Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Julian, Guru Pertama
Gudang Utara No. 4 adalah bangunan yang menyedihkan. Dinding kayunya lapuk, atapnya bocor di tiga tempat, dan lantai tanahnya berdebu tebal yang menumpuk selama bertahun-tahun. Bau apek dan kotoran tikus memenuhi udara, membuat siapa pun yang masuk langsung ingin bersin.
Namun, bagi Julian, tempat ini adalah kanvas kosong.
Pagi itu, matahari baru saja terbit, menembus celah-celah papan kayu yang rusak. Julian sudah berada di sana sejak fajar. Ia tidak mengenakan jubah sutra haremnya, melainkan tunik kerja kasar dari linen abu-abu—pakaian yang ia minta khusus pada pelayan. Lengan bajunya digulung hingga siku, menampilkan lengan yang ramping namun memiliki otot halus hasil latihan pedang dasar yang wajib bagi semua bangsawan pria (meski jarang digunakan).
Di tangannya, ia memegang sapu lidi besar. Di sebelahnya, berdiri empat penjaga wanita—bukan penjaga istana biasa, melainkan anggota unit khusus Kaelia yang berpakaian seperti pelayan rendah. Mereka tidak membantu membersihkan; mereka hanya mengamati. Mengawasi.
Julian tahu dia diawasi. Setiap gerakannya dicatat. Setiap kata yang ia ucapkan didengar. Tapi ia tidak peduli. Ia punya tujuan.
“Jika aku bisa mengubah gudang sampah ini menjadi tempat belajar,” batin Julian, “maka mungkin… mungkin Floren akan melihatku bukan sebagai beban, tapi sebagai mitra.”
Ia mengusap keringat di dahinya. Debu menempel di pipinya yang pucat. Ia terlihat lelah, tapi matanya bersinar dengan determinasi yang belum pernah dilihat oleh para pengawalnya sebelumnya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar gudang. Langkah yang tegas, ritmis, dan familiar.
Julian berhenti menyapu. Jantungnya berdegup kencang.
Pintu gudang yang setengah rubuh didorong terbuka. Cahaya matahari pagi menerobos masuk, menciptakan siluet seorang wanita tinggi dengan jubah ungu tua.
Ratu Floren.
Dia tidak sendirian. Jenderal Kaelia berjalan di sampingnya, tangan di gagang pedang, mata menyipit memindai sekeliling gudang yang kotor.
Julian segera membungkuk dalam-dalam, menjaga jarak. Ia mundur dua langkah, memastikan ada ruang kosong setidaknya dua meter antara dirinya dan Ratu.
"Yang Mulia," sapa Julian, suaranya serak karena debu. "Selamat pagi."
Floren melangkah masuk, menghindari genangan air di lantai. Wajahnya tertutup kain tipis untuk melindungi dari debu, tapi matanya tetap tajam, mengamati setiap sudut ruangan.
"Anda mulai lebih awal," komentar Floren. Suaranya terdengar sedikit bergema di ruangan kosong.
"Saya ingin memastikan tempat ini layak digunakan sebelum murid-murid datang besok," jawab Julian hormat. "Ada banyak perbaikan struktural yang perlu dilakukan. Atap bocor di sisi timur, dan lantai di sini terlalu berdebu untuk duduk."
Floren mengangguk pelan. Ia berjalan perlahan mengelilingi ruangan, menjaga jarak aman dari Julian. Kaelia mengikuti di belakang, waspada terhadap setiap bayangan.
"Anggaran renovasi terbatas," kata Floren datar. "Anda hanya mendapatkan material sisa dari proyek perbaikan jembatan selatan. Kayu bekas, paku bekas, dan cat sisa. Tidak ada tukang istana. Anda harus melakukannya sendiri, atau dengan bantuan sukarelawan dari Harem jika Anda bisa meyakinkan mereka."
Julian menelan ludah. Itu tantangan berat. Tapi ia mengangguk.
"Saya bisa melakukannya, Yang Mulia. Saya… saya punya tenaga. Dan saya bisa meminta bantuan Elian dan beberapa lainnya. Mereka bosan di kamar, dan mereka butuh aktivitas."
"Elian?" Floren mengangkat alis. "Penyanyi seruling yang tekniknya dangkal itu?"
"Dia punya tangan yang terampil, Yang Mulia. Dia bisa membantu memperbaiki rak buku."
Floren menatap Julian lama. Ada sesuatu dalam ketekunan pemuda itu yang membuatnya ragu. Apakah ini dedikasi tulus? Atau sekadar upaya putus asa untuk mendapatkan perhatian?
"Baiklah," kata Floren akhirnya. "Tapi ingat, Julian. Sekolah ini bukan panggung sandiwara. Jika Anda gagal memberikan pendidikan yang berkualitas, saya akan menutupnya. Dan Anda akan kembali ke peran tradisional Anda di Harem: diam, indah, dan tidak berguna."
Kata-kata itu keras. Menyakitkan. Tapi Julian tidak gentar.
"Saya tidak akan gagal, Yang Mulia," katanya tegas. "Saya berjanji."
Floren tidak menjawab. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Saat ia mencapai ambang pintu, ia berhenti.
"Satu hal lagi, Julian."
Julian mendongak. "Ya, Yang Mulia?"
"Jangan berharap pujian. Pujian membuat orang lengah. Fokus pada hasil."
Dan dengan itu, Floren keluar, meninggalkan Julian sendirian di tengah debu dan cahaya matahari.
Julian menghembuskan napas panjang. Kakinya lemas, tapi hatinya terasa ringan. Floren telah memberinya kesempatan. Itu lebih dari yang ia harapkan.
Sementara itu, di koridor luar, Kaelia berjalan sejajar dengan Floren.
"Dia serius," kata Kaelia tiba-tiba.
Floren tidak menoleh. "Semua orang serius saat mereka takut kehilangan sesuatu. Julian takut kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya merasa berharga di mata saya."
"Atau dia benar-benar percaya pada ide Anda," balas Kaelia. "Saya melihat cara dia membersihkan lantai. Dia tidak melakukannya dengan jijik. Dia melakukannya dengan... kebanggaan."
Floren diam sejenak. "Kebanggaan bisa dimanipulasi. Vane mungkin sudah mengirim pesan padanya. 'Buatlah sekolah ini gagal, Nak, dan buktikan pada Ratu bahwa idenya bodoh.' Kita harus berhati-hati."
"Penjaga saya melaporkan tidak ada komunikasi mencurigakan dari kamar Julian malam ini," lapor Kaelia. "Dia tidur nyenyak. Tidak ada pengunjung."
"Untuk sekarang," gumam Floren. "Tapi awasi terus. Terutama saat dia mulai merekrut 'sukarelawan' dari Harem. Saya tidak ingin penyusup masuk ke dalam sekolah."
Mereka berbelok ke sayap barat, menuju kantor administrasi.
"Ngomong-ngomong," kata Kaelia, "laporan latar belakang Kael sudah selesai."
Floren berhenti melangkah. Matanya menyipit. "Dan?"
"Kael berasal dari Distrik Bawah Zenthoria. Orang tuanya mati saat kerusuhan lima tahun lalu. Dia masuk ke akademi seni Zenthoria sebagai yatim piatu beasiswa. Bakatnya luar biasa, tapi dia dikeluarkan karena 'ketidakpatuhan'. Setelah itu, jejaknya hilang selama dua tahun. Tiba-tiba, dia muncul sebagai penghibur elit di istana Zenthoria, dan kemudian dikirim ke sini sebagai 'hadiah'."
"Mata-mata," simpul Floren. "Tidak diragukan lagi. Dua tahun hilang itu pasti masa pelatihan intelijen."
"Tapi ada satu hal aneh," kata Kaelia, menurunkan suaranya. "Selama dua tahun itu, tidak ada catatan pembayaran dari agen intelijen Zenthoria ke keluarganya—karena dia tidak punya keluarga. Tidak ada transfer uang mencurigakan ke rekening pribadinya. Seolah-olah... dia bekerja tanpa bayaran."
Floren mengerutkan kening. "Tanpa bayaran? Mengapa?"
"Itulah misterinya," kata Kaelia. "Apakah dia fanatik ideologis? Atau apakah dia punya agenda pribadi yang tidak terkait dengan Zenthoria?"
Floren menatap ke depan, pikirannya berputar cepat.
"Agen tanpa bayaran adalah agen yang paling berbahaya," kata Floren pelan. "Karena mereka tidak bisa disuap. Mereka hanya bisa dihentikan dengan kematian... atau dengan memenuhi tujuan mereka."
"Apa tujuan Kael?" tanya Kaelia.
"Saya belum tahu," jawab Floren. "Tapi saya akan cari tahu. Biarkan dia bermain biola. Biarkan dia mengirim pesan-pesan kode. Selama dia tidak melanggar Dekrit Dua Meter, dia aman. Untuk sekarang."
Mereka melanjutkan perjalanan. Di kejauhan, dari arah Gudang Utara, terdengar suara palu memukul kayu. Tak. Tak. Tak.
Ritme yang stabil. Ritme kerja.
Floren tersenyum tipis.
"Biarkan Julian membangun sekolahnya," bisik Floren. "Sementara itu, kita akan membangun jebakan untuk Kael."
Sore harinya, di Sayap Timur Harem.
Kael duduk di jendela kamarnya, memandang langit senja yang berwarna jingga. Di tangannya, ia memegang sepotong kertas kecil yang ia selipkan di bawah pot bunga di taman istana tadi siang. Pesan itu ditujukan untuk kontak rahasianya di luar istana.
Isinya singkat:
"Target menolak rayuan. Target fokus pada reformasi administratif. Ada proyek baru: Sekolah Pria. Lokasi: Gudang Utara. Selidiki."
Kael meremas kertas itu, lalu membakarnya dengan lilin di mejanya. Abu-abu terbang ke udara, menghilang.
Dia tidak melakukan ini karena diperintah. Dia melakukan ini karena rasa penasarannya sendiri.
Ratu Mobelle Floren Amelie adalah teka-teki. Wanita yang menolak cinta, menolak kemewahan, dan memilih jalan yang sulit dan penuh duri. Mengapa?
Apa yang dia sembunyikan?
Kael mengambil biolanya. Ia mulai memainkan melodi yang sama seperti sebelumnya—sedih, indah, dan penuh pertanyaan.
Di seberang tembok istana, di kediaman Perdana Menteri Vane, seorang pelayan rahasia menerima laporan dari mata-matanya di dalam istana.
"Julian sedang membersihkan gudang tua. Ratu sering berkunjung, tapi menjaga jarak. Tidak ada kontak fisik."
Vane membaca laporan itu, wajahnya masam.
"Jarak..." gumam Vane. "Dia memang gila. Tapi kegilaannya metodis."
Vane melipat laporan itu.
"Julian anak yang lemah. Dia mudah dimanipulasi oleh rasa cintanya. Jika Floren terus menekannya, Julian akan patah. Dan saat dia patah... dia akan mencari kenyamanan pada ibunya."
Vane tersenyum licik.
"Biarkan sekolah itu dibangun. Biarkan Julian merasa penting. Karena ketika sekolah itu runtuh—dan itu akan runtuh—Julian akan hancur bersamanya. Dan saat itu, Floren akan kehilangan satu-satunya alat legitimasi sosialnya."
Vane meniup lilin di mejanya, menenggelamkan ruangan dalam kegelapan.
Permainan catur telah dimulai. Dan bidak-bidak mulai bergerak.