NovelToon NovelToon
DOSENKU, SUAMIKU

DOSENKU, SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Nikahmuda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagaimana Caranya?

Malam itu di rumah Rhea sunyi seperti biasa, tanpa banyak suara yang benar-benar berarti. Hanya ada bunyi peralatan makan yang sesekali bersentuhan dan aroma masakan sederhana yang masih tertinggal di udara ruang makan.

Rhea duduk di kursinya seperti tubuh yang hadir tapi pikirannya tidak ikut tinggal. Siku kirinya menopang kepala, sementara tangan kanannya mengaduk-aduk makanan di piring tanpa benar-benar berniat memakannya. Sendok itu bergerak pelan, berputar tanpa arah, sesekali berhenti hanya untuk diam di atas nasi yang mulai dingin.

Namun yang lebih ramai justru kepalanya sendiri. Pikirannya sejak tadi tidak berada pada makanan di hadapannya.

“Rhea… Rhea.”

Suara itu membuatnya tersentak pelan.

Deg!

Rhea sempat menghentikan gerakan tangannya.

"Hah?"

“Rhea, kamu ini kenapa?” suara ibunya...Rika, terdengar dari seberang meja makan. Nada itu tidak keras, tapi cukup untuk menarik Rhea kembali ke dunia nyata.

Rhea tersentak kecil, lalu buru-buru mengangkat wajahnya. “Aku nggak apa-apa kok, Mah.”

Tatapan Rika langsung menyipit sedikit, seperti orang yang sudah terlalu lama mengenal kebohongan kecil anaknya.

“Jangan bohong, Rhea. Dari tadi kamu melamun. Makananmu juga tidak dimakan.”

Rhea tersenyum tipis, berusaha terlihat wajar. “Aku cuma kepikiran event kampus aja, Mah.”

Rika menghela napas panjang, lalu meletakkan sendoknya. “Mama sudah bilang berkali-kali, kalau kamu diminta jadi panitia itu tolak saja. Fokus ke kuliah kamu. Kamu kan juga asdos, itu sudah cukup menyita waktu.”

“Waktu jadi asdosnya tinggal satu minggu kok, Mah.”

“Ya sama saja,” sahut Rika tegas tapi tetap tenang.

“Panitia event itu juga menguras tenaga. Mama dulu juga pernah seperti kamu, jadi tahu rasanya. Makanya Mama selalu bilang, jangan terlalu dipaksa.”

Rhea menunduk sedikit. “Iya, Ma… maaf.”

Rika meliriknya lagi, lalu menghela napas lebih pelan. “Sudah, cepat habiskan. Lalu tidur.”

Rhea menggeser piringnya sedikit, lalu bersandar kembali. “Nggak nafsu, Mah.”

Kalimat itu membuat Rika menatapnya lama, lalu hampir tersenyum kecil karena kesal sekaligus heran.

“Memangnya kamu makan itu pakai nafsu?”

Rhea langsung mendongak. “Eh? Mama ih…”

Rika hanya menggeleng pelan. “Sudah, makan buah saja kalau begitu.”

“Iya…” jawab Rhea pelan, lalu bangkit dari kursinya.

Namun bahkan saat ia berdiri dari kursi itu, pikirannya masih terasa tidak benar-benar kembali.

Bukan karena makanan.

Tapi karena ada hal lain yang sejak siang tadi terus menempel di kepalanya, tanpa ia tahu bagaimana cara mengusirnya.

Rhea akhirnya memutuskan kembali ke kamarnya lebih dulu setelah beberapa saat duduk di ruang makan dengan pikiran yang tidak benar-benar berada di tempatnya.

Di tangannya ada buah apel dan pisang yang tadi ia ambil di meja makan, lebih karena kebiasaan daripada benar-benar ingin dimakan.

Langkahnya pelan saat melewati lorong rumah yang sudah mulai sepi. Cahaya lampu kuning dari ruang tengah perlahan tertinggal di belakang, digantikan suasana kamar yang lebih tenang dan tertutup.

Setibanya di kamar, Rhea langsung menutup pintu lalu menguncinya dari dalam tanpa banyak berpikir. Bunyi kecil kunci yang berputar terdengar jelas di tengah sunyi malam itu.

Ia melangkah ke dalam, lalu meletakkan buah-buahan yang masih ada di tangannya ke atas nakas di samping tempat tidur. Tidak ada niat untuk memakannya lagi untuk saat ini.

Setelah itu Rhea duduk di tepi ranjangnya, lalu perlahan merebahkan tubuhnya ke atas kasur tanpa melepas pandangan dari langit-langit kamar, lalu perlahan ia memejamkan matanya. Tangannya terlipat di atas perut, sementara pikirannya kembali perlahan ditarik ke tempat yang sejak tadi ia coba hindari.

Bayangan siang itu muncul lagi, begitu jelas seolah baru saja terjadi.

"Tidak."

"Saya sangat sadar."

"Pak Arga mau apa?"

"Kamu."

Rhea membuka matanya perlahan.

Hening beberapa detik memenuhi kamar itu sebelum ia menghela napas panjang, menatap kosong ke atas.

“Pak Arga menyukaiku?” gumamnya pelan, hampir seperti bisikan yang takut terdengar oleh dirinya sendiri.

Ia terdiam sebentar, lalu menggeleng kecil meski tidak ada siapa pun yang melihat.

“Gak mungkin kan…”

Tangannya bergerak menutupi sebagian wajah, seolah ingin menghapus pikiran itu dari kepalanya sendiri.

“Mau disangkal…” suaranya pelan, berat, “tapi tindakannya gak bisa disangkal.”

Hening lagi.

Rhea menarik napas lebih dalam, lalu membuangnya perlahan, seperti mencoba menenangkan sesuatu yang justru semakin berisik di dalam dirinya.

“Kalau beneran…” bisiknya, “aku harus gimana?”

Matanya masih menatap kosong ke langit-langit kamar.

“Dosen dan mahasiswa…”

Kalimat itu menggantung di udara, tidak selesai, tapi cukup untuk membuat kamar yang sunyi itu terasa semakin berat.

Rhea bergeser pelan di atas ranjangnya, mengubah posisi tubuhnya menjadi menyamping. Gerakannya lambat, seperti tubuhnya ikut menyesuaikan beban pikirannya sendiri. Ia menarik selimut hingga sebatas bahu, merapatkannya sedikit seolah mencari rasa aman di dalam sesuatu yang sederhana.

Namun rasa tenang itu tidak datang juga.

"Kalau memang iya…"

Matanya menatap kosong ke sudut kamar yang remang.

"…Gimana caranya aku harus menghindar?"

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti keluhan, lebih seperti usaha mencari jawaban yang bahkan ia sendiri tidak yakin ingin menemukannya. Ia menarik napas pelan, lalu membuangnya perlahan, tetapi pikirannya tetap tidak ikut tenang.

Ada sesuatu yang terasa berubah sejak siang tadi. Bukan hanya tentang Arga, tapi tentang dirinya sendiri...cara ia memikirkan, cara ia diam, bahkan cara ia mencoba menyangkal.

Rhea memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi, seolah berharap rasa itu bisa ikut hilang bersama kelopak yang turun naik.

Tidak berhasil.

Ia hanya terdiam lebih lama, membiarkan sunyi kamar malam itu mengisi seluruh ruang di sekitarnya, sampai akhirnya yang tersisa hanyalah satu hal yang tidak bisa ia dorong pergi begitu saja: pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!