Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 6
Nadhira melangkah dengan jantung yang berdegup kencang mengikuti langkah lebar Andra menuju ruang kerja pria itu. Di tangannya, map tebal berisi dokumen audit internal terasa seberat beban yang dia pikul sejak memutuskan untuk menjauh dari sahabat lamanya tersebut.
Begitu pintu jati besar itu tertutup, suasana mendadak hening. Aura dingin sangat terasa, Dhira merasa seluruh tu-buhnya lemas. Takut dan tak nyaman menjadi satu. Dia takut jika laporannya kali ini akan membuat masalah di perusahaan. Apalagi pada akhirnya akan melibatkan banyak orang di sana. Dua departemen yang tetap teguh dengan laporan masing-masing.
"Duduk dan perlihatkan semua bukti yang kamu dapat padaku! Aku tak mau kalau sampai kamu salah hitung dan pada akhirnya malah merugikan orang lain! Ingat jangan main-main dengan pekerjaan ini. Ini menyangkut perhitungan keuangan Perusahaan secara administrasi!" ujar Andra tegas membuat Nadhira menelan ludahnya kasar.
"Iya Pak!"
Nadhira menarik napas panjang, mencoba menata profesionalismenya. Memberikan semua berkas tebal yang ada di tangannya. Andra tak membaca semuanya. Terlalu lama dan membuang waktu. Juga bukan pekerjaan dia. Dia hanya butuh laporan jelas dan pasti. Dengan perhitungan yang sesuai. Tanpa ada kesalahan titik atau angka. Aliran dana dan juga keluar masuk dana perusahaan yang di gunakan untuk kepentingan proyek. Buka. Kepentingan pribadi karyawannya.
"Di halaman empat belas, Pak Andra bisa melihat adanya penggelembungan dana pada proyek pengadaan material di cabang Bogor. Nama vendor yang tercantum di sini adalah PT Sinergi Maju."
Andra mulai membuka berkas yang ada di tangannya mencari halaman empat belas dan menelitinya dengan pelan.
"Sinergi Maju? Bukankah itu vendor baru yang direkomendasikan oleh divisi pengembangan?"
"Benar," jawab Nadhira tegas.
"Dan setelah saya telusuri lebih jauh secara mandiri, vendor ini tidak memiliki rekam jejak yang jelas. Yang lebih mengejutkan, tanda tangan persetujuan awal dari divisi terkait dilakukan tanpa verifikasi lapangan yang ketat."
"Maaf saya tak bisa menelusuri lebih jauh. Karena saya hanya bekerja sebagai staf accounting yang memiliki batasan dalam pekerjaan. Saya hanya bertugas merinci semuanya. Maaf, setelahnya anda bisa memeriksa dan mencari tahu sendiri, Pak!" jelas Nadhira.
Andra mengambil berkas itu, jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Baru Dhira yang mendapatkan laporan ketidaksesuaian ini. Sedangkan selama ini yang lainnya selalu sama. Apa mereka kurang teliti? Apa mungkin selama ini ada banyak laporan keuangan yang tak sesuai dan merugikan perusahaan?
"Siapa kepala divisi yang menandatanganinya?"
Nadhira ragu sejenak.
"Katakan Dhira!" nada bicara Andra berubah.
Dia tak sabar mendengar siapa orang yang di duga bermain-main dengan uang perusahaan. Nadhira terlihat menimbang cukup lama. Apalagi dia tahu kedekatan Andra dengan orang itu. Jika Nadhira katakan, pasti Andra tak akan percaya begitu saja. Nadhira tak mau melewati batas pekerjaannya. Dia hanya bertugas merekap semua data yang dia terima. Tak tahu apa-apa di balik semuanya.
"Maaf pak, saya kurang tahu masalah itu. Anda bisa cari tahu sendiri dengan kekuasaan yang anda miliki," jawab Nadhira membuat Andra berdecak
"Untuk memastikannya anda bisa melakukan audit ulang dengan mendapatkan data dan laporan yang jauh lebih akurat dari beberapa depertemen terkait dan juga yang lainnya!" jawab Nadhira tak mau mengklaim dan menuduh siapapun di sana.
"Kamu yang menemukannya dan kamu yang harus membantuku mencari tahu lebih jelas lagi!"
"Maaf pak, saya memiliki akses terbatas. Saya hanya seorang Staff saja. Anda tak bisa melibatkan saya terlalu jauh. Silahkan gunakan kekuasaan dan wewenang anda untuk mencari tahu. Saya hanya bertugas mengimput data yang di berikan setiap departemen!" tolak Nadhira membuat Andra mendelik tajam.
"Ck! Menyebalkan kau Dhira! Benar-benar keras kepala!" kesal Andra.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi," bersamaan dengan Dhira yang berdiri dan membereskan berkas di depannya. Pintu ruangan Andra terbuka tanpa di ketuk.
"Sayang ... Apa kamu masih sibuk?" tanya Diana dengan suara sangat lembut dan manja.
Andra menyambut kedatangan istrinya. Dia bangkit dan terdengar suara ciu-man mereka di belakang Dhira. Tu-buh Dhira tiba-tiba menegang mendengar suara itu. Dia menutup mata sebentar.
Tangan Nadhira berhenti sejenak mendengar suara wanita yang pernah memintanya menjauh dari Andra sebelum mereka menikah. Bahkan saat itu Diana juga memberikan ancaman padanga. Nadhira buru-buru membereskan berkas dan segera pergi dari sana.
"Maaf Pak, Bu ... Saya permisi!" Pamit Dhira tanpa menunjukkan wajahnya kepada Diana.
"Dhiraaaa ... Tunggu! Apa kamu tak mau bertemu dengan Diana?" panggil Andra.
"Dhira? Maksudnya Nadhira teman kamu itu?" tanya Diana memastikan.
Sedangkan Dhira masih berdiri sambil menundukkan kepalanya di depan pintu ruangan Andra.
"Iya sayang, ternyata dia bekerja di sini. Aku juga baru tahu beberapa hari ini. Padahal dia sudah bekerja lebih dari tiga bulan!" jawab Andra excited.
"Dhira? Ya ampun kenapa kamu malah menunduk seperti itu Dhira! Aku senang sekali akhirnya bertemu dengan kamu, loh! Aku nggak nyangka kamu kembali lagi ke sini setelah lima tahun!" ucap Diana dengan nada ceria di depan Andra.
Dia mendekat ke arah Nadhira yang masih berdiri mematung di depannya. Bahkan Diana memeluk Nhadira membuat Andra tersenyum. Diana memang selalu bersikap seolah dia adalah wanita yang berhati lembut di depan Andra. Itulah kenapa sebanya Andra semakin jatuh cinta kepada Diana.
"Kenapa kamu datang lagi ke dalam kehidupan Andra? Bukannya sudah aku katakan jangan lagi menampakkan diri kamu di depan Andra?" bisik Diana saat memeluk Nadhira membuat tubuh Nadhira lemas.
"Ah iya mbak Diana. Senang sekali bertemu dengan Mbak, tapi saya harus kembali bekerja, permisi!"
"Sebentar lagi jam makan siang, apa kamu tidak mau makan dengan kami?" tanya Andra.
"Terima kasih tawarannya Pak Andra. Maaf saya sudah membawa bekal," jawab Nadhira.
"Sayang sekali, padahal aku ingin mengobrol banyak dengan kamu Dhira. Tapi ya sudah lain kali kita harus makan siang bersama ya!" suara Diana di buat seriang mungkin berbeda saat dia memeluk Dhira.
"Iya mbak Diana. Maaf kalau begitu saya pamit," Dhira benar-benar pergi dari sana dengan perasaan yang campur aduk.
Diana masih sama. Masih membencinya dan selalu mengira jika dia adalah sumber ancaman untuk hubungannya dengan Andra. Padahal dari dulu sudah jelas jika Andra sangat mencintai Diana. Tak ada perasaan sedikitpun untuk dia. Namun Diana sepetinya sangat keta-kutan jika Andra akan memiliki perasaan lain kepada Dhira.
"Astaga, kenapa aku malah menangis?" Nadhira mengusap pipinya yang mulai mengeluarkan air mata tanpa di minta.
"Apa aku harus mengundurkan diri? Tapi aku sudah tanda tangan kontrak. Aku tak punya uang membayar kompensasi jika kontrak belum selesai aku mundur," ucap Nadhira pelan sambil me-ne-kan da-danya yang kembali terasa sangat se-sak.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh