Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Selipkan aku di do'a-do'amu
Satu koper telah digusur Afif ke ruang tengah.
"Baik-baik, dirapatkan sweaternya neng. Selamat berlibur sebelum kembali sibuk dan fokus sama persiapan ujian." Umi menarik kedua sisi sweater rajut di badan Lova. Menyentuh kepala dan dagu sang menantu kecil sebelum ia benar-benar pergi.
"Siap umi." kikiknya, "mau dibawain apa, oleh-olehnya? Bakpia pathok? Baju batik, daster-daster..."
Umi tertawa kecil dan menggeleng, "cukup orang yang sama tapi semangat baru."
"Uuuuu..." Lova menyeru membuat umi lagi-lagi mengehkeh kecil, "Lova pergi dulu, umi." ia meraih punggung tangan umi, bukan hanya itu umi bahkan sudah mengecup kening Lova dengan hidungnya.
Afnan turun, dengan songkok dan baju gamis kemko putihnya, baru saja ia menutup Al Qur'an miliknya setelah Abi memintanya turun.
Oke mereka tak bisa menolak usul abi yang tiba-tiba ngide agar Afnan mengantarkan keduanya ke PO bus travel.
"Padahal ngga usah bi, Afif sudah siap pesan mobil online."
"Tapi belum kan? Yo wes, biar diantar adikmu, biar efisien, ngga ongkosan. Biasanya juga kalau keluar kota buat publikasi jurnal dan tugas penunjang minta antar adikmu." Ada kopi panas yang sedang ia geluti disana. Duduk santai sedikit membuka kedua kaki sebab perut yang sudah offside dimana gulungan sarung merupakan bentuk pengalihan untuk menutupi hal itu.
Afnan, wajahnya itu cukup anteng dan datar, tak bisa dijelaskan apakah ia senang atau tak suka menerima tugas ini dari Abi. Langkahnya yang turun lalu bergabung di meja makan diam-diam menghanyutkan, "pake mobil siapa, abi apa mas?"
Entahlah, Afif masih belum bisa meredakan rasa cemburunya itu saat melihat kembali sang adik.
Semalam, perasaan berdebar nan syahdu untuk pertama kalinya ia rengkuh bersama Lova-nya.
Manis, lembut dan segar, tentu saja istri kecilnya itu baru gosok gigi plus berkumur dengan mouthwash beraroma jeruk. Aroma Lova yang memabukkan membuatnya lupa daratan, jika cengkraman Lova tak mengerat disertai tepukan di dadanya mungkin ia akan terus menyesap madu, membuat bibir Lova bengkak.
Masih terasa di jempolnya, basah di bibir Lova yang sampai memerah ia sesap.
Afif tersenyum membayangkan hal itu, wajah menggemaskan Lova, mata yang berbinar di bawah siraman lampu kamar, cantik. Mungkin nanti ia akan mengulanginya lagi, sekali---dua kali? Sering, pokoknya akan ia lakukan setiap saat.
Namun senyum di bibirnya luntur, ketika semuanya kembali hening, Lova sudah senyap dengan dengkuran halus di sampingnya, pikiran negatif itu kembali menyambangi. Tak mempan dengan kalimat istigfar. Bahkan saking hanyutnya ia dengan para setan, sempat terpikirkan....apakah Lova sengaja menerima pinangannya waktu itu karena ia yang mirip Afnan? Ia melirik Lova yang tenang dalam lelapnya.
Nyatanya dewasa, berilmu tak menjamin seseorang terhindar dari perasaan cemburu, ada sifat manusiawi yang tiba-tiba muncul mendominasi jiwa layaknya virus begitu cepat dan menantikan.
Sesuatu yang jelek ini tak bisa dibiarkan, harus segera dituntaskan agar ia tak migren. Ia harus mendapatkan jawaban dan kejelasan baik itu dari Afnan ataupun Lova terlebih ia belum sempat berani membuka isi surat yang lagi-lagi menghantam kewarasan. Iyuhh! Jelek sekali cemburunya.
"Mas saja." Jawabnya singkat diangguki Afnan yang kini sudah menggeser kursi untuk sarapan terlebih dahulu. Sementara ia ada di sebrang abi, menikmati sisa sarapannya yang tak banyak. Ia tak begitu berselera pagi ini, kepalanya sedikit migren, apakah efek dari usia? Ahhh, usia lagi...
Lova, ia masih sibuk dengan tas selempang kecilnya untuk kemudian bergabung bersiap sarapan, duduk di samping Afif tanpa disadari yang bertepatan dengan Afnan di sebrangnya.
"Sarapan dulu, dari tadi kamu sibuk ngurusin isian tas." Pintanya pada sang istri.
"Masukin chargeran mas, yang semalem dipakai takut ketinggalan. Mas jadi bawa laptop?" Diangguki Afif.
"Loh, ngapain bawa laptop to?" umi menuangkan air minum milik abi.
"Mas Afif bawa kerjaannya umi." Lova merotasi bola matanya.
"Lah, kok mbawa kerjaan sih mas? Judulnya kan liburan."
"Sedikit umi, cuma harus absen dan terima email tugas dari beberapa mahasiswa." Jawab Afif.
Lalu Lova mencondongkan badannya berusaha mengambil telur balado yang ada di dekat Afnan, melihat Lova yang kesulitan, Afnan mendorong mangkuk, "mau kuambilin? Sini, berapa satu apa dua?" tawarnya, memancing Lova untuk menatap Afnan sejenak, "setengah aja, jangan banyak-banyak."
"Dikit banget makanmu, pantes aja kalo olahraga yang paling bontot..." cibir Afnan berseloroh.
Lova mendengus, "enak aja. Ngga usah sombong. Mentang-mentang kamu----eh.." Lova baru menyadari sesuatu, Afnan notice dan sedetail itu memperhatikannya di sekolah?
Ia bergegas duduk dengan wajah yang mendadak kaku.
Afif cukup sadar dan tau dengan interaksi singkat yang mungkin bagi abi dan umi hal itu tak begitu penting, tidak saling mengenal? Hm.
Suasana di mobil cukup---awkward. Ada aura kelam dari Afif yang berada di samping Lova, ada perasaan canggung dari Lova dan tentu saja Afnan yang so sibuk mengatur suhu AC, menyalakan pemutar musik. Dan yeah tentu saja mengatur-atur rear vision.
Afif menghela nafasnya berkali-kali, mencoba menempatkan diri sebagai yang paling dewasa, meski hati dan pikirannya kini sedang digulung badai, berisik.
"Cileunyi yang deket bunderan." Afif memberikan clue kemana mereka harus jalan yang diangguki Afnan, "yang di dekat terminal?"
"Iya."
Lova memilih mengalihkan pandangan ke arah luar jendela kaca mobil yang belum begitu terang benderang, matahari masih malu-malu untuk muncul, tapi gradasi warna langitnya cukup indah. Karena dari ufuk timur itu ada kemilau cahaya oranye kekuningan tanda mentari siap muncul.
Sayup bising kendaraan di sekitar tak terlalu mengganggu, justru...mereka hanyut diantara pikiran masing-masing ditemani alunan list lagu-lagu pop Indonesia yang Afif masukan melalui memori.
*Ada titik-titik di ujung do'a*...
*Do'a keselamatan penutup malam yang harus diisi nama*.
Afnan hampir saja memindahkan putaran lagu, merasa jika lagi itu terlalu melow sementara ia butuh musik yang menghidupkan suasana sunyi ini. Namun---
"Eh jangan dipindahin, aku suka lagu ini...lagi suka sih tepatnya." Lova melarangnya. Afnan melihat Lova dari rear vision, mengurungkan niatannya, begitupun dengan Afif yang melirik.
Benar Lova sudah bergumam lirih ikut bernyanyi pelan sembari menikmati perjalanan,
"maka kuisi, dengan namamu...nama lengkapmu hurufnya kuhias berjuta warna, sebisanya aku gambarkan juga bunga-bunga...lengkap dengan kupu-kupu terbang disekitarnya." Suara ciri khas Lova yang manja sembari tersenyum manis membuat kedua lelaki yang ada disana mulai meraba perasaan masing-masing. Afif bahkan sudah menelan salivanya sulit, To : *Afnan* *bentuk love*...otaknya menarik potongan memori kemarin.
Ia tak peduli siapapun atau apapun, Lova menikmati musiknya sambil bernyanyi dan menatap ke arah luar jendela mobil, "aku mencoba, gambarkan juga...bentuk wajahmu meski yang kuingat matamu saja...kalau jelek kamu jelas ngga boleh marah-marah, kapan terakhir bertemu, bahkan ku sudah lupaaaa...."
*Ini rasanya, sulit sekali. Ingat hatiku dihancurkan jadi berkeping-keping...Kali ini aku coba, merakitnya lagi, meski kalau diamati, agak aneh bentuknya* ..
Afnan berdehem menggeser pan tatnya disana merasa gatal dan panas.
"Ada titik-titik di ujung do'a-do'a keselamatan penutup malam...Kuisi dengan namamu, kucoba memaafkan mu selalu, kalau disitu ada salahku, maafkan ku juga." Lova melirik ke arah Afif yang mendadak diam tapi kemudian ia mencolek dagu sang suami usil nan genit, "selipkan aku disana, di do'a-do'amu juga..."
Lova tertawa kecil melihat wajah lempeng Afif yang menaikan alisnya, "kenapa sih?"
.
.
.
.
\* (Sal Priadi - Ada titik-titik di ujung do'a)
Terimakasih Afnan, kamu masih ingat buat istighfar karena melihat apa yang tak seharusnya kamu kagumi.
Semangat move on Afnan, kamu masih muda, perjalanan masih panjang 🥰
(bertanya dengan nada lemah lembut dan muka polos ?
makin cinta nih pak suami
Bismillah., semangat Lop...
tapi Pak Kun punya istri kan..?? tar Aku Doa'in Until Jannah gak da istri., ngelamar Aku lagi nanti... 🤣🤣🤣
selamat berjuang buat afnan 😬😬😬
mbak ipar semakin merekah 🤣🤣🤣
Lova tuh emang pd dasarnya anak yg baik dan penurut.... kamu nyesel bgt kan afnan udah ngecap lova sbg anak yg nakal dan bukan tipemu? 🤭🤭🤭
Lova menggunakan hijab ya? berarti dia sudah prepare dari kemaren kemaren seragam sekolah yang panjang.