“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: TOPENG YANG TERBUKA
Kamar pengantin itu lebih mirip ruang pameran museum daripada tempat untuk beristirahat.
Luasnya hampir menyamai luas rumah lama Alesha, dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lukisan mural klasik dan sebuah ranjang king size dengan tiang-tiang emas yang berdiri angkuh di tengah ruangan.
Cahaya lampu kristal berpendar redup, memberikan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding sutra.
Alesha berdiri di dekat jendela besar, memunggungi pintu. Ia masih mengenakan gaun pengantin yang terasa semakin berat, seolah kain brokat itu menyerap seluruh keletihan dan kemarahan yang ia rasakan hari ini.
Suara desis halus dari motor kursi roda elektrik terdengar memasuki ruangan, diikuti oleh suara pintu yang tertutup rapat.
"Semua keluar. Jangan ada yang mendekati kamar ini sampai aku memberi perintah," suara Matteo terdengar dingin, memerintah para pelayan yang tadi sempat mengekor di belakangnya.
Klik. Pintu terkunci.
Keheningan kembali menyergap. Alesha bisa merasakan tatapan Matteo menusuk punggungnya.
Pria itu tidak segera bicara, membiarkan ketegangan membangun dinding yang semakin tebal di antara mereka.
"Buka cadarmu," perintah Matteo.
Singkat. Tanpa kompromi.
Alesha berbalik perlahan. Ia menatap siluet Matteo yang duduk di tengah ruangan.
Cahaya lampu yang minim membuat wajah pria itu terlihat seperti pahatan granit yang keras.
Alesha mengangkat tangannya, meraih kain transparan yang masih menutupi kepalanya, lalu menyentaknya hingga terlepas.
Rambut hitamnya yang tadi disanggul rapi kini terurai berantakan, membingkai wajahnya yang penuh dengan gurat pembangkangan.
Ia menunggu. Ia menunggu Matteo terkejut. Ia menunggu pria itu berteriak karena merasa tertipu. Ia menunggu pria itu memaki ayahnya karena mengirimkan pengantin yang salah.
Namun, tidak ada satu pun dari hal itu terjadi.
Matteo hanya menatapnya dengan mata kelabu yang datar.
Tidak ada keterkejutan, tidak ada kilatan amarah karena dikhianati.
Pria itu justru tampak bosan, seolah ia sedang menonton film yang plotnya sudah ia ketahui sejak awal.
"Kau tidak secantik Kiara," ucap Matteo tenang.
"Tapi kau punya sorot mata yang lebih berguna untuk bertahan hidup."
Alesha tertegun sejenak, namun rasa heran itu dengan cepat berganti menjadi rasa panas yang membakar dadanya.
"Kau... kau sudah tahu?"
Matteo menyandarkan punggungnya ke kursi roda, melipat tangan di depan dada.
"Aku tahu Kiara kabur ke Prancis dengan simpanannya tepat dua jam sebelum upacara dimulai. Aku tahu ayahmu yang menyedihkan itu hampir terkena serangan jantung dan memaksamu mengenakan gaun ini. Aku tahu segalanya, Alesha."
Alesha mengepalkan tangannya hingga gemetar.
"Kalau kau sudah tahu, kenapa kau tetap melanjutkan pernikahan ini?! Kenapa kau membiarkanku berdiri di sana seperti orang bodoh?!"
"Karena yang kubutuhkan hanyalah nama 'Al-Ricci' di belakang nama seorang putri dari keluarga Bramasta," jawab Matteo tanpa dosa.
"Siapa pun wanita di balik cadar itu tidak relevan bagiku. Pernikahan ini hanyalah formalitas bisnis, sebuah stempel legal untuk mengamankan aset ayahmu yang sekarang menjadi milikku. Kau hanyalah barang pengganti yang kebetulan ada di tempat saat itu."
Barang pengganti.
Kata-kata itu menghantam martabat Alesha hingga hancur berkeping-keping.
Ia bukan lagi manusia di mata pria ini, ia hanyalah sebuah pengganti. Sebuah cadangan yang diambil dari rak karena barang utamanya rusak.
"Barang pengganti?" Alesha tertawa getir, suaranya naik satu oktav.
"Kau pikir aku ini apa? Ban serep?! Kau tahu, Matteo, aku sudah cukup dihina oleh keluargaku sepanjang hidupku. Aku tidak akan membiarkan pria lumpuh yang hatinya lebih cacat daripadanya kakinya ini memperlakukanku seperti sampah!"
Alesha membungkuk, melepas sepatu hak tingginya yang runcing dengan gerakan kasar.
Tanpa pikir panjang, ia melemparkan sepatu itu dengan tenaga penuh ke arah cermin besar yang ada di belakang Matteo.
PRANG!
Cermin setinggi dua meter itu hancur berantakan, serpihan kacanya jatuh seperti hujan kristal di atas lantai marmer, beberapa senti saja dari kepala Matteo.
Pria itu bahkan tidak berkedip saat pecahan kaca terbang melewati telinganya.
"Kalau kau tidak suka dengan 'barang' ini, ceraikan aku sekarang!" tantang Alesha, napasnya memburu.
Ia melangkah mendekat, mengabaikan serpihan kaca yang mungkin melukai kaki telanjangnya.
"Keluarkan aku dari rumah terkutuk ini! Kembalikan aku pada ayahku yang pengecut itu! Aku lebih baik hidup miskin daripada menjadi pajangan di penjara emasmu!"
Matteo tidak menjawab dengan kata-kata.
Sebaliknya, ia menekan tuas pada kursi rodanya. Motor kursi roda itu berdengung pelan saat Matteo maju ke depan dengan kecepatan yang mengejutkan.
Sebelum Alesha sempat mundur, Matteo sudah berada tepat di depannya, mengunci pergerakan Alesha dengan memposisikan kursi rodanya begitu dekat hingga lutut mereka bersentuhan.
Matteo menyambar pergelangan tangan Alesha dengan cengkeraman yang sekuat baja.
"Dengar, Wanita Bar-bar," desis Matteo.
Wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Alesha.
Alesha bisa melihat kilatan gelap di mata pria itu, kilatan yang menunjukkan bahwa di balik ketenangan itu, ada monster yang sedang terjaga.
"Kau pikir kau punya pilihan? Kau pikir kau bisa masuk dan keluar dari hidupku sesukamu?"
Alesha mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Matteo semakin erat.
"Lepaskan aku!"
"Kontrak pernikahan ini tidak ditulis dengan tinta biasa, Alesha. Ia ditulis dengan utang darah ayahmu," suara Matteo merendah, terdengar seperti gemuruh sebelum badai.
"Kau tidak akan mendapatkan perceraian. Kau tidak akan mendapatkan kebebasan. Kau akan tetap di sini, menjadi Nyonya Al-Ricci, sampai aku memutuskan bahwa kau tidak lagi berguna."
Matteo menarik tangan Alesha lebih dekat, memaksa wanita itu sedikit membungkuk ke arahnya.
"Ingat ini baik-baik, Kontrak ini hanya bisa dibatalkan jika aku yang menghendakinya. Dan saat ini, aku merasa keberanianmu yang bodoh ini sedikit menghiburku. Jadi, bersiaplah untuk tetap berada di penjara ini untuk waktu yang sangat lama."
Alesha menatap mata Matteo, mencari celah kelemahan, namun ia hanya menemukan tembok es yang kokoh.
Ia menyadari satu hal, pria ini tidak hanya menginginkan kepatuhannya, ia menginginkan jiwanya.
"Kau mungkin bisa mengurungku, Matteo," bisik Alesha, matanya berkilat menantang meski tangannya sakit.
"Tapi kau tidak akan pernah bisa menjinakkan suaraku. Aku akan menjadi mimpi buruk yang paling indah yang pernah menghuni kamarmu."
Matteo melepaskan tangan Alesha dengan sentakan pelan, lalu memutar kursi rodanya kembali ke tengah ruangan.
"Kita lihat saja nanti. Sekarang, lepaskan gaun itu. Baunya mengingatkanku pada Kiara, dan aku benci bau pengkhianat."
Matteo meninggalkan Alesha yang berdiri mematung di antara puing-puing kaca.
Alesha menatap punggung suaminya dengan dendam yang membara. Topeng telah terbuka, dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di balik pintu kamar yang terkunci itu.