernah ia lupakan. Bapak Surya. Pria itu berdiri tegak dengan beberapa pengawal berbadan besar dan bertampang seram di sisinya.

"Ba... Bapak Surya..." bisik Luna lemah, matanya memancarkan rasa takut yang luar biasa, namun di balik rasa takut itu ada juga rasa benci yang membara. "Kenapa... kenapa Bapak melakukan semua ini? Apa salah kami pada Bapak?"

Bapak Surya tertawa kecil, suara tawanya terdengar seram dan menggema di seluruh ruangan gudang itu. Ia berjalan mendekat perlahan, lalu berjongkok di hadapan Luna hingga wajah mereka sejajar.

"Salah? Oh sayangku... kalian tidak bersalah sama sekali. Kalian hanya punya satu kesalahan fatal... kalian lahir sebagai keluarga Pratama. Kalian punya hak atas segalanya yang seharusnya menjadi milikku!" ucap Bapak Surya dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi tajam dan penuh kebencian.

"Dulu, kakekmu lebih menyayangi ayahmu daripada aku, meskipun aku yang lebih pintar dan lebih pantas memimpin. Mereka menganggapku cuma saudara tiri yang tidak punya darah biru sepenuhnya! Hah! Jadi aku mengambil apa yang seharusnya jadi milikku dengan caraku sendiri. Aku hilangkan orang tuamu, aku pisahkan keluarga ini, dan aku kuasai semua hartanya selama puluhan tahun!"

Luna terbelalak mendengar pengakuan kejam itu. Jadi semua yang dikatakan Pak Herman benar. Pria di hadapannya ini memang monster berwujud manusia.

"Terus... sekarang Bapak mau apa sama saya?" tanya Luna dengan suara bergetar, berusaha mengumpulkan sisa keberanian yang ada padanya.

Bapak Surya tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang tampak jahat. "Sederhana saja, Nak. Kamu adalah kuncinya. Selama kamu ada, posisi Aditya dan hak waris itu selalu terancam. Jadi... kamu harus hilang. Selamanya."

Kata-kata itu membuat darah Luna berhenti mengalir. Ia menelan ludah dengan susah payah. "Bapak... mau membunuh saya?"

"Tentu saja. Dunia ini terlalu sempit kalau harus ada dua pewaris. Setelah kamu hilang, Aditya akan hancur karena kehilangan satu-satunya keluarganya. Dan aku... akan menjadi wali yang menguasai segalanya sampai kapan pun. Semuanya akan sempurna!" Bapak Surya berdiri kembali dan menepuk tangannya pelan. "Sayang sekali ya... kamu cantik-cantik tapi nasibmu buruk sekali."

Luna menundukkan wajahnya, air mata mulai mengalir lagi membasahi pipinya. Bukan karena ia takut mati, tapi karena ia menyesal. Ia menyesal tidak bisa melihat Aditya untuk yang terakhir kalinya. Ia menyesal tidak bisa memberitahu pria itu betapa besar rasa sayangnya, meskipun mereka terhalang oleh ikatan darah.

"Maafkan aku, Aditya... Aku gagal. Aku tidak bisa menjaga diriku sendiri. Tolong... hidup bahagia ya..." batin Luna berteriak pilu.

Bapak Surya memberi isyarat tangan kepada salah satu pengawalnya. Pria berbadan besar itu segera mengambil sebuah pisau belati besar yang mengkilap dan tajam dari meja di dekatnya, lalu berjalan perlahan mendekati Luna dengan tatapan membunuh.

"Selamat jalan, Nona Luna. Istirahatlah dengan tenang," ucap Bapak Surya dingin tanpa belas kasihan sedikit pun.

Pengawal itu sudah mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, siap untuk menghujamkannya tepat ke dada Luna yang rapuh. Luna memejamkan matanya rapat-rapat, bersiap menerima takdirnya.

Ting... ting...

Namun, tepat saat momen mengerikan itu akan terjadi, tiba-tiba suara notifikasi pesan masuk berbunyi nyaring dari ponsel Bapak Surya. Pria itu sedikit terganggu lalu mengambil ponselnya dan melihat layar. Wajahnya yang tadi penuh kemenangan tiba-tiba berubah kaget dan panik.

"Apa?! Bagaimana bisa?!" serunya keras.

Belum sempat dia bereaksi apa pun, tiba-tiba terdengar suara ledakan keras dari arah pintu utama gudang itu!

BRAAAK!!!

Pintu kayu besar itu hancur berkeping-keping tertabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang masuk ke dalam gudang! Mobil itu berhenti mendadak tepat di tengah ruangan, menimbulkan debu yang beterbangan ke mana-mana dan membuat suasana menjadi kacau balau.

Semua orang di sana terkejut setengah mati, termasuk Bapak Surya dan para pengawalnya. Mereka semua menatap kearah mobil itu dengan mata terbelalak.

Pintu mobil terbuka, dan keluarlah sesosok pria dengan wajah yang murka luar biasa, matanya merah menyala seperti iblis yang baru keluar dari neraka. Itu Aditya!

"LUNAAAAA!!!" teriak Aditya dengan suara yang menggelegar, penuh amarah dan keputusasaan.

Matanya langsung menangkap sosok gadis kecil yang duduk terikat di sudut ruangan, dan tepat di hadapannya ada seorang pria besar yang sedang mengangkat pisau.

"JANGAN BERANI KAU MENYENTUHNYA!!!" raung Aditya, lalu tanpa pikir panjang ia langsung berlari secepat kilat menuju ke arah mereka.

Bapak Surya panik bukan main. "Cepat! Bunuh dia sekarang! Sebelum dia sampai sini!" perintahnya panik kepada pengawal itu.

Pengawal itu pun langsung menghujamkan pisaunya ke arah Luna dengan cepat. Namun, tepat saat pisau itu hampir menyentuh kulit Luna, sebuah tendangan keras datang menyambar tangan pria itu hingga pisau terlempar jauh dan jatuh berdenting di lantai beton.

Bugh!

Aditya mendarat tepat di depan Luna, melindungi tubuh gadis itu dengan punggungnya yang kokoh. Ia menatap pengawal itu dengan tatapan membunuh, lalu dengan satu pukulan keras tepat ke wajah, pria besar itu terpental jatuh tak berdaya.

"Adi... ty... a..." bisik Luna lemah, air matanya mengalir deras melihat sosok penyelamatnya hadir di hadapannya.

Aditya segera berbalik, wajahnya berubah panik dan cemas melihat kondisi Luna. Ia melihat tali yang mengikat tubuh gadis itu, dan dengan cepat ia mencabut pisau kecil dari saku celananya lalu memotong talinya satu per satu.

"Luna... Luna kamu tidak apa-apa kan? Dia menyakitimu? Kamu terluka di mana?!" tanya Aditya bertubi-tubi, tangannya gemetar memeriksa seluruh tubuh Luna, memastikan tidak ada luka yang berbahaya.

"Aku... aku baik-baik saja, Aditya. Kamu datang... kamu benar-benar datang..." isak Luna, lalu ia langsung memeluk erat pinggang Aditya, mencurahkan semua rasa takut dan leganya di dada bidang pria itu.

Aditya membalas pelukan itu erat-erat, seolah tidak ingin melepaskan lagi. "Maafkan aku... maafkan aku terlambat. Aku janji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Selama aku masih hidup, kamu akan aman."

Momen haru itu terhenti saat suara Bapak Surya yang marah memecahnya.

"Tangkap mereka! Bunuh mereka berdua sekarang juga! Jangan biarkan satu pun keluar hidup-hidup!" teriak Bapak Surya histeris.

Sekarang situasinya menjadi pertarungan terbuka. Para pengawal lain yang jumlahnya ada sekitar lima orang langsung menyerbu ke arah Aditya. Namun, Aditya yang saat ini dipenuhi oleh adrenalin dan rasa ingin melindungi, bergerak dengan sangat gesit dan tangguh. Ia tidak lagi menjadi CEO yang lemah, ia berubah menjadi pejuang yang tangguh.

Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan diluncurkannya dengan akurat. Satu per satu pengawal Bapak Surya berhasil ia jatuhkan. Meski sempat mendapat beberapa pukulan dan luka di lengannya, Aditya sama sekali tidak peduli. Yang penting baginya adalah Luna aman berada di belakangnya.

Melihat anak buahnya kalah telak, Bapak Surya menjadi panik luar biasa. Ia melihat ke sekeliling mencari jalan keluar, tapi pintu utama sudah diblokir oleh mobil Aditya. Ia lalu melihat ke arah Luna yang masih duduk lemah, dan dengan licik ia langsung berlari dan mencengkeram leher Luna dari belakang, lalu menodongkan pistol yang ia ambil dari salah satu pengawal yang jatuh tepat ke pelipis gadis itu!

"JANGAN MAJU! SIAPA YANG MAJU AKU TEMBAK DIA SEKARANG JUGA!" teriak Bapak Surya dengan napas memburu dan wajah yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Aditya terhenti tepat di hadapan mereka, tangannya terangkat ke atas tanda menyerah, namun matanya menatap tajam penuh ancaman.

"Lepaskan dia, Surya! Masalah ini antara aku dan kamu! Jangan libatkan dia! Dia keponakanmu sendiri! Dia darah daging keluargamu juga!" teriak Aditya berusaha merayu namun tegas.

Bapak Surya tertawa gila. "Keluarga? Hah! Selama ini aku tidak pernah menganggap kalian keluarga! Kalian semua hanyalah batu sandungan! Dan sekarang... aku akan membawa gadis ini bersamaku atau aku akan meledakkan kepala cantiknya!"

"Jangan sentuh dia! Surya! Apa yang kamu mau? Uang? Perusahaan? Ambil semuanya! Tapi lepaskan Luna! Aku mohon..." Suara Aditya mulai pecah, rasa takutnya benar-benar nyata sekarang. Ia rela memberikan segalanya asalkan gadis itu selamat.

Melihat Aditya yang mulai putus asa, Bapak Surya tersenyum puas. Ia perlahan mulai mundur selangkah demi selangkah sambil tetap mengarahkan senjata ke kepala Luna, berniat mencari jalan keluar lewat pintu samping.

Namun, Luna yang merasa lehernya semakin tercekik dan melihat Aditya yang begitu terpojok, tiba-tiba mengambil keputusan nekat. Saat Bapak Surya lengah sedikit karena fokus menatap Aditya, Luna menginjak kaki Bapak Surya sekuat tenaga dengan tumitnya!

"Awwww!!!" jerit Bapak Surya kesakitan, cengkeramannya di leher Luna mengendur sedikit.

Seketika itu juga, Aditya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan satu lompatan cepat seperti harimau, ia menerjang tubuh Bapak Surya hingga pria itu terjatuh tersungkur ke lantai keras. Pistol pun terlepas dari tangannya dan meluncur jauh.

Aditya langsung menindih tubuh Bapak Surya dan menghujani wajah pria tua itu dengan pukulan-pukulan keras yang penuh dendam.

"Ini untuk Ayahku! Ini untuk Ibuku! Ini untuk semua penderitaan Luna! Dan ini untuk semua kejahatan yang kau lakukan selama ini!!!" teriak Aditya sambil memukul terus menerus, matanya merah dan penuh air mata. Wajah Bapak Surya sudah babak belur, berdarah, dan tak berdaya.

"Sudah... Aditya... sudah... jangan sampai kamu membunuhnya... nanti kamu yang susah..." Luna berlari memeluk tubuh Aditya dari belakang, menariknya agar berhenti. Air matanya terus mengalir melihat pria yang dicintainya begitu marah dan terluka.

Aditya berhenti memukul, napasnya terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Bapak Surya yang sudah terbaring tak berdaya dengan penuh kebencian.

"Kau kalah, Surya. Permainanmu sudah selesai," ucap Aditya berat dan dingin.

Tidak lama setelah itu, terdengar suara sirene polisi dan ambulans yang semakin mendekat. Ternyata, sebelum berangkat tadi Aditya sempat menghubungi Pak Herman dan memintanya membawa pihak berwenang untuk mengamankan lokasi. Keadilan akhirnya benar-benar datang.

Beberapa petugas polisi masuk dan langsung menangkap Bapak Surya serta anak buahnya yang masih sadar. Wajah pria itu penuh keputusasaan dan kekalahan, ia menyeret tubuhnya keluar sambil mengumpat namun tak ada yang peduli lagi. Musuh terbesar mereka akhirnya berhasil ditumpas.

Kini, gudang tua itu kembali hening. Hanya tersisa Aditya dan Luna yang saling berpelukan di tengah debu dan kekacauan. Cahaya matahari mulai masuk lebih banyak, seolah menyinari kemenangan dan kebebasan yang baru mereka raih dengan perjuangan yang sangat berat.

Aditya memegang kedua pipi Luna dengan lembut, menatap manik mata bening itu dalam-dalam. Luka di tangannya berdarah, namun ia tidak peduli sama sekali.

"Kita selamat, Luna. Kita selamat..." bisik Aditya pelan, lalu tanpa sadar dan tanpa mempedulikan lagi status mereka sebagai sepupu, tanpa peduli lagi aturan dunia... ia mendekatkan wajahnya dan mencium kening gadis itu lama sekali, penuh rasa sayang, rasa lega, dan cinta yang tak bisa dibendung lagi.

Luna memejamkan matanya, merasakan kehangatan dan rasa aman yang luar biasa. Semua rasa sakit, ketakutan, dan air mata selama ini terbayar lunas sudah di detik ini.

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!