NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 ​Saksi Bisu dari Masa Lalu

Aroma tanah basah sisa badai berbaur dengan hawa dingin yang menusuk di dalam posko semipermanen itu. Di tengah keheningan yang mencekam, Aruna akhirnya berhasil mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat lumpuh akibat pelukan tiba-tiba dari Baskara. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Aruna meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Baskara, lalu memberikan dorongan yang cukup kuat hingga pautan lengan kekar pria itu terlepas.

​Aruna mundur dua langkah, napasnya memburu halus dengan gurat wajah yang kembali mengeras bagai porselen dingin. "Cukup, Pak Baskara. Batasan Anda sudah terlalu jauh," desis Aruna, menyeka lehernya yang sempat bersentuhan dengan helai rambut Baskara seolah ingin menghapus jejak kehangatan yang tertinggal di sana.

​Melihat ketidaknyamanan yang terpancar jelas dari sepasang netra Aruna, Vano Brahmanta tidak tinggal diam. Langkah kakinya bergerak cepat, mengikis jarak hingga tubuh jangkungnya kini berdiri kokoh di samping Aruna. Tatapan mata di balik lensa kacamata hitamnya menatap Baskara dengan kilatan permusuhan yang tidak lagi disembunyikan.

​"Anda dengar sendiri, kan? Dia terganggu dengan kehadiran Anda," ujar Vano, nada suaranya terdengar begitu rendah namun sarat akan provokasi maskulin. "Sebagai seorang pria berpendidikan, rasanya memalukan jika Anda terus memaksakan kehendak pada wanita yang jelas menolak Anda."

​Baskara mendongak, rahangnya mengetat sempurna mendengar sindiran itu. Sorot mata elangnya kembali menajam, memancarkan aura dominasi seorang CEO yang tidak terbiasa didekte oleh siapapun, terlebih oleh pria asing yang baru beberapa hari ini masuk ke dalam lingkar kehidupan Aruna. "Ini urusan pribadi antara saya dan Aruna. Orang luar seperti Anda tidak memiliki hak untuk mencampuri atau memberi saya ceramah moral," balas Baskara dingin, melangkah satu jengkal lebih maju hingga bahunya hampir berbenturan dengan bahu Vano.

​Dua kekuatan ego yang berbeda itu kini saling mengunci, menciptakan ketegangan ekstrem yang siap meledak menjadi bentrokan fisik dalam hitungan detik. Vano tidak mundur, dan Baskara pun tidak berniat mengalah.

​TAPI... Tepat sebelum kepalan tangan salah satu dari mereka melayang, sebuah suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat menembus tirai pembatas posko. Langkah itu diikuti oleh suara dehaman berat yang sarat akan wibawa pengetahuannya.

​"Rupanya kepribadian aroganmu tidak pernah tertinggal di London, Baskara Dirgantara."

​Suara bariton yang terdengar asing namun sangat familier bagi Aruna dan Baskara itu seketika memotong seluruh ketegangan di dalam ruangan. Kedua pria yang hampir bentrok itu refleks menoleh ke arah pintu masuk posko.

​Di sana, berdiri seorang pria tua berambut putih keperakan dengan setelan jas wol tebal yang tampak sedikit basah karena sisa air hujan. Wajahnya dipenuhi kerutan usia, namun sepasang mata di balik kacamata bacanya memancarkan ketajaman intelektual yang luar biasa. Pria tua itu adalah Profesor William Vance, mantan guru besar senior dari universitas tempat Aruna menempuh pendidikan di London, yang kebetulan berada di Indonesia karena diundang sebagai narasumber utama dalam kegiatan bantuan hukum agraria tersebut.

​Begitu netra Profesor William menangkap sosok Baskara dan Aruna yang berdiri di ruang yang sama, gurat wajahnya seketika berubah. Ada kilatan kekecewaan, kepedihan lama, dan kelelahan yang mendalam yang melintas di wajah senjanya.

​Profesor William melangkah masuk, menatap bergantian pada mantan kolega dosennya dan mantan mahasiswinya itu. Kalimat pertama yang keluar dari bibirnya langsung menjatuhkan keheningan yang luar biasa pekat,

​"Kalian berdua... masih saling menyiksa satu sama lain sampai sekarang?"

​Aruna dan Baskara seketika membeku di tempat mereka berdiri. Detak jantung Aruna seolah berhenti berdetak selama satu sekon. Ia menatap Profesor William dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang profesor senior dari masa lalunya di London bisa melontarkan kalimat sedalam itu? Ternyata, Profesor William mengetahui semua riak konfrontasi yang terjadi di London dulu, bahkan dari cara bicaranya, pria tua itu tampaknya mengetahui jauh lebih banyak rahasia daripada apa yang selama ini diketahui oleh Aruna sendiri.

​Sepanjang sisa sore itu, atmosfer di dalam posko berubah total. Profesor William memperlakukan Baskara dengan sikap yang teramat dingin dan berjarak. Setiap kali Baskara mencoba membuka suara untuk menyapa atau memberikan penjelasan formal, Profesor William hanya membalasnya dengan anggukan kepala yang kaku atau langsung mengalihkan pembicaraan pada urusan teknis materi seminar.

​Vano yang berdiri di sudut ruangan mulai didera rasa penasaran yang luar biasa besar. Insting arsiteknya menangkap bahwa ada sebuah struktur fondasi masa lalu yang sangat gelap yang melibatkan ketiga orang ini. Sementara itu, Aruna merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya selama tahun-tahun kelamnya di London. Rasa tidak nyaman merayap di dadanya, memicu rasa ingin tahu yang kian tidak terbendung.

​Saat kegiatan seminar selesai dan jajaran panitia mulai berkemas, Aruna memberanikan diri mendekati meja Profesor William yang sedang merapikan buku-bukunya.

​"Profesor William," panggil Aruna lirih, menggunakan bahasa Inggris formal yang dulu sering ia gunakan. "Apa maksud perkataan Anda tadi di dalam posko? Mengapa Anda menatap Pak Baskara seolah... seolah ada sesuatu yang salah?"

​Profesor William menghentikan pergerakan tangannya. Ia mendongak, menatap wajah pias Aruna dengan sorot mata yang penuh dengan rasa iba dan penyesalan yang mendalam. Pria tua itu menghela napas panjang, merapikan letak kacamatanya.

​"Aruna... ada banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang tahun terakhirmu di London sebelum kamu jatuh koma," jawab Profesor William dengan nada suara yang teramat rendah, menyisakan sebuah gantung misteri baru yang bergaung keras di kepala Aruna. Boom. Kalimat itu sukses meruntuhkan sisa ketenangan yang baru saja Aruna bangun.

​Rasa penasaran yang kian membakar membuat Aruna mengambil keputusan nekat. Malam harinya, setelah memastikan Baskara dan Vano telah meninggalkan area penginapan panitia, Aruna diam-diam berjalan menyusuri koridor wisma daerah untuk menemui Profesor William sendirian di ruang kerjanya. Ia butuh jawaban. Ia lelah terus-menerus menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa dalam drama hidupnya sendiri.

​Tok! Tok!

​Pintu kayu wisma itu terbuka, menampilkan sosok Profesor William yang tampaknya memang sudah menduga kehadiran Aruna. Pria tua itu mempersilakan Aruna masuk, lalu duduk di seberang meja kayu kecil yang diterangi oleh lampu belajar yang temaram.

​"Aku tahu kamu akan datang, Aruna," ucap Profesor William tenang.

​"Tolong jelaskan padaku, Prof. Apa yang sebenarnya terjadi di London? Apa yang dilakukan Pak Baskara di belakangku?" tanya Aruna, sepasang matanya menatap memohon namun penuh ketegasan.

​Profesor William menatap Aruna lama, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan senyum getir. "Mulutku telah diikat oleh janji akademik dan hukum masa lalu, Aruna. Aku tidak bisa menceritakannya langsung kepadamu karena itu bukan hakku."

​Sebelum Aruna sempat memprotes karena rasa kecewanya, Profesor William perlahan membuka laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil, sebuah flashdisk tua berwarna perak yang permukaannya sudah sedikit tergores karena usia. Pria tua itu meletakkan benda digital tersebut di atas meja, lalu mendorongnya perlahan hingga berhenti tepat di depan jemari Aruna.

​Aruna menatap flashdisk itu dengan dahi berkerut samar.

​"Kalau kamu benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hari-hari terakhirmu di London, apa yang membuat jantungmu menyerah, dan apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Baskara selama ini..." Profesor William menatap lekat-lekat manik mata Aruna, "lihat dan dengarkan sendiri isi di dalam sana. Kebenaran terkadang jauh lebih menyakitkan daripada ketidaktahuan, Aruna. Bersiaplah."

1
Anonim
lanjut ka 😍
Desi Santiani
apa sbnrnya isi flasdisk itu, apaa ad hubungannya sikap bagaska saat dlondon terhadap arunaa ?
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Aduh, jd bulan-bulann para warga 🤭🤦🙈
Anonim
cerita author x ini tak kalah menarik seru bgt 🥰🥰
Ra H Fadillah: halo terima kasih atas bintang 5 nya semoga kamu selalu suka dengan ceritanya ya 💞😉
total 1 replies
Anonim
jadi kepo thorrr
Anonim
ceritanya seruuuuuu😍
Desi Santiani
apa sebenarnya isi flasdisk itu, apa rahasia bagaskara yg selama ini pura2 jahat n kejam krna adanya tekanan atau apa, ahh dbuat skot jantung bacanya
Desi Santiani
semakin seruu thor
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!