Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.
Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.
Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Setelah memberi keputusan dengan wajah dingin, Emran Richard langsung berbalik meninggalkan gudang. Langkah pria itu tenang dan berwibawa. Namun, justru itu yang membuat suasana semakin menekan.
Sementara di belakang, Haikal menatap punggung Emran penuh kebencian. Apalagi saat salah satu staf gudang langsung menunjuk area berantakan akibat keributan tadi.
“Hei, kamu! Bersihin semua itu!”
Wajah Haikal langsung memerah.
“Apa?”
“Barang yang jatuh itu harus dibereskan sekarang, juga!”
Tatapan beberapa pekerja lain mulai meremehkannya. Tidak ada pilihan lain. Dirinya tetap harus membereskan gudang yang berantakan itu.
Sementara itu, Emran berjalan keluar area gudang ditemani Han. Saat pria itu hendak menuju basement, seseorang datang menyambutnya.
Satrio membungkukkan badan hormat.
“Tuan Emran.”
Emran mengangguk kecil.
“Apa Anda ingin bertemu Tuan Darto?” tanya Satrio sopan.
Emran melirik sekilas ke arah gudang di belakang sebelum menjawab tenang,
“Tidak.” Tatapannya sedikit menggelap.
“Saya hanya datang melihat kondisi Haikal.”
Satrio langsung mengerti maksudnya.
Emran lalu berkata lagi dengan nada datar,
“Sebenarnya saya ingin memperlihatkan langsung keadaannya di depan Annisa.”
Sorot matanya dingin samar.
“Tapi belum saatnya.”
Satrio hanya mengangguk pelan. Semua yang dilakukan Emran bukan sekadar balas dendam biasa. Pria itu sedang menghancurkan Haikal perlahan. Tak lama kemudian, Emran kembali melangkah menuju basement.
Mobil hitam mewahnya sudah menunggu di sana. Han buru-buru membuka pintu belakang. Begitu masuk ke dalam mobi Annisa Erlangga langsung menoleh.
“Apa urusan Anda selesai?”
Emran melirik wanita itu sekilas. Lalu bersandar santai sambil membenarkan jam tangannya.
“Belum.” Tatapannya berubah dingin.
“Itu baru permulaan.”
Jantung Annisa berdetak kecil mendengar nada suara pria itu. Wanita itu justru mengangguk pelan. Entah kenapa ada rasa puas samar di hatinya. Sementara di depan, Han langsung menyalakan mobil.
“Tuan, kita langsung ke rumah sakit?”
“Iya.”
Emran melirik Annisa sekilas sebelum berkata tenang,
“Bawa kami ke rumah sakit.”
Mobil hitam milik Emran Richard akhirnya berhenti di depan Rumah Sakit Kasih Ibu.
Bangunan besar bernuansa putih itu terlihat sibuk sejak pagi. Beberapa perawat dan keluarga pasien berlalu-lalang di depan lobby utama. Di dalam mobil, Annisa Erlangga terlihat sedikit gugup. Tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Dirinya akan mengetahui kebenaran tentang kondisi tubuhnya selama ini.
Sementara itu, sebelum turun dari mobil, Emran mengambil ponselnya terlebih dahulu. Pria itu menekan nomor seseorang lalu menempelkan ponsel ke telinga. Tak lama kemudian panggilan tersambung.
[Iya.]
Suara Emran tetap tenang dan singkat seperti biasa.
“Saya sudah sampai.”
Annisa diam-diam memperhatikan pria itu berbicara. Beberapa detik kemudian, Emran memutus panggilan dan menyimpan kembali ponselnya.
“Dokter Mario sudah menunggu.”
Annisa sedikit mengernyit.
“Dokter Mario?"
"Pemilik rumah sakit ini.”
Mata Annisa langsung sedikit membesar.
“Anda kenal pemilik rumah sakit?”
Emran meliriknya singkat. Lalu mengangguk tenang.
“Sangat kenal.” Jawaban singkat itu justru membuat Annisa semakin sadar, jaringan dan kekuasaan pria di sampingnya benar-benar luas.
Emran kemudian membuka pintu mobil lebih dulu sebelum berkata, “Kita langsung ke lantai atas.”
Annisa ikut turun perlahan.
“Kenapa langsung ke atas?”
“Karena seseorang sudah menunggumu di sana.”
Jantung Annisa langsung berdetak lebih cepat. Tatapan wanita itu mulai dipenuhi kecemasan dan harapan sekaligus. Emran berjalan tenang di sampingnya menuju pintu utama rumah sakit, dengan aura dingin dan berkuasa yang langsung menarik perhatian banyak orang di lobby pagi itu.
Lift perlahan terbuka di lantai dua.
Suasana koridor Rumah Sakit Kasih Ibu jauh lebih tenang dibanding lantai bawah. Beberapa perawat berjalan pelan sambil membawa berkas pasien. Sementara di ujung koridor, sebuah ruang pemeriksaan khusus sudah menunggu.
Namun, tepat beberapa langkah sebelum sampai Annisa mendadak berhenti. Langkah Emran Richard ikut terhenti. Pria itu menoleh, tatapannya jatuh pada wajah Annisa yang terlihat pucat dan tegang.
Jemari wanita itu bahkan mulai saling menggenggam erat.
“Ada apa?” Suara Emran terdengar lebih rendah dari biasanya.
Annisa menunduk pelan beberapa detik sebelum akhirnya menjawab lirih,
“Aku takut...”
Napasnya terdengar sedikit bergetar.
“Takut ditampar kenyataan untuk kesekian kali.” Kalimat itu membuat suasana koridor terasa hening seketika.
Annisa menggigit bibirnya pelan. "Bagaimana jika hasilnya tetap sama? Bagaimana jika aku benar-benar mandul? Bagaimana jika selama ini semua hinaan itu memang benar?"
Semakin dipikirkan, dadanya terasa semakin sesak. Suara Emran kembali terdengar tenang di sampingnya.
“Saya akan menemanimu sampai selesai.”
Annisa perlahan mengangkat wajah. Tatapan pria itu lurus dan tegas.
“Kalau memang kenyataan itu buruk...” Emran berkata pelan, “maka saya akan jadi orang berikutnya yang ikut ditampar kenyataan bersama kamu.”
Napas Annisa langsung tercekat kecil. Tatapannya membeku beberapa detik menatap pria itu. Karena dukungan sederhana itu, entah kenapa terasa begitu menenangkan. Emran lalu mengulurkan tangannya pelan ke arah pintu pemeriksaan.
“Sekarang masuk,” nada suaranya tetap tenang.
“Jangan takut sendirian lagi.”
Annisa merasa dirinya benar-benar punya seseorang yang berdiri di sisinya.
bahwa kehadirannya sungguh berharga