NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Malam itu, suasana ruang makan terasa begitu hangat. Aroma masakan rumah kesukaan Anna memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang jauh berbeda dari ketegangan yang ia rasakan beberapa jam lalu di mobil Axel.

​"Gimana hari ini, Anna? Senang jalan-jalan sama Jolina dan Emma?" tanya Sang Papa sambil menyendok nasi ke piringnya.

​Anna tersenyum lebar. "Senang banget, Pa! Tadi kita belanja banyak, terus makan di kafe yang pemandangannya bagus banget. Jolina sama Emma baik sekali, mereka benar-benar menjagaku."

​Sang Mama ikut tersenyum lalu bertanya dengan nada penasaran, "Oh ya, Jolina itu anak siapa, Sayang? Mama baru dengar namanya. Keluarga mereka tinggal di daerah mana?"

​Anna sempat terdiam sejenak, lalu menjawab dengan santai, "Jolina itu keponakannya Tuan Axel, Ma. Mereka dari keluarga Elion."

​PRANG!

​Sang Papa hampir saja menjatuhkan sendoknya ke lantai. Ia menatap Anna dengan mata membulat sempurna. "E-Elion? Maksudmu... Elion yang memegang kendali bisnis global itu? Kamu berteman dengan anggota keluarga Axel Van Elion?"

​Anna mengangguk polos. "Iya, Pa. Tadi juga sempat makan siang bareng sama Om Axel, dia paman Jolina."

​Papa Anna menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Bukannya cemas, wajahnya justru menunjukkan rasa hormat yang luar biasa. "Luar biasa... Anna, kamu tahu tidak? Tuan Axel itu adalah panutan semua pengusaha di negeri ini. Dia sosok yang sangat tegas, jenius, dan punya pengaruh yang tak tertandingi. Papa sangat menghormatinya."

​Papa Anna kemudian mengembuskan napas lega. "Tapi Papa sekarang jadi lebih tenang. Kalau kamu berteman dengan keluarga Elion, Papa yakin tidak akan ada lagi orang-orang seperti keluarga De Luca yang berani menyentuhmu. Berada di bawah perlindungan nama Elion adalah tempat paling aman di dunia ini."

​"Tapi Papa jangan berlebihan ya, Anna cuma mau berteman biasa kok," ucap Anna sambil terkekeh melihat reaksi Papanya yang begitu kagum pada sosok Axel.

Keesokan harinya di gedung sekolah yang megah, suasana hati Anna terasa jauh lebih ringan. Ia berjalan menyusuri koridor menuju kelas bersama Jolina dan Emma dengan langkah yang santai.

Na! Emma! Dengerin ya, aku punya pengumuman penting," ucap Jolina sambil merangkul pundak kedua sahabatnya itu dengan antusias.

​Emma menoleh penasaran. "Apaan tuh? Jangan bilang kita mau bolos ke mall lagi?"

​"Bukan, ih! Malam ini orang tuaku ngadain pesta ulang tahun pernikahan mereka yang ke-20 di rumah," Jolina memberikan undangan fisik berwarna emas yang tampak sangat mewah kepada Anna dan Emma. "Kalian wajib datang, titik! Enggak ada tapi-tapi."

​Anna membuka undangan itu dan matanya berbinar. "Acara ulang tahun pernikahan Tante Siska dan Om Hendra? Wah, aku pasti datang!

Seru Anna dengan nada bicara yang ceria dan santai.

​"Nah, gitu dong! Pokoknya nanti malam kalian harus dandan yang cantik. Paman Axel juga pasti ada di sana, jadi suasananya bakal sedikit formal tapi tenang aja, ada aku," tambah Jolina sambil mengedipkan mata.

​Mendengar nama Axel disebut, Anna hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Ia sudah bisa menerima kenyataan bahwa dirinya adalah sahabat Jolina. Dalam pikirannya, ia merasa Axel tidak mungkin akan "menghabisinya" atau melakukan hal buruk karena statusnya sebagai tamu kehormatan keponakannya sendiri. Kejadian di dapur tempo hari kini ia anggap sebagai angin lalu yang tidak perlu dirisaukan lagi.

Malam itu, Anna benar-benar tampil memukau. Ia mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya, memberikan kesan elegan namun tetap sesuai dengan usianya. Rambutnya ditata dengan gaya butterfly cut yang memberikan volume natural, sementara polesan makeup tipis dengan sentuhan lip gloss peach membuat wajahnya terlihat segar dan bersinar di bawah lampu malam.

​Anna berangkat menggunakan mobil yang dikendarai sopir pribadinya. Saat mobil berhenti di depan kediaman mewah keluarga Elion, suasana pesta yang megah langsung menyambutnya. Begitu ia turun dari mobil, aura kecantikannya yang polos namun berkelas langsung mencuri perhatian tamu yang hadir.

​Jolina dan Emma yang sudah menunggu di dekat pintu masuk seketika terdiam dengan mulut sedikit terbuka.

​"Ya ampun, Anna!" seru Jolina sambil berlari kecil menghampirinya. "Kamu cantik banget! Aku tahu kamu bakal kelihatan oke, tapi ini... ini bener-bener level yang beda!"

​Emma mengitari Anna dengan tatapan tidak percaya. "Sumpah, Na, kamu kalau jalan di red carpet sekarang juga, orang-orang pasti bakal ngira kamu artis papan atas. Makeup-nya pas banget, nggak berlebihan tapi bikin kamu kelihatan... wow."

​Anna tersenyum malu-malu, pipinya sedikit merona karena pujian kedua sahabatnya. "Kalian bisa saja. Kalian juga cantik banget malam ini."

​"Ah, kita mah lewat kalau dibandingin kamu malam ini," canda Jolina sambil merangkul lengan Anna. "Ayo masuk! Mama sama Papa sudah nunggu, dan... Paman Axel juga sudah ada di dalam.

Begitu Anna melangkah masuk ke dalam aula, kemegahan dekorasi pesta ulang tahun pernikahan itu benar-benar membuatnya terpana. Ruangan tersebut dipenuhi oleh kolega bisnis kelas atas, namun suasana tetap terasa hangat berkat tawa para tamu.

​Jolina langsung menarik tangan Anna menuju ke arah orang tuanya yang sedang berdiri menyambut tamu di dekat panggung utama.

​"Ma, Pa! Lihat siapa yang datang," seru Jolina dengan bangga.

​Tante Siska dan Om Hendra menoleh, dan senyum lebar langsung mengembang di wajah mereka saat melihat Anna. Tante Siska tampak anggun dengan gaun beludru biru tua, sementara Om Hendra terlihat gagah dalam setelan tuksedo klasiknya.

​"Selamat malam, Tante Siska, Om Hendra," ucap Anna dengan suara lembut sambil memberikan gestur hormat yang sangat sopan. "Selamat ulang tahun pernikahan yang ke-20. Semoga Tante dan Om selalu bahagia dan cinta kalian terus abadi."

​Tante Siska memegang kedua tangan Anna dengan gemas. "Ya ampun, Anna! Tante hampir tidak mengenali kamu. Cantik sekali malam ini, benar-benar seperti permata yang bersinar di ruangan ini."

​Om Hendra mengangguk setuju sambil terkekeh ramah. "Terima kasih banyak, Anna. Kami sangat senang kamu bisa hadir. Jolina benar-benar tidak berhenti membicarakanmu sejak kemarin. Silakan nikmati acaranya, ya? Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri."

​"Terima kasih, Om," jawab Anna dengan senyum manisnya.

​Kehadiran Anna yang begitu memukau dan tata kramanya yang sempurna membuat orang tua Jolina semakin menyukainya. Anna merasa sangat diterima di tengah keluarga Elion yang berkuasa ini, membuatnya semakin rileks dan siap menikmati sisa malam itu.

Anna berjalan berkeliling aula dengan senyum yang tak pernah pudar, matanya berbinar melihat deretan makanan mewah yang tersaji. Ia mulai mencicipi satu persatu kudapan manis dan hidangan pembuka yang menggugah selera. Namun, karena terlalu asyik mencoba berbagai jenis minuman segar, Anna mulai merasakan desakan di perutnya.

​Ia mendekati Jolina yang saat itu sedang sibuk menyapa beberapa tamu kolega orang tuanya. Anna menyenggol pelan lengan sahabatnya itu.

​"Jolina, aku ingin ke toilet," bisik Anna pelan agar tidak mengganggu percakapan di sekitar mereka.

​Jolina menoleh sejenak, lalu menatap kerumunan tamu. "Oh, kamu bisa ke sana sendiri, Na? Aku harus menemani Mama menyapa tamu yang baru datang ini."

​Anna mengangguk yakin. "Bisa kok, tinggal kasih tahu saja arahnya."

​"Oke, dengerin ya," ucap Jolina dengan cepat dan nada bicara yang mulai belibet. "Kamu jalan lurus saja melewati lorong pajangan guci itu, terus nanti di ujung ada belokan kanan, tapi jangan belok yang pertama ya, pilih yang kedua setelah lukisan besar. Terus dari situ kamu belok kiri, terus lurus lagi sampai ketemu pintu kayu jati, nah di belakang pintu itu ada lorong kecil lagi, kamu belok kanan sekali lagi, sampai deh!"

​Anna hanya melongo mendengar penjelasan Jolina yang sangat rumit dan penuh dengan rincian belokan yang membingungkan. Ia sempat mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba mencerna instruksi tersebut.

​"Gimana? Paham kan?" tanya Jolina memastikan.

​Meski otaknya masih memproses "belokan kedua setelah lukisan" dan "lorong di belakang pintu jati", Anna akhirnya hanya mengangguk mantap daripada memperpanjang urusan. "Iya, paham. Lurus, kanan, kiri, kanan lagi kan? Oke, aku pergi dulu ya!"

​Anna segera melangkah pergi meninggalkan keramaian aula, mencoba mengingat-ingat peta rumit yang baru saja diberikan Jolina sambil berharap ia tidak akan tersesat di dalam rumah yang luasnya sudah seperti istana ini.

1
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
wahyu andria
suka karyanya. . .up yang bnyak thor
Teguh Aliyanto
up yg bnayak thorr jagan 1 satu aja
Teguh Aliyanto
semagat💪💪
Teguh Aliyanto
ug yg banyak thor😍😍
Teguh Aliyanto
lanjuth thorr😍
Teguh Aliyanto
lanjuttt🤭🤭
Teguh Aliyanto
lanjur thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!