Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warung Rokok dan nasi uduk
"Apa itu?"
Detak jantung Cakka tak beraturan, firasat mengatakan kalau kantong kresek yang ada di depannya itu berisi uang! Mengingat perkataan Hendra tentang mengharuskannya pergi dari desa Katumbiri membuat nafas Cakka bergemuruh, panik dan takut.
Ia malah mundur dari hadapan kantong itu, perlahan berbalik arah lalu langkahnya tergesa menuju keluar.
Brak!!!
Pintu dibuka begitu kasar, paru-paru Cakka masih sibuk mengatur nafas yang tak henti-hentinya membuat Cakka seolah akan meledak saat itu juga.
Mata yang kini bisa melihat jelas, menyebar pandangannya pada setiap aktifitas yang ia lihat. Ramai, asing, orang-orang yang Cakka tak kenal berlalu lalang didepannya. Seolah tak terjadi apa-apa. Mereka tertawa, berbincang, bahkan ada yang bertengkar kecil.
Cakka melihat kebawah, jari-jari kakinya ia gerakan. Lantai yang hanya diplester semen begitu dingin, rasanya menusuk hingga kekulit yang tipis dan hitam. Pelan, wajah itu kembali menatap kedepan, tepat pada sebuah warung rokok yang tengah ramai dikunjungi orang.
Penjaga warung rokok itu laki-laki, ia melihat wajah Cakka, tersenyum dan mengangguk. Cakka menelan ludahnya, berbalik arah lagi. Seperti difilm, ia merasa langkahnya begitu lamban untuk masuk kedalam rumah. Takut, jika orang itu berbahaya bagi kehidupannya yang sekarang sedang diujung tanduk. Cakka Menghampiri kantong kresek yang masih tersimpan disana, ditempat Cakka terbaring pingsan seharian.
Cakka duduk, tangannya menyambar secarik kertas yang menempel pada kantong itu. Dibacanya pelan.
"Kamu tak memiliki pilihan, tolak mu kami anggap kamu mengatakan iya. Tidak usah bersedih, uang ini akan cukup menghidupimu selama beberapa tahun kedepan. Kamu masih punya kakikan? Masih punya tangan? Bekerjalah, menabung dan operasi wajah mu itu! Jangan sekali-sekali kamu memilih kembali ke desa Katumbiri. Pak Bani sudah marah pada mu. Dan warga percaya kalau kamulah pelakunya!"
Hidung Cakka kembang kempis, matanya pun berair. Ia meremas kertas itu kuat-kuat pun urat ditangannya ikut timbul menembus kulitnya yang kasar.
Srak!!!!!
Kertas itu dibuang ke arah lain. Pundak Cakka naik turun begitupun dengan nafas yang sedari tadi di aturnya perlahan ikut teratur. Ia mengusap air mata menggunakan bajunya, kasar. Tak mau membuang waktu Cakka menyambar kantong kresek itu, dibukanya tergesa.
Srak!
Srak!
Benar!
Uang itu ada disana, namun sepertinya tidak sampai seratus juta. Cakka memang tidak sekolah, Cakka memang tidak sepintar yang lain kalau urusan menghitung. Tapi Cakka tahu, dan Cakka bisa mengira kalau yang didepannya ini hanyalah uang lima puluh juta. Setengahnya.
"Bajingan!!!!"
Cakka geram, Hendra ingkar janji.
Aaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Bukan hanya kesal, bukan hanya marah, tapi Cakka juga bingung! Ini dimana? Rumah ini milik siapa? Cakka tak mau harus memperkenalkan diri pada mereka yang tak tahu soal dirinya. Cakka tak siap, jika ada orang-orang yang membullynya. Cakka tak siap menjelaskan bagaimana wajahnya bisa seperti itu. Sungguh, Cakka tidak siap!.
Belum lagi ia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya, ia harus menghafal jalan-jalan yang nantinya akan dilewati. Dan ia harus mencari masjid tempatnya berpasrah diri sebagai seorang hamba yang lemah.
Cakka harus meninggalkan rumah sejuta kenangan dikampungnya. Cakka harus kehilangan Aki aung yang selalu ada membelanya. Kini, siapa yang akan seperti itu? Hanya tangis yang meraung menggema keseluruh ruang rumah ini.
Kembali ke umur sebelas tahun, Cakka harus memeluk kedua kakinya dan menyentuhkan kening ke lutut yang semakin lama semakin menghitam kulitnya. Tepat ditengah rumah ia harus merasakan kepedihan itu untuk yang kedua kalinya.
(***)
Kukuruyuk!!!!!!!!!!!!!!!
Suara ayam membangunkan Cakka, ia tidur tanpa beralaskan tikar atau pun kasur.
Guruwuk!!!!!!!
Perut yang tak diisinya sedari kemarin sudah memanggil, meminta pada pemiliki tubuh untuk segera memakan sesuatu, agar cacing-cacing didalam sana tak berisik mengganggu telinganya.
Mau tak mau, terpaksa Cakka harus keluar dari rumah itu.Takut dan ragu, membuatnya sejenak tertahan.
Guruwuk!!!!!!
Tangan Cakka memegang perutnya.
"Kalau aku keluar sekarang, apakah orang-orang disana akan biasa saja padaku? Aku takut mereka membenciku"
Guruwuk!!!!!!!!
Suara perut itu memanggilnya lagi, kesal! Cakka membuang nafasnya kasar, ia berdiri tegak lalu mengambil uang dari kantong kresek yang ia simpan di pojok kamar.
Yang ada di pikirannya kini adalah makan, urusan orang lain akan suka atau tidak, itu nomor terakhir. Langkahnya tegas, ia ingin memperlihatkan pada orang-orang bahwa dirinya tidak berbahaya. Keluar dari rumah lalu menguncinya.
Crak!!!
Kunci itu sudah dari kemarin tersimpan di belakang pintu rumah, ia yakin bahwa itu sengaja Hendra simpan agar Cakka tidak kebingungan kalau dirinya ingin pergi dan menyimpan barang berharganya disana.
Warung rokok
Yang kemarin sempat Cakka lihat, dijam pagi seperti ini sudah buka. Bahkan sudah ada beberapa pembeli yang datang menghampirinya. Pun pemiliknya melihat wajah Cakka, masih dengan adegan yang sama. Beliau hanya mengangguk dan tersenyum.
Cakka hanya melihatnya sekilas lalu pergi ke arah kanan. Baru beberapa langkah pemilik warung rokok itu menegurnya.
"Kalau mau beli nasi uduk jalannya ke kiri, bukan ke kanan!"
Mendengar itu entah kenapa tiba-tiba Cakka mengikuti intruksinya. Tanpa mengucapkan terima kasih atau tersenyum kepada pemilik warung rokok, Cakka hanya mengangguk kemudian pergi begitu saja.
Benar! Orang itu tidak menyesatkan Cakka. Setelah Cakka melangkah sekitar 10 meter dari rumahnya. Warung nasi uduk ditemukan, mereka sudah menjajakan nasi dan lauk-pauknya di pinggir jalan. Masih pagi, orang-orang belum ada yang membeli. Ini kesempatan emas Cakka, untuk bisa lebih leluasa dalam memilih.
Perasaan senang membawanya begitu cepat menghampiri nasi uduk Mak Ranti.
"Permisi!" Ucapnya semangat.
Mak Ranti yang masih sibuk menyiapkan dagangannya menjawab "Iya! Mau beli apa kak?" Lalu wajahnya perlahan menatap Cakka.
"Astagfirulloh!" Ucap mak Ranti di dalam hatinya.
Namun dia tetap tersenyum, menyambut kedatangan Cakka.
"Saya mau beli nasi uduk lima Bu!" Ucap Cakka sembari memasukkan gorengan kedalam kantong plastik yang tersedia di pinggir makanan.
"B-b-boleh!" Jawab Mak Ranti sedikit kikuk.
Mak Ranti terus memperhatikan Cakka "Kakak baru ya disini? Atau sedang bertamu?" Tanya Mak Ranti penasaran.
Ditanya seperti itu tentu Cakka langsung fokus melihat wajah Mak Ranti. Tidak percaya diri Cakka sempat mengusap wajahnya menggunakan tangan beberapa kali.
"Iya Bu, saya baru di sini. Maaf kalau saya jelek, saya janji cuma hari ini kok saya beli dagangan ibu" ucap Cakka takut.
Mak Ranti menghela nafas, tatapan penasaran berubah menjadi tatapan hangat penuh kasih.
"Kenapa harus berjanji hanya hari ini kamu beli dagangan ibu? Kenapa tidak selamanya? Eh, jangan panggil ibu, panggil saja saya emak!" Ucap Mak Ranti sembari tersenyum.
Cakka senang sekali karena masih ada orang baik yang menyambutnya seperti ini. Ternyata pindah dari kampung lama ke kampung Baru tidak seburuk yang ada di pikiran Cakka. Mak Ranti dan Cakka saling tatap dan tersenyum, sehingga tidak disangka dari arah belakang ada yang menarik bajunya lalu memukul wajah Cakka berkali-kali.
Bugh!!
Bugh!!