NovelToon NovelToon
Obsesi Tuan Perdana Menteri

Obsesi Tuan Perdana Menteri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Wanita perkasa
Popularitas:982
Nilai: 5
Nama Author: Amila FM

“Mereka tidak ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia. Mereka ditakdirkan untuk menguasainya.”

Di depan publik, Kael Arden adalah Perdana Menteri termuda yang sempurna—dingin, klimis, dan jenius politik yang tak tersentuh. Namun, reputasi itu hancur saat Aurelia Vane, CEO Vane Group sekaligus Ratu dunia bawah tanah, mempermalukannya di panggung internasional. Bagi Kael, Aurelia adalah ancaman negara yang harus dihancurkan. Bagi Aurelia, Kael hanyalah pria sombong yang perlu diajari cara berlutut.

Perang ego di depan kamera berubah menjadi obsesi gelap di balik pintu tertutup. Dari ruang kerja yang sunyi hingga pesta pelelangan rahasia, setiap konfrontasi verbal mereka selalu berakhir dengan ketegangan sensual yang menyesakkan napas. Kael yang terbiasa mengendalikan negara justru kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sementara Aurelia dengan manipulatif memanfaatkan hasrat pria itu untuk menghancurkan pemerintahannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obsession

Lampu darurat berwarna merah di dek navigasi The Sovereign berputar dalam ritme yang statis, memotong kegelapan dengan kilatan-kilatan yang menyerupai denyut nadi yang sekarat. Kepulan asap mesiu yang tebal perlahan-lahan naik ke langit-langit, meninggalkan bau belerang yang menyengat, bersaing ketat dengan keharuman pekat dari esensi black rose yang menguar dari kulit Aurelia Vane. Di luar pintu besi, suara derap langkah sepatu bot taktis milik tim pengawal internal Vane Group terdengar menggema, membersihkan sisa-sisa penyerang yang gagal. Kapal pesiar mewah itu telah kembali ke bawah kendali pemiliknya.

Namun, di dalam ruangan itu, waktu seolah berhenti bergulir.

Kael Arden bersandar pada konsol navigasi utama, membiarkan tubuh tegapnya merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai marmer yang dingin. Kemeja putih miliknya yang mahal kini basah kuyup oleh cairan merah pekat yang terus mengalir dari luka tembak di bahu kirinya. Wajah sang Perdana Menteri pucat pasi, butiran keringat dingin membasahi pelipisnya, namun sepasang matanya yang setajam elang sama sekali tidak meredup. Netra itu tetap terkunci, terbakar oleh intensitas obsesi yang mengerikan, tertuju lurus pada satu-satunya wanita di dalam ruangan.

Aurelia melepaskan cengkeramannya pada Glock 19, membiarkan senjata api itu jatuh ke lantai dengan bunyi denting besi yang tajam. Ia tidak bernapas memburu. Tangannya tidak gemetar. Kematian tiga orang di depan lift tadi tidak lebih dari sekadar gangguan kecil dalam jadwal malamnya. Namun, saat tatapannya turun dan mendarat pada noda darah yang kian melebar di tubuh Kael, sesuatu di dalam rongga dadanya mendadak bergeser.

Ada letupan kehangatan yang asing, aneh, dan mengganggu yang menjalar di balik dinding dadanya yang selama ini sedingin es.

Dengan gerakan yang terukur dan anggun, Aurelia melangkah mendekat. Ia berlutut di hadapan Kael, mengabaikan fakta bahwa lututnya menyentuh lantai yang kotor.

"Kau melakukan kalkulasi yang sangat buruk, Perdana Menteri," suara Aurelia mengalir sehalus beludru, namun nadanya tetap sedingin biasanya. Ia merogoh kotak pertolongan pertama dari kompartemen darurat di bawah konsol. "Menjadikan punggungmu sebagai tameng untuk seorang wanita yang bahkan tidak ragu untuk menghancurkan kariermu esok hari... itu tindakan yang sangat amatir."

Kael meringis rendah saat jemari dingin Aurelia mulai menyingkap sisa kain kemejanya untuk memeriksa luka tembak itu. Namun, bukannya mundur, Kael justru mengangkat tangan kanannya yang bebas, mencengkeram pergelangan tangan Aurelia dengan sisa tenaga yang ia miliki. Cengkeramannya tidak sekuat biasanya, tetapi tekanan jemarinya mengisyaratkan sebuah kepemilikan yang absolut.

"Jangan bicara tentang kalkulasi denganku, Aurelia," bisik Kael parau. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Aurelia, membiarkan napasnya yang hangat dan berat menerpa bibir wanita itu. "Kau adalah satu-satunya anomali yang tidak akan pernah kumasukkan ke dalam rumus politikku. Jika kau harus hancur, maka akulah yang akan menghancurkanmu. Bukan bajingan-bajingan di luar sana."

Aurelia menatap lurus ke dalam netra Kael. Di ruang navigasi yang terisolasi dari dunia luar ini, tidak ada pelepasan pakaian yang didasari nafsu primitif. Tidak ada aktivitas seksual yang terburu-buru. Ketegangan emosional di antara mereka begitu padat, begitu pekat, hingga oksigen di sekitar mereka seolah-olah lenyap. Ini adalah perang ego antara dua penguasa yang terbiasa mendikte takdir orang lain, yang kini mendapati diri mereka saling terjerat.

Aurelia mencondongkan tubuhnya ke depan, memotong jarak yang tersisa di antara mereka. Bibirnya yang dipulas lipstik merah gelap menyentuh bibir Kael yang mulai mendingin.

Itu adalah ciuman yang dalam, lambat, dan penuh dengan dominasi yang tertahan. Tidak ada kelembutan yang manis, itu adalah pertukaran napas yang menuntut, sebuah ciuman yang mencoba mengobati luka sekaligus mengisi kekosongan masif yang selama ini menganga di dalam jiwa mereka yang sama-sama rusak. Kael membalas ciuman itu dengan intensitas yang gila, menghirup aroma black rose dari tubuh Aurelia seolah wanita itu adalah satu-satunya pasokan udaranya. Darah dari bibir Kael merembes, menodai bibir dan dagu Aurelia, menyatukan rasa besi dan manis di dalam mulut mereka.

Melalui sentuhan fisik yang intim ini, hubungan rahasia mereka resmi dimulai, sebuah aliansi gelap yang lahir dari darah di tengah samudra, diikat oleh obsesi, dan didorong oleh ego yang menolak untuk tunduk satu sama lain.

Ketika Aurelia perlahan menarik dirinya untuk mulai membersihkan luka Kael, tautan mata mereka tidak terputus. Jemari Aurelia yang dingin menekan kasa steril ke atas luka tembak di bahu Kael tanpa sedikit pun keraguan, membuat pria itu mendesis tajam menahan sakit yang membakar sarafnya.

"Kau sangat terobsesi pada kekuasaan, Kael," ujar Aurelia sembari membalut luka itu dengan gerakan yang presisi dan cepat, menunjukkan ketangkasan yang tidak biasa bagi seorang CEO korporasi biasa. "Apa yang sebenarnya dicari oleh seorang anak jenius dari panti asuhan kumuh di dalam gedung parlemen yang penuh dengan kemunafikan itu?"

Kael menyandarkan kepalanya ke dinding konsol, matanya menatap langit-langit dengan senyum sinis yang mengembang. "Kekuasaan di parlemen adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia ini, Aurelia. Ketika kau tumbuh melihat ibumu dihancurkan oleh hukum yang dibuat oleh para pejabat korup, kau akan sadar bahwa menjadi orang baik adalah sebuah kesalahan fatal. Aku masuk ke dalam sistem itu, merangkak di antara ular-ular politik, bukan untuk memperbaiki negara. Aku ingin memegang pena yang menulis hukum itu sendiri. Aku ingin mendikte siapa yang hidup dan siapa yang hancur di bawah telunjukku."

Kael kembali menurunkan pandangannya, menatap Aurelia yang kini sedang merapikan perban di tubuhnya. "Itulah ambisiku. Menjadi penguasa mutlak di atas meja hijau. Hingga kau datang dan mengacaukan semua bidak catur yang sudah kususun selama bertahun-tahun."

"Aku tidak mendesain bisnis Vane Group untuk menjadi pengikutmu, Perdana Menteri," balas Aurelia tenang. Ia berdiri tegak, membersihkan sisa darah Kael yang menempel di jemarinya dengan selembar kain putih. "Ambisiku adalah mengendalikan aliran uang yang membiayai penamu. Kau boleh memegang hukumnya, Kael, tetapi akulah yang memiliki harga dari hukum tersebut. Vane Group ada untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun penguasa di dunia atas yang bisa bernapas tanpa izin dariku."

Kael menatap siluet Aurelia dari bawah, wanita yang hanya mengenakan jas abu-abu miliknya yang sudah kotor terkena cipratan darah, wajah yang ternoda darahnya sendiri, namun tetap memancarkan aura female dominance yang begitu mutlak. Konflik emosional di dalam dirinya mendidih, ia membenci fakta bahwa wanita ini memegang kendali atas emosinya, namun di saat yang sama, ia menggilai setiap detik dari ketidakberdayaan tersebut.

"Kita berdua adalah monster yang mengenakan pakaian mahal, Aurelia," bisik Kael parau, tawa rendahnya bergema sensual di dalam ruangan.

"Bedanya, aku tidak pernah berpura-pura menjadi malaikat, Kael," potong Aurelia dingin.

Ketika fajar menyingsing di cakrawala, mewarnai permukaan samudra dengan warna emas yang pucat, The Sovereign akhirnya bersandar di dermaga pribadi milik Vane Group. Dunia di luar sana masih berjalan seperti biasa, tidak mengetahui badai darah yang baru saja terjadi di tengah laut, tepatnya hanya di area steril Aurelia.

Namun, bagi Kael dan Aurelia, permainan di balik pintu tertutup telah berakhir. Mereka tidak mencoba menutupi hubungan rahasia ini dengan kebohongan atau protokol yang rumit. Hubungan ini mengalir begitu saja secara profesional namun dipenuhi oleh keintiman yang teramat berbahaya di depan publik.

Siang itu, dalam rapat kabinet darurat, Kael Arden melangkah masuk dengan mantel hitam panjang yang menutupi bahu kirinya yang kaku. Di hadapan para menteri dan jurnalis, dengan arogansi yang mutlak, Kael secara terbuka memblokir draf undang-undang anti-monopoli yang sedianya akan menjatuhkan sektor energi milik Vane Group. Ia menandatangani kemitraan strategis baru antara pemerintah dan perusahaan Aurelia tanpa memedulikan protes dari faksi oposisi.

Beberapa jam kemudian, pemandangan yang lebih mengejutkan terjadi di depan Gedung Parlemen. Limosin hitam mewah milik Aurelia Vane terparkir dengan tenang di area steril perdana menteri. Di depan ratusan kamera wartawan yang berkilat, Kael melangkah masuk ke dalam mobil tersebut, di mana Aurelia sudah menunggu di dalam dengan kacamata hitam besar dan segelas wine di tangannya.

Mereka tidak bertingkah seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Tidak ada kata-kata manis. Mereka duduk bersebelahan, membiarkan bahu mereka saling bersentuhan di balik kaca mobil yang gelap, memancarkan aura dua predator tertinggi yang kini berjalan di satu jalur yang sama. Mereka membiarkan publik berspekulasi, membiarkan pasar saham bergejolak, dan membiarkan para pengawal menatap mereka dengan pandangan ngeri.

Namun, di dalam dunia politik yang kejam, keterbukaan yang penuh arogansi ini adalah sebuah undangan terbuka bagi para musuh yang kelaparan.

Di sudut-sudut gelap ruang sidang parlemen, faksi-faksi politik yang selama ini frustrasi mencoba menjatuhkan Kael Arden mulai tersenyum penuh kemenangan. Mereka melihat kedekatan Kael dan Aurelia bukan lagi sekadar skandal moral, melainkan sebuah celah fatal yang bisa mereka gunakan untuk meremukkan leher sang Perdana Menteri termuda itu selamanya.

Sebuah konspirasi besar mulai dirajut di balik dinding-dinding marmer pemerintahan. Sebuah jebakan yang didesain dengan sangat rapi, yang siap mencengkeram dan mengakhiri karier politik Kael Arden dalam satu hentakan brutal.

Jebakan itu sedang bergerak, bersiap untuk menutup jalannya di babak berikutnya, The Minister's Trap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!