menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Sore itu suasana kantor marketing mulai lebih santai dibanding biasanya. Beberapa pegawai sudah merapikan meja mereka, sebagian lagi masih sibuk mengobrol sambil menunggu jam pulang. Aroma kopi instan bercampur suara pendingin ruangan memenuhi ruangan yang perlahan semakin ramai oleh orang-orang yang tidak benar-benar ingin segera pulang. Manusia kantor memang aneh. Katanya lelah bekerja, tetapi begitu jam pulang tiba malah sibuk bergosip di dekat meja orang lain.
Shinta sedang fokus menatap layar komputer sambil mencoba menyelesaikan laporan penjualan ketika suara sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Beberapa pegawai langsung menoleh bahkan sebelum sosoknya benar-benar terlihat.
“Aqila datang lagi,” bisik salah satu pegawai.
“Pasti cari Andika.”
“Hubungan mereka serius sekali akhir-akhir ini.”
Beberapa orang mulai tersenyum penuh rasa penasaran. Di kantor itu hampir semua orang percaya Aqila dan Andika sedang menjalin hubungan. Tidak ada yang tahu kenyataan kalau mereka sebenarnya sepupu. Rahasia yang terus dipertahankan Andika demi hidup yang lebih tenang. Walaupun ironisnya hidupnya justru semakin tidak tenang.
Aqila masuk dengan langkah santai sambil membawa tas kecil di tangannya. Dia langsung menuju meja Andika tanpa peduli tatapan orang-orang di sekitarnya.
“Andika,” panggilnya ceria. “Aku menemukan kafe baru yang bagus sekali. Tempatnya estetik dan makanannya katanya enak. Temani aku ke sana nanti.”
Andika yang sedang memeriksa dokumen bahkan tidak langsung mengangkat kepala.
“Tidak mau,” jawabnya datar.
Jawaban itu membuat beberapa pegawai saling melirik. Mereka heran bagaimana Aqila masih terlihat begitu santai walaupun ditolak mentah-mentah.
Namun Aqila sama sekali tidak tersinggung. Dia malah mengeluarkan ponselnya lalu mengetik sesuatu dengan cepat.
“Coba buka pesanmu,” katanya santai.
Andika menghela napas panjang sebelum mengambil ponselnya. Wajahnya langsung berubah kesal saat membaca pesan dari Aqila.
Kalau tidak ikut, aku kasih tahu satu kantor kalau kita cuma sepupu. Biar nanti para wanita mulai mengejar kamu lagi.
Andika langsung menatap Aqila tajam.
“Kamu mengancamku?”
Aqila tersenyum manis tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Aku hanya memberikan pilihan.”
Andika memijat pelipisnya pelan. Kadang dia merasa Aqila lebih cocok menjadi penjahat dalam drama keluarga dibanding anggota keluarga biasa. Senyumnya ramah, tetapi ancamannya selalu jelas.
“Baiklah,” kata Andika akhirnya. “Aku ikut.”
Wajah Aqila langsung berbinar puas.
“Nah begitu lebih baik.”
Beberapa pegawai yang diam-diam memperhatikan mulai tersenyum sendiri. Mereka menganggap percakapan itu sebagai interaksi pasangan yang sedang saling menggoda. Padahal Andika baru saja diperas secara emosional oleh sepupunya sendiri. Hubungan keluarga memang kadang lebih berbahaya dibanding hubungan percintaan.
Setelah berhasil membuat Andika menyerah, Aqila menoleh ke arah Shinta yang sejak tadi berusaha pura-pura sibuk.
“Shinta, ikut juga ya.”
Shinta yang tidak menyangka akan diajak langsung terlihat kaku.
“Aku?”
“Iya. Kita pergi ke kafe bersama.”
Beberapa orang langsung memasang ekspresi antusias. Bahkan ada yang diam-diam menghentikan aktivitas hanya untuk mendengarkan.
“Wah…”
“Ini pasti menarik.”
“Cinta segitiga dimulai.”
Shinta bisa mendengar bisikan-bisikan itu dengan jelas. Kepalanya langsung terasa pusing. Dia sendiri masih canggung dengan Andika setelah pertengkaran mereka kemarin. Sekarang justru harus pergi bersama Aqila dan Andika. Lengkap sudah penderitaannya hari itu.
“Maaf, aku tidak bisa,” kata Shinta cepat. “Aku masih banyak pekerjaan.”
Aqila langsung mendekat ke mejanya.
“Ayo ikut. Aku mau ke kafe Vivi juga.”
Shinta terdiam sesaat.
“Kafe Vivi?”
Aqila mengangguk antusias.
“Iya. Aku suka dengan tempat itu. Lagi pula aku senang dekat dengan kalian berdua.”
Kalimat terakhir itu langsung membuat suasana semakin ramai. Beberapa pegawai mulai saling menyikut sambil menahan senyum. Mereka merasa sedang menonton drama kantor secara langsung tanpa perlu membayar tiket.
Shinta mencoba tetap tenang.
“Laporanku belum selesai. Mungkin aku pulang malam.”
“Tidak masalah,” jawab Aqila cepat. “Kami tunggu.”
Shinta mulai kehilangan alasan.
Aqila menatapnya beberapa detik lalu memasang wajah sedih yang sangat dibuat-buat.
“Kamu tidak suka aku ya?”
Shinta langsung panik.
“Bukan begitu.”
“Kalau begitu kenapa menolak?”
Beberapa pegawai mulai memperhatikan semakin terang-terangan. Bahkan ada yang pura-pura mengambil dokumen di dekat meja Shinta hanya demi mendengar lebih jelas. Produktivitas kantor benar-benar runtuh demi gosip. Ekonomi negara pasti bangga melihat rakyatnya bekerja seperti ini.
Shinta menggigit bibir pelan. Kalau dia terus menolak, besok pasti muncul gosip baru. Bisa saja orang-orang mengira dia membenci Aqila karena cemburu pada Andika.
“Itu bukan maksudku,” kata Shinta akhirnya pelan.
Aqila langsung tersenyum lagi.
“Kalau begitu ikut ya.”
Shinta belum sempat menjawab ketika Aqila kembali berbicara.
“Aku bahkan sudah bilang pada Vivi kalau kita mungkin datang.”
Shinta benar-benar tidak punya jalan keluar sekarang.
Dia melirik Andika sekilas. Pria itu tampak sama tidak nyamannya dengan dirinya. Namun Andika hanya diam sambil menatap layar komputer dengan ekspresi datar.
Akhirnya Shinta menghela napas pelan.
“Baiklah. Aku ikut.”
Aqila langsung terlihat puas seperti anak kecil yang berhasil mendapatkan mainan baru.
“Nah, begitu dong.”
Belum selesai sampai di sana, Aqila kembali menoleh ke arah Andika.
“Nanti datangnya bareng Shinta ya.”
Andika langsung mengangkat kepala.
“Apa?”
“Aku mau ke kafe lebih dulu. Jadi kalian datang bersama.”
“Aku bisa menyusul sendiri.”
Aqila tersenyum tipis sambil kembali memainkan ponselnya.
Beberapa detik kemudian ponsel Andika berbunyi lagi.
Kalau tidak datang bareng Shinta, rahasia kita selesai hari ini juga.
Andika menatap layar ponselnya lama sebelum akhirnya menutup mata sesaat menahan kesal.
“Kamu serius sekali soal ancaman itu.”
“Aku serius sejak lahir,” jawab Aqila santai.
Shinta yang tidak tahu isi pesan itu hanya melihat keduanya dengan bingung.
“Ada apa?”
“Tidak ada,” jawab Andika cepat.
Aqila malah tertawa kecil.
“Dia hanya malu.”
Andika menatap Aqila dingin.
“Suatu hari nanti karma pasti datang.”
“Aku tunggu.”
Aqila lalu kembali mendekati Shinta.
“Kalian bertengkar ya?”
Shinta langsung tersentak kecil.
“Tidak.”
“Benarkah? Kalian terlihat aneh akhir-akhir ini.”
“Itu hanya perasaanmu saja,” jawab Shinta berusaha tenang.
Aqila memperhatikan wajah Shinta beberapa detik seolah mencoba mencari kebohongan di sana.
“Kalau begitu tidak masalah pergi berdua ke kafe kan?”
Shinta langsung terdiam.
Andika juga tampak tidak senang.
Namun Aqila terus tersenyum seolah tidak menyadari ketegangan di antara mereka.
“Lagipula kalian rekan kerja. Masa canggung begitu.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat Shinta semakin tidak nyaman. Dia dan Andika memang sedang menjaga jarak sejak pertengkaran mereka. Bahkan percakapan di kantor hanya sebatas pekerjaan.
Sekarang mereka dipaksa pergi bersama.
Berdua.
Situasi yang terdengar sederhana bagi orang lain, tetapi terasa sangat rumit bagi keduanya.
Shinta mencoba mencari alasan terakhir.
“Aku bisa langsung ke sana sendiri nanti.”
Namun sebelum Andika sempat mengatakan apa pun, ponselnya kembali berbunyi.
Datang bersama. Jangan membuatku turun tangan lagi.
Andika membaca pesan itu dengan rahang mengeras.
Aqila benar-benar seperti bencana kecil berkaki dua.
Akhirnya Andika menghela napas pendek.
“Kita pergi bersama saja.”
Shinta menoleh cepat ke arahnya. Dia jelas tidak menyangka Andika akan setuju semudah itu.
Namun Andika bahkan tidak melihatnya. Pria itu terlihat seperti seseorang yang baru menyerah pada nasib hidupnya sendiri.
“Bagus,” kata Aqila puas. “Aku tunggu di kafe.”
Dia kemudian melambaikan tangan ke beberapa pegawai yang sedari tadi memperhatikan.
“Dadah semuanya.”
Beberapa orang langsung membalas dengan semangat. Setelah Aqila pergi, ruangan marketing justru menjadi semakin ramai.
“Tuh kan benar mereka dekat.”
“Kasihan Shinta.”
“Tapi Andika terlihat perhatian juga.”
“Ini rumit sekali.”
Shinta memejamkan mata sesaat mendengar semua itu. Dia benar-benar ingin pulang dan menghilang dari kantor untuk hari itu.
Sementara Andika hanya duduk diam sambil menatap layar komputer tanpa fokus.
Untuk beberapa saat suasana di antara mereka terasa canggung.
Sampai akhirnya Shinta bicara pelan tanpa menatap Andika.
“Kamu sebenarnya tidak perlu ikut kalau tidak mau.”
Andika tetap menatap layar.
“Aku tidak punya pilihan.”
Jawaban itu terdengar jujur sekali sampai membuat Shinta sedikit bingung.
“Kamu takut pada Aqila?”
Andika tertawa kecil tanpa humor.
“Kamu tidak tahu seberapa berbahayanya dia.”
Shinta hampir tersenyum mendengarnya.
Itu pertama kalinya sejak pertengkaran mereka percakapan terasa sedikit normal.
Namun keheningan kembali muncul sesudahnya.
Shinta menatap layar komputernya tanpa benar-benar membaca apa pun. Sedangkan Andika sibuk membolak-balik dokumen yang bahkan mungkin tidak dia pahami lagi.
Keduanya sama-sama sadar mereka akan segera pergi bersama setelah jam kerja selesai.
Dan tidak ada satu pun dari mereka yang siap menghadapi perjalanan itu.
Di sisi lain gedung, Aqila duduk santai di bagian produksi sambil menikmati minuman dingin. Senyum puas terus terlihat di wajahnya.
Misinya berhasil.
Andika yang keras kepala berhasil dipaksa pergi.
Shinta yang selalu tidak enakan juga berhasil diajak.
Sekarang tinggal menunggu keduanya datang ke kafe Vivi bersama-sama.
Aqila menyandarkan tubuhnya santai di kursi sambil tersenyum sendiri.
Kadang manusia memang perlu sedikit didorong supaya berhenti lari dari perasaan mereka sendiri. Walaupun cara dorongannya sedikit berupa ancaman dan pemerasan kecil. Teknik keluarga modern yang sangat membanggakan.