NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Hari Kiamat
Popularitas:74.1k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langit merah : 03

“Kenapa semua berubah merah seperti nyala api?!” Dengan sendirinya Abeer mundur, perasaannya lebih dari sekadar terkejut, melainkan takut tidak dapat ditutupi.

Suhu naik drastis, tidak lagi dingin menggigit tulang, perlahan hangat seperti air suam-suam kuku, kabut tebal tadi tergantikan oleh warna merah layaknya malam hari.

Dari dalam jurang dimana mobil mereka terperosok, terdengar suara menggeram dilanjut lolongan membuat kuduk meremang.

“Apa itu?” Kanti berbisik, dia tidak mundur. Pelan-pelan maju penuh kewaspadaan, melangkah hati-hati demi memenuhi rasa penasarannya.

“Kanti!” Aji memperingati, menarik ujung lengan jaket gadis yang selalu memancing jiwa kelakiannya untuk melindungi.

Seolah tuli, dihempaskannya tangan Aji. Ia tetap maju. Meskipun detak jantung meningkat, Kanti memberanikan diri berdiri sampai hampir mencapai tepi jurang.

Napas Kanti terhenti, matanya membola, bak dihipnotis, ia berdiri kaku.

‘Lari, Kanti! Lari!’ suara hatinya menjerit. Akan tetapi kakinya sulit digerakkan sementara badan perlahan menggigil.

“Ibu ….” bibirnya bergetar memanggil nama wanita yang telah melahirkannya ke dunia.

Sosok tengah menggenggam tombak, mulai berdiri tegak, kepalanya mendongak langsung bertemu tatap dari jarak sepuluh meter. Tiba-tiba netra iris birunya berkilat, ia menyeringai keji – menghantarkan gelombang ketakutan pada gadis tidak berkedip.

“Candra Kanti!” Aji Sardi menarik topi jaket gadis yang sama sekali tidak bereaksi. Padahal suaranya hampir serak berulang kali menjerit memanggil namanya.

Barulah sepasang kaki Kanti dapat mundur, langkahnya terseok-seok.

“Apa yang lu lihat?!” tuntut Sambara.

“Lari! Kita harus pergi dari sini! Sekarang juga!” dia tidak bisa menjelaskan karena apa yang baru dilihatnya belum tentu nyata, tapi bola mata itu ….

Aji tidak lagi bertanya, berlari mengikuti langkah gadis yang kedua tangannya berayun.

“Tungguin!” Mayang menjerit, dia bukanlah perempuan rajin olahraga, sebab terbilang pencinta rebahan, shopping.

Ahwaya pun kesulitan sampai hampir terjungkal. Badannya masih lemas, wajah pucat.

Huhheuhh ....

Deru napas saling berlomba-lomba, keenam orang berstatus mahasiswa itu berlari mengikuti rute mobil, melewati jalanan tanah.

Langit bertambah pekat memancarkan warna kemerahan seperti kebakaran hutan belantara.

Bugh!

Akhhh …. “Kakiku! Tolong!”

Candra Kanti berhenti, menoleh ke belakang, lalu kembali berlari menghampiri temannya yang berjarak dua meter.

Mayang menjerit kesakitan, pergelangan kakinya berdenyut-denyut akibat terjungkal.

Sang kekasih menolongnya meskipun diiringi sumpah serapah.

“Jaga mulutmu!” Kanti tetap berpegang pada pedoman – dilarang berkata kasar, memaki bila ditempat asing terlebih dalam situasi aneh ini.

Abeer yang kelelahan, wajah bermandikan keringat, langsung tersulut emosi. Melangkah lebar menerjang Kanti, mendorong pundaknya sekuat tenaga, sampai si gadis terjungkal.

Kali ini Aji terlambat menolong, dia berdiri di posisi paling belakang, sengaja menjadi pengawal sebab tidak tega melihat para temannya mulai kelelahan.

Hisst.

Kanti mendesis, punggungnya terasa sakit, sesuatu di dalam tas menekan kala dia terjungkal.

“Sialan lu!” Aji Sardi menarik lengan yang tadi mendorong Kanti.

Abeer terhuyung, tidak siap mendapatkan serangan dadakan, pun gagal menghindar kala sebuah tinju menghantam rahangnya.

Akhh!

Kedua gadis dari kota berteriak, terlebih Mayang yang langsung menangis melihat kekasihnya tersungkur.

“Udah gua peringati jangan sekali-kali lu sakiti Candra Kanti!” Kedua tangannya mengepal, ia menahan diri untuk tidak kembali memukul.

“Semua ini gara-gara gadis aneh itu! Ngapain coba ngajak lari, padahal gak ada apa-apa di sana!” Abeer mengibas-ngibaskan tangan, meludah ke tanah. Sudut bibirnya terasa perih.

“Lu gak denger suara aneh tadi, hah?!” masih mencoba membela Kanti, walaupun tidak sempat melihat ke dasar jurang.

“Halla … bisa jadi cuma binatang. Bangke memang!” Abeer sudah berdiri.

“Coba lu pikir pakek otak bodoh mu itu! Binatang apa yang suaranya menggelegar macam tadi, hah?!”

“Lu juga gak kalah bego! Jurang itu pasti dalam banget, mana mungkin binatang bisa naik ke atas!” ia balas menghardik.

“Pasti akal-akalan Cupu _”

“Namanya Candra Kanti, bukan cupu!” Aji berniat mau menyerang lagi.

“Cukup!” Sambara menengahi, dia letih, lapar, sedangkan bekal makanan ringan raib ikut terjun ke jurang.

“Jelasin apa yang lu lihat dalam jurang tadi!” tanyanya sembari menatap gadis berdiri di tengah-tengah.

Kanti berusaha mencari kalimat tepat, mudah dicerna. “Aku lihat sekawan sosok seperti manusia, tapi berkepala Anjing atau Serigala, terus kakinya _”

“Pembohong! Kebanyakan omong lu! Mana mungkin ada hal begituan! Kita hidup dizaman modern, masih aja percaya takhayul!” Abeer memotong kalimat Candra Kanti.

“Lu bisa diem dulu gak?!” sulit sekali bagi Aji mengontrol emosi disaat seperti ini.

“Teruskan!” titah Sambara.

“Kakinya terbalik. Bagian jemari berada di belakang. Mereka gak cuma satu, ada banyak,” ia berusaha mengingat-ingat. “Terus ada sosok asing, aku gak sempat melihat jelas wajahnya, cuma bola mata biru seperti permukaan air laut _”

“Lu kebanyakan nonton film fantasi atau sihir sih, Kanti?! Mustahil ada makhluk seperti itu!” Sambara memandang kesal, capek-capek mendengarkan, malah dikasih kisah dongeng, menurutnya.

“Tau ni, Kanti! Gara-gara dia kakiku terkilir!” Mayang mengelus pergelangan kakinya yang mulai membengkak.

“Lu harus bertanggung jawab, Kanti! Seandainya lu gak ikut regu kita, sudah pasti musibah ini menjauh. Dasar pembawa sial, selalu ada hal aneh kalau ada lu,” Abeer mencibir.

“Harusnya aku yang menuntut pertanggungjawaban! Andai kamu gak ngotot berbelok arah, memilih rute lain. Saat ini kita sudah sampai di desa asli, bukan antah berantah berwarna kemerahan seperti ini! Semua bermula dari kamu, Abeer, dan kalian!” Jari telunjuknya menuding Sambara, Mayang, lalu Ahwaya yang duduk di atas tanah.

“Kalian pikir aku senang satu regu sama manusia minim akhlak, gak punya urat malu, mulut kasar? Gak! Kalau bisa milih, lebih baik gak ikutan KKN ini!” akhirnya Kanti meluapkan emosi dalam dada.

Dia tertekan, mencoba mengenyahkan apa yang disaksikan tadi, terlebih bola mata biru. Walaupun pencahayaan seperti nyala api, tetap bisa tertangkap oleh netranya.

“Kanti, apa yang kamu lihat tadi, nyata tidak? Atau ilusi muncul karena rasa takut, terlebih bumi yang kita pijak ini berwarna api?” Aji mengikis jarak, berdiri di depan gadis masih mengenakan topi hitam.

Candra Kanti terlihat kebingungan, mencoba tidak mempercayai, tapi tadi itu tampak benar-benar nyata. “Aji, kamu bisa lihat aku dan lainnya dengan jelas tidak?”

Aji pun menoleh ke arah keempat temannya, lalu kembali pada Kanti. “Ya, langit disini sungguh aneh. Tidak seperti malam gelap gulita yang buat kita sulit melihat.”

“Berarti tadi itu bukan delusi, kemungkinan besar nyata,” gumamnya.

Sesudahnya tersisa keheningan, setiap orang kembali dirambati rasa takut.

“Ada suara motor! Arahnya dari sana!” Kanti berbalik badan, menatap lurus pada jalanan seperti lorong panjang diapit pepohonan rindang.

“Kita harus apa? Pengendaranya manusia atau bukan?”

.

.

Bersambung.

1
Betri Betmawati
siapa yg dincar sama siluman anjing itu
lanjut Thor
Teh Qurrotha
sereeeemmmmmm ihhh
Secret Admire
Aksata.. siapakah dirimu Aksata?🤭
Monica Lora
demi apa kanti menikmati sentuhan si kekasihku 🤭
Engkar Sukarsih
iih... takut...
Secret Admire
😭 semoga segera ada pertolongan buat Kanti dan teman temannya 😭
Secret Admire
🥹 semoga Kanti dan teman temannya selamat 😭 meskipun sedikit harapan 😭
Aprisya
huuuufffff ati2 kanti🥰🥰
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
mana ? ga ada yang jaga yak?
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
waduh 😳
Iis Dawina
ya Allah aku kebangun JM 3..ada notif langsung bc..tp bc nya sumpah deh ikut tegang tahan napas
Siti Umaroh
thor bikin mreka ber 5 kompak dan jangan ada korban lgi thorrrrr semangat upnya
Siti Umaroh
thor jangan BKIN Sambara SMA Aya mati thorrr
Siti Umaroh
semoga GK ada yg meninggal lgi thorrr semangatt
Siti Umaroh
Thor BKIN Sambara SMA Aya tetep hidup thorrrrr plisss suka bgt sma perannyah
Siti Umaroh
Thor plis slametin Aya SMA Sambara suka bgt sma peran mereka
Siti Umaroh
up thorrr semangat jangan buat Sambara SMA Aya mati thorrr
Marlina Prasasty
jgn aya dan aji,,, kalau ebeer biarkan saja
Ayani Lombokutara: 🤣🤣🤣 sitambun beleguk
total 1 replies
𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽᴛ⑅⃝ˢ🐈
betul target selnjutnya siapa ya
ngeri kali
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒆𝒎𝒐𝒈𝒂 𝑲𝒂𝒏𝒕𝒊 𝒅𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒎𝒂𝒏"𝒏𝒚𝒂 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒎𝒂𝒕 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒈𝒂𝒌 𝒋𝒅 𝒌𝒐𝒓𝒃𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒖𝒕𝒏𝒚𝒂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!