NovelToon NovelToon
Ketika Perjalanan Mempertemukan Kembali Yang Belum Selesai

Ketika Perjalanan Mempertemukan Kembali Yang Belum Selesai

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: nita.mamitha

Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.

Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.

Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhentian Terakhir

Kereta melambat.

Suara gesekan roda dengan rel terdengar lebih jelas, lebih kasar seolah menandai sesuatu yang akan berakhir. Lampu luar masuk lewat jendela, satu per satu, seperti hitungan mundur yang tidak bisa dihentikan.

Bandung.

Perjalanan hampir selesai.

Dan untuk pertama kalinya…

Nara berharap kereta ini tidak pernah sampai.

Di dalam, suasana tetap sunyi.

Beberapa penumpang mulai bersiap. Mengambil tas. Berdiri. Bergerak menuju pintu.

Tapi Nara dan Arka

masih duduk.

Diam.

Seolah kalau mereka tidak bergerak… waktu juga akan ikut berhenti.

“Nar…”

Suara Arka pelan.

Hampir tidak terdengar di tengah suara orang-orang.

Nara tidak langsung menoleh.

Dia tahu… setelah ini, tidak ada lagi “nanti”.

“Ini… terakhir ya?”

Kalimat itu keluar.

Pelan.

Tapi cukup untuk menghancurkan sisa harapan yang masih ada.

Nara menutup matanya sebentar.

Menarik napas panjang.

Lalu membuka lagi.

“Iya.”

Satu kata.

Tapi terasa seperti akhir dari segalanya.

Arka mengangguk pelan.

Tidak melawan.

Tidak menyangkal.

Karena dia tahu

ini bukan keputusan yang dibuat dalam satu malam.

“Gue… masih pengen nyoba.”

Akhirnya Arka berkata.

Putus asa.

Jujur.

Nara tersenyum kecil.

Senyum yang… terlalu lelah untuk disebut bahagia.

“Gue juga pernah.”

Arka menatapnya.

Dan kalimat itu langsung memukul lebih keras dari apa pun.

“Tapi kita gagal, Ka.”

Pelan.

Tanpa emosi berlebihan.

Justru itu yang membuatnya terasa nyata.

“Bukan karena kita nggak sayang.”

Air matanya mulai jatuh lagi.

“Tapi karena kita nggak tau cara jaga.”

Hening.

Kereta berhenti.

Pintu terbuka.

Suara orang-orang keluar masuk mulai terdengar jelas.

Tapi mereka berdua masih di sana.

Di kursi yang sama.

Di momen yang… terlalu berat untuk ditinggalkan.

“Kalau gue minta satu kesempatan lagi…”

Arka memulai.

Suaranya pecah.

“…lo bakal jawab apa?”

Nara tidak langsung menjawab.

Dia menatap Arka.

Lama.

Seolah mencoba mengingat semua yang pernah mereka punya.

Tawa.

Janji.

Harapan.

Dan semua yang akhirnya hancur.

Lalu dia tersenyum.

Pelan.

“Gue bakal bilang… telat.”

Arka menunduk.

Dan untuk pertama kalinya… air matanya jatuh.

Bukan karena dia lemah.

Tapi karena dia akhirnya benar-benar sadar

bahwa tidak semua hal bisa diperjuangkan kembali.

“Kenapa harus kita?”

Pertanyaan itu keluar.

Hampir seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu.

Nara menatapnya.

Matanya basah.

“Karena kita manusia.”

Sederhana.

Tapi jujur.

“Kita salah waktu.”

Satu jeda.

“Dan kita nggak cukup berani… buat jujur di waktu yang tepat.”

Arka tertawa kecil.

Pahit.

“Gue nyesel.”

Nara mengangguk.

“Iya.”

“Gue juga.”

Hening.

Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki.

Tidak ada lagi yang bisa diulang.

Hanya ada… penerimaan.

Orang-orang mulai berkurang.

Gerbong semakin kosong.

Dan mereka tahu

ini benar-benar akhir.

Nara berdiri.

Tangannya sedikit gemetar.

Dia mengambil tasnya.

Arka ikut berdiri.

Refleks.

Seperti dulu.

Mereka berdiri saling berhadapan.

Dekat.

Tapi terasa jauh.

“Jaga diri lo ya.”

Arka berkata pelan.

Nara mengangguk.

“Lo juga.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada sentuhan.

Karena mereka tahu

sekali saja mereka menyentuh…

semuanya bisa runtuh lagi.

“Terima kasih ya.”

ucap nara.

Arka mengernyit.

“Buat apa?”

Nara tersenyum kecil.

“Buat semua yang pernah kita punya.”

Dan itu…

cukup untuk membuat dada Arka sesak.

Nara melangkah.

Satu langkah.

Arka tidak menahan.

Tidak memanggil.

Karena dia tahu

cinta tidak selalu berarti harus memiliki.

Langkah Nara berhenti sejenak di pintu.

Dia tidak menoleh.

Tapi dia berkata pelan

“Ka…”

Arka mengangkat wajahnya.

“Kalau kita ketemu lagi suatu hari…”

Satu jeda.

“Semoga… kita udah jadi orang yang lebih baik.”

Dan tanpa menunggu jawaban

Nara pergi.

Arka tetap di sana.

Berdiri.

Diam.

Sampai akhirnya… dia benar-benar sendirian.

Kereta itu kosong.

Perjalanan selesai.

Dan untuk pertama kalinya…

Arka merasakan sesuatu yang lebih dari kehilangan.

Penyesalan.

Di luar, Nara berjalan di tengah keramaian.

Langkahnya pelan.

Matanya masih basah.

Tapi dia tidak berhenti.

Karena dia tahu

beberapa hal… memang harus ditinggalkan.

Bukan karena tidak berarti.

Tapi karena sudah tidak punya tempat untuk kembali.

Dan malam itu

di antara dua perhentian

mereka akhirnya benar-benar… selesai.

Tapi tidak pernah… benar-benar hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!